Home / Romansa / Kontrak Sang Pengantin / Bab 2. Dipaksa Bercerai

Share

Bab 2. Dipaksa Bercerai

Author: Nyi Ratu
last update Last Updated: 2023-01-04 16:10:39

"Kamu harus menceraikan Gara!" ucap Lisa, telak.

Jennie terdiam sejenak. Mendengar kalimat itu membuatnya seperti disambar petir. "Ce-cerai?"

"Ya! Kamu harus menceraikan pria itu!"

"Ma!" Tanpa sengaja, Jennie berteriak. Amarah yang semula ia tahan tidak bisa dibendung lagi ketika mendengar kata terlarang itu, perceraian.

"Mama apa-apaan sih?" Berlanjut, menghardik sosok di hadapannya. "Kenapa Mama bisa ngomong kayak gitu sama putri mama sendiri!" geramnya, tidak terima.

Lisa menatap lurus pada sang putri, sorot matanya seperti sedang menutupi sesuatu, sebuah rahasia besar. "Karena hanya itu yang terbaik untukmu!"

"Yang terbaik?" ulang Jennie, lalu tersenyum miring. "Kami saling mencintai, nggak ada alasan untuk kami bercerai."

"Kamu tidak akan mengerti!" Lisa membentak lagi. Frustasi karena putrinya tak mau mendengarkannya.

    

 "Aku udah gede, aku ngerti mana yang terbaik untukku atau bukan," jawab Jennie dengan berani.

Lisa mengembuskan napasnya dengan kasar, lalu berkata, "Dengarkan semua yang Mama perintahkan padamu, Jennie! Jangan pernah mendebat apapun dan lakukan saja!"

"Kamu harus meninggalkan pria itu agar sesuatu yang buruk tidak sampai terjadi."

"Nggak!" sanggahnya, memotong cepat. "Aku nggak mungkin menceraikan laki-laki yang aku cintai!" Wanita itu masih terus memberikan penolakan atas ide gila yang diberikan oleh Lisa.

Jennie memang menikahi Gara atas dasar sesuatu yang mereka sepakati bersama. Akan tetapi, menceraikan pria itu bukanlah jalan keluar yang bisa dilakukan olehnya.

"Kamu mau menantang apa yang Mama tetapkan untukmu, hah?!" Murka Lisa, berada di posisi tahu segalanya tetapi tidak bisa menyampaikan apapun yang membuatnya begitu bingung. Sebuah rahasia besar yang menyangkut dirinya.

"Mama nggak berhak mengatur rumah tanggaku, Ma!" Jennie terus membangkang.

"Jennie!" Lisa hendak menampar, tangannya tergantung di langit-langit saat sadar.

Perdebatan itu semakin memanas, sulutan api amarah terus membara di antara keduanya. "Mama benar-benar aneh!"

Lisa tidak bisa melakukan kekerasan fisik kepada putrinya sendiri, ia akhirnya menetapkan hukuman lain untuk Jennie. "Ikut denganku!"

Tangan Jennie ditarik paksa, Lisa hendak mengurung anak yang telah mengecewakannya ini dan melarang keras untuk bertemu dengan Gara.

"Ma, lepasin aku!" Jennie berusaha untuk memberontak dan melawan, meski tenaganya tidak cukup kuat, ia tidak menyerah. "Lepasin! Aku mau bertemu suamiku, Ma!"

Sesampainya di kamar Jennie, Lisa mengempaskan tubuh itu di lantai, dengan cepat menarik gagang pintu dan menguncinya.

"Kamu tidak akan bisa keluar, dan tidak Mama izinkan untuk pergi ke manapun. Apalagi bertemu dengan pria itu, jangan harap!"

    

 "Ma, aku mohon lepasin aku!" Jennie berkata dengan lirih.

Ancaman itu menyakiti hati Jennie, membuat kepalanya berdenyut. Memikirkan tidak bisa bertemu dengan pria yang ia nikahi, bahkan ke luar dari kamarnya sendiri ia tidak bisa.

"Jangan sekali-kali mencoba untuk melanggar apa yang sudah Mama perintahkan kepadamu, Jennie. Diamlah di sini, kemudian pikirkan apa yang sudah Mama katakan, tentang perceraian kalian."

    

Wanita paruh baya itu mengatur napas sejenak, lalu kembali mengancam anaknya.

"Jika kamu setuju dengan kesepakatan yang Mama berikan, Mama akan mengeluarkanmu dari sana dan melakukan apapun untukmu."

"Mama nggak perlu ngelakuin apa pun untukku lagi. Aku udah dewasa. Jalan hidupku, aku yang menentukannya sendiri," balas Jennie sambil berteriak dari balik pintu kamarnya.

"Mama akan tetap melakukan yang tebaik untukmu. Mama akan mencari pendamping baru! Mama bisa mencarikan yang lebih baik dari suamimu sekarang!"

Jennie meringis kesakitan di dalam, tangannya membentur pintu karena ia berusaha mendobraknya, dan menyebabkan lebam, kebiruan. Wanita itu pun menangis sendu.

Sebenarnya bukan rasa sakit akibat luka itu yang membuat hatinya tergores, melainkan setiap kalimat yang dilontarkan oleh Lisa padanya.

'Mencari pengganti?'

Apa Gara sehina dan setidak cocok itu untuk gadis miskin seperti dirinya?

Bahkan sang Mama tidak mengizinkannya menikah dengan pria yang tidak sederajat untuknya?

"Apa salahku sampai Mama menghukum aku kayak gini?" Jennie menggedor-gedorkan tangannya ke pintu dan meminta dibukakan. "Buka pintunya, Ma ... izinkan aku ke luar. Aku harus nemuin suamiku!"

Lisa yang masih berada di luar dan mendengar setiap ucapan putrinya hanya bisa membalas dengan lirih. "Kesalahanmu adalah karena menikah dengannya."

Kalimat demi kalimat yang Jennie katakan tidak mendapatkan respons apa pun dari mamanya, wanita itu terpaksa mencari cara lain agar bisa ke luar dari sana.

"Ponsel!" celetuk Jennie tiba-tiba, "di mana ponselku?!"

Jennie membongkar setiap sudut kamarnya untuk mencari ponsel tersebut. "Ayolah! Di mana aku meletakkannya?"

Saat ini, Jennie sama sekali tidak bisa mengingat ponselnya berada di mana. Tatkala seutas cuplikan perbedatannya dengan sang mama terlintas, barulah ia sadar bahwa benda itu ikut menjadi sitaan mamanya.

"Ya Tuhan!" Jennie mendesah panjang, ia ambruk di lantai. "Satu-satunya cara aku bisa menghubungi Gara ikut diambil Mama. Sekarang aku harus bagaimana?"

Jennie menangis lagi, terus begitu sampai lelah.

"Gimana caranya aku ngabarin Gara kalau aku dikurung di sini? Dia pasti khawatir."

Jennie menghela napas panjang. Ia mencemaskan suaminya, bahkan sama sekali tidak mencemaskan dirinya sendiri. Wanita itu tidak bisa berhenti memikirkan tentang Gara yang mungkin saja menantikan kabar darinya.

"Aku nggak habis pikir kenapa semua ini bisa terjadi. Kenapa masalah terus menimpaku tanpa henti? Aku belum lama menikah dengan Gara, tapi harus berpisah darinya saat kami sudah saling mencintai."

Saat Jennie berbicara seorang diri, dan memikirkan sebenarnya ujian apa yang sedang menimpanya kali ini, Jennie mendengar sebuah ketukan terdengar dari balik jendela.

"Siapa?" tanya Jennie pelan sambil mendekat.

Meski lirih, Jennie bisa mendengar seseorang telah berbisik kepadanya.

"Ini aku, Biggie," bisikan itu tak butuh waktu lama langsung Jennie kenali.

"Gara," ucap Jennie pelan, ia segera membuka jendelanya.

Lelaki tampan sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir dan cemas yang tercetak jelas setelah jendela kamar terbuka.

"Sayang." Jennie tersenyum sambil mengusap air matanya.

"Biggie!" Gara sangat senang bisa bertemu dengan istrinya.

Sayangnya, jendela tersebut terpasang teralis yang tidak bisa dilewati oleh Gara untuk masuk ke dalam dan menghampiri istrinya.

"Maaf karena datang terlambat. Kamu baik-baik saja?" Gara bertanya, cara bicaranya terdengar gemetar. Setakut itu pria tersebut kehilangan wanita ini.

Mengangguk dengan air mata yang terus-menerus mengalir, Jennie berusaha untuk tersenyum dan menegaskan bahwa ia baik-baik saja.

"Aku baik-baik aja di sini. Jangan khawatir," ujar wanita itu, tercekat. "Kamu kenapa ke sini? Kamu baik-baik aja kan?"

Pria itu mengangguk, menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.

Saat bersedih, Jennie selalu kesulitan bicara dan Gara memahami hal itu. Pasti sangat berat untuk istrinya ini melewati apa yang terjadi.

Parahnya, demi Gara, Jennie harus berbohong dan mengatakan bahwa tidak terjadi apapun padanya.

Gara mengulurkan tangannya, berusaha sedekat mungkin dengan wanita itu. "Tidak apa-apa, Biggie, jangan menangis. Semuanya akan baik-baik saja." Tangannya mengusap lembut pipi istrinya.

    

Jennie mengangguk sambil tersenyum.

'Tapi, Mama benci banget sama kamu Gara. Aku bener-bener takut kehilangan kamu, Sayang,' batin Jennie.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 98. Zayyan Althaf Gara (End)

    Jennie mengusap air mata suaminya yang sedang duduk di kursi samping ranjang sambil menggendong bayinya. "Kamu tua banget," ucapnya sambil terkekeh."Aku tidak bisa hidup tanpamu, Biggie," ucap Gara.Jennie tersenyum, namun ada rasa sedih di hatinya melihat kondisi suaminya yang terlihat tak terurus dan kurus. Gara terlihat sangat menyedihkan."Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Jennie. "Apa Anisa memberi tahu kamu?"Gara menggeleng. "Aku sudah ada di kampung ini sejak semalam untuk melihat rumahmu," katanya. "Rumah kita sudah selesai. Rumah impianmu.""Rumah apa?" tanya Jennie bingung."Dulu, waktu kita ke sini, kamu bilang ingin punya rumah di pedesaan seperti ini. Jadi, aku membuat rumah di tengah kebun sebagai hadiah ulang tahunmu.""Kamu masih sempat memberiku hadiah, padahal aku udah ninggalin kamu berbulan-bulan," ucap Jennie, "apa kamu nggak marah sama aku?"Kondisi di dalam ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya dipecah oleh isak tangis Gara yang tertahan. Ia merasa ha

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 97. Melahirkan

    Tatapan Bara langsung menancap pada Anisa. Raut wajahnya tak lagi hanya dipenuhi amarah, tapi juga kekecewaan yang mendalam. "Kamu tahu di mana dia? Jadi selama ini kamu tahu, tapi sengaja diam?" Suara Bara bergetar, lebih seperti bisikan yang penuh ancaman.Anisa menelan ludah dengan susah payah. Wajah cerianya kini pucat pasi. Ia membuang pandangan, tidak berani menatap mata Bara. "Mas... aku...""Jawab, Anisa! Di mana Jennie?" desak Bara, suaranya naik satu oktaf. Ia berdiri, bersiap menghampiri Anisa, namun Haidar segera menahannya."Sudah, Bara. Jangan emosi," bisik Haidar sambil menggenggam erat lengan Bara. "Anisa, kamu jujur saja. Ada apa sebenarnya?"Gara tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Kenapa kalian malah menyalahkan Anisa?" tanyanya penuh amarah. "Atas dasar apa kalian memarahinya? Kalian tahu? Dia itu penyelamat hubungan aku dan Jennie!"Mendengar kemarahan Gara, Bara dan Haidar terdiam. Mereka bertukar pandang penuh penyesalan. Haidar bergegas meminta maaf pada Anisa. "

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 96. Keanehan Gara

    Pintu terbuka dan sosok dokter Arya berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan menyelidik. Ia adalah dokter muda yang sangat tegas dan disiplin, membuat Andin dan Yas merasa tegang.“Selamat pagi, Ibu Andin,” sapa dokter Arya, matanya beralih ke Yas yang sedang pura-pura menikmati mie ayam. “Dan… Pak Yas?”“Selamat pagi, Dok." Yas nyengir kikuk. "Makan, Dok," tawarnya.Dokter Arya tidak menanggapi, pandangannya beralih ke Gara yang terlihat lebih segar, meski bibirnya masih basah. “Bagaimana kondisi Bapak Gara hari ini? Ada keluhan?”“Sudah lebih baik, Dok. Tadi pagi sempat mual dan muntah, tapi sekarang sudah baikan,” jawab Andin dengan suara setenang mungkin. Jantungnya berdebar kencang.“Mual dan muntah?” Dokter Arya menaikkan alis. Ia kemudian mendekat dan mulai memeriksa Gara. Ia menekan perut Gara dengan hati-hati. “Apakah perutnya terasa sakit, Bapak Gara?”Gara menggeleng pelan. “Tidak, Dok. Hanya mual saja.”Saat dokter Arya memeriksa Gara, matanya yang tajam menangkap se

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 95. Lebih Baik

    Mendengar nama itu, Gara langsung menoleh. Sorot matanya yang tadinya kosong kini berbinar. Ada sepercik harapan yang menyala di sana."Nienie bilang kamu harus baik-baik saja jangan mengkhawatirkannya karena dia juga baik-baik saja," bisik Riko, memastikan suaranya tidak terdengar keluar."Benarkah?" Gara tersenyum lemah. "Kamu tidak sedang membodohi aku, kan?""Mas, yang diucapkan Kak Riko itu benar," timpal Anisa, suaranya juga sangat pelan. "Kami baru pulang habis menemui Kak Jen, tapi sayang Kak Jen belum mengizinkan kami memberitahukan keberadaannya.""Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi kamu percaya pada Anisa, kan?" tanya Riko. "Kami hanya diizinkan untuk memberi tahu kamu kalau dia baik-baik saja.""Aku akan menelpon Kak Jen supaya Mas Gara percaya," kata Anisa, tangannya sudah bersiap mengambil ponsel."Benarkah?" tanya Gara, matanya dipenuhi antusias."Tapi setelah mendengar suara Kak Jennie, Mas Gara harus mau makan, ya," bujuk Anisa, senyum manisnya merekah."Iya," jawa

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 94. Gara Semakin Lemah

    "Baguslah!" seru Anisa, mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum lebar. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kelegaan yang mendalam."Ayo kita pulang," ajak Riko, suaranya terdengar lembut namun tegas, seolah ia bisa membaca gejolak emosi di antara mereka."Yah..." Luna mengerucutkan bibirnya. Ia memandang berkeliling, matanya menyapu pemandangan kebun sayur yang membentang hijau, "padahal aku masih pengin lama-lama di sini."Anisa tersenyum menenangkan, "Nanti kalau ada waktu kita ke sini lagi. Semoga Mas Bara sering pergi ke luar negeri," ucapnya dengan nada jenaka.Jennie terkekeh pelan, "Nanti kalau ditinggalin terus, kangen, loh."Senyum Anisa memudar. Ia menatap Jennie dengan mata berkaca-kaca. "Kak... aku benar-benar bahagia punya Kakak." Suaranya bergetar menahan tangis. "Sejak ibu meninggal, aku hidup sebatang kara. Kak Jennie nggak aku anggap kakak ipar, tapi kakak kandungku sendiri. Lebih baik aku berpisah sama Bara daripada harus berpisah sama Kakak."Riko menyentil dahi An

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 93. Sembuh

    Jennie menghela napas, "Kakak bilang aja kalau aku baik-baik aja, tapi jangan beritahu aku di mana. Apalagi tentang kehamilanku." Matanya memancarkan keteguhan yang rapuh, seolah ia sedang membangun benteng dari rasa sakit yang tak terucap.Riko menatap Jennie dalam-dalam, "Kamu yakin? Kalau dia tahu aku menyembunyikanmu, dia pasti akan terus memantaumu, dan aku nggak bisa ketemu kamu, Nie." Suaranya terdengar cemas, ada kekhawatiran yang nyata di baliknya.Jennie hanya tersenyum tipis, sorot matanya kosong, "Terserah Kakak aja, gimana baiknya. Aku masih ingin di sini, sendiri, menunggu kelahiran anakku." Kalimat itu diucapkan dengan pelan, penuh ketegasan, seakan tak ada lagi ruang untuk berdebat.Riko mengalihkan pembicaraan, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa berat. "Sudahlah, jangan bahas Gara lagi. Kita ke sini karena merindukan kamu. Bagaimana keadaan keponakanku?"Jennie tersenyum, senyumnya kali ini benar-benar nyata, tangannya dengan lembut mengelus perutnya yang mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status