Home / Romansa / Kontrak Sang Pengantin / Bab 24. Rencana Gara

Share

Bab 24. Rencana Gara

Author: Nyi Ratu
last update publish date: 2025-07-21 01:11:57

"Nyonya Bos, sepertinya kita tidak bisa membohongi suamimu lagi," bisik Yas, suaranya tercekat di tenggorokan, matanya melirik cemas ke arah sosok tinggi tegap yang berdiri beberapa meter di hadapan mereka. Jennie mengangguk pasrah, pandangannya terpaku pada Gara yang kini menatapnya tajam, tatapan matanya seolah mampu menembus relung jiwa.

"Sepertinya memang begitu," sahut Jennie, suaranya pun tak kalah pelan. Ia menelan ludah gugup. Seluruh rencana yang sudah disusun rapi terasa hancur berkep
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 98. Zayyan Althaf Gara (End)

    Jennie mengusap air mata suaminya yang sedang duduk di kursi samping ranjang sambil menggendong bayinya. "Kamu tua banget," ucapnya sambil terkekeh."Aku tidak bisa hidup tanpamu, Biggie," ucap Gara.Jennie tersenyum, namun ada rasa sedih di hatinya melihat kondisi suaminya yang terlihat tak terurus dan kurus. Gara terlihat sangat menyedihkan."Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Jennie. "Apa Anisa memberi tahu kamu?"Gara menggeleng. "Aku sudah ada di kampung ini sejak semalam untuk melihat rumahmu," katanya. "Rumah kita sudah selesai. Rumah impianmu.""Rumah apa?" tanya Jennie bingung."Dulu, waktu kita ke sini, kamu bilang ingin punya rumah di pedesaan seperti ini. Jadi, aku membuat rumah di tengah kebun sebagai hadiah ulang tahunmu.""Kamu masih sempat memberiku hadiah, padahal aku udah ninggalin kamu berbulan-bulan," ucap Jennie, "apa kamu nggak marah sama aku?"Kondisi di dalam ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya dipecah oleh isak tangis Gara yang tertahan. Ia merasa ha

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 97. Melahirkan

    Tatapan Bara langsung menancap pada Anisa. Raut wajahnya tak lagi hanya dipenuhi amarah, tapi juga kekecewaan yang mendalam. "Kamu tahu di mana dia? Jadi selama ini kamu tahu, tapi sengaja diam?" Suara Bara bergetar, lebih seperti bisikan yang penuh ancaman.Anisa menelan ludah dengan susah payah. Wajah cerianya kini pucat pasi. Ia membuang pandangan, tidak berani menatap mata Bara. "Mas... aku...""Jawab, Anisa! Di mana Jennie?" desak Bara, suaranya naik satu oktaf. Ia berdiri, bersiap menghampiri Anisa, namun Haidar segera menahannya."Sudah, Bara. Jangan emosi," bisik Haidar sambil menggenggam erat lengan Bara. "Anisa, kamu jujur saja. Ada apa sebenarnya?"Gara tiba-tiba bangkit dari duduknya. "Kenapa kalian malah menyalahkan Anisa?" tanyanya penuh amarah. "Atas dasar apa kalian memarahinya? Kalian tahu? Dia itu penyelamat hubungan aku dan Jennie!"Mendengar kemarahan Gara, Bara dan Haidar terdiam. Mereka bertukar pandang penuh penyesalan. Haidar bergegas meminta maaf pada Anisa. "

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 96. Keanehan Gara

    Pintu terbuka dan sosok dokter Arya berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan menyelidik. Ia adalah dokter muda yang sangat tegas dan disiplin, membuat Andin dan Yas merasa tegang.“Selamat pagi, Ibu Andin,” sapa dokter Arya, matanya beralih ke Yas yang sedang pura-pura menikmati mie ayam. “Dan… Pak Yas?”“Selamat pagi, Dok." Yas nyengir kikuk. "Makan, Dok," tawarnya.Dokter Arya tidak menanggapi, pandangannya beralih ke Gara yang terlihat lebih segar, meski bibirnya masih basah. “Bagaimana kondisi Bapak Gara hari ini? Ada keluhan?”“Sudah lebih baik, Dok. Tadi pagi sempat mual dan muntah, tapi sekarang sudah baikan,” jawab Andin dengan suara setenang mungkin. Jantungnya berdebar kencang.“Mual dan muntah?” Dokter Arya menaikkan alis. Ia kemudian mendekat dan mulai memeriksa Gara. Ia menekan perut Gara dengan hati-hati. “Apakah perutnya terasa sakit, Bapak Gara?”Gara menggeleng pelan. “Tidak, Dok. Hanya mual saja.”Saat dokter Arya memeriksa Gara, matanya yang tajam menangkap se

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 95. Lebih Baik

    Mendengar nama itu, Gara langsung menoleh. Sorot matanya yang tadinya kosong kini berbinar. Ada sepercik harapan yang menyala di sana."Nienie bilang kamu harus baik-baik saja jangan mengkhawatirkannya karena dia juga baik-baik saja," bisik Riko, memastikan suaranya tidak terdengar keluar."Benarkah?" Gara tersenyum lemah. "Kamu tidak sedang membodohi aku, kan?""Mas, yang diucapkan Kak Riko itu benar," timpal Anisa, suaranya juga sangat pelan. "Kami baru pulang habis menemui Kak Jen, tapi sayang Kak Jen belum mengizinkan kami memberitahukan keberadaannya.""Kamu boleh tidak percaya padaku, tapi kamu percaya pada Anisa, kan?" tanya Riko. "Kami hanya diizinkan untuk memberi tahu kamu kalau dia baik-baik saja.""Aku akan menelpon Kak Jen supaya Mas Gara percaya," kata Anisa, tangannya sudah bersiap mengambil ponsel."Benarkah?" tanya Gara, matanya dipenuhi antusias."Tapi setelah mendengar suara Kak Jennie, Mas Gara harus mau makan, ya," bujuk Anisa, senyum manisnya merekah."Iya," jawa

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 94. Gara Semakin Lemah

    "Baguslah!" seru Anisa, mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum lebar. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kelegaan yang mendalam."Ayo kita pulang," ajak Riko, suaranya terdengar lembut namun tegas, seolah ia bisa membaca gejolak emosi di antara mereka."Yah..." Luna mengerucutkan bibirnya. Ia memandang berkeliling, matanya menyapu pemandangan kebun sayur yang membentang hijau, "padahal aku masih pengin lama-lama di sini."Anisa tersenyum menenangkan, "Nanti kalau ada waktu kita ke sini lagi. Semoga Mas Bara sering pergi ke luar negeri," ucapnya dengan nada jenaka.Jennie terkekeh pelan, "Nanti kalau ditinggalin terus, kangen, loh."Senyum Anisa memudar. Ia menatap Jennie dengan mata berkaca-kaca. "Kak... aku benar-benar bahagia punya Kakak." Suaranya bergetar menahan tangis. "Sejak ibu meninggal, aku hidup sebatang kara. Kak Jennie nggak aku anggap kakak ipar, tapi kakak kandungku sendiri. Lebih baik aku berpisah sama Bara daripada harus berpisah sama Kakak."Riko menyentil dahi An

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 93. Sembuh

    Jennie menghela napas, "Kakak bilang aja kalau aku baik-baik aja, tapi jangan beritahu aku di mana. Apalagi tentang kehamilanku." Matanya memancarkan keteguhan yang rapuh, seolah ia sedang membangun benteng dari rasa sakit yang tak terucap.Riko menatap Jennie dalam-dalam, "Kamu yakin? Kalau dia tahu aku menyembunyikanmu, dia pasti akan terus memantaumu, dan aku nggak bisa ketemu kamu, Nie." Suaranya terdengar cemas, ada kekhawatiran yang nyata di baliknya.Jennie hanya tersenyum tipis, sorot matanya kosong, "Terserah Kakak aja, gimana baiknya. Aku masih ingin di sini, sendiri, menunggu kelahiran anakku." Kalimat itu diucapkan dengan pelan, penuh ketegasan, seakan tak ada lagi ruang untuk berdebat.Riko mengalihkan pembicaraan, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa berat. "Sudahlah, jangan bahas Gara lagi. Kita ke sini karena merindukan kamu. Bagaimana keadaan keponakanku?"Jennie tersenyum, senyumnya kali ini benar-benar nyata, tangannya dengan lembut mengelus perutnya yang mu

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 84. Pencarian Jennie

    Mobil Gara melesat bak anak panah yang terlepas dari busurnya, membelah padatnya jalanan. Jarum speedometer terus menanjak, mengabaikan klakson-klakson yang membunyikan umpatan dari pengendara lain. Telinganya tuli, matanya buta. Hanya satu tujuan: minimarket yang menjadi saksi bisu pertemuan perta

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 83. Muak

    Ia keluar dari kamar, dan pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Bu Eni yang sudah duduk menunggu di ruang tamu."Kamu terlihat lebih segar dan cantik," puji Bu Eni, matanya berbinar, "gaya rambutmu sangat cocok."Jennie tertawa, "Jennie aku simpan dulu di lemari." Ia menunjuk lemari dengan da

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 82. Myra

    Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, Jennie dan Riko akhirnya tiba di rumah orang tua Anisa. Begitu turun dari mobil, Jennie menghirup udara pedesaan yang menenangkan, seolah semua beban di pundaknya perlahan menguap."Tempat ini cocok untuk menenangkan diri," gumam Riko sambil mena

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 81. Selamat Tinggal

    "Gara akan pergi ke luar kota besok pagi untuk urusan pekerjaan," kata Riko pada Jennie.Jennie menoleh, keningnya berkerut. "Berapa hari dia di sana? Kok dia nggak bilang apa-apa soal ini?""Aku tidak tahu pasti," jawab Riko, "tapi kata Luna, Gara kemungkinan hanya satu hari saja.""Kalau begitu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status