Beranda / Romansa / Kontrak Sang Pengantin / Bab 4. Saling Menguatkan

Share

Bab 4. Saling Menguatkan

Penulis: Nyi Ratu
last update Terakhir Diperbarui: 2023-01-04 18:02:18

"Kita pasti bakal sam-sama lagi." Jennie mencium punggung tangan suaminya. "Sebaiknya kamu pergi sebelum Mama kembali!" pinta Jennie pada suaminya.

Sejujurnya Jennie sangat senang ditemani Gara, tapi ia merasa kasihan pada sang suami yang terus berdiri sejak tadi di luar jendela demi menemaninya.

Gara menunduk sebentar. "Aku tidak mau pergi dari tempat ini. Aku tidak bisa berpisah denganmu walau hanya sedetik."

Sejak tadi, lebih tepatnya sejak pertama kali Jennie masuk ke dalam dan berdebat dengan orang tuanya, Gara terus menunggu di seberang rumah itu. Ia begitu mengkhawatirkan istrinya.

"Sayang, ini cuma sementara sampai aku nemuin solusi untuk hubungan kita. Kamu pergi ya! Aku akan baik-baik aja." Jennie memohon agar suaminya pergi. Ia tidak ingin semuanya menjadi kacau jika ibunya tahu kalau Gara menemuinya.

"Aku akan menunggu mamamu datang baru pergi dari sini. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Biggie," ucap Gara.

"Sayang, aku mohon, pergilah!" sekali lagi Jennie memohon pada sang suami.

Ingin sekali Gara membawa kabur istrinya, tapi itu tidak semudah yang dipikirkan. Ia ingin membongkar kejahatan ibu mertuanya terlebih dulu, tapi belum ada bukti kuat yang bisa menjeratnya.

Jennie membingkai wajah suaminya sambil tersenyum. "Sejujurnya aku nggak mau kamu pergi dari sini, tapi kalau sampai Mama tahu semua akan tambah rumit. Kamu pulang ya, aku akan baik-baik aja."

"Aku suamimu, Biggie. Sekarang akulah yang lebih berhak atas dirimu. Jika kamu mengizinkan, aku akan bicara dengan mamamu." Gara menciumi telapak tangan istrinya berkali-kali. "Aku tidak mau berjauhan denganmu."

"Untuk beberapa waktu ke depan kita nggak bisa bertemu. Mama mengurungku tanpa alasan yang jelas." Jennie menunduk sedih. "Entah apa alasan sebenarnya, Mama memisahkan kita. Aku rasa bukan karena status kita yang berbeda karena Mama juga menikah lagi dengan seorang pengusaha kan?"

Jennie menatap suaminya dengan sendu. Matanya memerah menahan tangis. Ia tidak mau menangis lagi yang akan membuat suaminya semakin cemas.

Gara masih mendengarkan istrinya dengan seksama, mencoba memahami kondisi di antara mereka berdua.

'Sepertinya dia sadar kalau ibunya mempunyai alasan lain,' batin Gara.

"Aku dilarang untuk keluar kamar dan pergi menemuimu. Aku juga nggak bisa ngehubungin kamu karena hape dan yang lainnya juga ikut disita." mengakhiri kalimatnya, Jennie menghela napas panjang.

Gara menunduk. "Pantas saja, ponselmu tidak aktif saat aku terus mencoba untuk menghubungimu."

Jennie merasa bersalah atas hal itu. Ia tidak bisa melakukan apapun dan hanya terjebak di dalam ruangan ini.

"Aku akan pergi dulu, nanti aku datang lagi sebelum mamamu pulang. Tunggu sebentar, ya."

Seperginya Gara, Jennie menatap kosong ke depan. "Gimana caranya aku ngejelasin sama Gara kalau Mama maksa aku cerai sama dia?"

Walaupun pernikahannya baru seumur jagung, tapi Jennie sudah merasa nyaman berada di antara keluarga suaminya. Walau keluarga suaminya orang kaya, tapi mereka menerima Jennie dengan baik.

'Aku nggak mau pisah sama Gara. Aku baru aja jatuh cinta sama dia, dan bahkan kami belum melakukan malam pengantin, tapi kenapa cobaan begitu kencang menerpa kami?' batinnya.

Setelah beberapa waktu Gara kembali. Ia datang dengan banyak sekali barang bawaan.

"Kamu bawa apaan?" tanya Jennie.

Gara membawakan wanita itu banyak sekali makanan, minuman, dan obat-obatan.

"Aku lihat tanganmu lebam, " Gara berujar dingin. "Kenapa berbohong dan menutupinya? Agar aku tidak tahu?" Ditatapnya sang istri yang terkejut karena Gara sadar mengenai lebam itu.

Gara melanjutkan. "Segera obati sebelum rasa sakitnya bertambah menjadi semakin parah. Aku bawakan semua yang kamu butuhkan."

"Tapi gimana caranya masukin barang bawaan kamu?" Jennie bingung karena jendela kamarnya dipasang teralis.

"Aku akan memasukkannya satu persatu. Ada makanan dan minuman jika kamu mendadak lapar. Kita tidak tahu kapan Mama kamu akan kembali, kamu harus makan agar tetap bertenaga." Gara memasukkan satu persatu makanan itu sambil terus mengoceh.

Terakhir Gara mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Di sini sudah ada nomor aku dan Yas,  jika kamu butuh sesuatu segera hubungi aku." Gara memasukkan ponsel itu ke dalam saku dres yang dikenakan istrinya. "Simpan baik-baik, ini sudah di-silent semoga Mama kamu tidak tahu "

Tiap bantuan dan perhatian yang diberikan oleh pria itu jelas membuat Jennie semakin yakin untuk tidak meninggalkannya dengan alasan apa pun.

Apa kesalahan yang dilakukan oleh Gara sampai harus menerima semua hal tersebut? Mengapa mamanya itu sangat membenci suaminya seakan memiliki dendam lama yang tidak bisa terselesaikan dengan mudah?

"Sayang, gimana kalau Mama tetap maksa untuk misahin kita? Aku cinta sama kamu, tapi aku nggak bisa memilih di antara kalian."

"Aku berjanji akan membawamu pulang kembali ke rumah kita," ujar pria itu, serak. "Bersabarlah sebentar lagi!"

Semua kesulitan dan permasalahan yang ia alami ini, mau tidak mau harus ia terima seorang diri. Gara tidak bisa menceritakan semua ini kepada keluarga besarnya. Gara takut membahayakan orang-orang yang dicintainya.

Jennie menarik napas dalam-dalam sambil tersenyum, berharap sang suami mau menuruti ucapannya. "Aku percaya kamu bakal bawa aku pergi dari sini, tapi sekarang kamu harus pulang dan mencari solusi untuk masalah kita." 

Gara membelai pipi istrinya. "Aku akan pulang, kamu istirahat dan berjanjilah untuk tidak menangis lagi."

"Hati-hati, Sayang." Jennie melambaikan tangan sambil tersenyum.

Ketika Lisa kembali, wanita itu marah besar, merasa dikhianati dan ditipu anaknya sendiri. "Jennie!" teriaknya.

Menyadari kedatangan sang mama dengan ekspresi yang tidak bersahabat membuat Jannie gemetar takut.

"A-ada apa, Ma?" tanyanya, gugup.

"Kamu memang sudah hilang akal. Kamu ingin bermain-main denganku, 'kan?!" .

Jennie mengerutkan kening. Wanita itu sama sekali tidak tahu apa yang saat ini sedang Lisa bahas. "Ada apa lagi, sih, Ma?"

"Kamu baru saja bertemu dengan suamimu, 'kan?!" tuduh sang Mama, melotot dengan penuh amarah.

Mendengar hal itu jelas saja membuat Jennie membeku. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana mamanya bisa menyadari pertemuan singkat tersebut.

Tidak dengan mudahnya mengakui apa yang terjadi, Jennie berusaha menolak. "Aku nggak ngerti apa yang Mama omongin! Ketemu sama Gara? gimana caranya? Sejak tadi Mama ngurung aku di sini."

Wanita yang wajahnya sudah bengkak karena terus menangis, melangkah maju secara perlahan. "Gimana caranya aku pergi dari sini? Sedangkan pintu kamar ini Mama kunci dan jendela juga dipasang teralis. Nggak mungkin aku bisa keluar dari sini."

Lisa berdecak. "Kenapa kamu suka sekali berbohong pada Mama?" tukasnya sambil mengepalkan tangan karena kesal. "Entah itu merahasiakan pernikahan, menutupi apa yang kamu langgar, mau berapa banyak lagi tipuan yang akan kamu buat?"

"Ma, aku ...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 72. Konferensi Pers

    Di ruang interogasi, Sasha terduduk lesu. Tatapan matanya kosong, ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Rencana yang ia susun dengan matang hancur dalam sekejap. Seakan semua sudah direncanakan dengan sempurna, tanpa cacat, tanpa celah. Ia tidak menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil telah dipantau dan dianalisis oleh Gara. Telepon genggamnya, percakapannya dengan orang suruhan, bahkan jejak digital yang ia tinggalkan di media sosial, semuanya telah menjadi bukti tak terbantahkan.Ketika Gara, Bara, dan Jennie keluar dari kantor polisi, sorotan kamera langsung menyambut mereka. Gara melangkah tegap, Bara mengekor di belakangnya, dan Jennie berdiri dengan kepala tegak. Malam itu, berita tentang skandal Mannaf Group berganti menjadi berita penangkapan Sasha. Namun, pertanyaan besar masih menggantung di udara. Konferensi pers yang diadakan keesokan harinya di kantor Mannaf Group terasa mencekam. Puluhan kamera dan wartawan memadati ruangan, menunggu penjelasa

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 71. Tertangkap

    Di kantor Gara, suasana mendadak dicekam ketegangan. Ponsel Yas bergetar tanpa henti, layarnya terus menyala menampilkan notifikasi yang masuk bertubi-tubi. Kerutan di dahi Yas semakin dalam saat ia melihat sebuah video dengan judul provokatif, "Skandal Sang Penguasa Mannaf Group, Gara: Pesta Liar dengan Wanita di Klub Malam." Video yang menunjukkan sosok pria mabuk dengan tawa lepas itu langsung mendominasi seluruh lini masa."Bos, coba lihat video ini," ujar Yas, suaranya tercekat. Ia menyodorkan ponselnya, "Sepertinya ini perbuatan Sasha. Dia pikir laki-laki di video ini adalah Anda."Namun, alih-alih panik, tawa Gara justru meledak. Ia menatap Yas dengan geli, seolah tak percaya adiknya kembali menjadi sasaran fitnah. Yas yang tadinya tegang, kini ikut terkekeh melihat reaksi santai bosnya."Dasar bodoh!" Gara menggelengkan kepala. "Lihatlah, dia bahkan tidak bisa membedakan mana aku, mana Bara. Sejak kapan aku suka ke klub malam?""Mungkin dia terlalu terobsesi sampai matanya rab

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 70. Bukti

    Pagi itu, sinar mentari yang hangat menembus celah gorden, membangunkan Gara dan Jennie dari tidur mereka yang nyenyak. Keduanya masih berbaring, berpelukan erat seolah tak rela melepaskan kehangatan satu sama lain. Setelah mandi dan bersiap, mereka keluar dari kamar rahasia. Jennie berjalan gontai menuju sofa, wajahnya masih terlihat mengantuk, sementara Gara sudah terlihat segar dan siap untuk memulai hari."Sini, duduk di sini," pinta Gara sambil menepuk pahanya."Aku masih lemas, badanku rasanya remuk," jawab Jennie, merebahkan tubuhnya di sofa.Gara merengek manja, "Ayolah, sini dulu. Aku mau peluk-peluk sebelum kerja. Nanti aku pijit, deh."Jennie terkekeh. "Sejak kapan bos besar ini jadi manja?" Meski begitu, ia akhirnya bangkit dan duduk di pangkuan Gara. Gara tersenyum puas dan memeluknya erat. Tiba-tiba, pintu terbuka."Bang! Kamu sama Kakak ipar nggak apa-apa, 'kan?" Suara Bara yang panik memecah keheningan. Ia melangkah masuk, napasnya terengah-engah, dengan wajah cemas ya

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 69. Ruang Rahasia

    "Gini." Bara memulai dengan nada serius. "Ayah kandung Anisa, Pak Indra Gunawan, nikah lagi dan punya anak namanya Sasha.""Langsung ke intinya saja. Kakak iparmu ini kapasitas otaknya terbatas," sindir Gara."Enak aja!" seru Jennie memelototi suaminya. "Lanjut, Bar."Bara mengangguk. "Waktu itu, aku dengar Pak Indra mau jodohin Abang sama Sasha. Aku langsung lapor ke Abang, dan dia bilang udah punya calon. Nggak pakai lama, besoknya dia langsung nikah dan bawa istrinya ke rumah Anisa buat ketemu Daddy dan Pak Indra.""Istrinya? Siapa?" tanya Jennie penasaran.Bara dan Gara saling pandang, lalu tawa mereka meledak."Ya kamu lah!" Gara terbahak. "Tadi tidak mau dibilang lemot, tapi malah lebih parah.""Garangan!" Jennie memukul Gara dengan kesal. "Kakak ipar tuh satu-satunya istri Abang. Masih aja nanya." Bara terkekeh."Maksudku, siapa tahu ada istri lain sebelum aku," jawab Jennie, lalu membekap mulut Gara yang masih terus tersenyum geli."Dia itu nggak punya bakat godain cewek. Bis

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 68. Perangkap

    "Sayang! Kamu mau ke mana?!"Jantung Gara serasa berhenti berdetak. Sebuah jeritan melengking membelah keheningan jalanan. Suara itu. Jennie. Jernih dan familier, jauh berbeda dari bayangan Gara yang panik. Bayangan tentang istrinya yang disekap. Gara menoleh, dan dunianya yang gelap kembali terang. Jennie berdiri di sisi jalan, memegang kantong makanan, matanya penuh kebingungan. Foto yang dikirim orang tak dikenal itu, foto Jennie yang tampak diikat, hanyalah sebuah editan sempurna yang berhasil mempermainkan emosinya.Senyum tipis, dipenuhi amarah, terukir di bibir Gara. Pria di hadapannya menyadari ada sesuatu yang salah. Sebelum sempat pria itu melarikan diri, Gara menjentikkan jarinya, sebuah isyarat yang hanya ia dan anak buahnya mengerti.Tiba-tiba, seperti badai yang datang dalam keheningan, empat orang berjas hitam muncul dari balik bayangan. Mereka mengepung pria itu, mengunci setiap jalan keluar. Pria itu baru menyadari. Ia tidak sedang mengancam Gara, ia baru saja melang

  • Kontrak Sang Pengantin    Bab 67. Ancaman Sasha

    "Uang? Seberapa banyak?" tanya Gara, suaranya meninggi. Ia tak percaya Riko, bisa terlibat dalam hal sebesar ini."Cukup untuk biaya hidup dan... misi itu," jawab Riko, suaranya nyaris berbisik. "Aku... aku kalut, Ga. Tidak ada pekerjaan. Saat itu, tawaran Sasha terasa seperti satu-satunya jalan keluar."Gara menghela napas panjang. Kekesalannya luntur, berganti rasa iba. Ia menepuk pundak Riko. "Aku mengerti. Aku tahu kamu tidak bermaksud jahat. Aku tidak menyalahkanmu.""Tapi... Gara..." Riko menatap Gara. "Aku yang membuat Nienie dan kamu berada dalam bahaya.""Bukan kamu, Riko," jawab Gara tegas. "Sasha yang jahat. Kamu hanya dimanfaatkan untuk dijadikan tersangka."Riko mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?""Sasha yang mengatur kecelakaan itu. Mungkin mereka pikir itu Jennie karena aku memakai motor istriku waktu itu," kata Gara. Ia menelan ludah. "Daddy sudah menyelidiki semuanya dan menjaga keselamatan kita.""Mereka?" Riko mengerutkan kening. "Maksudmu Sasha tidak sendirian?""Dia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status