Home / Romansa / Kontrak Suci / 31~Terima Kasih Banyak

Share

31~Terima Kasih Banyak

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-06-03 20:20:42

“Ada masalah?” tanya Suci setelah Arif mengakhiri obrolannya dengan Ivan di telepon.

Arif menggeleng. Melempar ponselnya di tempat tidur. “Bunda barusan ngadu ke Ayah karena obrolan di dapur.”

“Ohh …” Suci tidak bisa berkomentar banyak, karena ia pun tidak tahu secara mendetail perihal pembicaraan Arif dan Deswita beberapa saat lalu. Mungkin pembahasannya tidak jauh-jauh dari pernikahan yang sedang dilakukan saat ini dan penolakan Deswita, tetapi ia tidak mau ikut campur.

“Aku mau mandi dulu,”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (13)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
tapi sandiwara arif ngga ikutan berakhir kan, siapa tau nanti tiba2 budes sidak kan ngga lucu klo ketahuan
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
yakin bu udah nyerah,bukannya lagi bikin skenario buat misahin suci
goodnovel comment avatar
Christina Natalia
bohong itu...Arif jgn percaya ....emakmu lagi nyusun strategi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   37~Semua Kebohongan

    Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar

  • Kontrak Suci   36~Status Kita

    “Perutku sakit.”Suci membaca pesan dari Arif setelah jam lesnya telah usai. Dahinya berkerut, mengingat kondisi pria itu ketika ia meninggalkan unit apartemen beberapa waktu lalu. Saat itu, Arif terlihat baik-baik saja. Bahkan, pria itu sempat melempar protes akan penampilan Suci sebelum ia berangkat les.Dengan segera Suci mengetikkan balasan. “Dari kapan? Habis makan apa?”Suci melihat pesan itu langsung terbaca. Namun, tidak ada jawaban setelah ia menunggu beberapa saat kemudian. Karena itu, ia kembali mengetikkan sebuah pesan.“Mas? Masih sakit perut?”Tetap tidak ada balasan, meski pesan itu langsung dibaca oleh Arif. Suci mulai merasa khawatir. Terlebih, selama mengenal Arif, pria itu tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Apa mungkin kondisi perut Arif benar-benar parah?Suci kembali mencoba mengirimkan pesan. “Mas Arif diare? Maag? Mual? Atau gimana?”Lagi, pesan itu hanya dibaca tetapi tidak ada balasan.“Ci, ayo!”“Ha?” Suci mendongak. Menatap tutor bahasa Inggrisnya yan

  • Kontrak Suci   35~Mas Bule

    “Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat. Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putranya itu tidak melewatinya dan pergi begitu saja. “Jose, duluan ke mobil.”“Baik, Pak,” jawab Jose lalu menatap Arif dan memberi anggukan sopan. “Duluan, Mas.”“Ya,” jawab Arif tanpa melihat Jose karena fokus pada ayahnya. ”Ka–”“Sampai kapan sandiwaramu dengan Suci berakhir?” tanya Ivan baik-baik. Tanpa ada emosi sama sekali. “Maksud Ayah, sampe kapan kamu mau buat Bundamu sakit kepala?”“Memangnya siapa yang lagi sandiwara?”“Kalau memang bukan sandiwara, untuk apa pernikahanmu dengan Suci masih ditutupi?” “Suci yang minta,” jawab Arif tenang. “Bapaknya di penjara dan ibunya kabur entah ke mana. Jadi, lebih baik kami diam-diam saja. Yang penting SAH.”“Oh ya?” Ivan tertawa hambar sambil mene

  • Kontrak Suci   34~Gemas Sendiri

    “Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar hingga pagi ini. Semalam, Suci tidak berani mengganggu, karena pria itu berkata ingin beristirahat dan langsung tidur.“Sarapan dulu,” lanjut Suci dengan sabar berdiri di depan pintu kamar Arif. Hening sesaat. Sampai akhirnya Suci melihat gagang pintu kamar bergerak. Pintu itu terbuka, menampilkan Arif dengan rambut sedikit berantakan, wajah lelah, dan bayangan gelap di bawah matanya.Kemungkinan besar, pria itu hampir tidak tidur semalaman.“Sarapan dulu,” ulang Suci ragu-ragu, “Mas Arif sakit? Mau aku bawain sarapannya ke kamar? Atau aku bikinin teh anget. Mas Arif bisa mandi aja dulu.”Arif mengusap pelan wajahnya. Kemudian, ia menggeleng. Menatap Suci yang kembali dengan penampilannya

  • Kontrak Suci   33~Semua Luka

    “Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut, tetapi Arif tetap tidak memedulikannya. “Kita ke sana.” Telunjuk Arif mengarah pada salah satu butik yang menjual pakaian wanita.“Males.” Suci berhenti melangkah. Diam di tempat dan bersedekap. “Hapus dulu fotonya.”Tahu Suci tidak lagi berada di sampingnya, Arif pun terkekeh kecil. Ia melangkah mundur dan berhenti di sebelah Suci. “Mau sampe kapan ngambeknya?”“Siapa yang ngambek.” Suci mencibir. “Berarti ini lagi nggak ngambek?”“Nggak.”“Ya udah.” Arif meraih pergelangan Suci. Mencengkramnya lembut, lalu menariknya dengan perlahan. Membawa gadis itu menuju butik yang ia tunjuk sebelumnya. “Di hapeku juga ada foto nikah kita, tapi kamu nggak pernah minta hapus.

  • Kontrak Suci   32~Hapus, Nggak!

    “Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, bahkan terlalu tenang untuk seseorang seperti Deswita. Ingin rasanya Arif berpikiran negatif terhadap ibunya, tetapi hal tersebut dengan segera ia urungkan. Siapa tahu saja, Deswita memang benar-benar lelah dan butuh waktu untuk introspeksi diri. “Mas nggak papa?” tanya Suci menatap Arif setelah menghentikan video yang ia tonton. Pria itu sudah berpakaian rapi seperti biasa dan tentu saja terlihat tampan. “Nggak papa. Memangnya kenapa?”“Didiemin sama ibunya.”“Mau gimana lagi.” Arif menghela panjang. “Yang penting, ibu mertuamu itu sudah nggak tinggal di sini lagi.”Suci tertawa kecil. Ternyata, Arif masih bisa bercanda di saat seperti ini. “Nanti aku pindahin lagi barang-barangku ke kama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status