Accueil / Romansa / Kontrak Suci / 33~Semua Luka

Partager

33~Semua Luka

Auteur: Kanietha
last update Date de publication: 2026-06-08 21:00:26

“Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci.

Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya.

“Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia mengatakan hal tersebut, tetapi Arif tetap tidak memedulikannya.

“Kita ke sana.” Telunjuk Arif mengarah pada salah satu butik yang menjual pakaian wanita.

“Males.” Suci berhenti melangkah. Diam di t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (15)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
sakit bgt pastinya, tapi mau gimana rif budes ngga bisa terima nila jatuh cinta aja sama suci, patah hati obatnya ya jatuh cinta lagi
goodnovel comment avatar
Mom Kece
nunggu in loh mba Bebh....
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
lukamu harus disembuhkan dengan orang baru mas arif.dan orang baru itu adalah suci
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Kontrak Suci   69~Hidup Berdampingan

    Malam itu, Nurul masih belum bisa memejamkan mata. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tetapi pikirannya terus berputar pada rumah Suci yang siang tadi baru pertama kali ia datangi. Sambil melipat pakaian di depan televisi untuk mencari kesibukan, bayangan tentang rumah megah itu kembali memenuhi kepalanya. Semakin diingat, semakin sulit ia mempercayai bahwa keponakan yang dulu hidup apa adanya itu, kini tinggal di lingkungan elite.“Kenapa belum tidur?” tanya Bahlil begitu masuk ke rumah. Ia baru kembali dari pos ronda di ujung gang. Sarung yang semula diselempangkan di bahunya langsung dilepas dan dilemparkannya ke sandaran kursi.“Nggak bisa tidur,” jawab Nurul tidak melanjutkan melipat pakaian yang sudah berada di pangkuan. Pandangannya tertuju pada televisi yang masih menyala, tetapi tidak benar-benar ia tonton. “Kok bisa ya, Suci itu nikah sama Arif?”“Bukan itu masalahnya,” gerutu Bahlil sembari duduk di kursi dan menaikkan sebelah kakinya. “Aku jengkel karena mereka

  • Kontrak Suci   68~Jangan Diganggu

    “Ci, Tante mau ke kamar mandi,” ujar Nurul tidak kehabisan akal mencari alasan agar bisa masuk ke dalam rumah Suci. Kali ini, keponakannya itu tidak akan bisa mengelak, karena urusan ke kamar mandi bukanlah sesuatu yang bisa ditunda-tunda. “Kebelet habis minum es teh.”Suci membeku beberapa detik. Kali ini, ia benar-benar kalah dengan siasat Nurul. Tidak mungkin ia menolak seseorang yang mengaku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Pada akhirnya, Suci tidak punya pilihan selain mengalah.“Ayo masuk,” ujar Suci beranjak lebih dulu. Ia membukakan pintu, lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah. Dengan langkah pelan, ia memandu Nurul menuju kamar mandi yang berada di ruang keluarga. Nurul segera melangkah masuk dengan wajah semringah. Hawa sejuk dari pendingin ruangan langsung menerpa wajah, lalu tubuhnya. Benar-benar luar biasa. Namun, alih-alih langsung menuju kamar mandi mengikuti Suci, ia justru sibuk menyapu setiap sudut rumah yang dilewatinya.Ruang tamu di bagian depan saja

  • Kontrak Suci   67~Kesempatan Langka

    “Kapan kira-kira kita beli perlengkapan bayi?” tanya Arif ikut memakan kuaci bersama Suci di kamar mereka. Padahal, ia tidak terlalu menyukai jenis makanan tersebut karena terlalu merepotkan untuk di makan. Namun, saat melihat Suci memakannya dengan wajah berbinar, maka Arif pun penasaran untuk mencobanya. Berawal dari sebutir kuaci, lalu bertambah menjadi beberapa butir lagi. Lama-kelamaan, tangannya justru lebih sering merogoh bungkus kuaci daripada berhenti.“Jenis kelaminnya aja belum tau, masa’ sudah mau beli?” Suci menepuk punggung tangan Arif yang kembali mengambil kuaci miliknya. “Mas itu kalau mau harusnya beli sendiri. Ini siapa yang pengen, siapa yang paling banyak ngabisin kuaci.”“Kamu kan, beli kacang juga,” ujar Arif menunjuk bungkus kacang kulit kemasan yang tergeletak di meja. Sepanjang perjalanan mengelilingi kompleks tadi, Suci sibuk mengunyah kacang tersebut hingga menghabiskan separuh isinya seorang diri. .“Jadi, lanjutin aja makan kacangnya. Habisin.”“Udah nggak

  • Kontrak Suci   66~Dijadiin Tumbal

    “Memangnya Bunda mau datang ke psikolog?” tanya Arif pada sang ayah yang duduk berseberangan dengannya. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bisa duduk berdua sambil makan siang sesudah mencocokkan jadwal.Mereka tidak melibatkan Deswita, karena ingin menikmati waktu dengan tenang tanpa ketegangan. “Bunda itu punya penghasilan sendiri,” lanjut Arif lalu menyeruput kuah soto tangkarnya. “Jadi, walau CC-nya diblokir, Bunda masih bisa shopping.”“Awal-awal memang masih bisa shopping pake uangnya sendiri,” balas Ivan sudah mempertimbangkan segalanya. “Tapi lama-lama? Bundamu pasti nggak rela kalau uang di rekeningnya terus berkurang. Ditambah dengan acara amalnya di mana-mana.”Arif tertawa pelan. Ia sampai lupa, kapan terakhir kali bisa duduk dengan damai seperti ini bersama ayahnya sendiri. Sepertinya, kehamilan Suci membawa berkah dan kebahagiaan tersendiri.“Tapi, sudah dapat psikolognya?” tanya Arif lagi.“Jose sudah dapat, tapi Bundamu yang belum mau datang.”“Ya, kita lihat aja na

  • Kontrak Suci   65~Beli Semua

    “Kabari kalau otewe pulang,” pesan Suci kembali mengingatkan ketika Hadi hendak berangkat sekolah. “Biar kutungguin di depan, kalau Irul datang lagi.”“Nggak usah,” sahut Sahli yang tengah mencuci motornya di carport. “Kamu pulangnya berhenti di pos satpam aja. Paling lima belas menitan aku dah di sini kayak kemarin. Nanti ke rumahnya sama aku.”“Aku di pos satpam aja,” ujar Hadi segera berdiri setelah memakai sepatunya. Ia menghampiri Suci, lalu berpamitan dengan kakak perempuannya lebih dulu karena ojeknya sudah standby di depan pagar. “Berangkat dulu.”“Hati-hati,” ucap Suci dan Sahli bersamaan. “Ibu yang mau kerja di sini itu jadi?” tanya Sahli.“Jadi,” jawab Suci mengangguk sambil menyapu dedaunan di taman depan. Udara pagi yang masih sejuk, membuat tubuhnya terasa lebih segar. “Datang jam tujuh, jam empat sudah pulang. Ingat, ya, kalau kamar bersihin masing-masing.”“Tau,” sahut Sahli sambil meraih kepala semprotan air lalu membilas motornya yang sudah penuh dengan sabun. “Ora

  • Kontrak Suci   64~Seperti Dulu Lagi

    “Cuekin aja,” ucap Suci enggan membahas masalah Irul dan keluarga pria itu yang sudah mengetahui semua sandiwaranya. “Kalau mereka sudah tau semuanya, ya, udah. Mau gimana lagi?”“Gimana kalau mereka datang lagi?” sahut Hadi pelan. “Tadi aja dia ngotot mau masuk. Pake ngomong kalau kita ini keluarga.”“Keluarga apaan!” seru Sahli kesal sendiri. “Dia itu datang pasti ada maunya. Tapi aku heran, kenapa mereka sampe ngurusin kita segitunya?”“Mereka begitu karena nggak punya pembantu gratisan lagi,” ujar Suci lalu menggeleng cepat sambil mengusap perutnya. “Haduh, jangan ngomongin mereka dah. Aku lagi hamil, nggak mau benci-benci sama orang. Kan, nggak lucu kalau anakku mirip …”Suci bergidik, tidak melanjutkan kalimatnya. “Mirip siapa emang?” tanya Hadi polos. Benar-benar tidak mengerti dengan maksud kakak perempuannya itu.“Nggak usah diomongin kubilang,” ulang Suci lalu berdecak. Tidak seperti Sahli, pria itu justru tertawa. “Nggaklah, anakmu nanti mirip bapaknya. Kalau cowok pasti

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status