/ Romansa / Kontrak Suci / 35~Mas Bule

공유

35~Mas Bule

작가: Kanietha
last update 게시일: 2026-06-11 10:42:13

“Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat.

Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putranya itu tidak melewatinya dan pergi begitu saja. “Jose, duluan ke mobil.”

“Baik, Pak,” jawab Jose lalu menatap Arif dan memberi anggukan sopan. “Duluan, Mas.”

“Ya,” jawab Arif tanpa melihat Jose karena
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (25)
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humayroh
mulai pocecip arif sama suci nih, apa krn perkataan ivan atau emang udah ada rasa
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
hahaha, arif udah mulai takut suci pergi
goodnovel comment avatar
Mariati Uti
hayoo... mas arief mulai cemburu .........
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Kontrak Suci   103~Belum Berakhir

    Langkah Nurul memelan, saat melihat sebuah motor terparkir di depan rumah keponakannya. Sebuah motor yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ditambah, pintu rumah itu pun terbuka, berikut dengan jendela di ruang tamu.Yakin ada seseorang di dalamnya, Nurul bergegas memasuki rumahnya lebih dulu untuk meletakkan kantong kresek berisi barang belanjaan. Setelah itu, ia langsung pergi menuju rumah itu. Dan tebakannya benar, pemilik sebenarnya telah berada di rumah. Ginanjar!“Dah keluar, Bang?” tanya Nurul hanya berdiri di bibir pintu ketika melihat Ginanjar sibuk mengotak-atik ponselnya. Tidak banyak yang berubah dalam penampilan pria itu, semuanya hampir sama seperti terakhir kali mereka bertemu. “Masih aja ditanya,” sahut Ginanjar masih menyimpan kesal setelah kepergian Sahli. “Masak apa kamu di rumah? Aku lapar,” ujarnya lalu menatap wanita itu.Nurul mendesis. “Adanya nasi. Telurnya goreng sendiri.”Ginanjar berdecak. “Beliin ayam bakar bentar.”“Lah!” Nurul yang enggan disuruh-suruh

  • Kontrak Suci   102~Firasat Suci

    Sahli berdiri di depan lembaga pemasyarakatan sambil bermain game di ponselnya untuk mengisi waktu. Sesekali, tatapannya tertuju pada pintu gerbang, menunggu Ginanjar keluar dari sana. Semua informasi sudah diberitahu lebih dulu oleh Arif, sehingga ia tidak akan menunggu bapaknya terlalu lama. Benar saja. Hanya sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Sahli melihat Ginanjar keluar melewati gerbang lembaga pemasyarakatan. “Pak!” panggil Sahli sambil melambai kecil.Ginanjar menoleh. Untuk beberapa saat, ia menatap ke sekitar untuk memastikan sesuatu. Setelah yakin, ia pun tersenyum tipis sambil menghampiri Sahli yang hanya berdiri di tempatnya. “Sendirian?” tanya Ginanjar saat berhenti di hadapan putranya. Lama tidak berjumpa, Ginanjar cukup terkejut melihat perubahan dari penampilan Sahli. Putranya kini tampak jauh lebih bersih, rapi, terawat, dan berisi dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Sungguh berbeda dari sosok Sahli yang masih ia ingat.“Sendiri,” jawab Sahli meraih

  • Kontrak Suci   101~Hanya Sementara

    “Yakin mau ngambil psikologi?” tanya Sahli duduk melantai di samping Suci yang sedang menatap laptop. Ia meremas mi instan yang dibawanya dari dapur lalu membuka bungkusnya. Suci menoleh pelan. Menatap mi instan yang ada di tangan Sahli lalu menelan ludah. “Nggak dimasak minya?”“Nggak,” jawab Sahli sambil mengeluarkan bumbu mi tersebut dari dalam bungkus. “Mau kumakan gini aja.”Suci menghela panjang. Ia harus bersabar, karena masih tidak diperkenankan memakan makanan seperti itu oleh Arif dan kedua adiknya. “Eh, itu tadi belum dijawab,” ujar Sahli mengingatkan. “Jadi ngambil psikologi?”Suci menggelang pelan. Harusnya ia sudah mendaftar kuliah beberapa bulan lalu. Namun, karena ada insiden dengan Deswita yang mengharuskannya bedrest, maka Suci terpaksa menunda niatnya untuk kuliah. “Nggak jadi,” jawab Suci kemudian menoleh pada Hadi yang sedang bersama Aska area bermain.Setelah kembali dari rumah mertuanya kala itu, Suci pun berinisiatif untuk mengubah sebagian ruang keluarganya

  • Kontrak Suci   100~Jangan Diganggu

    “Wah …” Langkah Suci berhenti di ruang tengah kediaman Adiningrat. Ia takjub, terkejut, dan tidak menduga jika separuh ruangan tersebut ternyata dijadikan area bermain. Untuk siapa lagi jika bukan untuk Aska. Sebuah playmat luas terhampar dengan beragam mainan bayi dan tempat tidur mungil di sisinya. Pagar pengaman warna-warni pun juga sudah disiapkan sebagai pengaman di sekitarnya. Padahal, saat ini Aska belum bisa berguling ke mana-mana, tetapi semua sudah tersedia di rumah mertuanya. Bahkan, Suci tidak memiliki barang-barang seperti itu di rumahnya sendiri. Sepertinya, Aska akan menjadi “Raja” kecil di keluarga Adiningrat.“Langsung ke atas aja,” ujar Deswita yang sudah duduk lebih dulu di area bermain bersama Aska. “Aska biar sama Oma.”Suci menggaruk pelan sisi lehernya. Sebenarnya, hubungannya dengan Deswita sampai saat ini masih tetap berjarak. Mereka memang sudah tidak lagi bersitegang seperti dulu, tetapi keduanya juga belum memiliki kedekatan yang membuat Suci bisa bersik

  • Kontrak Suci   99~Menjalankan Rencana

    “Ayah tadi itu serius, ngajak kita minggu depan nginap di rumahnya?” tanya Suci setelah mobil Ivan keluar dari pagar. Ia masih berdiri di teras rumah bersama Arif, sementara Aska sudah tidur dengan lelapnya di ayunan di ruang tengah. Arif mengangguk sambil mengalungkan sata tangan di pinggang Suci. Ia mengangguk dan tersenyum kecil pada Jaja yang baru menutup pagar, kemudian membawa istrinya kembali masuk ke dalam rumah. “Tadinya cuma makan malam,” terang Arif, “tapi, mendadak Bunda nyuruh sekalian nginap sana. Bawa Aska.”“Haaah …” Setelah mendesah panjang, Suci lantas memajukan bibirnya. Masih separuh hati dengan ajakan Ivan tersebut. Bukan karena trauma, tetapi ia pasti merasa canggung bila harus menginap di rumah mertua yang pernah membenci dan menolaknya mati-matian. “Kenapa? Kamu nggak mau?” tanya Arif.“Aku nggak enak,” jawab Suci sambil melingkarkan tangan di lengan Arif. “Mana bawa bayi, terus juga masih nyusuin. Kalau aku lapar, terus mau makan ini itu pas malam, kan, su

  • Kontrak Suci   98~Tinggal Menunggu Waktu

    “Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti,” ujar Ivan sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya setelah duduk sofa. Deswita yang sedang menatap ponselnya langsung menoleh. Apa ia tidak salah dengar?Arif mengundang Deswita makan malam Sabtu nanti?“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti?” Deswita mengulang kalimat yang dilontarkan Ivan. “Malam minggu nanti?”“Iya.” Ivan meluruskan kedua kakinya, meletakkan di atas meja. “Kalau mau, kita berangkat sore biar bisa lama dengan Aska.”Deswita terdiam. Dari ekspresi dan kalimat Ivan, tampaknya suaminya itu juga sudah tahu jika Deswita sering berkunjung ke rumah Arif untuk menengok Aska. “Nggak ada yang perlu disembunyikan lagi,” lanjut Ivan ketika melihat istrinya tidak bersuara. “Aku sudah tau kalau Bunda sering ke rumah Arif kalau siang.”Deswita langsung membuang wajah dari suaminya. Enggan menanggapi ucapan tersebut.“Kalau bisa, jam tiga sudah berangkat,” ujar Deswita kembali melihat vi

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status