Beranda / Romansa / Kontrak Suci / 42~Suami Istri yang Sebenarnya

Share

42~Suami Istri yang Sebenarnya

Penulis: Kanietha
last update Tanggal publikasi: 2026-06-26 14:25:04

“Ini …” Suci menyodorkan sebuah map berwarna cokelat ke hadapan Arif yang sedari tadi menunggunya di kursi makan.

Setelah kembali ke apartemen, pria itu meminta Suci membawa surat kontrak yang pernah mereka tanda tangani.

“Mau diapain surat kontraknya?” tanya Suci sambil duduk perlahan di hadapan Arif.

Sejak percakapan mereka di restoran, tepatnya setelah Bias pergi, keduanya memang belum lagi membahas tentang hubungan mereka secara serius. Mereka hanya sibuk menghabiskan camilan dalam diam,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Wieta Wieta
assiiikkk.. gitu donk mas arif, jelaskan sejelas2nya, biar suci gak ragu2
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
lanjut Suciiiiiii lanjuuuuut..
goodnovel comment avatar
Attar Muntaz
semangat suci...... buang dulu insecure mu percaya diri dan yakin mas Arif pasti selalu ada dipihakmu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kontrak Suci   42~Suami Istri yang Sebenarnya

    “Ini …” Suci menyodorkan sebuah map berwarna cokelat ke hadapan Arif yang sedari tadi menunggunya di kursi makan. Setelah kembali ke apartemen, pria itu meminta Suci membawa surat kontrak yang pernah mereka tanda tangani. “Mau diapain surat kontraknya?” tanya Suci sambil duduk perlahan di hadapan Arif. Sejak percakapan mereka di restoran, tepatnya setelah Bias pergi, keduanya memang belum lagi membahas tentang hubungan mereka secara serius. Mereka hanya sibuk menghabiskan camilan dalam diam, lalu pulang setelah selesai.Arif membuka benang pengunci map tersebut tanpa melepas tatapannya pada Suci. Hanya diam dan tidak memberi jawaban. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas putih dari dalam sana, lalu memastikan semua lembarnya masih lengkap. Setelah yakin, Arif langsung merobek kertas tersebut tanpa keraguan sedikit pun.“Maaas!” Suci terbelalak dan spontan berdiri di tempat. Tidak beranjak ke mana pun karena masih syok dengan perbuatan Arif. “Kenapa … dirobek?”“Aku sudah bilang, a

  • Kontrak Suci   41~Langsung Pulang

    “Aku … nggak ada perasaan apa-apa sama Mas Arif,” ucap Suci sembari menunduk pelan guna menyembunyikan ekspresinya. Selain itu, ia juga tidak berani menatap pria itu, karena Arif mungkin dapat mengetahui kebohongannya. “Dari awal, tujuanku cuma uang. Nggak ada yang lain.”Suci berusaha mempertahankan ekspresi datar, meski jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan. Ia tidak pernah menduga, jika menolak perasaan seseorang yang dicintai bisa senyeri ini. Bahkan, patah hatinya dahulu kala tidak pernah semenyesakkan keadaan yang sedang ia hadapi sekarang.Setidaknya, saat itu Suci hanya perlu menerima kenyataan bahwa hubungannya dengan mantan kekasih sudah kandas dan tidak bisa diteruskan lagi.Namun, kali ini berbeda.Saat ini, orang yang Suci cintai justru ada di hadapannya dan mengulurkan tangan. Sementara dirinya sendirilah yang memilih mundur.Bukan karena tidak ingin menerima. Melainkan karena Suci takut kebahagiaan ini hanya sementara. Ia yakin, suatu hari nanti Arif

  • Kontrak Suci   40~Apa yang Kamu Rasakan?

    “Jadi … kita mau ngapain?” tanya Suci mulai merasa canggung. Sejak diajak pergi ke restoran, perasaannya mulai tidak tenang. Ia bisa merasakan bahwa Arif sedang memikirkan sesuatu, tetapi belum menemukan cara untuk mengatakannya. “Sebelum nonton, kan, kita sudah makan. Pas di bioskop juga sudah ngemil, kan? Apa Mas Arif lapar lagi?”Arif menarik napas panjang. Entah kenapa lidahnya terasa kelu ketika sudah duduk berhadapan dengan Suci seperti sekarang. Padahal, biasanya tidak seperti ini. “Aku mau nyantai bentar,” ujar Arif sambil menunjuk buku menu yang tergeletak di atas meja. “Aku pesan kopi. Apa aja yang penting dingin. Kalau camilannya, terserah kamu.”“Ohh …” Suci mengangguk pelan, lalu meraih buku menu di hadapannya. Ia lebih dulu menyusuri daftar minuman, mencari pilihan kopi yang sekiranya cocok untuk Arif. Setelah menentukan pesanan, Suci melanjutkan dengan memilih beberapa camilan ringan untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian, ia memanggil pelayan dan menyebutkan satu p

  • Kontrak Suci   39~Cemburu?

    “Mas Arif … nggak apa-apa?” tanya Suci sambil menghampiri Arif yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di depan televisi.Deswita baru pergi beberapa saat yang lalu. Wanita itu meninggalkan apartemen dengan wajah yang sulit diartikan. Tidak lagi tampak amarah di wajahnya, tetapi tidak juga terlihat baik-baik saja. Bahkan, wanita itu tidak menatap Suci setajam biasanya. Entah apa yang telah dibicarakan oleh ibu dan anak itu di kamar, sehingga keduanya tampak membawa luka yang sulit dijelaskan. Arif menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata. “Aku nggak papa.”Suci duduk di ujung sofa yang sama dengan Arif. “Mas pasti tau pepatah … kalah jadi abu, menang jadi arang. Dan menurutku, itulah yang terjadi antara Mas sama Bu Deswita.”Arif membuka matanya, lalu menatap Suci. Gadis sederhana yang selalu bisa melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Suci mungkin tidak memiliki gelar tinggi dan bukan berasal dari keluarga terpandang, tetapi, ada kalanya cara berpikir Suci justru

  • Kontrak Suci   38~Jangan Menyesal

    Sementara Suci membeku di tempat dan masih mencerna semua yang dilakukan Deswita, Arif justru menghampiri wanita itu dengan tenang.“Access card-ku,” pinta Arif mengulurkan tangan kanannya pada Deswita. Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu barusan. “Tolong kembalikan.”Senyum penuh kemenangan yang sempat tersemat di wajah Deswita, spontan luruh begitu saja. Rasa kesal mulai merayap, menggantikan rasa percaya diri yang tadi sempat melambung tinggi karena Arif tidak mengindahkan ucapannya.“Bunda minta penjelasan, tapi kamu malah minta access card?” tanya Deswita tidak percaya. “Nggak ada yang perlu dijelaskan,” ujar Arif menghentak pelan tangannya yang masih menggantung di udara. Tetap meminta access card-nya kembali. “Karena aku juga nggak akan bisa ngubah apa pun yang ada di pikiran Bunda.”“Kamu sudah bohongin Bunda! Akui itu.” Arif menarik tangannya kembali saat melihat Deswita tidak menunjukkan niat untuk mengembalikan kartu tersebut. “Bohong di bagian mana?” tany

  • Kontrak Suci   37~Semua Kebohongan

    Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar

  • Kontrak Suci   20~Angkat Tangan

    “Ci, sorry. Hari ini kita nggak jadi shopping,” ujar Arif menghampiri Suci. Setiap pagi, gadis itu memang selalu berkutat di dapur untuk mencoba berbagai masakan. Bahkan, ada beberapa menu yang baru Arif lihat dan rasakan selama hidupnya. “Aku diminta nemenin Pak Felix nemui klien nanti siang.”“Oh

  • Kontrak Suci   16~Bersama Batu Kali

    "Itu artinya ibuku sudah tahu semua latar belakangmu, juga keluargamu," ucap Arif sembari mengunyah strawberry yang dibelinya sepulang kerja.Arif tidak menyangka Deswita akan bergerak secepat itu. Ibunya pasti sudah memerintahkan Jose untuk mencari tahu segala hal tentang Suci. “Kayaknya begitu,”

  • Kontrak Suci   15~Hanya Sandiwara

    Deswita langsung menerima sebuah map dari Jose sesaat setelah ia mendaratkan tubuh di sofa. Siang itu, ia bergegas menuju kantor suaminya karena asisten pribadi Ivan mengabarkan telah mengantongi seluruh informasi mengenai Suci. Daripada sekadar mendengar melalui telepon, Deswita merasa jauh lebih

  • Kontrak Suci   14~Terlalu Dalam

    “Mas,” panggil Suci sambil mengetuk pintu kamar Arif. Ia menunggu sampai pintu terbuka dan menampakkan sosok Arif dengan rambut sedikit berantakan serta wajah khas orang baru bangun tidur. “Maaf, baru bangun ya?”“Sudah dari tadi,” jawab Arif hanya membuka pintu selebar tubuhnya, “tapi aku malas ng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status