LOGIN“Aku … nggak ada perasaan apa-apa sama Mas Arif,” ucap Suci sembari menunduk pelan guna menyembunyikan ekspresinya. Selain itu, ia juga tidak berani menatap pria itu, karena Arif mungkin dapat mengetahui kebohongannya. “Dari awal, tujuanku cuma uang. Nggak ada yang lain.”Suci berusaha mempertahankan ekspresi datar, meski jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa menyakitkan. Ia tidak pernah menduga, jika menolak perasaan seseorang yang dicintai bisa senyeri ini. Bahkan, patah hatinya dahulu kala tidak pernah semenyesakkan keadaan yang sedang ia hadapi sekarang.Setidaknya, saat itu Suci hanya perlu menerima kenyataan bahwa hubungannya dengan mantan kekasih sudah kandas dan tidak bisa diteruskan lagi.Namun, kali ini berbeda.Saat ini, orang yang Suci cintai justru ada di hadapannya dan mengulurkan tangan. Sementara dirinya sendirilah yang memilih mundur.Bukan karena tidak ingin menerima. Melainkan karena Suci takut kebahagiaan ini hanya sementara. Ia yakin, suatu hari nanti Ari
“Jadi … kita mau ngapain?” tanya Suci mulai merasa canggung. Sejak diajak pergi ke restoran, perasaannya mulai tidak tenang. Ia bisa merasakan bahwa Arif sedang memikirkan sesuatu, tetapi belum menemukan cara untuk mengatakannya. “Sebelum nonton, kan, kita sudah makan. Pas di bioskop juga sudah ngemil, kan? Apa Mas Arif lapar lagi?”Arif menarik napas panjang. Entah kenapa lidahnya terasa kelu ketika sudah duduk berhadapan dengan Suci seperti sekarang. Padahal, biasanya tidak seperti ini. “Aku mau nyantai bentar,” ujar Arif sambil menunjuk buku menu yang tergeletak di atas meja. “Aku pesan kopi. Apa aja yang penting dingin. Kalau camilannya, terserah kamu.”“Ohh …” Suci mengangguk pelan, lalu meraih buku menu di hadapannya. Ia lebih dulu menyusuri daftar minuman, mencari pilihan kopi yang sekiranya cocok untuk Arif. Setelah menentukan pesanan, Suci melanjutkan dengan memilih beberapa camilan ringan untuk mereka berdua. Tidak lama kemudian, ia memanggil pelayan dan menyebutkan satu p
“Mas Arif … nggak apa-apa?” tanya Suci sambil menghampiri Arif yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di depan televisi.Deswita baru pergi beberapa saat yang lalu. Wanita itu meninggalkan apartemen dengan wajah yang sulit diartikan. Tidak lagi tampak amarah di wajahnya, tetapi tidak juga terlihat baik-baik saja. Bahkan, wanita itu tidak menatap Suci setajam biasanya. Entah apa yang telah dibicarakan oleh ibu dan anak itu di kamar, sehingga keduanya tampak membawa luka yang sulit dijelaskan. Arif menyandarkan kepalanya lalu memejamkan mata. “Aku nggak papa.”Suci duduk di ujung sofa yang sama dengan Arif. “Mas pasti tau pepatah … kalah jadi abu, menang jadi arang. Dan menurutku, itulah yang terjadi antara Mas sama Bu Deswita.”Arif membuka matanya, lalu menatap Suci. Gadis sederhana yang selalu bisa melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Suci mungkin tidak memiliki gelar tinggi dan bukan berasal dari keluarga terpandang, tetapi, ada kalanya cara berpikir Suci justru
Sementara Suci membeku di tempat dan masih mencerna semua yang dilakukan Deswita, Arif justru menghampiri wanita itu dengan tenang.“Access card-ku,” pinta Arif mengulurkan tangan kanannya pada Deswita. Mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan wanita itu barusan. “Tolong kembalikan.”Senyum penuh kemenangan yang sempat tersemat di wajah Deswita, spontan luruh begitu saja. Rasa kesal mulai merayap, menggantikan rasa percaya diri yang tadi sempat melambung tinggi karena Arif tidak mengindahkan ucapannya.“Bunda minta penjelasan, tapi kamu malah minta access card?” tanya Deswita tidak percaya. “Nggak ada yang perlu dijelaskan,” ujar Arif menghentak pelan tangannya yang masih menggantung di udara. Tetap meminta access card-nya kembali. “Karena aku juga nggak akan bisa ngubah apa pun yang ada di pikiran Bunda.”“Kamu sudah bohongin Bunda! Akui itu.” Arif menarik tangannya kembali saat melihat Deswita tidak menunjukkan niat untuk mengembalikan kartu tersebut. “Bohong di bagian mana?” tany
Jam dinding di dapur hampir menunjukkan pukul delapan, tetapi Arif masih saja duduk santai di sofa panjang dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Harusnya, pria itu sudah rapi dengan pakaian kerja dan bersiap menuju kantor.Bahkan, terkadang Arif sudah tidak berada di apartemen karena harus pergi bekerja lebih pagiAneh. Apa telah terjadi sesuatu?Untuk itu, Suci bergegas menghampiri Arif lalu duduk di sofa yang sama. “Mas nggak kerja?” “Aku cuti.”“Cuti?” Suci segera membuka layar tablet yang dibawanya sejak tadi. Membuka aplikasi kalender untuk memastikan sesuatu. “Kok, ngambil cutinya pas deket natal. Nggak tahun baru aja?”“Aku cuti cuma sehari,” ujar Arif menambahkan penjelasannya. “Kenapa? Sakit perut lagi?” “Lagi berkabung.”“Ha?” Suci geleng-geleng. Sepertinya Arif memang sedang tidak waras. Jika memang pria itu sedang berkabung, pastinya Arif akan pergi ke rumah duka sejak tadi. Tidak bersantai di rumah dan menonton televisi seperti sekarang. “Mas …” Suci mendekati Ar
“Perutku sakit.”Suci membaca pesan dari Arif setelah jam lesnya telah usai. Dahinya berkerut, mengingat kondisi pria itu ketika ia meninggalkan unit apartemen beberapa waktu lalu. Saat itu, Arif terlihat baik-baik saja. Bahkan, pria itu sempat melempar protes akan penampilan Suci sebelum ia berangkat les.Dengan segera Suci mengetikkan balasan. “Dari kapan? Habis makan apa?”Suci melihat pesan itu langsung terbaca. Namun, tidak ada jawaban setelah ia menunggu beberapa saat kemudian. Karena itu, ia kembali mengetikkan sebuah pesan.“Mas? Masih sakit perut?”Tetap tidak ada balasan, meski pesan itu langsung dibaca oleh Arif. Suci mulai merasa khawatir. Terlebih, selama mengenal Arif, pria itu tidak pernah mengeluh sakit sama sekali. Apa mungkin kondisi perut Arif benar-benar parah?Suci kembali mencoba mengirimkan pesan. “Mas Arif diare? Maag? Mual? Atau gimana?”Lagi, pesan itu hanya dibaca tetapi tidak ada balasan.“Ci, ayo!”“Ha?” Suci mendongak. Menatap tutor bahasa Inggrisnya yan
“Siang, Pak Ivan,” sapa Arif ketika langkahnya sudah sejajar dengan sang ayah yang berjalan menuju pintu keluar pengadilan. Ia hanya menoleh pada Jose yang ada di sisi lain Ivan dan memberi anggukan singkat. Ivan langsung berhentik melangkah. Meraih siku Arif yang terus saja berjalan, agar putrany
“Mas …” Suci mengetuk pelan pintu kamar Arif. Menunggu dengan sabar sampai pria itu membukanya.Sejak kembali dari pusat perbelanjaan semalam, Arif terlihat berbeda. Pria itu lebih banyak diam dan hanya merespons ucapan Suci seadanya. Bahkan, Arif melewatkan makan malam dan mengurung diri di kamar
“Cewek kalau diajak shopping itu harusnya senang,” ujar Arif masih saja menahan tawa ketika melihat wajah manyun Suci. Hanya karena Arif mengambil foto Suci secara tiba-tiba, gadis itu masih saja merengut padanya. “Hapus fotonya,” ujar Suci kembali mengulang kalimatnya. Entah sudah berapa kali ia
“Ci, aku ke kantor dulu,” pamit Arif berhenti di sudut meja makan. Menatap Suci yang tengah santai menonton video resep di salah satu platform media sosial. Beberapa waktu lalu, Deswita sudah pergi bersama Ivan. Tidak ada keributan, tidak ada perdebatan apa pun. Semuanya berlangsung dengan damai, b







