LOGINLangkah Nurul memelan, saat melihat sebuah motor terparkir di depan rumah keponakannya. Sebuah motor yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ditambah, pintu rumah itu pun terbuka, berikut dengan jendela di ruang tamu.Yakin ada seseorang di dalamnya, Nurul bergegas memasuki rumahnya lebih dulu untuk meletakkan kantong kresek berisi barang belanjaan. Setelah itu, ia langsung pergi menuju rumah itu. Dan tebakannya benar, pemilik sebenarnya telah berada di rumah. Ginanjar!“Dah keluar, Bang?” tanya Nurul hanya berdiri di bibir pintu ketika melihat Ginanjar sibuk mengotak-atik ponselnya. Tidak banyak yang berubah dalam penampilan pria itu, semuanya hampir sama seperti terakhir kali mereka bertemu. “Masih aja ditanya,” sahut Ginanjar masih menyimpan kesal setelah kepergian Sahli. “Masak apa kamu di rumah? Aku lapar,” ujarnya lalu menatap wanita itu.Nurul mendesis. “Adanya nasi. Telurnya goreng sendiri.”Ginanjar berdecak. “Beliin ayam bakar bentar.”“Lah!” Nurul yang enggan disuruh-suruh
Sahli berdiri di depan lembaga pemasyarakatan sambil bermain game di ponselnya untuk mengisi waktu. Sesekali, tatapannya tertuju pada pintu gerbang, menunggu Ginanjar keluar dari sana. Semua informasi sudah diberitahu lebih dulu oleh Arif, sehingga ia tidak akan menunggu bapaknya terlalu lama. Benar saja. Hanya sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya Sahli melihat Ginanjar keluar melewati gerbang lembaga pemasyarakatan. “Pak!” panggil Sahli sambil melambai kecil.Ginanjar menoleh. Untuk beberapa saat, ia menatap ke sekitar untuk memastikan sesuatu. Setelah yakin, ia pun tersenyum tipis sambil menghampiri Sahli yang hanya berdiri di tempatnya. “Sendirian?” tanya Ginanjar saat berhenti di hadapan putranya. Lama tidak berjumpa, Ginanjar cukup terkejut melihat perubahan dari penampilan Sahli. Putranya kini tampak jauh lebih bersih, rapi, terawat, dan berisi dibandingkan terakhir kali ia melihatnya. Sungguh berbeda dari sosok Sahli yang masih ia ingat.“Sendiri,” jawab Sahli meraih
“Yakin mau ngambil psikologi?” tanya Sahli duduk melantai di samping Suci yang sedang menatap laptop. Ia meremas mi instan yang dibawanya dari dapur lalu membuka bungkusnya. Suci menoleh pelan. Menatap mi instan yang ada di tangan Sahli lalu menelan ludah. “Nggak dimasak minya?”“Nggak,” jawab Sahli sambil mengeluarkan bumbu mi tersebut dari dalam bungkus. “Mau kumakan gini aja.”Suci menghela panjang. Ia harus bersabar, karena masih tidak diperkenankan memakan makanan seperti itu oleh Arif dan kedua adiknya. “Eh, itu tadi belum dijawab,” ujar Sahli mengingatkan. “Jadi ngambil psikologi?”Suci menggelang pelan. Harusnya ia sudah mendaftar kuliah beberapa bulan lalu. Namun, karena ada insiden dengan Deswita yang mengharuskannya bedrest, maka Suci terpaksa menunda niatnya untuk kuliah. “Nggak jadi,” jawab Suci kemudian menoleh pada Hadi yang sedang bersama Aska area bermain.Setelah kembali dari rumah mertuanya kala itu, Suci pun berinisiatif untuk mengubah sebagian ruang keluarganya
“Wah …” Langkah Suci berhenti di ruang tengah kediaman Adiningrat. Ia takjub, terkejut, dan tidak menduga jika separuh ruangan tersebut ternyata dijadikan area bermain. Untuk siapa lagi jika bukan untuk Aska. Sebuah playmat luas terhampar dengan beragam mainan bayi dan tempat tidur mungil di sisinya. Pagar pengaman warna-warni pun juga sudah disiapkan sebagai pengaman di sekitarnya. Padahal, saat ini Aska belum bisa berguling ke mana-mana, tetapi semua sudah tersedia di rumah mertuanya. Bahkan, Suci tidak memiliki barang-barang seperti itu di rumahnya sendiri. Sepertinya, Aska akan menjadi “Raja” kecil di keluarga Adiningrat.“Langsung ke atas aja,” ujar Deswita yang sudah duduk lebih dulu di area bermain bersama Aska. “Aska biar sama Oma.”Suci menggaruk pelan sisi lehernya. Sebenarnya, hubungannya dengan Deswita sampai saat ini masih tetap berjarak. Mereka memang sudah tidak lagi bersitegang seperti dulu, tetapi keduanya juga belum memiliki kedekatan yang membuat Suci bisa bersik
“Ayah tadi itu serius, ngajak kita minggu depan nginap di rumahnya?” tanya Suci setelah mobil Ivan keluar dari pagar. Ia masih berdiri di teras rumah bersama Arif, sementara Aska sudah tidur dengan lelapnya di ayunan di ruang tengah. Arif mengangguk sambil mengalungkan sata tangan di pinggang Suci. Ia mengangguk dan tersenyum kecil pada Jaja yang baru menutup pagar, kemudian membawa istrinya kembali masuk ke dalam rumah. “Tadinya cuma makan malam,” terang Arif, “tapi, mendadak Bunda nyuruh sekalian nginap sana. Bawa Aska.”“Haaah …” Setelah mendesah panjang, Suci lantas memajukan bibirnya. Masih separuh hati dengan ajakan Ivan tersebut. Bukan karena trauma, tetapi ia pasti merasa canggung bila harus menginap di rumah mertua yang pernah membenci dan menolaknya mati-matian. “Kenapa? Kamu nggak mau?” tanya Arif.“Aku nggak enak,” jawab Suci sambil melingkarkan tangan di lengan Arif. “Mana bawa bayi, terus juga masih nyusuin. Kalau aku lapar, terus mau makan ini itu pas malam, kan, su
“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti,” ujar Ivan sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya setelah duduk sofa. Deswita yang sedang menatap ponselnya langsung menoleh. Apa ia tidak salah dengar?Arif mengundang Deswita makan malam Sabtu nanti?“Arif ngundang kita makan malam di rumahnya Sabtu malam nanti?” Deswita mengulang kalimat yang dilontarkan Ivan. “Malam minggu nanti?”“Iya.” Ivan meluruskan kedua kakinya, meletakkan di atas meja. “Kalau mau, kita berangkat sore biar bisa lama dengan Aska.”Deswita terdiam. Dari ekspresi dan kalimat Ivan, tampaknya suaminya itu juga sudah tahu jika Deswita sering berkunjung ke rumah Arif untuk menengok Aska. “Nggak ada yang perlu disembunyikan lagi,” lanjut Ivan ketika melihat istrinya tidak bersuara. “Aku sudah tau kalau Bunda sering ke rumah Arif kalau siang.”Deswita langsung membuang wajah dari suaminya. Enggan menanggapi ucapan tersebut.“Kalau bisa, jam tiga sudah berangkat,” ujar Deswita kembali melihat vi
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de
Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko







