LOGIN
Malang, Tahun 2020.
Di sebuah desa terpencil di salah satu kecamatan Kota Malang, saat ini tengah duduk seorang pemuda di sebuah saung, memandang ke arah langit sore hari itu. Pandangan matanya yang begitu teduh menikmati angin sore yang menerpa wajahnya. “Ragma.” Pemuda itu menoleh dan tersenyum saat dirinya dipanggil oleh ayahnya yang berjalan mendekat, lalu duduk di sebelahnya. “Iya, Ayah.” “Ayo ikut dengan Ayah. Ganti pakaianmu. Kebetulan ini sudah sore, sepertinya sudah waktunya. Kamu jangan terlalu lama, ya.” “Apa kita akan latihan, Ayah?” Ragma balik bertanya sambil tersenyum kepada ayahnya itu. “Tentu saja. Kita harus latihan. Disiplin waktu dalam melatih kemampuan dan kekuatan fisik itu sangat penting sekali. Dan juga, malam ini sesuai janji Ayah, ada yang akan Ayah berikan kepadamu,” jawab Utomo. Tatapannya begitu tenang menatap ke arah depan. “Baik, Ayah. Aku akan bersiap terlebih dahulu.” Ragma bangkit dari saung itu lalu pergi meninggalkan Utomo, sementara lelaki paruh baya itu menatap teduh punggung putranya yang sudah berjalan cukup jauh hingga menghilang dari pandangannya. “Ayah harap, kalau kamu mengerti dan kuat menanggung ajian ini, Ragma. karena tidak semua orang sanggup untuk menerimanya. Tapi, ayah yakin kamu sanggup,karena ayah tahu tingkat kemampuan dan kekuatan,serta bakatmu” gumam Utomo. Ia memandang kedua telapak tangannya, kemudian mengepal dengan begitu berat. Lelaki itu segera pergi meninggalkan saung tersebut. Ia berjalan dengan begitu tenang menyusuri jalan setapak hingga tidak berapa lama tiba di sebuah gubuk. Gubuk kayu yang selalu ia datangi di saat ingin menenangkan pikiran. Lelaki tua itu memperhatikan sekitar yang begitu sepi sekali. Ia juga memandang langit yang sudah mulai gelap. “Kira-kira ini jam berapa, ya? Semalam menebak jam enam sore, ternyata masih jam setengah enam,” ucapnya seorang diri. “Ayah!” Pria itu tersenyum melihat putranya yang sudah datang, memakai baju dan celana serba hitam. “Ayo, sebelum Ayah memberikan ilmu kepadamu, alangkah baiknya kita latihan terlebih dahulu.” “Baik, Ayah,” kata Ragma dengan patuh. Mereka pun berjalan ke belakang gubuk, dimana halaman luas terhampar di sana. Sangat bersih sekali, karena memang tempat itu selalu menjadi perhatian mereka berdua. “Mulai,” ujarnya. “Paklek Utomo, Ragma!” Mereka berdua menghentikan gerakan saat mendengar suara teriakan seseorang. Keduanya pun menoleh, kemudian tersenyum ketika melihat seorang pemuda seusia Ragma berjalan menghampiri mereka. “Wah, mau latihan lagi, ini? Halo, Ragma! Tadi aku ke rumah kamu, tapi kamu nggak ada, jadi aku mikirnya kalian pasti ke sini.” “Iya, Zaki. Kami mau latihan seperti biasa, menunggu waktu malam. Kamu dari mana?” Ragma balik bertanya “Biasa, dari pulang kerja. Ya udahlah, aku tadi rencananya mau ngajak kamu main ke kota, tapi kalau memang kamu mau latihan... Maaf mengganggu, maaf, PakLek,” kata Zaki kepada Utomo. “Iya, tidak apa-apa, Zaki.” sahut Utomo dengan senyum tipisnya. “Kalau gitu aku pulang dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Zaki sambil mengangkat satu tangannya, tersenyum dengan alis mata naik turun, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan keduanya dengan cepat. “Wa’alaikumsalam,” jawab mereka serempak. Setelah kepergian Zaki, keduanya pun kembali saling menatap. Ragma mengepal kedua tangannya. Tidak lagi ada yang menghalangi. Buggh!! Bugh… Pemuda itu segera berlari dan menghentakkan kakinya, melayang di udara menyerang ayahnya itu. Sementara Utomo menggerakkan kedua tangannya, menangkis setiap serangan dari Ragma. Latihan pertarungan di antara keduanya tampak begitu cepat dan sangat sengit. Pukulan demi pukulan beruntun diarahkan kepada Utomo. Ragma benar-benar memberikan serangan yang sangat kuat sekali. Akan tetapi, lelaki paruh baya itu dengan tenang menahan setiap serangan, kemudian melakukan serangan balasan, memukul tepat di dada Ragma hingga pemuda itu sedikit terjatuh ke tanah. Brugh… “Argh… “ erang Ragma “Tidak perlu terburu-buru melakukan serangan kepada orang lain, Ragma. Segala sesuatu tanpa pemikiran, kamu tidak akan tahu kelemahan lawanmu,” kata Utomo berjalan mendekati putranya, lalu mengulurkan tangan. “Iya, Ayah. Aku dikuasai oleh nafsu ingin menang saja, jadi ya itu tadi... terlalu gegabah. Eh, malah dapat serangan dari Ayah.” jawab Ragma mengakui kesalahannya dalam bertindak. “Ayo, masuklah ke gubuk. Sepertinya ini sudah menjelang magrib,” kata Utomo. Kali ini raut wajahnya sangat serius sekali, bahkan Ragma bisa merasakannya, bahwa tidak ada lagi kata main-main. Mereka pun segera masuk ke dalam gubuk dan duduk di depan, saling bersila dan berhadapan. “Ragma,” kata Utomo pelan. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan mengangguk melihat ayahnya. “Ayah akan menurunkan satu ajian kepadamu. Akan tetapi, perlu kamu ingat... bahwa Ayah tidak memilikinya. Ajian ini sudah lama Ayah simpan. Ayah memilihmu, karena Ayah yakin kamu sanggup untuk memikulnya.” ujar Utomo mulai mengutarakan dengan sebuah penjelasan “Iya, Ayah,” jawab Ragma singkat, tanpa bertanya maupun protes ajian apa yang akan diberikan oleh Utomo kepadanya. “Ajian ini termasuk ilmu terlarang. Namanya Rawa Rontek. Di mana kamu tidak akan bisa mati, meski kamu pun akan dilukai berulang kali... tubuhmu akan melawan kematian.” “Apa?! Ajian Rawa Rontek?” Ragma membulatkan matanya. “Aku pernah mendengar ilmu itu, Ayah... tapi aku tidak tahu bahwa Ayah juga memilikinya!” “Tidak, Ayah tidak memilikinya. Tapi Ayah bisa memberikannya. Apa kamu siap untuk menerimanya?” Utomo menatap lekat ke arah putranya. “Tapi, ada satu hal yang harus kamu ketahui, anakku. Bahwa ilmu Rawa Rontek ini adalah ajian kuat ,terlarang, rahasia antara hidup dan mati. Mungkin tubuhmu boleh hancur, namun jiwamu jangan tersesat. Jika hatimu gentar dan kalah, mungkin kamu akan menjadi mayat berjalan tanpa tujuan.” Degh… Mendengar kalimat demi kalimat itu, Ragma sedikit menelan salivanya. Kata-kata dari ayahnya cukup membuat hatinya bergetar, namun pemuda itu tetap tenang. Ia kemudian mengangguk, seolah dirinya siap untuk menerima ajian tersebut. “Jika kamu benar-benar sudah siap untuk menerima ajian ini, maka pejamkan matamu. Duduk bersila dengan tubuh yang tegap. Tetaplah tenang, dan jangan membuka matamu itu sebelum Ayah mengatakannya. Kamu mengerti?” kata Utomo. “Baik, Ayah. Aku siap untuk menerima ajian terlarang itu, dan siap untuk menanggung segala resiko maupun akibat yang diciptakan oleh ajian itu sendiri.” “Bagus… sekarang lakukan apa yang Ayah katakan.” Ragma mengangguk. Ia pun mulai memperbaiki posisi duduknya, menegakkan tubuh, bersila, dengan mata terpejam dan tangan mengepal di antara kedua lututnya yang bersila itu. Utomo memandang wajah putranya dengan sangat teduh. Ia pun mulai membacakan lantunan mantra kuno. Sementara itu, Ragma tetap diam,tenang. Tidak ada suara apa pun. Hari sudah mulai gelap. Gubuk itu hanya diterangi oleh lampu minyak kecil. Angin mulai berdesir, dan tiba-tiba, lampu minyak itu seketika mati. Wosssh… . “Apapun yang terjadi, tetaplah tenang, Ragma. Terima dengan sekuat tenagamu,” kata Utomo, kembali mengingatkan putranya. Ragma tidak menjawab. Sama heningnya dengan suasana di gubuk itu. Trak… Brak…. Jendela dan pintu seketika terbuka, angin kencang mulai menerobos masuk. Gubuk yang tadi terang kini berubah gelap gulita. Wosssh… Utomo terus melantunkan mantra kuno itu. Tangan kanannya lalu menempel di dada Ragma. Cahaya merah mulai bersinar, tubuh Ragma bergetar hebat, seolah menerima energi panas yang menjalar ke seluruh urat-uratnya. Raut wajah Ragma tidak bisa menyembunyikan rasa sakit itu, seolah seluruh tulang dan darahnya terbakar. Ia menggigit bibirnya, mengepal kuat kedua tangannya. “Terima… dan tahankan segalanya!” kata Utomo dengan suara menggema di seluruh ruangan. Ragma dengan sekuat tenaga mengikuti setiap instruksi sang ayah. Suasana semakin gelap, semakin mencekam. Tidak ada lagi cahaya terang. Angin kian kencang berputar di dalam gubuk itu. Tubuh Ragma semakin bergetar hebat, namun Utomo tetap tenang. Ia terus melantunkan mantra demi mantra kuno yang terasa semakin berat dan sakral. “Apapun yang kamu rasakan, jangan kamu lawan! Terimalah setiap rasa yang menusuk ke tulang-tulangmu, dan juga ke aliran darahmu. Biarkan ajian terlarang itu menolak kematian di dalam dirimu!” kata Utomo, kini suaranya juga mulai serak. Ragma tampak begitu konsentrasi, mengikuti seluruh ucapan yang terlontar dari mulut Utomo. Lelaki paruh baya itu mengepal kedua tangannya, lalu memutar dan menepuk dada Ragma keras-keras. Seketika, tubuh pemuda itu terjatuh ke tanah. Brugh… “Arrgh… “ Utomo dapat melihat bagaimana Ragma tengah berjuang menerima ajian itu, namun ia tetap tenang. Matanya penuh harap, sekaligus khawatir. Hingga tiba-tiba, suasana yang mencekam itu mereda. Angin berhenti. Lampu minyak yang tergantung di dekat pintu seketika menyala kembali. Utomo tersenyum tipis melihat tubuh Ragma yang sudah tidak lagi bergetar. “Bukalah matamu, Nak.” Ragma yang sempat terjatuh perlahan membuka matanya. Utomo tersenyum, lalu mengulurkan tangannya kembali kepada putranya. “Ajian itu sudah menyatu dengan jiwa dan sanubarimu. Saat ini, ilmu terlarang itu telah menjadi milikmu. Kamu sekarang menjadi Ragma Ajibasa, pemilik Rawa Rontek.” “Rawa Rontek…” Ragma berkata lirih “Tapi, ingat.. Jangan sekali-kali kamu sombongkan dirimu” “Baik, Ayah… “ "Tolong... tolong.... "Kata Dwi Toro, kepada ajudannya, lalu melihat Gerry, "Baiklah, Gerry, siapkan pasukanmu sekarang. Aku sudah memilih Dodi dulu untuk melawan pertama kali,” kata Dwi Toro sambil berjalan menuju salah satu sofa yang sudah disiapkan lebih dulu, sedangkan Ragma dan Dodi mengikuti dan kembali berdiri tegak di belakang laki-laki itu.“Baiklah, kalian siapkan 5 orang untuk melawan ajudan pribadi Tuan Dwi Toro. Kalian tentu mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?” perintah Gerry.“Siap, mengerti Tuan,” terdengar suara bariton dari sana. Kemudian 5 orang laki-laki tiba-tiba saja maju dan berdiri tegak di hadapan semua orang. Dodi pun akhirnya maju dan kini berdiri di hadapan mereka.“D183, aku yakin kamu bisa menghadapi mereka. Selesaikan tugasmu dan tunjukkan bahwa ajudanku bukanlah orang biasa,” ujar Dwi Toro sambil memandang punggung pemuda itu.“Apakah diizinkan menggunakan senjata” Dodi balik bertanya tanpa menjawab ucapan Dwi Toro.“Tentu saja. Di sini dibebaskan menggunakan apa pun, t
Satya bertanya-tanya, dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara saat ini Zein kembali bergerak. Ia mengaktifkan alat yang terkoneksi dengan ponsel pribadinya itu, di mana di sana terlihat jelas mobil Ramona sudah bergerak. Zein pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dan pergi meninggalkan area tersebut. Ia benar-benar mengikuti rute sesuai dengan keberadaan mobil Ramona yang sudah terlacak saat ini, sehingga setelah cukup lama akhirnya ia berhenti di sebuah tempat. Pandangan matanya memperhatikan sekitar; ternyata itu adalah tempat karaoke.“Ini tempat karaoke biasa dan umumnya hanya untuk melepas penat, tapi ada juga perjudian. Apa dia seorang LC?” gumam Zein. “Tapi kalau melihat penampilannya itu tidak mungkin, tapi bisa juga.”Zein memundurkan mobilnya dan mematikan mesin di sekitar tempat itu. Ia lalu melihat lebih dekat bagaimana Ramona keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat karaoke tersebut.“Tapi ini masih pagi. Tempat ini tentu masih tutup,” gumamnya. Ia juga
Zaki seketika melihat ke arah Ganang yang menatap intens dirinya.“Tadi saya melihat bibir kamu bergerak-gerak, kamu sedang mengatakan apa?” tanya Ganang. Sontak saja Zaki membelalak kaget dengan mulut yang menganga. Pemuda itu terlihat gugup, akan tetapi langsung berubah seperti biasa. “Oh itu, saya lagi menghafal jadwal Nona muda tuan besar, karena kebetulan kan ada beberapa catatan yang ditinggalkan di kamar saya, jadi saya lagi menghafal itu. Apalagi di beberapa tanggal lumayan banyak tanggal ganjilnya, kalau nggak ingat nanti takutnya terlambat bangun pagi,” jawab Zaki sambil nyengir mencari alasan.“Oh, saya pikir kamu sedang memikirkan apa. Jangan terlalu melamun. Ingat, kamu adalah seorang ajudan dan kamu mengawal Putri saya. Jaga baik-baik Revina, jangan sampai terluka. Kamu mengerti?” Ganang memberikan peringatan kepada Zaki.“Siap, tuan besar. Saya akan selalu mengingat pesan Anda.”“Ya sudah kalau begitu,” ujar Ganang pada akhirnya sambil menyelesaikan sarapan pagi itu.
“Tingkat kecurigaanku ada pada laki-laki bernama Dodi ini. Tapi tempatnya pun sudah diperiksa, tidak ada apa-apa. Memang kalau diperlihatkan dari caranya bergerak dan memperhatikan sekitar, aku tidak yakin dia itu seorang yang tidak punya keahlian. Dan aku harus menunggu laporan dari para anak buahku yang sudah berpencar,” Satya berbicara seorang diri sambil terus memperhatikan CCTV itu.Setelah cukup lama, ia pun meninggalkan ruangannya, kemudian berjalan menuju kamar pribadinya. Para ajudan sudah mulai bergantian untuk berjaga. Semua ajudan yang menjaga siang beristirahat, gantian untuk para ajudan yang berjaga malam hari ini.Suasana tenang di rumah Dwi Toro terlihat begitu jelas. Hening tanpa suara. Penjagaan ketat begitu jelas. Beberapa ajudan mulai berkeliling di rumah utama untuk memeriksa semuanya.Salah satu ajudan itu melihat ke arah kamar Dodi dan juga Ragma yang bersebelahan. Dia berjalan mendekati pintu kamar Ragma lalu mendekatkan telinganya ke balik pintu.“Kau ngapain
“Bagaimana dia mau menikah, sedangkan Dwitoro saja hingga saat ini belum meresmikan hubungannya dengan Angela,” jawab Ganang sambil menikmati minuman yang ada di depannya itu.“Ya sudahlah kalau seperti itu. Terserah ke anak-anakmu saja ya. Maksudnya kan seperti anak-anakku yang sudah berumah tangga. Usia anak kita kan tidak terpaut jauh, hanya sekitar satu atau sampai dua tahun saja hahaha.” Taufik beranjak dari tempatnya. “Kalau gitu aku harus segera pergi, tidak bisa berlama-lama lagi di sini,” ujarnya.“Sama, aku juga,” sahut yang lainnya serempak. Ganang tersenyum dan mengantarkan mereka menuju mobil mewahnya masing-masing. Semuanya pergi meninggalkan rumah itu. Masing-masing dari mereka juga membawa ajudan pribadi.“Baiklah, aku harus segera istirahat. Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama memang sangat menyenangkan. Tapi semua itu sudah berakhir. Besok aku harus kembali pulang, apalagi Andini sudah sampai di rumah pastinya,” Ganang berbicara seorang diri lalu menuju rumah dan
Ragma menatap serius ke arah Dodi.“Pantau pergerakan teman baru kalian, kata si Zaki. Kalian punya teman baru kan di kota ini? Perlu kamu ketahui Ragma, bahwa setiap keluarga kalangan atas pasti mereka punya mata-mata, dan mereka tidak akan pernah percaya dengan ajudan-ajudan baru. Untuk membuktikan kebenaran dan juga kejujuran, ada jawaban yang pernah kita berikan saat ditanya pertama kali oleh tuan kita.” jelas Dodi Ragma mendengarkan dengan serius, seketika ia teringat akan Mona. Pemuda itu mengangguk, menatap ke arah Dodi kembali.“Kamu mengatakan kalau kamu adalah anak pertama dan kamu memiliki keluarga di Kalimantan. Percayalah, itu akan mereka telusuri.”“Begitu ya, Mas? Terima kasih sekali sudah memberikan aku peringatan seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan teman baru kami. Semoga dia baik-baik saja, Mas.” ujar Ragma“Ya, semoga saja. Kamu tahu, sebelum aku memutuskan untuk bisa masuk menjadi ajudan di sini, beberapa kali aku juga mencari tahu semuanya. Tuan Dwito







