Beranda / Urban / Ksatria Katana Kembar / Suara Minta Tolong

Share

Suara Minta Tolong

Penulis: Izah04
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-25 21:40:04

Utomo dan Ragma saling memandang ketika mendengar suara seseorang yang meminta tolong. Mereka pun segera keluar dari gubuk sambil mencari asal suara itu, tetapi suaranya sudah tidak terdengar lagi.

“Apakah Ayah mendengarnya? Aku seperti mendengar suara seseorang yang meminta tolong, dan itu suara seorang perempuan,” tanya Ragma, matanya melirik ke sekitar seolah tengah mencari asal suara itu.

“Ya, Ayah juga mendengarnya,” jawab Utomo sambil mengangguk kecil.

Ia mengambil sebilah pisau dari balik pinggangnya.

Crasshhh....

Ia memutar pisau itu, lalu dengan gerakan yang begitu tenang dan cepat ia memegang tangan Ragma, kemudian menancapkan pisau itu tepat di lengannya, kemudian menariknya hingga kulit Ragma terkoyak, seketika darah mengucur dari luka yang menganga itu.

“Argh..!” Erang Ragma begitu terkejut dengan serangan tiba-tiba dari ayahnya.

Ragma hendak bertanya, namun seketika mulutnya terkatup sempurna kala melihat luka di tangannya mulai menutup. Darah yang mengucur tadi seolah mengering dan kulit yang terkoyak menyatu kembali. Tangan Ragma tidak lagi menunjukkan bekas luka seperti yang baru saja terjadi.

Semua menutup sempurna, seperti sedia kala.

“Itu hanya pembuktian bahwa ajian itu sudah merasuk dalam dirimu, anakku. Saat ini antara dirimu dan kematian tidak lagi berjarak. Namun sulit untuk dijelaskan. Kamu mengerti?” ujar Utomo.

“Iya, Ayah. Aku mengerti. Ajian rawa rontek ini seperti regenerasi yang begitu cepat terhadap diri sendiri.”

“Ya, bahkan lebih besar dari itu. Tapi semoga hal buruk tidak terjadi kepadamu. Tetaplah tenang menjalani kehidupanmu sehari-hari tanpa harus menunjukkan pada siapapun. Tahan dirimu untuk tidak menunjukkan kesombongan kepada orang lain. Ilmu ini bukanlah ilmu adu tanding yang harus diumbar ke mana-mana. Ajian ini sangat terlarang, bahkan Ayah tidak tahu bagaimana jika orang biasa mengetahui bahwa kamu memiliki ajian ilmu terlarang ini.” Utomo kembali mengingatkan putranya itu.

Ucapan ayahnya itu membuat Ragma terdiam.

Ia sangat paham makna dari setiap kata yang terlontar. Dadanya yang terasa panas perlahan kembali normal.

Ia menarik napas dan menghembuskannya pelan, lalu tersenyum kepada Utomo sambil menatap kembali tangannya yang sempat terluka akibat serangan tiba-tiba itu.

“Terima kasih atas segalanya, Ayah. Aku tidak tahu harus berkata apa kepada Ayah, tapi semua kebaikan Ayah akan selalu melekat di dalam hatiku.”

“Tentu. Kamu adalah anakku. Ayo, kita pulang. Tidak terasa hari sudah malam, bukan? Perasaan tadi baru menjelang maghrib, tapi menjalani ritual itu seolah baru beberapa menit. Nyatanya lama juga,” jawab Utomo.

“Baik, Ayah.”

Mereka berdua segera pergi meninggalkan gubuk yang berada sedikit lebih jauh masuk ke dalam hutan. Keduanya melangkah dengan begitu tenang di gelapnya semak belukar yang mereka lalui.

“Hahaha! Mau ke mana kau, wanita cantik? Ayo, jangan kabur, temani kami! Hahaha!”

Ragma dan Utomo saling memandang saat mendengar suara tawa dan teriakan laki-laki dan itu jelas sekali ramai-ramai.

“Ini tidak benar, Ayah. Sebaiknya kita cari asal suara itu,” kata Ragma.

Utomo mengangguk setuju. Mereka berlari mencari sumber suara tersebut..

Tap! Tap...

Langkah kaki ayah dan anak itu benar-benar sangat cepat. Bahkan, saking cepatnya, keduanya menghentakkan kaki dan melenting di udara, melompat tinggi hingga berada di atas pohon untuk mencari asal suara yang mereka dengar tadi.

Begitu juga dengan Utomo, yang berdiri di atas pohon berbeda. Pandangan matanya begitu serius, mencari siapa sebenarnya yang tertawa dan berteriak sekeras itu di hutan tersebut.

“Tolong! Tolong!” kembali terdengar suara seorang wanita yang meminta tolong.

Ragma menghentakkan kakinya, melompat dari pohon itu menapak tanah. Begitu juga dengan Utomo.

“Sepertinya suara itu dari arah barat,” kata Utomo sambil menunjuk ke arah yang ia duga.

“Ayah, benar! Aku juga mendengarnya dari arah sana. Ayo, Ayah!” jawab Ragma.

Mereka pun berlari, berusaha menemukan suara teriakan permintaan tolong itu.

Sementara itu, di sisi lain hutan, seorang gadis muda berusia sekitar 19 tahun tengah berlari ketakutan. Setengah pakaiannya sudah robek, berlari tanpa alas kaki.

Pandangan matanya yang penuh ketakutan, keringat bercucuran ditubuhnya, sesekali menoleh ke belakang di sana, delapan orang perampok berpenampilan sangat buruk mengejarnya sambil membawa senjata tajam.

“Hei! Jangan kabur! Ayo, temani kami di sini! Hahaha!” teriak mereka semua sambil terus mengejar gadis muda itu.

Sementara Utomo dan Ragma yang mencari asal suara tersebut berdiri di sekitar hutan, pandangan mereka tertuju pada seorang wanita yang berlari dan sekelompok laki-laki yang mengejarnya. Ragma pun berlari mendekati mereka.

“Larasati, anak pak kades? Larasati!” panggilnya begitu cepat. Ternyata gadis muda itu dikenalnya.

“Kang Ragma! Tolong saya, Kang!”

Ragma langsung berlari cepat mendekati Larasati, begitu juga dengan Utomo.

“Hei! Jangan ganggu kami! Serahkan gadis cantik itu kepada kami, hahaha! Atau kau akan mati di tangan kami! Minggir! Jangan ikut campur urusan orang lain!” teriak salah satu dari para perampok itu.

“Dasar kurang ajar! Berani-beraninya kalian bertingkah tidak pantas di sini! Pergilah, jangan memancing keributan!” jawab Ragma dengan sorot mata tajam penuh amarah, menunjuk ke arah mereka semua, lalu melihat Larasati yang benar-benar ketakutan.

Utomo melepas kain sarung yang terikat di pinggangnya lalu melesatkannya kepada Larasati, karena pakaian gadis itu sudah sedikit robek.

“Terima kasih, PakLe,” ujar Larasati yang begitu ketakutan hingga terduduk di tanah. Dirinya benar-benar kelelahan.

“Ayah, biar aku yang menghadapi mereka. Pergilah ke desa untuk mengadukan ini kepada ayahnya Larasati, Pak Kades,” ujar Ragma tegas.

“Baiklah. Ayah, pergi dulu. Selesaikan mereka. Tidak perlu mengampuninya,” jawab Utomo sambil menatap ke arah sekelompok laki-laki itu.

“Iya, Ayah. Mereka tidak pantas untuk diampuni. Kelakuan mereka harus diberi pelajaran,” jawab Ragma sambil mengepalkan tangan, menatap mereka semua penuh amarah.

“Dasar brengsek! Kau pikir kau siapa? Hah?” teriak salah seorang dari perampok itu.

Tap! Tap!!

Utomo menghentakkan kakinya lalu melenting ke udara dan pergi meninggalkan Ragma. Sekelompok orang itu saling memandang lalu tersenyum sinis.

“Oh.. ternyata kalian orang-orang yang memiliki kemampuan kanuragan. Apa kau pikir kami takut? Hahaha, kami pun memilikinya! Pergilah, anak muda. Kau tidak akan mampu melawan kami semua. Kau lebih baik menyerahkan wanita itu daripada mati sia-sia,” ujar seorang pria yang menjadi ketua dari pera perampok tersebut, yang berdiri tegak sambil mengacungkan senjata tajamnya.

“Sombong,” ujar Ragma, kemudian membantu Larasati untuk berdiri dan menjauhkan gadis muda itu dari mereka. “Tunggulah di sini ya, jangan ke mana-mana. Mereka harus diberi hukuman.”

“Iya, Kang. Terima kasih,” jawab Larasati dengan suara gemetar.

“Dasar kurang ajar! Kau tidak bisa dibilangi? Kalian semua,serang dia!” teriak ketua perampok itu sambil menunjuk ke arah Ragma.

“Dasar perampok-perampok sialan! Kalian benar-benar tidak bisa diampuni!” Ragma mengepalkan kedua tangannya.

Meski tanpa senjata, di wajahnya tidak tampak rasa takut. Sekelompok perampok itu langsung mengitari dirinya seorang. Larasati sangat ketakutan, ia mundur hingga menubruk batang pohon yang besar.

“Ya Allah, lindungi Kang Ragma…” gumam Larasati, semakin ketakutan.

“Hahaha… mati kau! Serang dia!” teriak para perampok sambil maju.

Wush...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Andi Gustina
belum tau mereka siapa lawan y
goodnovel comment avatar
CUI LAN TONG
lanjot .........
goodnovel comment avatar
CUI LAN TONG
bugh ! arrrtgh ... srsssss ..... Bugh ! Brak ..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ksatria Katana Kembar   Dodi Vs Lima Anak Buah Gerry

    Kata Dwi Toro, kepada ajudannya, lalu melihat Gerry, "Baiklah, Gerry, siapkan pasukanmu sekarang. Aku sudah memilih Dodi dulu untuk melawan pertama kali,” kata Dwi Toro sambil berjalan menuju salah satu sofa yang sudah disiapkan lebih dulu, sedangkan Ragma dan Dodi mengikuti dan kembali berdiri tegak di belakang laki-laki itu.“Baiklah, kalian siapkan 5 orang untuk melawan ajudan pribadi Tuan Dwi Toro. Kalian tentu mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?” perintah Gerry.“Siap, mengerti Tuan,” terdengar suara bariton dari sana. Kemudian 5 orang laki-laki tiba-tiba saja maju dan berdiri tegak di hadapan semua orang. Dodi pun akhirnya maju dan kini berdiri di hadapan mereka.“D183, aku yakin kamu bisa menghadapi mereka. Selesaikan tugasmu dan tunjukkan bahwa ajudanku bukanlah orang biasa,” ujar Dwi Toro sambil memandang punggung pemuda itu.“Apakah diizinkan menggunakan senjata” Dodi balik bertanya tanpa menjawab ucapan Dwi Toro.“Tentu saja. Di sini dibebaskan menggunakan apa pun, t

  • Ksatria Katana Kembar   Akan Diuji

    Satya bertanya-tanya, dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara saat ini Zein kembali bergerak. Ia mengaktifkan alat yang terkoneksi dengan ponsel pribadinya itu, di mana di sana terlihat jelas mobil Ramona sudah bergerak. Zein pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dan pergi meninggalkan area tersebut. Ia benar-benar mengikuti rute sesuai dengan keberadaan mobil Ramona yang sudah terlacak saat ini, sehingga setelah cukup lama akhirnya ia berhenti di sebuah tempat. Pandangan matanya memperhatikan sekitar; ternyata itu adalah tempat karaoke.“Ini tempat karaoke biasa dan umumnya hanya untuk melepas penat, tapi ada juga perjudian. Apa dia seorang LC?” gumam Zein. “Tapi kalau melihat penampilannya itu tidak mungkin, tapi bisa juga.”Zein memundurkan mobilnya dan mematikan mesin di sekitar tempat itu. Ia lalu melihat lebih dekat bagaimana Ramona keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat karaoke tersebut.“Tapi ini masih pagi. Tempat ini tentu masih tutup,” gumamnya. Ia juga

  • Ksatria Katana Kembar   Satya Menggeledah

    Zaki seketika melihat ke arah Ganang yang menatap intens dirinya.“Tadi saya melihat bibir kamu bergerak-gerak, kamu sedang mengatakan apa?” tanya Ganang. Sontak saja Zaki membelalak kaget dengan mulut yang menganga. Pemuda itu terlihat gugup, akan tetapi langsung berubah seperti biasa. “Oh itu, saya lagi menghafal jadwal Nona muda tuan besar, karena kebetulan kan ada beberapa catatan yang ditinggalkan di kamar saya, jadi saya lagi menghafal itu. Apalagi di beberapa tanggal lumayan banyak tanggal ganjilnya, kalau nggak ingat nanti takutnya terlambat bangun pagi,” jawab Zaki sambil nyengir mencari alasan.“Oh, saya pikir kamu sedang memikirkan apa. Jangan terlalu melamun. Ingat, kamu adalah seorang ajudan dan kamu mengawal Putri saya. Jaga baik-baik Revina, jangan sampai terluka. Kamu mengerti?” Ganang memberikan peringatan kepada Zaki.“Siap, tuan besar. Saya akan selalu mengingat pesan Anda.”“Ya sudah kalau begitu,” ujar Ganang pada akhirnya sambil menyelesaikan sarapan pagi itu.

  • Ksatria Katana Kembar   Kewaspadaan Ragma

    “Tingkat kecurigaanku ada pada laki-laki bernama Dodi ini. Tapi tempatnya pun sudah diperiksa, tidak ada apa-apa. Memang kalau diperlihatkan dari caranya bergerak dan memperhatikan sekitar, aku tidak yakin dia itu seorang yang tidak punya keahlian. Dan aku harus menunggu laporan dari para anak buahku yang sudah berpencar,” Satya berbicara seorang diri sambil terus memperhatikan CCTV itu.Setelah cukup lama, ia pun meninggalkan ruangannya, kemudian berjalan menuju kamar pribadinya. Para ajudan sudah mulai bergantian untuk berjaga. Semua ajudan yang menjaga siang beristirahat, gantian untuk para ajudan yang berjaga malam hari ini.Suasana tenang di rumah Dwi Toro terlihat begitu jelas. Hening tanpa suara. Penjagaan ketat begitu jelas. Beberapa ajudan mulai berkeliling di rumah utama untuk memeriksa semuanya.Salah satu ajudan itu melihat ke arah kamar Dodi dan juga Ragma yang bersebelahan. Dia berjalan mendekati pintu kamar Ragma lalu mendekatkan telinganya ke balik pintu.“Kau ngapain

  • Ksatria Katana Kembar   Selalu Diawasi

    “Bagaimana dia mau menikah, sedangkan Dwitoro saja hingga saat ini belum meresmikan hubungannya dengan Angela,” jawab Ganang sambil menikmati minuman yang ada di depannya itu.“Ya sudahlah kalau seperti itu. Terserah ke anak-anakmu saja ya. Maksudnya kan seperti anak-anakku yang sudah berumah tangga. Usia anak kita kan tidak terpaut jauh, hanya sekitar satu atau sampai dua tahun saja hahaha.” Taufik beranjak dari tempatnya. “Kalau gitu aku harus segera pergi, tidak bisa berlama-lama lagi di sini,” ujarnya.“Sama, aku juga,” sahut yang lainnya serempak. Ganang tersenyum dan mengantarkan mereka menuju mobil mewahnya masing-masing. Semuanya pergi meninggalkan rumah itu. Masing-masing dari mereka juga membawa ajudan pribadi.“Baiklah, aku harus segera istirahat. Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama memang sangat menyenangkan. Tapi semua itu sudah berakhir. Besok aku harus kembali pulang, apalagi Andini sudah sampai di rumah pastinya,” Ganang berbicara seorang diri lalu menuju rumah dan

  • Ksatria Katana Kembar   Arahan Dodi

    Ragma menatap serius ke arah Dodi.“Pantau pergerakan teman baru kalian, kata si Zaki. Kalian punya teman baru kan di kota ini? Perlu kamu ketahui Ragma, bahwa setiap keluarga kalangan atas pasti mereka punya mata-mata, dan mereka tidak akan pernah percaya dengan ajudan-ajudan baru. Untuk membuktikan kebenaran dan juga kejujuran, ada jawaban yang pernah kita berikan saat ditanya pertama kali oleh tuan kita.” jelas Dodi Ragma mendengarkan dengan serius, seketika ia teringat akan Mona. Pemuda itu mengangguk, menatap ke arah Dodi kembali.“Kamu mengatakan kalau kamu adalah anak pertama dan kamu memiliki keluarga di Kalimantan. Percayalah, itu akan mereka telusuri.”“Begitu ya, Mas? Terima kasih sekali sudah memberikan aku peringatan seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan teman baru kami. Semoga dia baik-baik saja, Mas.” ujar Ragma“Ya, semoga saja. Kamu tahu, sebelum aku memutuskan untuk bisa masuk menjadi ajudan di sini, beberapa kali aku juga mencari tahu semuanya. Tuan Dwito

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status