Home / Urban / Ksatria Katana Kembar / Bisik-bisik Para Warga

Share

Bisik-bisik Para Warga

Author: Izah04
last update Last Updated: 2025-11-27 07:16:44

Zaki segera bangkit saat melihat Utomo sudah berdiri di depannya.Ia tersenyum canggung sambil mengusap tengkuk sendiri.

“Aku mau menemui Ragma, Pakde. Tadi aku malah meninggalkannya gara-gara ditarik sama Bapakku,” ujar Zaki sangat jujur. Ia segera duduk di salah satu dipan di belakang rumah Utomo.

“Ragma sudah tidur. Dia kelelahan, karena tadi kan latihan sebelum maghrib,” jawab Utomo tenang.

“Tapi Ragma tidak apa-apa kan, Pakde? Jujur saja, aku sangat khawatir dengan perasaannya. Ditambah lagi tadi orang-orang desa seperti itu, bukannya mengucap terima kasih, malah pergi meninggalkannya dengan tatapan sinis dan omongan-omongan yang nggak enak. Aku saja yang mendengarnya sakit hati, apalagi Ragma yang mengalami. Padahal dia sudah menyelamatkan adikku, Larasati.”

“Tidak apa-apa, dia baik-baik saja. Orang-orang desa tentu sangat terkejut melihat apa yang baru saja terjadi saat itu. Kita tidak bisa menyalahkan,” jawab Utomo lembut.

Zaki terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya. Utomo tersenyum dan duduk di sebelah pemuda itu.

"Tapi... " Zaki menjedah ucapannya

“Tapi apa? Kamu ingin mengatakan sesuatu? Katakan saja, Pakde akan mendengarkannya.”

“Bapak dan juga Ibuku mengada-ngada ini, Pak de. Aku cuma kesal aja. Maksudku, segala sesuatu kan bisa ditanya dulu, jangan langsung menelan mentah-mentah. Aku sangat tahu Ragma itu orang yang baik sejak dulu.”

“Terkadang kita tidak bisa menyamakan pemikiran kita dengan orang lain, Zaki. Bisa jadi apa yang menurut kita baik, belum tentu dianggap baik oleh mereka. Kamu tidak perlu memikirkan terlalu jauh. Yakinlah, Ragma bisa menyelesaikan ini semua dengan baik. Dia tahu apa yang harus dia lakukan untuk kehidupan selanjutnya.” Utomo memegang pundak Zaki, dan menasihatinya.

“Tapi, Pak de… Bapakku itu sebenarnya.. ah! aku bingung menjelaskannya. Tapi intinya, mereka semua terkejut dan menganggap Ragma itu tidak sebaik seperti apa yang selama ini mereka lihat.”

“Tidak apa-apa. Percayalah, semua bisa teratasi dengan baik. Kamu sudah terlalu baik, sampai datang ke sini di jam tengah malam begini. Apa kamu tidak takut nanti kedua orang tuamu mencari? Alangkah baiknya kamu pulang saja.”

“Tapi aku ingin melihat keadaan Ragma, Pak de. Setidaknya aku ingin memastikan dia benar-benar baik-baik saja atau tidak. Sumpah, Pak de. aku benar-benar kepikiran.” Zaki garuk-garuk kepala.

“Ya sudah, sana masuk. Dia sedang tidur di kamarnya. Kalau kamu tidak percaya, lihat saja sendiri. Dia itu baik-baik saja,” ujar Utomo mempersilakan.

Pemuda itu tampak senang. Langsung saja ia berjalan masuk dari pintu belakang yang memang sudah terbuka. Utomo tersenyum melihat sikap dan tingkahnya itu.

Sesampainya di dalam rumah, Zaki langsung menuju kamar Ragma.

Ceklek..

Ia melihat sahabatnya itu tertidur pulas dalam posisi miring menghadap dinding. Zaki menatap teduh ke arahnya, berjalan mendekat, lalu menarik sarung dan menutupi tubuh sahabatnya itu.

“Aku sudah berusaha untuk membelamu Ragma, di depan Bapak dan Ibuku. Karena aku tahu kamu orang baik,” gumam Zaki pelan.

Setelah memastikan Ragma memang tidur dan baik-baik saja, Zaki pun segera pergi meninggalkan kamar itu. Namun tanpa ia ketahui, Ragma sebenarnya belum tidur.

Pemuda itu membuka matanya, menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Sepertinya ia memang sengaja tidak ingin bertatap muka dengan Zaki.

Saat di luar, Zaki tersenyum kepada Utomo.

“Bagaimana? Ragma baik-baik saja kan?” tanya Utomo.

“Iya, Pak de. Alhamdulillah, dia sedang tidur. Nanti kalau misalnya ada apa-apa, kasih tahu aku ya, Pak Le.” pinta Zaki

“Iya. Ya sudah sana, kamu harus pulang. Nanti dicari sama kedua orang tuamu. Malam ini situasi sedang tidak terkendali. Kamu tahu sendiri seperti apa warga desa.”

“Iya, Pak de. Kalau gitu aku pulang dulu. Assalamu'alaikum,” pamit Zaki sambil menunduk hormat.

“Wa'alaikumsalam.”

Utomo memandang Zaki yang langsung pergi meninggalkan dirinya. Ia beranjak dan terus memperhatikan langkah pemuda itu hingga tidak terlihat lagi.

Langkah Zaki benar-benar cepat, ia tampak terburu-buru untuk sampai di rumahnya. Sedangkan Utomo masih tetap berada di belakang, duduk bersila di atas dipan.

“Apakah sudah waktunya, atau bagaimana? Entah kenapa, ada jalan yang harus ditempuh,” gumamnya seorang diri.

Lelaki paruh baya itu menutup mata, meletakkan kedua tangannya di atas kaki, dan tampak menenangkan pikirannya sendiri.

Sementara itu, Zaki yang sudah tiba di rumahnya segera masuk ke kamar agar tidak ketahuan oleh siapa pun.

Ia langsung mengganti pakaian dan merebahkan diri di tempat tidur.

“Entah kenapa, perasaanku nggak enak. Tapi apa pun itu, semoga semua baik-baik saja, ya Allah. Aku yakin sekali Ragma itu orang baik. Meskipun aku terkejut dengan apa yang sudah terjadi, tapi itu tidak membuat aku membencinya, ya Allah…” Zaki terus berbicara sendiri.

Ia memadamkan lampu dan akhirnya memilih untuk beristirahat.

Keesokan harinya, pagi yang cerah pun telah kembali. Malam gelap berganti dengan suasana pagi yang tenang di desa. Orang-orang mulai kembali beraktivitas, ada yang pergi ke sawah, sebagian lainnya bekerja, membawa kendaraan masing-masing.

Ragma sudah bangun lebih awal. Ia masih duduk di tepi tempat tidurnya, menghela napas panjang. Pemuda itu terlihat berusaha untuk tetap baik-baik saja. Sambil berjalan sedikit gontai, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Sementara itu, Utomo sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis saat melihat putranya akhirnya keluar dari kamar.

Setelah selesai mandi, Ragma yang sudah berganti pakaian tampak mengambil caping dan juga cangkul.

Ia mengisi air minum ke dalam wadah botol plastik, yang biasa dibawanya.

“Kamu mau ke kebun, ya?” tanya Utomo. “Kalau kamu lelah, istirahat saja dulu. Tidak perlu ke kebun, lain waktu saja.”

“Tidak, Ayah. Aku ingin ke sana. Bukankah memang setiap hari aku harus mengecek kebun dan sayuran? Hari ini terong-nya sudah bisa dipanen, Ayah. Aku harus segera memetiknya untuk dijual ke pasar.” jawab Ragma, dengan senyum simpul disudut bibit.

“Ya sudah, kalau begitu ayo sarapan dulu.”

“Iya, Ayah.”

Ragma dan Utomo menikmati sarapan bersama. Tidak ada perbincangan khusus di antara keduanya. Lelaki paruh baya itu membiarkan Ragma menikmati makanannya dalam diam, hingga selesai.

“Aku pamit, Ayah. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Ragma pun pergi membawa cangkul dan peralatan kebunnya dengan sepeda motor lamanya. Namun, di jalan, beberapa pasang mata mulai memperhatikannya.

Mereka segera menghindar, bahkan ada yang berlari menjauh. Hal itu membuat Ragma sedikit tersentak.

Ia pun menghentikan motor dan menoleh ke belakang.

“Lihat itu, dia! Ayo kabur! Kamu sih, lihat-lihat sampai berhenti gitu. Nanti kita bakal dihabisi, dijadikan tumbal! Dia penganut ilmu iblis! Ayo cepat, lari!”

“Astaghfirullahaladzim…” Ragma mengucap istighfar sambil mengusap dadanya sendiri ketika mendengar seruan seorang bapak-bapak yang bicara kepada temannya, bahkan sampai berlari ketakutan ketika melihat dirinya yang berhenti sejenak di pinggir jalan.

“Eh, jangan lewat sini! Lihat itu, si penganut ilmu iblis! Ayo pergi! Pergi!”

Ragma dibuat terkejut lagi, saat mendengar suara dari arah berbeda. Ternyata itu suara para ibu-ibu yang baru pulang dari pasar. Mereka benar-benar ketakutan melihatnya.

“Astaghfirullahaladzim… apa-apaan ini? Kenapa mereka mengatakan seperti itu? Bisa-bisanya menuduh hal yang tidak kulakukan,” gumam Ragma sambil menggeleng pelan.

Ia pun melanjutkan perjalanannya. Lagi-lagi, beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap dengan sinis, lalu segera pergi dengan langkah cepat.

Karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan, Ragma memilih diam dan terus melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di kebunnya sendiri.

Pemuda itu mulai melakukan kegiatannya seperti biasa. Pandangan matanya tertuju pada sayuran terong yang sudah siap panen. Ia dengan cekatan mengambil keranjang dan mulai memetiknya satu per satu.

Sementara itu, beberapa warga tampak duduk santai di warung serapan pagi. Dari kejauhan, ibu-ibu yang tadi melihat Ragma pun berlari kecil sambil membawa keranjang sayuran, lalu menghampiri beberapa warga yang sedang duduk di sana.

“Eh, tadi aku lihat si Ragma, lo.”

“Iya, aku juga lihat. Kayaknya dia mau ke kebun, seperti biasa. Soalnya dia pakai caping dan bawa cangkul.”

“Ah, aku takut dekat-dekat sama dia. Dia itu penganut ilmu iblis. Kalian hati-hati, loh. Nanti bisa jadi tumbal. Ih, takut!”

“Iya, ya ampun… nggak nyangka, ya. Mungkin kalau nggak lihat tadi malam, kita nggak bakal tahu kalau Ragma ternyata penganut ilmu setan.”

Bisik-bisik para warga terdengar makin ramai. Mereka mengobrol di warung itu, sambil menuding-nuding, membicarakan Ragma tanpa dasar.

Di saat yang sama, mereka melihat Zaki hendak berangkat bekerja.

“Mau berangkat kerja, Zaki?” sapa beberapa warga.

“Iya, Pak, Ibu.. Udah hampir kesiangan juga, udah mau jam delapan. Mari semuanya,” jawab Zaki sopan sambil tersenyum.

Ia lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motornya. Para warga hanya saling pandang tanpa berani berkata banyak.

“Kalau nggak salah, si Zaki itu teman dekatnya Ragma, ya?”

“Iya, kamu benar. Tapi… kenapa, ya, aku tiba-tiba takut kalau Zaki bakal jadi tumbal?”

“Apa? Zaki jadi tumbal?”

Mereka semua menoleh saat mendengar suara seorang wanita.

Para warga sontak kaget, kemudian menundukkan kepala masing-masing.

“Maaf, Bu Kades. Ini cuma dugaan saja. Soalnya Ragma itu kan… penganut ilmu iblis,” ucap salah seorang ibu-ibu gugup.

“Astaghfirullahaladzim! Tidak! Tidak akan kubiarkan! Ragma harus diusir dari kampung ini! Aku tidak mau anakku jadi tumbal!” ujar Ibu Kades yang tidak lain adalah ibunya Zaki dengan nada tinggi. Ia langsung pergi meninggalkan para warga dengan langkah cepat.

“Ibu Kades, tunggu!”

“Bu, tunggu dulu, Bu!”.

"Ayo, kejar... "

Para warga, yang merasa tidak enak , langsung mengejar wanita itu.

Namun, langkahnya semakin cepat, meninggalkan kerumunan yang saling berpandangan cemas.

"Tidak!! Aku tidak akan biarkan anakku jadi tumbal!!.. "

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ksatria Katana Kembar   Dodi Vs Lima Anak Buah Gerry

    Kata Dwi Toro, kepada ajudannya, lalu melihat Gerry, "Baiklah, Gerry, siapkan pasukanmu sekarang. Aku sudah memilih Dodi dulu untuk melawan pertama kali,” kata Dwi Toro sambil berjalan menuju salah satu sofa yang sudah disiapkan lebih dulu, sedangkan Ragma dan Dodi mengikuti dan kembali berdiri tegak di belakang laki-laki itu.“Baiklah, kalian siapkan 5 orang untuk melawan ajudan pribadi Tuan Dwi Toro. Kalian tentu mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?” perintah Gerry.“Siap, mengerti Tuan,” terdengar suara bariton dari sana. Kemudian 5 orang laki-laki tiba-tiba saja maju dan berdiri tegak di hadapan semua orang. Dodi pun akhirnya maju dan kini berdiri di hadapan mereka.“D183, aku yakin kamu bisa menghadapi mereka. Selesaikan tugasmu dan tunjukkan bahwa ajudanku bukanlah orang biasa,” ujar Dwi Toro sambil memandang punggung pemuda itu.“Apakah diizinkan menggunakan senjata” Dodi balik bertanya tanpa menjawab ucapan Dwi Toro.“Tentu saja. Di sini dibebaskan menggunakan apa pun, t

  • Ksatria Katana Kembar   Akan Diuji

    Satya bertanya-tanya, dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara saat ini Zein kembali bergerak. Ia mengaktifkan alat yang terkoneksi dengan ponsel pribadinya itu, di mana di sana terlihat jelas mobil Ramona sudah bergerak. Zein pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dan pergi meninggalkan area tersebut. Ia benar-benar mengikuti rute sesuai dengan keberadaan mobil Ramona yang sudah terlacak saat ini, sehingga setelah cukup lama akhirnya ia berhenti di sebuah tempat. Pandangan matanya memperhatikan sekitar; ternyata itu adalah tempat karaoke.“Ini tempat karaoke biasa dan umumnya hanya untuk melepas penat, tapi ada juga perjudian. Apa dia seorang LC?” gumam Zein. “Tapi kalau melihat penampilannya itu tidak mungkin, tapi bisa juga.”Zein memundurkan mobilnya dan mematikan mesin di sekitar tempat itu. Ia lalu melihat lebih dekat bagaimana Ramona keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat karaoke tersebut.“Tapi ini masih pagi. Tempat ini tentu masih tutup,” gumamnya. Ia juga

  • Ksatria Katana Kembar   Satya Menggeledah

    Zaki seketika melihat ke arah Ganang yang menatap intens dirinya.“Tadi saya melihat bibir kamu bergerak-gerak, kamu sedang mengatakan apa?” tanya Ganang. Sontak saja Zaki membelalak kaget dengan mulut yang menganga. Pemuda itu terlihat gugup, akan tetapi langsung berubah seperti biasa. “Oh itu, saya lagi menghafal jadwal Nona muda tuan besar, karena kebetulan kan ada beberapa catatan yang ditinggalkan di kamar saya, jadi saya lagi menghafal itu. Apalagi di beberapa tanggal lumayan banyak tanggal ganjilnya, kalau nggak ingat nanti takutnya terlambat bangun pagi,” jawab Zaki sambil nyengir mencari alasan.“Oh, saya pikir kamu sedang memikirkan apa. Jangan terlalu melamun. Ingat, kamu adalah seorang ajudan dan kamu mengawal Putri saya. Jaga baik-baik Revina, jangan sampai terluka. Kamu mengerti?” Ganang memberikan peringatan kepada Zaki.“Siap, tuan besar. Saya akan selalu mengingat pesan Anda.”“Ya sudah kalau begitu,” ujar Ganang pada akhirnya sambil menyelesaikan sarapan pagi itu.

  • Ksatria Katana Kembar   Kewaspadaan Ragma

    “Tingkat kecurigaanku ada pada laki-laki bernama Dodi ini. Tapi tempatnya pun sudah diperiksa, tidak ada apa-apa. Memang kalau diperlihatkan dari caranya bergerak dan memperhatikan sekitar, aku tidak yakin dia itu seorang yang tidak punya keahlian. Dan aku harus menunggu laporan dari para anak buahku yang sudah berpencar,” Satya berbicara seorang diri sambil terus memperhatikan CCTV itu.Setelah cukup lama, ia pun meninggalkan ruangannya, kemudian berjalan menuju kamar pribadinya. Para ajudan sudah mulai bergantian untuk berjaga. Semua ajudan yang menjaga siang beristirahat, gantian untuk para ajudan yang berjaga malam hari ini.Suasana tenang di rumah Dwi Toro terlihat begitu jelas. Hening tanpa suara. Penjagaan ketat begitu jelas. Beberapa ajudan mulai berkeliling di rumah utama untuk memeriksa semuanya.Salah satu ajudan itu melihat ke arah kamar Dodi dan juga Ragma yang bersebelahan. Dia berjalan mendekati pintu kamar Ragma lalu mendekatkan telinganya ke balik pintu.“Kau ngapain

  • Ksatria Katana Kembar   Selalu Diawasi

    “Bagaimana dia mau menikah, sedangkan Dwitoro saja hingga saat ini belum meresmikan hubungannya dengan Angela,” jawab Ganang sambil menikmati minuman yang ada di depannya itu.“Ya sudahlah kalau seperti itu. Terserah ke anak-anakmu saja ya. Maksudnya kan seperti anak-anakku yang sudah berumah tangga. Usia anak kita kan tidak terpaut jauh, hanya sekitar satu atau sampai dua tahun saja hahaha.” Taufik beranjak dari tempatnya. “Kalau gitu aku harus segera pergi, tidak bisa berlama-lama lagi di sini,” ujarnya.“Sama, aku juga,” sahut yang lainnya serempak. Ganang tersenyum dan mengantarkan mereka menuju mobil mewahnya masing-masing. Semuanya pergi meninggalkan rumah itu. Masing-masing dari mereka juga membawa ajudan pribadi.“Baiklah, aku harus segera istirahat. Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama memang sangat menyenangkan. Tapi semua itu sudah berakhir. Besok aku harus kembali pulang, apalagi Andini sudah sampai di rumah pastinya,” Ganang berbicara seorang diri lalu menuju rumah dan

  • Ksatria Katana Kembar   Arahan Dodi

    Ragma menatap serius ke arah Dodi.“Pantau pergerakan teman baru kalian, kata si Zaki. Kalian punya teman baru kan di kota ini? Perlu kamu ketahui Ragma, bahwa setiap keluarga kalangan atas pasti mereka punya mata-mata, dan mereka tidak akan pernah percaya dengan ajudan-ajudan baru. Untuk membuktikan kebenaran dan juga kejujuran, ada jawaban yang pernah kita berikan saat ditanya pertama kali oleh tuan kita.” jelas Dodi Ragma mendengarkan dengan serius, seketika ia teringat akan Mona. Pemuda itu mengangguk, menatap ke arah Dodi kembali.“Kamu mengatakan kalau kamu adalah anak pertama dan kamu memiliki keluarga di Kalimantan. Percayalah, itu akan mereka telusuri.”“Begitu ya, Mas? Terima kasih sekali sudah memberikan aku peringatan seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan teman baru kami. Semoga dia baik-baik saja, Mas.” ujar Ragma“Ya, semoga saja. Kamu tahu, sebelum aku memutuskan untuk bisa masuk menjadi ajudan di sini, beberapa kali aku juga mencari tahu semuanya. Tuan Dwito

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status