LOGINTeriak Ibu Kades terlihat marah-marah sendiri. Ia terus berjalan setengah berlari, sangat cepat sekali, sedangkan beberapa warga masih terus mengejarnya hingga sampai di rumah..
Brakk!! “Bapak! Bapak!” panggil wanita itu, sambil membuka pintu begitu keras. “Ada apa, toh, Bu? Kenapa kamu malah teriak-teriak seperti itu?, banting pintu lagi, tadi katanya mau beli pecel, mana pecelnya? Bapak harus ke kantor ini,” ujar suaminya. “Pak! Kita harus segera mengusir si Ragma dari kampung ini! Dia itu mau menumbalkan Zaki, Pak!” “Astaghfirullahaladzim, ngomong opo toh kamu ini, Bu? Pagi-pagi kok malah bahas seperti itu?” Para warga yang sudah sampai mendengar pembicaraan Ibu Kades karena suaranya begitu keras. Mereka yang ketakutan pun langsung saling menyentuh satu sama lain, memberi kode untuk pergi saja. Di saat yang sama, saat mereka hendak pergi, mereka melihat Larasati yang baru saja selesai menyiram bunga. “Ada apa, Bapak-bapak, Ibu-ibu? Pagi-pagi sudah berada di depan rumah saya? sampai seperti mau menguping begitu. Ada masalah apa?” tanya Larasati langsung. “Nggak ada, Mbak Larasati. Kami pergi dulu, permisi,” ujar mereka yang langsung berlari cepat, merasa tidak enak sendiri. Larasati merasa heran. “Pokoknya Ibu nggak mau tahu! Ragma harus segera diusir, Pak, dari kampung ini! Kita harus bicara kepada Pak Utomo! Tidak bisa dibiarkan ini!” “Astaghfirullahaladzim, ada apa lagi sama Ibu?” Larasati yang terkejut mendengar teriakan ibunya dari dalam, dan segera masuk dan melihatnya. “Ada apa, Bu?” tanya Larasati. “Itu si Ragma! Dia mau menumbalkan kakangmu! Pokoknya si Ragma harus segera diusir dari kampung ini! Ibu tidak mau tahu! Cepat, Pak, sampean harus segera mengusirnya! Sampean ini kepala desa, harus segera memutuskan dengan cepat! Jangan sampai kampung ini, mendapat kualat, dan anak-anak muda seperti anak kita menjadi tumbalnya si Ragma! Ibu tidak mau, Pak!” teriak wanita itu terus, yang marah-marah tidak sabar. “Sabar, toh, Bu. Semua kita bicarakan baik-baik. Bapak juga mengerti dan tidak akan membiarkan itu terjadi. Kita akan rembuk dengan para warga untuk memutuskan agar Ragma tidak tinggal di sini. Tapi ini masih pagi, Bu, semua masih sibuk. Nanti kita panggil warga untuk berkumpul di kantor kepala desa. Ya sudah, jangan dipikirkan. Mana sarapannya? Bapak lihat Zaki sampai pergi tadi itu nggak sarapan, ya? Katanya mau sarapan di tempat kerja saja.” “Ibu sampai lupa, Pak. Nggak jadi. Harusnya tadi kan mau beli pecel, tapi pas mendengar anakku bakal dijadikan tumbal, aku ketakutan sendiri, Pak.” “Walah, Sulastri! Sulastri. Ya sudahlah, Bapak langsung berangkat aja. Ini sudah jam berapa? Nanti cari makanan di sekitar kantor saja, sudah. Jangan dipikirkan. Percaya sama Bapak, suamimu ini bisa melakukan apa saja, ya.” “Iya, Pak. Ibu percaya sama Bapak. Pokoknya siluman itu harus segera diusir sebelum terjadi sesuatu yang nggak diinginkan. Bahaya, Pak,” kata Sulastri lagi meyakinkan suaminya itu sambil menggenggam kedua tangannya. “Iya, ya sudah. Bapak pergi dulu. Assalamualaikum. Larasati, temani Ibu, ya,” ujar Kepala Desa itu yang segera pergi meninggalkan rumah. “Ibu, kenapa Ibu bicara seperti itu? Tidak mungkin Kang Ragma akan melakukan tindakan yang tidak pantas. Ibu jangan sembarangan menyebarkan berita yang tidak pasti. Kasihan Kang Ragma dan juga Pak Le Utomo, Bu,” Larasati terlihat tidak suka dan langsung menegur ibunya. “Alah, tahu apa kamu! Asal kamu tahu saja, ya, Larasati, dia itu penganut ilmu setan, ilmu iblis! Mana ada manusia yang sudah terbunuh, tubuhnya tercabik-cabik, bisa kembali seperti semula sedia kala, darahnya bersih, tubuhnya halus, dan berdiri dengan tegak hidup lagi! Apalagi kalau bukan karena dia menganut ilmu setan! Kamu ini jadi perempuan kok bodoh sekali! Sudah, masuk kamar! Ngapain kamu di sini? Harusnya kamu kan sekolah dasar, kamu!” Sulastri marah-marah sendiri, matanya melotot sambil berkacak pinggang, menatap Larasati yang langsung menundukkan kepalanya. Seketika saja gadis muda itu begitu ketakutan mendengar suara nyaring sang ibu. “Dibilangin kok malah ngeyel! Nanti kejadian baru nangis! Aku ini hanya ingin mencegah, Larasati! agar kakangmu itu tidak apa-apa! Pokoknya si Ragma harus diusir! Mau tidak mau, pokoknya harus!” Sulastri kembali marah-marah, ia langsung menuju arah belakang. “Astaghfirullahaladzim, gawat ini! Aku harus segera menghubungi Kang Zaki. Tapi Kang Zaki masih baru berangkat kerja, bagaimana ini?” Larasati beristighfar lagi. Ia masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya, lalu mencari kontak Zaki. Ia pun segera mengirim pesan kepada saudara laki-lakinya itu. >Kang, gawat ya Kang! Ibu mulai mengada-ngada. Masa mau mengusir Kang Ragma dari desa ini dan menuduh karena penganut ilmu iblis, sampai mengatakan kalau kakak bakal ditumbalkan!< Klik'send.. Setelah mengirim pesan itu, Larasati terduduk lemas di tempat tidur. Ia benar-benar begitu khawatir sekali. “Ya Allah, semoga tidak terjadi apa-apa. Padahal Kang Ragma hanya berniat untuk menolongku, tapi kenapa menjadi seperti ini...” gumam Larasati. Jika di rumah Pak Kades, sang istri maupun putrinya memperdebatkan Ragma. Utomo yang berada di rumahnya terlihat begitu santai. Ia membersihkan pekarangan dengan tenang. Rumput-rumput liar itu pun sudah tampak bersih sekali. Saat ia menyapu halaman depan, pandangan matanya tertuju kepada beberapa warga yang melintas di sana. Mereka melirik Utomo, saling sikut satu sama lain, lalu pergi begitu saja. “Ada apa dengan mereka? Ah, sudahlah, biarkan saja.” gumam laki-laki paruh baya itu. Utomo hanya bisa menghela napas dan geleng-geleng kepala. Ia tidak terlalu memperdulikan sikap para warga yang baru saja ia lihat. “Assalamualaikum.” “Waalaikumsalam.” Utomo menoleh, lalu tersenyum. Ternyata yang datang adalah Samsul, salah satu warga yang cukup dekat dengannya. Usia mereka pun tidak terpaut jauh. “Pak Utomo, ada yang ingin saya sampaikan kepada sampean ini. Mari,” kata Samsul. Raut wajahnya tampak begitu serius. Utomo menyadari sesuatu. Ia mengangguk, meletakkan sapu lidi yang sejak tadi dipegangnya, lalu mendekati Samsul dan duduk bersama di depan rumah. “Sampean sudah mendengar kasak-kusuk warga? Sebenarnya saya sedikit terkaget karena baru saja pulang dari kota.” kata Syamsul, mulai bicara. “Kabar kasak-kusuk bagaimana, Pak Samsul? Saya belum mendengar apa pun, kan saya masih di rumah ini. Mengenai apa? Oh iya, Pak Samsul ini kemarin baru mengunjungi anaknya di kota, ya? Bagaimana kabar mereka semua di sana?” Utomo balik bertanya. “Alhamdulillah, anak-anak pada sehat. Sebenarnya ada apa, Pak Utomo? Kenapa para warga membicarakan Ragma dan juga ilmu iblis? Saya benar-benar kaget mendengar itu, jadi saya langsung kemari.” Utomo terdiam, lalu menatap Samsul yang menatap teduh ke arahnya. Lelaki paruh baya itu pun tersenyum tipis sambil menundukkan kepala. “Bagaimana saya harus menjelaskan kepada sampean mengenai apa yang terjadi kepada putraku, sementara para warga sudah melontarkan kasak-kusuk seperti itu?” “Saya tidak ingin menuduh sembarangan, Pak Utomo. Saya sangat mengenal sampean sejak muda. Saya tahu betul seperti apa sampean ini. Bahkan dulu, saat sampean membawa Ragma, banyak yang tidak setuju. Sayalah yang mendukung sampean untuk menjaga dan merawatnya. Maka dari itu, saya ke sini untuk bertanya langsung, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Syamsul lagi. “Pak Samsul, tentu sampeaan mengerti dengan ilmu Rawa Rontek, bukan?” “Kenapa tiba-tiba sekali, Pak Utomo, sampean membahas ajian terlarang itu?” tanya Samsul. Degh... Dadanya berdesir, dan tiba-tiba saja matanya membelalak kaget, lalu refleks memegang pundak Utomo bahkan sampai sedikit bergeser. Utomo mengangkat kepalanya, melihat reaksi Samsul yang saat ini tampak syok itu. “Jangan katakan kalau sampean…” Samsul tidak melanjutkan ucapannya. Ia bahkan sedikit mundur sambil menggelengkan kepala. Mata Samsul yang melebar seolah berusaha untuk tidak mempercayai sesuatu. “Itu benar, Pak Samsul. Saya sudah menurunkannya kepada Ragma.” kata Utomo mengakuinya. “Astaghfirullahaladzim! Kenapa kamu melakukan itu? Ya Allah, ya salam…” Samsul menggeleng-gelengkan kepala, terlihat tidak habis pikir. Ia sampai beranjak dan mundur, menatap ke arah Utomo. “Tidakkah sampean kasihan kepada putramu? Sekarang dia jadi bahan pembicaraan warga!” ujar Samsul, matanya melotot dengan tangan yang mengepal, benar-benar tidak habis pikir. “Lalu dengan siapa harus saya turunkan, Pak Samsul, kalau bukan dengan Ragma?” “Terlalu cepat… Astaghfirullah! Apa kamu tidak memikirkan risikonya, Pak Utomo?” “Assalamualaikum!” Pembicaraan mereka terjeda saat terdengar suara salam dari kejauhan. Mereka pun berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan tersenyum. Dua orang pemuda datang menghampiri. “Waalaikumsalam. Ada apa, Jefri, Usman?” tanya Utomo. “Maaf, Pak Utomo. Ada musyawarah di kantor kepala desa. Pak Utomo dipanggil,” jawab Jefri. “Ada apa kok tiba-tiba? Ini masih pagi,” ujar Utomo heran. “Itu, Pak Utomo…” Jefri langsung menyentuh lengan Usman. Mereka menaik-turunkan alis mata seolah saling memberi kode untuk memberitahu sesuatu kepada Utomo. “Apa ini tentang Ragma?” tanya Samsul langsung. “Eh… iya, Pak Samsul.” jawab kedua pemuda itu merasa sungkan. “Ayo, Pak Utomo. Selesaikan ini.”Kata Dwi Toro, kepada ajudannya, lalu melihat Gerry, "Baiklah, Gerry, siapkan pasukanmu sekarang. Aku sudah memilih Dodi dulu untuk melawan pertama kali,” kata Dwi Toro sambil berjalan menuju salah satu sofa yang sudah disiapkan lebih dulu, sedangkan Ragma dan Dodi mengikuti dan kembali berdiri tegak di belakang laki-laki itu.“Baiklah, kalian siapkan 5 orang untuk melawan ajudan pribadi Tuan Dwi Toro. Kalian tentu mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?” perintah Gerry.“Siap, mengerti Tuan,” terdengar suara bariton dari sana. Kemudian 5 orang laki-laki tiba-tiba saja maju dan berdiri tegak di hadapan semua orang. Dodi pun akhirnya maju dan kini berdiri di hadapan mereka.“D183, aku yakin kamu bisa menghadapi mereka. Selesaikan tugasmu dan tunjukkan bahwa ajudanku bukanlah orang biasa,” ujar Dwi Toro sambil memandang punggung pemuda itu.“Apakah diizinkan menggunakan senjata” Dodi balik bertanya tanpa menjawab ucapan Dwi Toro.“Tentu saja. Di sini dibebaskan menggunakan apa pun, t
Satya bertanya-tanya, dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara saat ini Zein kembali bergerak. Ia mengaktifkan alat yang terkoneksi dengan ponsel pribadinya itu, di mana di sana terlihat jelas mobil Ramona sudah bergerak. Zein pun langsung menginjak pedal gas mobilnya dan pergi meninggalkan area tersebut. Ia benar-benar mengikuti rute sesuai dengan keberadaan mobil Ramona yang sudah terlacak saat ini, sehingga setelah cukup lama akhirnya ia berhenti di sebuah tempat. Pandangan matanya memperhatikan sekitar; ternyata itu adalah tempat karaoke.“Ini tempat karaoke biasa dan umumnya hanya untuk melepas penat, tapi ada juga perjudian. Apa dia seorang LC?” gumam Zein. “Tapi kalau melihat penampilannya itu tidak mungkin, tapi bisa juga.”Zein memundurkan mobilnya dan mematikan mesin di sekitar tempat itu. Ia lalu melihat lebih dekat bagaimana Ramona keluar dari mobil dan masuk ke dalam tempat karaoke tersebut.“Tapi ini masih pagi. Tempat ini tentu masih tutup,” gumamnya. Ia juga
Zaki seketika melihat ke arah Ganang yang menatap intens dirinya.“Tadi saya melihat bibir kamu bergerak-gerak, kamu sedang mengatakan apa?” tanya Ganang. Sontak saja Zaki membelalak kaget dengan mulut yang menganga. Pemuda itu terlihat gugup, akan tetapi langsung berubah seperti biasa. “Oh itu, saya lagi menghafal jadwal Nona muda tuan besar, karena kebetulan kan ada beberapa catatan yang ditinggalkan di kamar saya, jadi saya lagi menghafal itu. Apalagi di beberapa tanggal lumayan banyak tanggal ganjilnya, kalau nggak ingat nanti takutnya terlambat bangun pagi,” jawab Zaki sambil nyengir mencari alasan.“Oh, saya pikir kamu sedang memikirkan apa. Jangan terlalu melamun. Ingat, kamu adalah seorang ajudan dan kamu mengawal Putri saya. Jaga baik-baik Revina, jangan sampai terluka. Kamu mengerti?” Ganang memberikan peringatan kepada Zaki.“Siap, tuan besar. Saya akan selalu mengingat pesan Anda.”“Ya sudah kalau begitu,” ujar Ganang pada akhirnya sambil menyelesaikan sarapan pagi itu.
“Tingkat kecurigaanku ada pada laki-laki bernama Dodi ini. Tapi tempatnya pun sudah diperiksa, tidak ada apa-apa. Memang kalau diperlihatkan dari caranya bergerak dan memperhatikan sekitar, aku tidak yakin dia itu seorang yang tidak punya keahlian. Dan aku harus menunggu laporan dari para anak buahku yang sudah berpencar,” Satya berbicara seorang diri sambil terus memperhatikan CCTV itu.Setelah cukup lama, ia pun meninggalkan ruangannya, kemudian berjalan menuju kamar pribadinya. Para ajudan sudah mulai bergantian untuk berjaga. Semua ajudan yang menjaga siang beristirahat, gantian untuk para ajudan yang berjaga malam hari ini.Suasana tenang di rumah Dwi Toro terlihat begitu jelas. Hening tanpa suara. Penjagaan ketat begitu jelas. Beberapa ajudan mulai berkeliling di rumah utama untuk memeriksa semuanya.Salah satu ajudan itu melihat ke arah kamar Dodi dan juga Ragma yang bersebelahan. Dia berjalan mendekati pintu kamar Ragma lalu mendekatkan telinganya ke balik pintu.“Kau ngapain
“Bagaimana dia mau menikah, sedangkan Dwitoro saja hingga saat ini belum meresmikan hubungannya dengan Angela,” jawab Ganang sambil menikmati minuman yang ada di depannya itu.“Ya sudahlah kalau seperti itu. Terserah ke anak-anakmu saja ya. Maksudnya kan seperti anak-anakku yang sudah berumah tangga. Usia anak kita kan tidak terpaut jauh, hanya sekitar satu atau sampai dua tahun saja hahaha.” Taufik beranjak dari tempatnya. “Kalau gitu aku harus segera pergi, tidak bisa berlama-lama lagi di sini,” ujarnya.“Sama, aku juga,” sahut yang lainnya serempak. Ganang tersenyum dan mengantarkan mereka menuju mobil mewahnya masing-masing. Semuanya pergi meninggalkan rumah itu. Masing-masing dari mereka juga membawa ajudan pribadi.“Baiklah, aku harus segera istirahat. Pertemuan dengan sahabat-sahabat lama memang sangat menyenangkan. Tapi semua itu sudah berakhir. Besok aku harus kembali pulang, apalagi Andini sudah sampai di rumah pastinya,” Ganang berbicara seorang diri lalu menuju rumah dan
Ragma menatap serius ke arah Dodi.“Pantau pergerakan teman baru kalian, kata si Zaki. Kalian punya teman baru kan di kota ini? Perlu kamu ketahui Ragma, bahwa setiap keluarga kalangan atas pasti mereka punya mata-mata, dan mereka tidak akan pernah percaya dengan ajudan-ajudan baru. Untuk membuktikan kebenaran dan juga kejujuran, ada jawaban yang pernah kita berikan saat ditanya pertama kali oleh tuan kita.” jelas Dodi Ragma mendengarkan dengan serius, seketika ia teringat akan Mona. Pemuda itu mengangguk, menatap ke arah Dodi kembali.“Kamu mengatakan kalau kamu adalah anak pertama dan kamu memiliki keluarga di Kalimantan. Percayalah, itu akan mereka telusuri.”“Begitu ya, Mas? Terima kasih sekali sudah memberikan aku peringatan seperti ini. Tiba-tiba saja aku teringat dengan teman baru kami. Semoga dia baik-baik saja, Mas.” ujar Ragma“Ya, semoga saja. Kamu tahu, sebelum aku memutuskan untuk bisa masuk menjadi ajudan di sini, beberapa kali aku juga mencari tahu semuanya. Tuan Dwito







