Home / Rumah Tangga / Ku Miskinkan Suamiku / 34. Surat peringatan

Share

34. Surat peringatan

last update publish date: 2026-01-17 20:36:41
Di rumah Laila, suasana jauh dari kata tenang.

Rumah itu masih setengah jadi. Cat dinding belum rata, lantai keramik sebagian masih tertutup debu semen, dan beberapa sudut ruangan dipenuhi ember serta peralatan tukang. Renovasinya berjalan lambat. Bukan karena konsepnya rumit, tapi karena uang sering tersendat. Gaji Fahri tidak besar, sementara Laila lebih sering menghabiskan uang untuk hal-hal yang menurutnya “pantas”—terutama tas dan barang bermerek.

Laila masuk lebih dulu, meletakkan tas-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Signal Abadi
Khalisa kok nggak lapor polisi, yang dilakukan mantan mertuanta itu termasuk perampokan....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 147. Rahasia Arini

    Pintu kontrakan sederhana itu tertutup rapat. Ruangan sempit yang hanya diterangi satu lampu redup terasa semakin pengap. Arlina baru saja meletakkan tas kerjanya di atas kursi plastik ketika suara Bu Laila kembali terdengar. "Arlina!" "Iya, Bu?" "Mana uangnya?" "Ibu mau belanja." Arlina menghela napas pelan. "Bu, sabar." "Arlina belum gajian." Bu Laila langsung berdiri dari tikar yang didudukinya. "Belum gajian?" "Terus kita mau makan apa kalau kamu nggak kasih uang?" Arlina menundukkan kepala. "Bu, aku baru mulai kerja besok." "Gajinya juga belum tentu langsung dibayar." "Tolong mengerti dulu." Namun Bu Laila seolah tidak mau mendengar. "Kamu seharusnya berusaha kasih makan Ibu." "Ibu sudah capek-capek membesarkan kalian." "Tapi ini balasan kalian." "Terutama Fahri." "Dia tega meninggalkan ibunya dalam keadaan begini." Nama Fahri kembali membuat suasana semakin berat. Arlina menahan air matanya. "Bu..." "Aku tahu." "Tapi Arlina ma

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 146. Memanjakanmu

    Zidan lebih dulu membawa dua koper besar masuk ke dalam rumah.Sementara itu, Khalisa melangkah pelan menuju teras.Begitu sampai di sana, ia langsung terdiam.Di hadapannya terbentang pemandangan yang begitu menenangkan.Perbukitan hijau memanjang sejauh mata memandang.Beberapa rumah batu berdiri berjauhan, masing-masing dikelilingi taman kecil dan pepohonan.Jarak antar rumah cukup jauh sehingga suasana terasa sangat tenang.Yang terdengar hanya semilir angin dan kicauan burung.Khalisa menarik napas dalam."Masya Allah..."Ia tersenyum sendiri."Aku baru tahu ada tempat setenang ini."Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari dalam rumah.Zidan keluar setelah selesai meletakkan koper.Melihat Khalisa yang masih menikmati pemandangan, ia menghampiri tanpa banyak bicara.Perlahan, kedua tangannya melingkar dari belakang, memeluk pinggang sang istri.Khalisa sempat tersentak kecil.Namun begitu merasakan pelukan hangat itu, ia langsung tersenyum.Ia tahu siapa yang memeluknya.Z

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 145. Kejutan

    Setelah menempuh perjalanan panjang dengan transit beberapa kali, akhirnya pesawat yang membawa Zidan dan Khalisa mendarat di Prancis. Setelah proses imigrasi dan mengambil koper selesai, mereka melanjutkan perjalanan darat menuju sebuah desa yang sudah dipilih Zidan. Semakin jauh meninggalkan kota, pemandangan di luar jendela berubah. Hamparan ladang hijau membentang luas. Rumah-rumah batu dengan atap cokelat berdiri berjajar rapi. Jalanan kecil yang bersih membelah perkampungan dengan pepohonan yang mulai menguning. Khalisa tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan kiri. "Mas..." "Iya?" "Indah banget." Zidan hanya tersenyum tipis. "Masih ada yang lebih indah." Khalisa mengernyit. "Masih?" "Sebentar lagi." Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah area parkir kecil. Sopir membantu menurunkan koper mereka. Begitu pintu mobil dibuka, udara sejuk langsung menyambut. Khalisa menarik napas panjang. "Masya Allah..." "Udaranya enak

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 144. Perjalanan bulan madu

    Setelah berpamitan dengan Ibu Zidan, mereka akhirnya berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ibu Zidan ikut mengantar mereka sampai ke bandara. Sementara koper-koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup santai. Zidan sesekali berbicara dengan ibunya yang duduk di kursi depan, sementara Khalisa duduk di belakang sambil memperhatikan pemandangan di luar jendela. Namun, saat mobil sudah memasuki jalan tol, Khalisa tiba-tiba menepuk dahinya pelan. "Ya ampun..." Zidan yang sedang fokus mengemudi meliriknya melalui kaca spion. "Kenapa?" "Aku lupa pamitan sama Tante Rina." Zidan tersenyum tipis. "Ya sudah, telepon saja." Khalisa segera mengambil ponselnya. "Masih ingat nomornya?" "Masih." Ia kemudian mencari nama Tante Rina di kontak ponselnya lalu menekan tombol panggilan. Tidak lama kemudian, panggilan tersebut tersambung. "Assalamualaikum, Tante." Suara Khalisa langsung terdengar lebih ceria. "Waalai

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 143. Siap berangkat

    Setelah tengah malam, satu per satu teman-teman Zidan akhirnya berpamitan. "Terima kasih sudah menerima kami malam-malam begini," ujar Reza sambil tersenyum. Zidan menggeleng pelan. "Kalau lain kali mau datang, kabari dulu." "Kalau dikabari, nanti bukan kejutan lagi," sahut salah satu temannya. Zidan hanya tersenyum tipis. "Ya sudah. Hati-hati di jalan." Setelah semua temannya pergi, Zidan menutup pintu rumah lalu memastikan pintu sudah terkunci. Rumah kembali sunyi. Ia kemudian berjalan menuju kamar. Begitu pintu dibuka, Zidan mendapati Khalisa sudah tertidur. Perempuan itu berbaring menyamping dengan wajah yang terlihat tenang. Zidan berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur. Pikirannya kembali teringat pada percakapan bersama teman-temannya malam itu. Tentang Fatimah. Zidan menghela napas pelan. Ia tidak tahu kenapa nama itu masih sempat terlintas di pikirannya. Padahal selama ini, ia sudah tidak pernah memikirkan perempuan itu. Zidan menatap waj

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 142. Kedatangan tamu

    Zidan membalas pelukan Khalisa sebentar, lalu mengusap pelan punggung istrinya. "Sudah?" Khalisa tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mas." "Mas bikin aku kaget." Zidan tersenyum tipis. "Memang sengaja." "Biar ada yang diingat." Khalisa kembali melihat e-ticket di tangannya. "Mas, ini benar-benar sudah dibayar?" "Sudah." "Nggak bisa dibatalin lagi?" Zidan menggeleng pelan. "Bisa saja." "Tapi kenapa harus dibatalkan?" Khalisa tertawa kecil. "Soalnya masih terasa seperti mimpi." Zidan mengambil map itu lalu menaruhnya di atas meja. "Kita berangkat beberapa hari lagi." "Besok mulai siapkan barang yang perlu dibawa." "Kalau ada yang kurang, kita beli." Khalisa mengangguk. "Iya, Mas." "Tapi aku belum pernah ke negara yang dingin." "Aku juga nggak tahu harus bawa apa." "Nanti kita belanja secukupnya." "Nggak perlu berlebihan." Khalisa tersenyum. "Baik." Zidan melirik jam di pergelangan tangannya. "Sudah hampir malam." "Ayo makan dul

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 102. Perkelahian

    Adit membeku di tempatnya.Wajahnya yang tadi tegang perlahan memucat. Tatapannya berpindah dari meja yang penuh hidangan… ke Khalisa… lalu ke Yono.“Khalisa… aku minta maaf,” ucapnya cepat. “Kemarin keadaannya mendesak.”Tidak ada yang langsung menjawab.Sebelum Khalisa sempat berbicara—“Cukup.”

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 100. Lamaran

    Zidan terdiam sejenak.Ruang tamu itu kembali hening, seolah semua menunggu jawaban darinya. Namun seperti biasa, ia tidak terburu-buru. Ia bukan tipe pria yang menjawab cepat hanya untuk mengisi kekosongan. Setiap kata yang keluar darinya selalu dipilih dengan hati-hati.Perlahan, ia menarik napas

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 98. Kedatangan orang

    Pagi itu datang dengan harapan yang diam-diam tumbuh di hati Khalisa. Sejak bangun tidur, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda—campuran antara gugup, cemas, dan harap. Hari ini bukan hari biasa, karena seseorang akan datang untuk membuktikan keseriusannya: Adit. Khalisa sudah bersiap sejak pagi,

  • Ku Miskinkan Suamiku   Bab 72. Lihat rumah

    Sore itu toko mulai sepi. Pelanggan terakhir baru saja keluar. Nadia menutup pintu setengah, menyisakan celah untuk udara masuk. Dinda menghitung uang di laci kasir.Khalisa duduk di kursi kecil dekat meja lipat. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya lebih penuh dari biasanya.“Lis, gimana?” tanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status