Share

3. Amplop Terbuka

last update Huling Na-update: 2025-07-07 20:35:00

Bayu menatapku tanpa berkedip. Amplop di meja itu terbuka. Lembar surat wasiatnya terlihat sebagian, dan dari cara dia memelototiku, jelas sudah dibacanya.

“Jadi kamu udah tahu?” suaranya pelan, tapi tajam seperti pecahan kaca.

Aku menelan ludah. “Kamu nemu itu?”

“Berhenti main drama.”

Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam. "Aku baru nerima tadi sore. Aku juga nggak ngerti kenapa bisa—"

“BOHONG!”

Bentakannya membuatku tersentak. Suaranya menggetarkan dinding rumah kecil kami.

“Bayu…”

“Jangan sok polos. Kamu pikir aku nggak tahu kamu deket sama Om Beni dari dulu? Kamu pikir aku nggak ngerti permainan kamu selama ini?”

Aku melangkah mundur. Tiga langkah. Hanya itu jarak antara kami sekarang.

“Jangan bawa-bawa Om Beni. Dia nggak ada hubungannya.”

Bayu tertawa pendek, getir. “Tentu aja dia ada hubungannya. Dialah yang bikin kamu bisa masuk ke keluarga ini, Rani.”

Aku mendadak muak.

“Kalau kamu masih pikir aku nikahin kamu buat rebut warisan, kamu lebih parah dari yang kuduga.”

“Jangan balik nuduh!”

Pintu kamar terbuka. Lita berdiri di ambang pintu, memakai piyama bergambar awan. Matanya mengantuk, tapi raut wajahnya tegang.

“Bunda… Ayah kenapa marah-marah?”

Aku buru-buru mendekat. Menunduk di hadapannya, menyentuh pipinya yang mulai panas karena tangis tertahan.

“Nggak apa-apa, sayang. Ayah dan Bunda cuma ngobrol.”

Lita memelukku erat. “Bunda jangan nangis, ya…”

Kupeluk dia kuat-kuat. “Iya, Nak. Bunda nggak papa. Tidur lagi, ya. Bunda temenin.”

Aku menatap Bayu dengan pandangan tajam sebelum masuk kamar.

Beberapa jam kemudian, Lita tertidur lagi. Lampu kamar kupadamkan. Aku keluar perlahan, dan menemukan Bayu masih duduk di ruang tamu, memelototi amplop terbuka di pangkuannya.

“Kamu puas?” tanyanya lirih tanpa menoleh.

“Puas?” aku mengerutkan dahi. “Kamu pikir ini soal puas?”

“Kalau kamu mikir aku takut kamu dapet warisan itu, kamu salah.”

“Terus?”

Bayu menatapku. Matanya merah. Bukan karena tangis, tapi karena terbakar oleh sesuatu yang lebih gelap.

“Ayah sengaja ngasih itu ke kamu buat nyiksa aku. Dia tahu aku nggak suka dikontrol, dan dia kasih kuasa itu ke kamu.”

“Kalau kamu tahu ayahmu mau nyiksa kamu, kenapa kamu nggak pernah berusaha baikan?”

Bayu berdiri.

“Karena aku bukan anak emasnya. Aku anak dari istri keduanya. Kamu pikir dia pernah anggap aku pantas? Dia cuma mau nunjukin ke dunia kalau dia bisa jatuhin aku lewat perempuan yang katanya ‘nggak punya siapa-siapa’.”

Aku diam. Itu pertama kalinya Bayu membahas soal ibunya sendiri. Selama ini, semua tentang keluarga masa lalunya seperti ruang terkunci yang tak boleh disentuh.

“Dan sekarang,” lanjut Bayu, “kamu punya kekuasaan yang seharusnya jadi milikku.”

“Bayu, aku nggak pernah minta ini. Aku bahkan nggak tahu sampai surat itu datang.”

“Terus kamu bakal nolak warisan itu?”

Aku terdiam.

Bayu mendengus. “Tuh kan. Akhirnya ketahuan juga.”

“Ini bukan soal uang.”

“Semua orang yang bilang itu, justru karena mereka lagi ngincar uangnya.”

Aku memeluk tubuh sendiri. Dingin mulai merayap ke jari-jari kakiku.

Bayu berjalan mendekat. “Kalau kamu sayang sama Lita, jangan bikin langkah bodoh.”

Aku menatapnya. “Itu ancaman?”

Dia tak menjawab. Hanya mengambil jaketnya dan keluar rumah, membanting pintu sekeras mungkin.

Pukul 02.17 dini hari. Aku duduk di dapur, menyalakan laptop lama yang biasa kupakai untuk pesan bahan dapur. Kuambil flashdisk dari sela-sela buku resep, memasangnya perlahan.

Folder utama langsung terbuka. Isinya tiga folder berjudul:

1. Rekening Bayu

2. Transfer Misterius

3. Surat dari Hartono (Pribadi)

Tanganku gemetar saat mengklik folder ketiga.

Isi folder “Surat dari Hartono (Pribadi)” hanya satu file.

Nama filenya singkat:

UntukRani.p*f

Tanganku menggigil saat membukanya.

Rani Kartika,

Kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah tidak ada. Dan mungkin surat wasiatku sudah dikirim padamu.

Kamu pasti bingung kenapa aku memilih kamu. Padahal selama ini, aku bersikap dingin padamu. Tapi sebenarnya, aku mengamatimu sejak lama.

Kamu satu-satunya orang di rumah ini yang tidak pernah mengambil keuntungan atas namaku. Kamu tidak ambil bagian dalam permainan mereka. Kamu tetap menjadi istri dan ibu, meski tidak dihargai.

Aku tidak bisa mempercayakan perusahaan pada anakku sendiri. Bayu bukan orang jahat. Tapi dia lemah. Dia bisa dikendalikan. Dan sudah terlalu sering melakukan kesalahan yang tidak bisa dibiarkan lagi.

Aku tahu dia punya rahasia. Beberapa sudah kuketahui, beberapa akan kamu temukan sendiri di dua folder lainnya.

Tapi yang perlu kamu tahu, ada seseorang yang lebih berbahaya dari Bayu. Seseorang yang bahkan Bayu sendiri takut padanya.

Jika kamu merasa hidupmu mulai terancam, cari perempuan bernama Nindya Putri. Dia tahu segalanya. Tapi hati-hati, karena ada orang lain yang juga sedang mencarinya.

Terakhir... aku minta maaf, karena membiarkan kamu sendirian selama ini. Aku tahu kamu kuat. Dan kamu akan membuktikan itu.

—Hartono Sasmita

Air mataku jatuh pelan. Campur aduk. Antara marah, sedih, dan takut. Tapi satu hal pasti: aku tidak bisa lagi mundur.

Aku klik folder Rekening Bayu. Beberapa file excel terbuka. Daftar transaksi. Puluhan juta. Ratusan. Bahkan miliaran rupiah berpindah ke rekening atas nama samaran.

Satu catatan kecil muncul di pojok kanan file:

Nama samaran: Banu Setiadi

Tujuan: Pembayaran "pembersih masalah pribadi."

Jantungku berdetak liar. “Pembersih”?

Kupaksa klik folder terakhir: Transfer Misterius.

Dan di sana, aku menemukan hal yang paling menyesakkan.

Salah satu penerima uang terdaftar atas nama...

NINDYA PUTRI.

Aku langsung berdiri.

Flashdisk kucabut cepat. Laptop kututup.

Kalau Nindya menerima transfer dari Bayu, maka ada dua kemungkinan:

Nindya membohongiku. Dia bukan penyelamat—dia bagian dari permainan ini.

Nindya dan Bayu dulu bekerja sama. Tapi sesuatu membuatnya berbalik arah.

Pikiranku kacau.

Tapi satu hal jelas:

Aku sendirian sekarang. Dan siapa pun yang kusebut sekutu… bisa jadi musuh.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   43

    Malam itu aku tidak langsung tidur. Ada sesuatu yang menggangguku—sesuatu yang belum selesai.Setelah Lita tertidur, aku keluar dari kamar dengan hati-hati. Di ruang tamu, Bayu masih terjaga—duduk di kursi roda sambil menatap televisi yang tidak menyala. Hanya menatap layar hitam dengan pandangan kosong."Bayu," panggilku pelan.Dia tersentak, lalu menoleh. "Rani. Aku pikir kamu sudah tidur.""Belum bisa tidur." Aku duduk di sofa di seberangnya. "Kamu juga?""Aku... banyak pikiran." Dia mengusap wajahnya dengan tangan. "Besok kan giliran Lukman bersaksi. Giliran dia bicara.""Kamu takut dia akan bilang sesuatu yang... memberatkanmu?"Bayu terdiam lama. Lalu mengangguk pelan. "Lukman bukan orang bodoh. Dia pasti tahu kalau dia sudah kalah. Dan orang yang sudah kalah... kadang akan coba seret orang lain ikut jatuh bersamanya.""Tapi kamu sudah kooperatif. Kamu sudah bersaksi melawan dia. Jaksa pasti akan pertimbangkan itu.""Aku tahu. Tapi tetap saja..." Bayu menatap tangannya sendiri.

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   42

    Hari keempat persidangan dimulai dengan suasana yang lebih tegang dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena semua orang tahu hari ini adalah hari terakhir presentasi bukti keuangan—hari di mana Bu Ratna akan "menutup" kasus korupsi dengan bukti-bukti final yang paling menghancurkan.Atau mungkin karena di luar gedung, massa demonstran sudah berkumpul sejak subuh—ribuan orang dengan poster, spanduk, dan megafon. Mereka tidak hanya dari Jakarta, tapi dari berbagai kota—Bandung, Surabaya, Yogyakarta, bahkan Papua. Semua datang untuk menuntut satu hal: keadilan."TANGKAP SEMUA KORUPTOR!""KEMBALIKAN UANG RAKYAT!""HUKUMAN MATI UNTUK LUKMAN!"Teriakan itu terdengar sampai ke dalam gedung pengadilan, menciptakan pressure yang luar biasa besar—bukan hanya untuk Lukman dan Hotman, tapi juga untuk hakim yang akan memutuskan vonis nanti.Kami masuk lewat pintu samping seperti biasa, tapi kali ini dengan pengawalan ekstra ketat. Polisi bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut. Sepertinya pihak

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   41

    Pagi itu aku terbangun dengan kepala berdenyut. Mimpi buruk lagi—tapi kali ini bukan tentang pembakaran gudang atau penculikan Lita. Kali ini tentang angka-angka yang mengejarku, tentang 47 triliun rupiah yang berubah jadi monster raksasa yang menelanku hidup-hidup.Aku duduk di pinggir tempat tidur, menarik napas panjang. Lita masih tertidur di sampingku, wajahnya damai. Setidaknya malam ini dia tidak bermimpi buruk.Aku keluar kamar dengan pelan, menuju dapur. Arjuna sudah di sana—membuat kopi dengan mesin tua yang berbunyi keras."Pagi," sapanya tanpa menoleh. Seperti dia sudah tahu aku yang datang."Pagi," jawabku sambil duduk di meja kecil. "Kamu tidak tidur?""Tidur. Tapi tidak nyenyak." Dia menuangkan kopi ke dua cangkir, menyodorkan satu padaku. "Kamu juga?""Mimpi buruk. Tentang angka-angka."Arjuna tertawa kecil—tawa yang tidak ada sukanya. "Aku juga. 47 triliun itu... terlalu besar untuk dibayangkan. Tapi terlalu nyata untuk diabaikan."Kami duduk dalam diam sebentar, menye

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   40

    Malam itu aku tidak langsung pulang ke safe house. Setelah sidang selesai, Bu Ratna meminta kami semua berkumpul di kantornya—ruang meeting kecil di gedung KPK dengan jendela menghadap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala. "Besok adalah hari yang sangat penting," katanya sambil membuka laptop. Di layar proyektor, muncul diagram rumit—alur transaksi keuangan dengan panah-panah mengarah ke berbagai rekening. "Kita akan presentasikan bukti keuangan. Ini adalah jantung dari kasus korupsi Lukman." Aku menatap diagram itu dengan kepala pusing. Angka-angka, nama perusahaan asing, istilah-istilah perbankan yang tidak kufahami—semuanya terlihat seperti jaring laba-laba yang sangat rumit. "Apa hakim akan mengerti semua ini?" tanyaku ragu. "Itulah tantangannya," jawab Bu Ratna. "Hotman akan coba buat ini semakin rumit—membingungkan hakim dengan istilah teknis, mempertanyakan metodologi ahli kami, membuat seolah-olah semua transaksi ini adalah praktik bisnis normal." "Lalu bagaima

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   39

    Hari ketiga persidangan dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda. Setelah kesaksian yang intens kemarin—Bayu yang mengungkapkan semua kejahatan, aku yang nyaris roboh di podium saksi—hari ini giliran saksi-saksi pendukung yang akan memperkuat kesaksian kami.Bu Ratna mengatakan ini adalah strategi penting: "Hotman sudah coba diskreditkan kalian dengan menyerang motif pribadi. Sekarang kita tunjukkan bahwa bukan hanya kalian yang melihat kejahatan Lukman. Ada banyak orang lain—orang yang tidak punya hubungan pribadi dengannya—yang juga jadi korban atau saksi."Saksi pertama yang dipanggil adalah Nyonya Surya.Dia berjalan ke podium dengan tongkat kayunya—langkah yang lebih pelan dari biasanya. Usianya tujuh puluh tahun lebih, tapi matanya masih tajam. Setiap ketukan tongkatnya di lantai kayu terdengar seperti palu hakim—tegas, tidak bisa dibantah.Dia bersumpah dengan suara yang jelas meski bergetar karena emosi yang tertahan."Saksi, tolong sebutkan nama lengkap dan hubungan Anda de

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   38: Suara Seorang Ibu

    Setelah istirahat lima belas menit, sidang dilanjutkan. Kali ini, giliran aku yang dipanggil ke podium saksi.Jantungku berdebar sangat keras saat aku berjalan ke depan. Ratusan pasang mata menatapku—wartawan, penonton, hakim, Lukman. Tapi yang paling membuatku gugup adalah kamera—kamera yang menyiarkan langsung ke seluruh Indonesia. Jutaan orang sedang menontonku sekarang.Aku bersumpah dengan tangan gemetar, lalu duduk di kursi saksi. Bu Ratna berdiri dengan senyum menenangkan—seperti dia tahu betapa gugupnya aku."Saksi, tolong sebutkan nama lengkap dan hubungan Anda dengan kasus ini.""Nama saya Rani Kartika. Saya istri dari Bayu Sasmita. Dan saya... korban dari percobaan pembunuhan yang diperintahkan oleh Lukman Hadiwijaya."Suaraku bergetar di awal, tapi perlahan menjadi lebih stabil."Saksi, kapan Anda pertama kali tahu tentang kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa?""Tahun lalu. Setelah surat wasiat almarhum Hartono Sasmita tiba di rumah saya. Di surat itu, saya ditunjuk seba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status