Share

4. Satu Nama di Dua Sisi

Penulis: Apsarasswatama
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-07 20:35:05

Pagi itu, kopi yang kuseduh terasa hambar. Mungkin karena tangan ini masih gemetar, atau karena pikiranku belum benar-benar kembali sejak semalam.

Kupandangi flashdisk di telapak tanganku. Benda kecil ini membawa lebih banyak luka dari yang bisa kubayangkan.

Bayu belum pulang. Mobilnya tidak ada di garasi. Entah dia menginap di mana, atau sengaja menghindar. Tapi anehnya, aku justru lega.

“Bunda…”

Aku menoleh. Lita berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan seragam sekolah, tapi ekspresinya tidak seperti biasanya.

“Iya, sayang?”

“Bunda nangis tadi malam ya?”

Aku tercekat. “Enggak, kok. Kenapa tanya begitu?”

“Bunda duduk di dapur dari tadi subuh. Aku lihat dari jendela kamar. Tapi Bunda diem aja…”

Aku mengusap kepalanya, berusaha tersenyum. “Bunda cuma lagi mikirin banyak hal, sayang. Maaf ya bikin kamu khawatir.”

Dia tidak menjawab. Tapi matanya seperti tahu lebih dari yang dia ucapkan. Seperti anak kecil yang sudah terlalu sering melihat ibunya pura-pura kuat.

Setelah Lita berangkat sekolah, aku masuk ke kamar mandi, menyalakan shower, dan langsung menghidupkan ponsel. Kubuka pesan terakhir dari Nindya.

“Kalau kamu ingin tahu kebenaran, datang malam ini ke Restoran Jambu Lantai 2. Sendiri. Jam 9.”

Pesan itu masih belum kuhapus.

Kupikirkan kembali: apakah dia benar-benar tulus? Atau justru sedang menjebakku?

Tapi hanya dia satu-satunya petunjuk yang kumiliki sekarang.

Aku mengetik pesan baru.

Kita perlu bicara lagi. Aku menemukan nama kamu di salah satu file dalam flashdisk.

Kalau kamu memang bisa dipercaya, buktikan malam ini. Aku pilih tempatnya.

Balasan datang sepuluh menit kemudian.

Tulis tempat dan jam. Aku akan datang. Tapi jangan sekali pun bawa orang lain.

Sore hari, aku mengunjungi warnet kecil dekat pasar. Tujuannya bukan untuk akses internet, tapi untuk mencetak semua file dari flashdisk. Aku tidak mau bukti-bukti itu hanya tersimpan digital.

Sementara menunggu file dicetak, aku memeriksa email pribadi. Satu pesan baru masuk dari alamat tidak dikenal.

Subjek: Kau Salah Percaya

Berhenti menggali. Beberapa kebenaran akan lebih baik kalau kamu nggak tahu.

Karena yang kamu pikir musuh, mungkin justru penyelamatmu.

Dan yang kamu pikir menyelamatkanmu… sedang menjualmu pelan-pelan.

Tidak ada nama pengirim. Hanya satu huruf di akhir pesan:

"B"

Deg.

Bayu?

Aku menatap layar ponsel, lama. Lalu kuhapus pesan itu. Aku tidak punya waktu untuk takut. Sekarang bukan waktunya.

Aku kembali ke rumah menjelang magrib. Rumah sepi. Tak ada tanda-tanda Bayu kembali. Tapi entah kenapa, aku merasa dia ada. Mengawasi dari kejauhan. Atau mungkin... sudah tahu ke mana aku pergi hari ini.

Setelah makan malam, aku menyapu ruang tamu, membereskan majalah-majalah usang di rak, dan di antara tumpukan itu, aku menemukan sesuatu yang membuatku membeku.

Ponsel lamaku. Yang hilang sebulan lalu.

Ada di sini. Di rumah. Di rak ini. Di bawah tumpukan majalah bekas yang hanya Bayu yang pernah membereskan.

Aku menyalakannya. Ajaibnya, masih ada sedikit baterai.

Dan di sana, satu notifikasi muncul. Satu pesan yang belum terbaca. Dari nomor asing.

"Kalau kamu masih simpan rekaman itu, pastikan hanya kamu yang bisa akses. Kalau Bayu tahu, kamu selesai."

Rekaman?

Aku membuka galeri. Hanya dua video di dalam folder tersembunyi.

Yang satu berdurasi 2 menit 18 detik.

Dan yang terlihat pertama kali di layar adalah... Bayu. Di dalam ruangan kantor. Bersama dua pria asing. Salah satunya mengenakan masker hitam, duduk membelakangi kamera.

Bayu bicara dengan suara pelan tapi tegas.

“Aku minta ini kelar tanpa jejak. Setelah dia pergi, aku ambil alih semuanya. Termasuk rumah, termasuk saham, semuanya. Dia nggak boleh sempat tanda tangan ulang surat apa pun.”

Deg.

Siapa yang dia maksud?

Bayu terus bicara di video.

“Dia mulai curiga. Kita harus gerak sebelum dia buka mulut. Aku nggak butuh dia hidup buat ngerusak semuanya.”

Suara di belakang kamera bertanya, “Maksudnya dibikin kayak serangan jantung lagi?”

Bayu mengangguk. “Sama seperti waktu itu. Tapi jangan sampai terlalu cepat. Kita butuh waktu buat bersih-bersih.”

Suara pria itu pelan, tapi dingin. “Kalau ada darah, susah nutupnya.”

“Aku nggak peduli caranya. Yang penting dia nggak bangun besok pagi.”

Video berhenti.

Tanganku gemetar. Isi perutku seperti mau keluar semua. Kuletakkan ponsel lama itu di meja. Kututup wajahku dengan tangan.

Wajah siapa yang dimaksud “dia”? Apakah… aku?

Atau orang lain sebelumku?

Pintu depan berbunyi.

Langkah kaki. Bayu.

Aku buru-buru sembunyikan ponsel di bawah bantal sofa. Lalu berusaha duduk santai seolah tak terjadi apa-apa.

Bayu masuk. Bawa plastik berisi nasi goreng dan teh botol. Seolah semuanya baik-baik saja.

“Kita makan bareng, yuk. Aku beliin buat kamu juga,” katanya sambil tersenyum.

Senyum yang sama dengan yang kulihat di video—saat dia bilang seseorang tidak boleh bangun lagi keesokan harinya.

Kupaksakan senyum. “Terima kasih.”

Dia duduk di sampingku. Membuka bungkus makanan. Mengambil sendok. Tapi tangannya sedikit gemetar.

Kuingatkan diriku sendiri untuk tidak gegabah. Belum sekarang. Aku belum punya cukup bukti untuk menyeretnya ke polisi. Belum bisa melindungi Lita juga.

Tapi aku tahu satu hal pasti malam ini:

Bayu bukan cuma pembohong. Dia pemain utama dalam permainan yang lebih gelap dari yang kukira.

Pukul 20.51

Aku bersiap keluar. Kubilang ke Bayu, aku mau belanja ke minimarket. Dia hanya mengangguk. Tapi saat aku mengambil tas, dia bertanya tanpa menoleh:

“Kamu ketemu dia lagi, ya?”

Langkahku berhenti.

“Siapa?”

Bayu menengok, senyumnya tidak sampai ke mata. “Nindya.”

Aku tak menjawab. Hanya keluar rumah dan melangkah cepat.

Restoran itu berada di lantai dua sebuah ruko tua. Sepi. Tak banyak tamu malam itu. Aku melihat Nindya duduk di pojok dekat jendela, wajahnya setengah tertutup topi bulu.

Aku duduk di depannya.

“Kamu bilang kamu bisa dipercaya. Tapi namamu ada di daftar transfer dari Bayu. Jelaskan.”

Nindya menghela napas panjang.

“Karena aku dulu bagian dari rencananya.”

Deg.

“Aku rekan yang dia bayar untuk membungkam satu saksi penting atas kematian ayahnya.”

Kepalaku berdenyut.

“Tapi aku berbalik arah saat dia mulai ngomong soal kamu. Soal Lita. Dia nggak cuma mau ambil uang. Dia mau ambil semuanya.”

Mataku memicing. “Jadi kamu tobat?”

Nindya menyeringai pahit. “Aku selamatin diriku sendiri. Tapi kalau kamu pintar, kamu akan pakai aku sebelum semuanya telanjur terlambat.”

“Terlambat?”

Dia menyandarkan tubuh ke kursi. “Karena sekarang, bukan cuma kamu yang diincar. Anakmu juga.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   43

    Malam itu aku tidak langsung tidur. Ada sesuatu yang menggangguku—sesuatu yang belum selesai.Setelah Lita tertidur, aku keluar dari kamar dengan hati-hati. Di ruang tamu, Bayu masih terjaga—duduk di kursi roda sambil menatap televisi yang tidak menyala. Hanya menatap layar hitam dengan pandangan kosong."Bayu," panggilku pelan.Dia tersentak, lalu menoleh. "Rani. Aku pikir kamu sudah tidur.""Belum bisa tidur." Aku duduk di sofa di seberangnya. "Kamu juga?""Aku... banyak pikiran." Dia mengusap wajahnya dengan tangan. "Besok kan giliran Lukman bersaksi. Giliran dia bicara.""Kamu takut dia akan bilang sesuatu yang... memberatkanmu?"Bayu terdiam lama. Lalu mengangguk pelan. "Lukman bukan orang bodoh. Dia pasti tahu kalau dia sudah kalah. Dan orang yang sudah kalah... kadang akan coba seret orang lain ikut jatuh bersamanya.""Tapi kamu sudah kooperatif. Kamu sudah bersaksi melawan dia. Jaksa pasti akan pertimbangkan itu.""Aku tahu. Tapi tetap saja..." Bayu menatap tangannya sendiri.

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   42

    Hari keempat persidangan dimulai dengan suasana yang lebih tegang dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena semua orang tahu hari ini adalah hari terakhir presentasi bukti keuangan—hari di mana Bu Ratna akan "menutup" kasus korupsi dengan bukti-bukti final yang paling menghancurkan.Atau mungkin karena di luar gedung, massa demonstran sudah berkumpul sejak subuh—ribuan orang dengan poster, spanduk, dan megafon. Mereka tidak hanya dari Jakarta, tapi dari berbagai kota—Bandung, Surabaya, Yogyakarta, bahkan Papua. Semua datang untuk menuntut satu hal: keadilan."TANGKAP SEMUA KORUPTOR!""KEMBALIKAN UANG RAKYAT!""HUKUMAN MATI UNTUK LUKMAN!"Teriakan itu terdengar sampai ke dalam gedung pengadilan, menciptakan pressure yang luar biasa besar—bukan hanya untuk Lukman dan Hotman, tapi juga untuk hakim yang akan memutuskan vonis nanti.Kami masuk lewat pintu samping seperti biasa, tapi kali ini dengan pengawalan ekstra ketat. Polisi bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut. Sepertinya pihak

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   41

    Pagi itu aku terbangun dengan kepala berdenyut. Mimpi buruk lagi—tapi kali ini bukan tentang pembakaran gudang atau penculikan Lita. Kali ini tentang angka-angka yang mengejarku, tentang 47 triliun rupiah yang berubah jadi monster raksasa yang menelanku hidup-hidup.Aku duduk di pinggir tempat tidur, menarik napas panjang. Lita masih tertidur di sampingku, wajahnya damai. Setidaknya malam ini dia tidak bermimpi buruk.Aku keluar kamar dengan pelan, menuju dapur. Arjuna sudah di sana—membuat kopi dengan mesin tua yang berbunyi keras."Pagi," sapanya tanpa menoleh. Seperti dia sudah tahu aku yang datang."Pagi," jawabku sambil duduk di meja kecil. "Kamu tidak tidur?""Tidur. Tapi tidak nyenyak." Dia menuangkan kopi ke dua cangkir, menyodorkan satu padaku. "Kamu juga?""Mimpi buruk. Tentang angka-angka."Arjuna tertawa kecil—tawa yang tidak ada sukanya. "Aku juga. 47 triliun itu... terlalu besar untuk dibayangkan. Tapi terlalu nyata untuk diabaikan."Kami duduk dalam diam sebentar, menye

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   40

    Malam itu aku tidak langsung pulang ke safe house. Setelah sidang selesai, Bu Ratna meminta kami semua berkumpul di kantornya—ruang meeting kecil di gedung KPK dengan jendela menghadap lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala. "Besok adalah hari yang sangat penting," katanya sambil membuka laptop. Di layar proyektor, muncul diagram rumit—alur transaksi keuangan dengan panah-panah mengarah ke berbagai rekening. "Kita akan presentasikan bukti keuangan. Ini adalah jantung dari kasus korupsi Lukman." Aku menatap diagram itu dengan kepala pusing. Angka-angka, nama perusahaan asing, istilah-istilah perbankan yang tidak kufahami—semuanya terlihat seperti jaring laba-laba yang sangat rumit. "Apa hakim akan mengerti semua ini?" tanyaku ragu. "Itulah tantangannya," jawab Bu Ratna. "Hotman akan coba buat ini semakin rumit—membingungkan hakim dengan istilah teknis, mempertanyakan metodologi ahli kami, membuat seolah-olah semua transaksi ini adalah praktik bisnis normal." "Lalu bagaima

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   39

    Hari ketiga persidangan dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda. Setelah kesaksian yang intens kemarin—Bayu yang mengungkapkan semua kejahatan, aku yang nyaris roboh di podium saksi—hari ini giliran saksi-saksi pendukung yang akan memperkuat kesaksian kami.Bu Ratna mengatakan ini adalah strategi penting: "Hotman sudah coba diskreditkan kalian dengan menyerang motif pribadi. Sekarang kita tunjukkan bahwa bukan hanya kalian yang melihat kejahatan Lukman. Ada banyak orang lain—orang yang tidak punya hubungan pribadi dengannya—yang juga jadi korban atau saksi."Saksi pertama yang dipanggil adalah Nyonya Surya.Dia berjalan ke podium dengan tongkat kayunya—langkah yang lebih pelan dari biasanya. Usianya tujuh puluh tahun lebih, tapi matanya masih tajam. Setiap ketukan tongkatnya di lantai kayu terdengar seperti palu hakim—tegas, tidak bisa dibantah.Dia bersumpah dengan suara yang jelas meski bergetar karena emosi yang tertahan."Saksi, tolong sebutkan nama lengkap dan hubungan Anda de

  • Kubalas Pengkhianatan Suamiku   38: Suara Seorang Ibu

    Setelah istirahat lima belas menit, sidang dilanjutkan. Kali ini, giliran aku yang dipanggil ke podium saksi.Jantungku berdebar sangat keras saat aku berjalan ke depan. Ratusan pasang mata menatapku—wartawan, penonton, hakim, Lukman. Tapi yang paling membuatku gugup adalah kamera—kamera yang menyiarkan langsung ke seluruh Indonesia. Jutaan orang sedang menontonku sekarang.Aku bersumpah dengan tangan gemetar, lalu duduk di kursi saksi. Bu Ratna berdiri dengan senyum menenangkan—seperti dia tahu betapa gugupnya aku."Saksi, tolong sebutkan nama lengkap dan hubungan Anda dengan kasus ini.""Nama saya Rani Kartika. Saya istri dari Bayu Sasmita. Dan saya... korban dari percobaan pembunuhan yang diperintahkan oleh Lukman Hadiwijaya."Suaraku bergetar di awal, tapi perlahan menjadi lebih stabil."Saksi, kapan Anda pertama kali tahu tentang kejahatan yang dilakukan oleh terdakwa?""Tahun lalu. Setelah surat wasiat almarhum Hartono Sasmita tiba di rumah saya. Di surat itu, saya ditunjuk seba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status