ログインMasih tidak ada suara dari depannya. Mila mulai kebingungan bercampur takut, apa yang sebenarnya terjadi sampai sosok di depannya ini tidak mengatakan apa-apa? Tiba-tiba saja wanita itu berpikiran, mungkinkah yang tadi berjalan itu adalah hantu? Wajah sang wanita hamil berubah pucat. Dia menjadi ketakutan; menurutnya hantu jauh lebih menakutkan dibandingkan manusia. Kalau manusia, masih bisa dikelabui dengan kata-kata manis dan janji palsu yang sering Mila ucapkan. Tapi kalau hantu, urusannya akan lebih repot lagi. Masalahnya, dia bahkan tidak hafal Ayat Kursi. Memalukan, ya, sangat memalukan. Sedari kecil, hal yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya hanya uang, uang, dan uang. Jadi, dalam hal agama, Mila benar-benar minus. Berbeda dengan Maura yang dulu sering mengaji di masjid. Walaupun sekarang semua itu sudah menguap, setidaknya dalam hal agama, Maura lebih tahu daripada Mila. 'Tunggu, jangan-jangan yang di depanku ini hantu?' batin Mila.Pikiran itu masih terdengar oleh Aldo
Wajah keterkejutan masih terlihat jelas pada Aldo. Pria itu masih belum bisa mencerna apa yang baru saja dia dengar dan lihat. Padahal sebelumnya, dia mengira kalau Mila memang perlu ditolong karena ada anak yang sedang dikandungnya. Namun, semua ini sudah cukup membuatnya percaya bahwa Mila memang wanita yang tidak bisa dianggap remeh, terlebih dengan pemikiran liciknya. David sudah mengetahui kalau gelagat Aldo tidak seperti biasanya. Dulu, saat David memerintahkan sesuatu, Aldo pasti akan segera melaksanakan tanpa bertanya ataupun menunjukkan ekspresi ragu. Tetapi akhir-akhir ini, Aldo terlihat sangat bingung jika mendapatkan perintah dari David. Jadi, David ingin membuktikan apakah benar perkiraannya bahwa Aldo menaruh rasa iba kepada wanita seperti Mila. David tidak butuh aksi apa-apa, cukup pembuktian bahwa ucapannya benar. Sekarang, David bisa semakin leluasa mengendalikan Mila, terlebih Aldo pasti sudah tidak percaya lagi kepada wanita hamil itu. "Sialan! Susah banget sih bu
Sementara itu di tempat lain, saat ini Mila sedang terduduk di kasur king size dengan mata tertutup dan lengan terikat. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ini adalah kali pertama dia harus kembali ke dunia gelap dalam kondisi hamil. Entah sudah berapa lama dia duduk di sini, rasanya sudah berjam-jam berlalu, tapi tidak ada satu pun orang yang berbicara.Padahal, dia tidak tahu saja kalau di sana ada David dan juga Aldo sedang mengamatinya. Mereka sebenarnya sedang mengawasi keberadaan Mila. David sudah ingin memanggil klien yang telah membayar untuk tidur dengan Mila, tetapi entah kenapa pria itu tiba-tiba saja mengulur waktu. Aldo yang tidak paham dengan pemikiran David hanya bisa diam menunggu perintah selanjutnya.Cukup lama David terdiam. Dia meneliti wajah Mila. Wanita itu tidak memberikan reaksi apa-apa, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hal ini membuat Aldo semakin bingung dengan sikap David yang tiba-tiba diam dan menelisik Mila sedemikian rupa. Mungkinkah bosnya me
"Kamu jangan buat kami pusing! Apa maksud kamu 'kenal nggak kenal'?" ucap Susi dengan alis yang saling bertautan. Dia kesal karena jawaban gadis ini sangat ambigu. Seharusnya, Imel langsung saja to the point, tanpa perlu menggunakan kata-kata yang berbelit."Iya, kamu ngomong apa, sih? Jangan buat kami pusing!" tambah Sari, mendukung perkataan Susi.Imel berusaha untuk tenang. Dia sebenarnya takut jika berada di posisi seperti ini; merasa dikeroyok atau dilabrak karena melakukan sesuatu yang salah, padahal dia tidak tahu apa-apa. Kalaupun tahu, Imel merasa tidak perlu ditarik masuk ke dalam masalah ini."Gini, Mbak-mbak sekalian. Sebenarnya saya tahu Mbak Maura itu karena dia tinggal di rumah Pak Raka sama Bu Mila. Kebetulan waktu itu kan saya membantu Bu Mila di rumah, jadi saya tahu," jelas Imel.Mendengar itu, Susi dan Sari saling pandang. Mereka tampak terkejut. "Berarti benar, Mbak, kalau si Maura itu bukan selingkuhannya Pak Raka?" ucap Susi mengambil kesimpulan.Sari terdiam. S
"Perhatian semuanya, saya punya pengumuman penting," ucap Raka beberapa menit sebelum jam istirahat.Semua karyawan berkumpul di sana, termasuk Imel yang merasa syok melihat Maura berdiri di sebelah Raka. Begitu pula dengan Sari, wanita itu jauh lebih kaget lagi. Perasaannya campur aduk melihat seseorang berdiri begitu dekat di samping Raka, apalagi dia baru saja dimarahi habis-habisan oleh Raka karena perbuatannya tadi. Dalam hati Sari menggerutu, dia ingin tahu siapa wanita itu sebenarnya. Kalau memang saudara, apakah harus sedekat ini?"Perkenalkan, namanya Maura. Dia adalah saudara saya. Dia akan menjadi asisten saya menggantikan Ibu Mila untuk sementara waktu," lanjut Raka.Mendengar itu, karyawan yang lain langsung berbisik-bisik. Mereka kaget karena tiba-tiba saja Raka menarik orang yang sama sekali tidak mereka kenal. Mereka merasa ini tidak adil. Jika ingin menarik asisten, harusnya orang yang sudah berpengalaman di bidangnya, terutama yang sudah lama bekerja di tempat ini.
Raka diam sejenak. Dia tampak berpikir keras, sementara itu Maura terus meneliti wajah pria itu. Dia mencoba menebak-nebak apa yang sekiranya sedang terlintas di pikiran Raka. Maura takut jika dirinya ditolak. Kalau sudah begini, dia harus memikirkan seribu cara lain agar bisa masuk ke tempat ini dan mengambil semua miliknya. Walaupun Raka adalah suami Mila, pernikahan mereka tidak sah secara hukum—hanya nikah siri. Jadi, menurut Maura, yang berhak atas kekayaan kakaknya adalah dirinya sendiri sebagai keluarga.Selama lima menit kemudian, Raka menghela napas panjang, membuat jantung Maura berdegup kencang. Dia seperti sedang menunggu kejutan yang tak terduga."Baiklah, aku akan menerimamu bekerja di sini."Mendengar itu, hati Maura terasa sangat senang. Jantungnya berdetak kencang karena rasa bahagia yang memuncak. Dia tidak menyangka Raka akan menerimanya, padahal sebelumnya wanita itu sudah menduga kalau Raka akan menolak kedatangannya karena alasan Mila. Namun, ternyata semua itu h
Pagi-pagi sekali Maura sudah membereskan semua pekerjaan di rumah Mila. Hatinya merutuk, tetap saja kalau begini wanita itu seperti pembantu. Tetapi mengingat uang yang akan diberikan Raka, Maura merasa senang. Dia yakin pasti tidak sedikit, sebab ini akan sulit karena harus mengikuti Mila ke manap
"Jangan percaya sama Ibu, Mas! Kamu tahu sendiri, kan? Gara-gara Ibu, kamu hampir kehilangan anak ini. Dia yang memalsukan tes DNA anak ini!" seru Mila tiba-tiba saja mengalihkan pembicaraan, membuat Bu Sinta terdiam dan wanita paruh baya itu benar-benar kaget kala Mila membahas lagi masalah yang s
"Mas, aku mohon. Pulanglah bersamaku, jangan seperti ini." Mila sekarang menghiba sembari menangis. "Tolong, jangan buat aku merasa menderita dan tertekan seperti ini. Aku janji, aku tidak akan mengekangmu lagi. Kamu boleh keluar, asalkan kamu bicara dulu kepadaku." "Tidak, ini sudah ketiga kali
"Itulah masalahnya, Bu. Mila tidak sebodoh yang kita kira. Dia bisa saja mengantisipasi untuk mendapatkan hak asuh anak dengan cara menahanku. Dia pasti sudah melakukan berbagai cara agar aku bisa berada di sisinya, termasuk anak itu." "Lalu, bagaimana? Kalau memang kamu tidak mau terikat dengan M







