LOGIN“Selama ini, aku yang mengurus rumah ini sendirian. Saat aku capek karena ngurusin ini itu. Apa kamu mau peduli atau sekedar berinisiatif untuk ikut membantu, Mas?” tanya Andini dengan tatapan lurus ke arah sang suami.
“Itu tugas istri, Andini! Mengurus rumah dan suami, itu bagian dari kewajiban seorang istri!” balas Niko.Nada suara laki-laki itu terdengar tajam dan menekan, seperti cambuk yang mengoyak udara. Ia berdiri tegak di depan pagar dengan kedua tangan mengepal d“Nggak bisa gitu dong, Pak! Ini kan rumah saya!" teriak Niko dengan wajah memerah.Benar saja, sesuai dugaan Andini, Niko dan keluarganya memaksa masuk ke rumah Andini, bahkan sampai memanjat tembok. Namun, belum sampai di atas tembok pagar, aksi laki-laki itu sudah lebih dulu diberhentikan oleh sekuriti kompleks.Niko berdiri di depan pagar dengan napas memburu. Kemeja yang dikenakannya sedikit kusut akibat aksi nekatnya tadi. Sementara itu, beberapa anggota keluarganya berdiri tak jauh dari sana, memasang wajah kesal karena rencana mereka masuk ke rumah justru berakhir memalukan.“Bapak kan kerja di sini udah lama. Pasti hafal sama warga kompleks ini. Saya juga sering berbagi setiap bulannya dengan sekuriti di sini. Masa Bapak nggak kenal saya?!" tunjuk Niko pada pria berseragam navy tersebut.Anton, sekuriti yang bertugas saat itu, tetap berdiri tegak. Dia memang mengenali Niko sebagai salah satu orang yang sering datang ke rumah tersebut. Namun, mengenal seseorang bukan berarti di
“Laksanakan saja, Pak. Saya percaya Bapak bisa melakukannya."Andini tampak sedang menelepon seseorang. Gina dan Ayu hanya saling pandang, tak mengerti dan tak tahu siapa yang diajak bicara oleh sahabat mereka.Andini duduk di sofa dengan satu kaki terlipat. Wajahnya terlihat tenang, tetapi jemarinya mengetuk lutut beberapa kali. Sesekali, dia melirik kedua sahabatnya yang sejak tadi berusaha mencari tahu isi pembicaraan tersebut.“Iya. Semua. Pokoknya, ganti semuanya. Pintu utama juga, akan ada teknisi yang melakukan itu. Bapak hanya tinggal melaksanakan apa yang saya sebutkan," ucap Andini dengan nada serius, tapi sorot matanya menatap kedua sahabatnya seolah bertanya, “What happened?"Gina langsung mengangkat kedua alisnya. Dia menunjuk ponsel Andini, lalu menggerakkan bibir tanpa suara, berusaha bertanya siapa orang di seberang telepon. Ayu justru menyentuh lengan Gina, memberi isyarat agar dia bersabar.Andini mengangkat telunjuk, meminta mereka menunggu. Setelah memastikan orang
“Kena kalian!"Andini tersenyum miring sembari melihat layar laptopnya. Sementara Gina dan Ayu yang ada di sebelahnya ikut mengintip dari samping.Di layar, terlihat Lisa sedang membongkar laci nakas di kamar utama. Perempuan itu tampak sibuk membuka kotak perhiasan satu per satu, sesekali mengangkat barang pilihannya untuk diperiksa sebelum kembali mengacak-acak isi laci.Gina sampai memajukan wajahnya, memastikan apa yang dilihatnya bukan salah paham. Sementara Ayu mengerutkan kening, memperhatikan gerak-gerik Lisa yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.“Jadi, ini rencana kamu?" tanya Ayu penasaran.“Iya,” jawab Andini singkat.Andini menyandarkan punggungnya ke sofa. Tangannya terlipat di depan dada, sedangkan senyum tipis masih bertahan di bibirnya. Dia sudah menduga kejadian seperti ini akan terjadi. Hanya saja, melihatnya langsung melalui layar laptop tetap membuatnya merasa kesal."Gini doang, Ndin?” Gina turut menimpali.Andini menoleh, lalu mengangkat sebelah alisn
“Ayolah, Mas… aku ini kan juga istrimu. Masa aku nggak boleh sentuh barang-barang di rumah ini. Pilih kasih banget kamu!”Lisa berdiri di depan pintu kamar utama dengan kedua tangan terlipat di dada. Bibirnya mengerucut, sementara matanya terus melirik ke dalam kamar yang sejak tadi ingin dia masuki. Di hadapannya, Niko tampak gelisah. Laki-laki itu beberapa kali mengusap tengkuk, seolah sedang mencari alasan yang tepat untuk menolak permintaan istrinya."Jangan ya, Sayang. Kalo Andini tau, nanti—”"Andini, Andini, Andini!” cecar Lisa. "Andini ini, Andini itu! Apa-apa Andini!”Suara Lisa meninggi. Dia melangkah mendekati Niko, lalu mendongak menatap wajah suaminya dengan kesal.Sejak tinggal di rumah itu, Lisa memang merasa tidak bebas. Hampir setiap kali ingin melakukan sesuatu, Niko selalu mengingatkannya pada Andini. Mulai dari menggunakan barang-barang tertentu sampai memasuki ruangan yang dianggap terlarang. Padahal, menurut Lisa, statusnya sebagai istri Niko seharusnya membuatny
“Kamu beneran nggak pulang?"Niko terus mengikuti Andini yang masih sibuk packing beberapa baju ke dalam koper. Sejak tadi, laki-laki itu mondar-mandir di belakang istrinya, sesekali melirik koper yang mulai penuh. Namun, Andini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengubah keputusannya.“Kamu udah tanya ini tiga kali lho, Mas. Dan jawabanku juga masih sama, nggak bakal berubah!"Andini memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam koper, lalu merapikan susunannya agar tidak berantakan. Dia bahkan tak menoleh ketika menjawab pertanyaan suaminya.“Kan aku memastikan lagi, Andini. Jangan sampai kamu merasa aku acuh sama kamu. Kamu kan masih istriku," ucap Niko tak tahu diri.Andini berhenti sejenak. Jemarinya menggantung di atas tumpukan baju, sementara sudut bibirnya terangkat tipis. Masih istriku. Dua kata itu terdengar begitu mudah keluar dari mulut Niko, seolah-olah laki-laki itu tidak pernah mengkhianati kepercayaan yang selama ini diberikan kepadanya.Namun, Andini memilih
“Gila kamu, Ndin, sumpah!”Hari ini, Andini menemui dua sahabatnya, Gina dan Ayu, untuk membicarakan sesuatu. Namun, baru saja Andini menceritakan apa yang terjadi belakangan ini, Gina sudah lebih dulu menyembur dirinya.Gina meletakkan gelas lemontea di atas meja dengan sedikit hentakan. Alisnya bertaut, sementara tatapannya tertuju pada Andini seolah-olah wanita di hadapannya itu baru saja mengakui sebuah kebodohan besar.“Bisa-bisanya kamu terima gundik kegatelan itu di rumah kamu. Ditambah, kamu malah terima keluarga suami laknatmu itu,” seru Gina tak terima.Ayu yang duduk di sebelahnya ikut menghembuskan napas panjang. Sejak tadi, dia berusaha mencerna cerita Andini tanpa menyela. Namun, keputusan sahabatnya itu benar-benar di luar dugaan.Sementara itu, Andini justru tampak santai. Punggungnya bersandar pada kursi, tetapi jemarinya terus bergerak di atas ponsel. Sesekali, dia melirik layar sebelum kembali menatap kedua sahabatnya.“Diamlah kalian. Aku punya sebuah rencana dan a
“Tolong kasih tahu kalau kamu tahu dimana Nino, Ndin.” Suara Niko terdengar pelan namun terdesak. Ada kecemasan samar di balik nada bicara laki-laki itu, tapi Andini tak menggubrisnya. Ia menyandarkan punggung ke tembok dengan santai. Alis kirinya terangkat. “Kenapa tanya aku? Aku kan cuma kakak
“Jelaskan apa? Ada apa sebenarnya ini?”Nada suara Niko tajam, namun diliputi kebingungan yang terlihat jelas. Sementara Nino masih terdiam, tapi pandangan matanya lurus dan menusuk ke arah kakaknya yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Tubuhnya tegak, dagunya terangkat, berusaha menah
[Mbak... Kita jadi kan malam ini?]Sebuah pesan masuk ke ponsel Andini, membuat matanya langsung terfokus pada layar. Jari-jarinya bergerak cepat, mengetik balasan sambil mengerutkan dahi. Wajahnya tampak serius, tanpa senyum, seolah beban yang ia tanggung makin bertambah berat.
“Aku merasa… Mas Niko mulai mengkhianati janji suci kami, Mbok…”Suaranya lirih, namun menghujam tajam. Ruang makan yang tadinya hanya dihuni suara detak jam dinding, kini mendadak dipenuhi keheningan yang berat. Mbok Ratmi, yang tengah menuangkan teh ke dalam cangkir, menghentikan gerakannya. Can







