INICIAR SESIÓNRyan tidak memberikan respons apa pun.Sementara itu, Yessica mengernyitkan kening sambil menatap Gavin dengan rasa muak. "Hei, Gavin! Jangan bilang kamu ingin aku membawamu pulang?"Gavin hanya menutupi matanya dengan telapak tangan, tidak mengucapkan apa pun.Yessica menendang kakinya pelan.Namun, Gavin tetap bungkam.Yessica memutar bola matanya dengan kesal. "Aku mau ke kamar mandi sebentar. Aku harap kamu nggak pingsan di sini."Yessica awalnya menuju kamar mandi di lantai tersebut, tetapi dia mendapati bahwa semua bilik toilet sedang terisi. Setelah menunggu sebentar, masih tidak ada seorang pun yang melangkah keluar. Jadi, dia akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah.Begitu kakinya menginjak lantai dasar, tiba-tiba seseorang berlari kencang, hingga nyaris menabraknya.Yessica tersentak, lalu buru-buru melangkah mundur demi menghindari tabrakan.Dia berusaha keras menahan diri agar tidak mengeluarkan kata-kata kasar.Yessica menahan napas, lalu menoleh ke arah orang ters
Susan menggosok matanya, sementara suaranya terdengar tidak jelas, "Apa yang kamu bicarakan?"Yunda menggertakkan giginya. "Berhenti bersandiwara! Susan, kamu sudah sadar sekarang, 'kan? Jangan berakting lagi, itu memuakkan."Kening Susan berkerut kesal, lalu dia meninggikan suaranya, "Ada apa denganmu? Apa yang kamu bicarakan? Aku benar-benar nggak mengerti!"Yunda melangkah maju, sementara tangannya terjulur untuk mencengkeram kerah baju Susan. "Susan, kamu ….""Yunda."Begitu suara Ryan terdengar dari arah belakang, sekujur tubuh Yunda menegang. Lengannya yang tadi mencengkeram kerah baju Susan pun mendadak kaku dan perlahan turun.Tubuh Susan yang sempat tertarik ke atas kehilangan keseimbangan saat dilepaskan. Dia terjatuh dari kursi ke lantai dengan bunyi keras, lalu erang lirih menahan sakit terdengar.Keringat dingin mulai muncul di kening Yunda. Dia langsung bergegas membantu Susan untuk berdiri.Yunda berujar dengan suara yang mendadak lembut, "Ayo, Susan, pelan-pelan. Hati-h
Yunda mengangkat gelasnya, lalu mendentingkannya pelan dengan gelas salah satu teman. "Kamu terlalu baik."Suasana hati Ryan hari ini sedang kacau. Dia tidak banyak berbicara, hanya terus menuangkan alkohol ke tenggorokannya.Suasana di dalam ruangan pribadi itu tetap meriah karena semua temannya berusaha keras menghidupkan suasana.Namun, Yunda yang duduk di samping Ryan bisa merasakan perubahan emosi pria itu dengan jelas.Yunda bisa menebak bahwa kegelisahan Ryan bermula sejak pertemuan singkat dengan Susan tadi.Hati Yunda terasa sesak.Yunda merasa ada percikan cinta lama yang mulai menyala kembali di antara Ryan dan Susan. Meskipun Yunda percaya diri dengan posisinya di hati Ryan, dia sangat memahami tabiat buruk pria, yang selalu memiliki ruang untuk menyimpan lebih dari satu wanita.Terlebih lagi pria seperti Ryan yang tampan dan kaya.Wanita mana yang tidak akan tergoda olehnya?Yunda teringat saat mereka berdua terjebak di ruangan yang sama, ketika Susan memainkan piano untu
Yunda sedikit tertegun. "Ryan?"Ryan melirik sekilas ke arah Susan yang berjalan terhuyung sambil berpegangan pada dinding di depan mereka. Dia berujar dengan suara berat, "Kalau dia ingin pergi, biarkan saja."Setelah berkata demikian, Ryan berbalik untuk menaiki tangga tanpa melirik ke arah Susan lagi.Bibir Yunda melengkung membentuk senyuman simpul. Dia memberikan tatapan penuh makna pada Susan, lalu segera berbalik mengikuti langkah Ryan.Gavin baru merasa puas setelah melihat itu. Dia pun menarik lengan Yessica untuk membawanya naik.Sementara itu, orang-orang lain yang mengikuti di belakang hanya bisa saling melempar pandang dengan canggung, lalu bergegas menyusul.Setelah berjalan beberapa langkah dengan tubuh limbung, Susan akhirnya terduduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Kepalanya bersandar pada dinding, tampak sangat mengantuk.Kepergian para tokoh utama itu membuat bar sempat hening sejenak, sebelum akhirnya keramaian dan kekacauan kembali seperti sebelumnya.Di tengah k
"Kalau Pak Ryan nggak keberatan, seluruh tagihanmu malam ini akan ditanggung oleh bar sebagai bentuk kompensasi kami. Bagaimana menurutmu?" ujar pemilik bar.Susan mencoba mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara. Namun, baru saja dia bergerak sedikit, kepalanya sudah kembali ditekan ke pelukan pria itu. Susan hanya mendengar gumaman pelan tanda setuju.Yunda berdiri terpaku, terpana oleh pemandangan di depannya. Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Ryan menendang pria asing itu dengan keras sebanyak dua kali sebelum akhirnya mendekat. Begitu mengenali wajah wanita dalam dekapan Ryan, Yunda terkejut."Ryan, kenapa Susan bisa ada di sini?" ujar Yunda.Gavin, yang tadi sibuk bercanda dengan teman wanitanya, akhirnya melangkah maju dengan santai."Apa Pak Ryan kembali melakukan hobinya menyelamatkan wanita cantik?"Setelah mengatakan ini, Gavin melirik ke arah wanita yang dipeluk erat oleh Ryan. Seketika, Gavin tertegun sambil mengernyitkan kening."Ryan, ap
Sebelum kalimat itu selesai, pria asing itu mendadak menerima tendangan keras tepat di perutnya.Bersamaan dengan itu, sebuah suara yang menahan amarah terdengar, "Enyah!"Pria itu berteriak kesakitan, lalu ditendang sejauh dua hingga tiga meter.Karena tengkuknya baru saja dicekik, kepala Susan yang sedang pening ikut terseret mengikuti arah jatuhnya pria itu.Namun, sebuah telapak tangan besar tiba-tiba melingkari pinggang Susan, menariknya dengan paksa dan kuat hingga dia tegak kembali.Dunia di mata Susan terasa berputar hebat, membuatnya terpaksa memejamkan mata dengan erat.Saat membuka matanya kembali, yang terlihat hanyalah hamparan warna hitam pekat.Itu adalah ... jas hitam milik Ryan.Susan menggelengkan kepalanya yang berat, lalu mengangkat tangannya dengan gontai untuk mencengkeram kain jas di hadapannya."Susan."Seseorang memanggil namanya.Susan mendongak dengan kelopak mata yang sayu. Matanya yang setengah terbuka menatap orang di depannya. "Siapa kamu? Bawa aku pulang
Sekelompok pria yang ribut di belakang Susan tiba-tiba berhenti bergerak.Susan mengangkat kepala. Feny yang seharusnya berada di rumah sakit, sekarang berdiri di hadapannya dengan senyuman cerah, sambil melambaikan ponsel di tangannya."Susan, kamu menelepon kakakku, tapi sayang kakakku nggak ada w
Tepat pada saat itu, Ryan keluar dari dapur sambil membawa semangkuk mi. Sementara itu, di atas meja makan sudah ada semangkuk mi lainnya.Dua mangkuk mie, hanya cukup untuk dua orang.Yunda dengan cekatan mengambil sandal dari rak sepatu, lalu memakainya. Dia berjalan ke hadapan Ryan, membantu Ryan
Penglihatannya mendadak gelap, lalu dalam sekejap Susan sudah berada dalam dekapan Ryan.Bam!Ledakan suara itu meledak tepat di telinganya, membuat kepalanya dipenuhi dengungan yang tak kunjung berhenti.Seluruh tubuh Susan kaku, kepalanya tak bisa digerakkan, napasnya pun nyaris terhenti.Kecelaka
Kompleks lama ini berada dekat dengan sekolah Susan. Hanya butuh sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki.Begitu melangkah masuk ke sekolah, Susan bisa merasakan perbedaan yang tajam.Bukan hanya teman sekelas, tetapi juga banyak orang yang lewat menatapnya. Pandangan mereka tampak meremehkan.Si







