Share

Bab 392

Author: Kamari
Susan memejamkan matanya dan berkata dengan lelah. "Bu, temanku sakit, jadi aku membawanya ke rumah sakit. Aku akan pulang nanti, jadi jangan khawatir. Aku tadi lagi sibuk, jadi nggak sempat mengecek ponselku."

Wirda pun menghela napas lega, "Apa kondisi temanmu serius? Haruskah Ibu pergi menjenguknya besok?"

Susan berkata, "Nggak perlu, Bu. Dia baik-baik saja dan seharusnya bisa pulang besok."

"Oke, cepatlah pulang."

"Oke, Ibu juga cepatlah tidur."

Susan menutup telepon, lalu mengangkat tangannya untuk menekan bagian belakang lehernya dan menolehkan kepalanya.

Dia menoleh dengan santai dan tiba-tiba bertemu pandang dengan sepasang mata yang marah.

Jantung Susan sontak berdebar kencang dan tanpa sadar dia bertanya, "Kapan kamu bangun?"

Daniel menatap Susan dengan marah, bibirnya terkatup dengan geram dan bahkan tampak gemetar. Ditambah dengan ekspresi marahnya, Daniel tampak seperti pria baik-baik yang ditindas dengan malang.

Susan pun berkata dengan pasrah, "Serius? Aku sudah membawam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yeni Herlin
mngkin Daniel, denger dr bilng bwha mreka psangnan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 392

    Susan memejamkan matanya dan berkata dengan lelah. "Bu, temanku sakit, jadi aku membawanya ke rumah sakit. Aku akan pulang nanti, jadi jangan khawatir. Aku tadi lagi sibuk, jadi nggak sempat mengecek ponselku."Wirda pun menghela napas lega, "Apa kondisi temanmu serius? Haruskah Ibu pergi menjenguknya besok?"Susan berkata, "Nggak perlu, Bu. Dia baik-baik saja dan seharusnya bisa pulang besok.""Oke, cepatlah pulang.""Oke, Ibu juga cepatlah tidur."Susan menutup telepon, lalu mengangkat tangannya untuk menekan bagian belakang lehernya dan menolehkan kepalanya.Dia menoleh dengan santai dan tiba-tiba bertemu pandang dengan sepasang mata yang marah.Jantung Susan sontak berdebar kencang dan tanpa sadar dia bertanya, "Kapan kamu bangun?"Daniel menatap Susan dengan marah, bibirnya terkatup dengan geram dan bahkan tampak gemetar. Ditambah dengan ekspresi marahnya, Daniel tampak seperti pria baik-baik yang ditindas dengan malang.Susan pun berkata dengan pasrah, "Serius? Aku sudah membawam

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 391

    Daniel Saka.Pria ini tidak hanya memiliki wajah yang tampan, tetapi juga nama yang terdengar sangat bagus.Susan memasukkan KTP itu ke dalam saku dan menatap pintu kamar rawat yang tertutup.Sayangnya, Daniel memiliki gaya bicara yang cukup kasar dan menyebalkan.Saat ini, Daniel sedang tidur di kamar rawatnya sambil diinfus.Para dokter dan perawat masih berada di dalam untuk memeriksa kondisinya.Pakaian dan penampilan Daniel tidak menunjukkan bahwa dia kaya. Sepertinya Daniel juga jarang keluar rumah. Terutama ketika Susan bertemu dengannya di lorong hari itu, dia memperhatikan bahwa ada kotak makanan dan kotak mi instan di dalam kantong sampah yang ditinggalkan Daniel di dekat pintu.Daniel tampak seperti seorang pemuda pengangguran.Tidak punya pekerjaan berarti tidak punya banyak uang.Jadi, Susan menempatkan Daniel di kamar rawat yang dihuni beberapa orang. Biaya medis dan rumah sakitnya tidak terlalu mahal. Susan berharap ketika Daniel sadar, pria itu akan mengganti semua biay

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 390

    Mungkin karena tadi dia menolak bantuan Susan, jadi sekarang dia terlalu sombong untuk berbalik meminta bantuan.Napas pria itu terengah-engah. Susan menyilangkan tangannya sambil berdiri diam di samping dan mengamati.Sopir di depan menoleh dan berkata dengan susah payah, "Nona, bisakah kamu membantunya turun dulu? Aku agak terburu-buru untuk penumpang berikutnya."Susan sebenarnya tidak bermaksud memapah pria itu turun. Dia sendiri yang menolak didekati dan bahkan membuat tangan Susan terbentur ke dinding. Siku Susan terasa sangat sakit. Tanpa dilihat pun Susan yakin sikunya memar.Namun, apa boleh buat. Sopir taksi masih perlu menjemput penumpang berikutnya.Susan akhirnya mengalah dan berjalan mendekat. Dia meraih lengan pria itu dengan kedua tangannya dan sedikit mempererat cengkeramannya."Ayo bangun, dasar tuan muda yang manja."Namun, begitu tangan Susan menyentuh lengan pria itu, napas berat pria itu mendadak menjadi sangat dalam. Pria itu menatap Susan lurus-lurus seolah-olah

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 389

    Tangan Susan jadi terbentur ke dinding. Dia sontak mengerang menahan sakit.Susan pun mengernyit agak kesal. "Bagaimana aku bisa membawamu ke rumah sakit kalau aku nggak menyentuhmu? Memangnya kamu bisa berdiri tegak tanpa dipapah?"Pria itu terdiam. Dia mengangkat dahinya dari bahu Susan dan terhuyung mundur selangkah."Aku nggak butuh bantuanmu."Pria itu menundukkan kepalanya, lalu mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya dan berkata dengan suara serak, "Cepat panggil taksi."Susan akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman pria itu sambil menggosok tulang sikunya dengan ekspresi frustrasi.Dalam cahaya remang-remang, Susan menatap pria itu dengan tajam tanpa berkata apa-apa.Benar-benar pria yang tidak sopan.Setelah menunggu beberapa detik tanpa menerima jawaban, pria itu kembali mendesak, "Cepatlah."Susan balas menatap dengan dingin, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku dan berpikir sambil memanggil taksi.Pria ini merasa menderita karena harus menahan hawa nafsunya?

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 388

    Selain itu, terdengar pula suara napas berat seorang pria!Alarm tanda bahaya pun berbunyi dalam benak Susan. Jantungnya berdebar kencang, darahnya terasa mengalir dengan lebih cepat, dia juga menahan napas karena tegang. Susan berlari dengan putus asa menuju gedung apartemen sewaannya.Sambil berlari, dia terus memikirkan siapa yang berada di belakangnya.Satu-satunya keluarga yang mungkin menyimpan dendam terhadapnya adalah Keluarga Sutedja dan Keluarga Wirya.Namun, Susan kan sudah pergi sejauh ini. Kenapa Keluarga Sutedja dan Keluarga Wirya tidak kunjung melepaskannya?Di belakang Susan, suara napas berat dan langkah kaki makin mendekat.Hampir dalam jangkauan.Susan menggertakkan giginya.Kawasan ini sangat padat penduduk, ada banyak orang yang tinggal di sini dan sistem kedap suara di setiap bangunan tidak terlalu bagus.Kalau Susan berteriak, sebagian besar orang di dekatnya akan mendengarnya.Susan pun membuka mulutnya lebar-lebar. "Tolong ...."Napas berat di belakang Susan be

  • Kulepaskan Suami Berengsekku   Bab 387

    Bangunan itu hanya setinggi lima lantai dan tidak memiliki lift. Tangganya sempit dan berantakan dengan banyak barang yang menumpuk di sudut-sudutnya. Debu membuat tempat itu terasa makin sesak dan sudah cukup sempit bagi dua orang untuk berjalan berdampingan. Jadi, Susan mengikuti di belakang Wirda.Lampu-lampu di lorong baru saja diganti dan cahaya putihnya tampak menyilaukan. Susan dapat dengan jelas melihat Wirda yang menegang, lalu berpura-pura marah dan berkata."Itu karena kamu bikin Ibu takut! Ibu ini ibumu, berani-beraninya kamu membantah Ibu seperti itu? Ibu nggak mau masak buatmu nanti, kamu tidur saja dalam kondisi lapar!"Sepertinya ada yang tidak bisa Wirda katakan.Susan tidak mendesak lebih lanjut dan balas mengiakan singkat, lalu bergegas mendahului Wirda untuk membuka pintu apartemen sewaan mereka.Bangunan ini sudah tua dan pintunya dipasang bertahun-tahun yang lalu. Pintu-pintu ini terbuat dari besi dan beberapa bagiannya berkarat, jadi terdengar berderit saat dibuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status