Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 101 Pertemuan Angger dan Keluarga Liam

Share

Bab 101 Pertemuan Angger dan Keluarga Liam

Author: Ratu As
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-29 23:14:59

Marfa tertegun sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa ragu. Mengingat teguran dan tekanan dari Lisya sebelumnya, Marfa merasa pakaian pilihan pribadinya mungkin tidak akan pernah cukup mewah di mata ibu mertuanya itu.

​"Terserah kamu saja, Mas," jawab Marfa pelan, mengusap jemarinya canggung. "Pilihanmu pasti lebih baik."

​Liam memperhatikan keraguan yang tersirat di wajah pias istrinya.

​"Baiklah, nanti aku yang atur," sahut Liam. Tatapannya menajam lembut menatap layar. "Sekarang hentikan a
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 102 Liam yang Tiba-tiba Marah

    Rusdi menuntun Angger melintasi kerumunan tamu menuju tempat Liam berdiri. Namun, sebelum sempat mempertemukan kedua pria muda itu, langkah Angger terhenti saat Vian yang sedang asyik berlarian mengejar Lio kehilangan keseimbangan dan menabrak kakinya.​Anak kecil itu hampir terjungkal jika saja Angger tidak dengan sigap menahan bahunya.​Vian perlahan mendongak, menatap pria di hadapannya dengan mata bulat yang mengerjap kaget. Rasa terkejut itu berubah menjadi binar gembira.​"Om Tyo?" panggil Vian antusias.​Angger sempat tertegun. Namun, raut herannya dengan cepat berganti senyuman hangat. Ia berlutut kecil lalu mengusap kepala Vian. "Vian? Kamu ada di sini? Apa kamu—"​"Itu anak saya," sahut sebuah suara berat mendahului pertanyaan Angger.​Liam mendekat seorang diri, meninggalkan Marfa sejenak di area yang lebih tenang. Pandangan tajamnya tertuju pada Angger, menilai pria muda yang begitu mengenali putranya.​Mendengar celetukan Vian dan interupsi dingin Liam, suasana mendadak t

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 101 Pertemuan Angger dan Keluarga Liam

    Marfa tertegun sejenak. Sorot matanya memancarkan rasa ragu. Mengingat teguran dan tekanan dari Lisya sebelumnya, Marfa merasa pakaian pilihan pribadinya mungkin tidak akan pernah cukup mewah di mata ibu mertuanya itu.​"Terserah kamu saja, Mas," jawab Marfa pelan, mengusap jemarinya canggung. "Pilihanmu pasti lebih baik."​Liam memperhatikan keraguan yang tersirat di wajah pias istrinya. ​"Baiklah, nanti aku yang atur," sahut Liam. Tatapannya menajam lembut menatap layar. "Sekarang hentikan aktivitasmu di dapur. Tinggalkan adonan itu, minta Bi Ratih yang lanjutkan, dan masuk kamar untuk istirahat. Itu perintah."​Marfa terkekeh kecil, baru kali ini mendengar Liam bicara panjang karena memperhatikan kesehatannya. "Iya, Mas Dokter. Setelah ini aku langsung istirahat."Liam tersenyum tipis, dari layar itu tampak wajah tampannya semakin manis. ​"Bagus. Aku matikan teleponnya."​Setelah sambungan video call terputus, pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, mengetukkan jarinya di at

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 100 Suami Perhatian

    ​"Jaga diri baik-baik. Jangan terlalu lelah," pesan Liam sebelum berangkat ke rumah sakit. ​Marfa mengekor di belakang Liam hingga sampai di depan pintu utama. Sebelum benar-benar masuk ke mobil, Liam menghentikan langkah dan menoleh lagi pada Marfa. ​"Jangan sungkan menelepon jika ada apa-apa. Sekecil apa pun itu," tambah Liam lagi, memastikan istrinya paham bahwa ia selalu bisa diandalkan.Marfa tersenyum, kalimat itu sekarang sangat akrab di telinganya. Liam selalu mengingatkannya untuk menghubungi jika ada masalah. Begitu Liam berangkat ke rumah sakit, kekacauan pagi hari pun dimulai. Sejak kemarin Lio berubah jadi sangat manja dan penuh tuntutan, terutama di jam-jam sibuk saat bersiap-siap ingin berangkat sekolah. Sikapnya yang dulu mandiri kini berubah menjadi sangat sulit diatur dan kerap membuat Marfa kewalahan.​"Tante Marfa! Lio tidak mau pakai baju yang ini! Mau baju olahraga yang warna biru!" seru Lio dari dalam kamarnya, melempar seragam sekolah yang sudah rapi disetr

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 99 Ngidam

    ​Pertanyaan itu sempat melintas, namun Marfa tak ingin merusak momen indah ini dengan keraguan. Terlepas dari apa pun alasannya, Marfa tetap mengulas senyum bahagia. Ia makin menyusupkan wajahnya ke dada bidang Liam, menikmati hangatnya dekapan sang suami sebelum pagi benar-benar menyapa. * Liam keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya,ia tampak segar ada tetesan air yang membasahi rambut hitamnya. Begitu membuka pintu, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Marfa yang sudah duduk di tepi ranjang dengan seulas senyum ke arahnya. ​"Mas, bajunya sudah kusiapkan," ucap Marfa dengan wajah yang jauh lebih berseri, meski rona di bibirnya masih terlihat agak pias. ​Mata tajam Liam langsung tertuju pada selang infus yang masih menggantung dan menempel di punggung tangan istrinya. Pria itu menghela napas pendek, tatapannya menyirat sedikit ketegasan. ​"Kalau masih pusing dan lemas, jangan banyak bergerak dulu, Marfa," tegurnya tenang namun sarat peringa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 98 Sikap Lembut Suami

    Tak lama kemudian, derap langkah terburu-buru terdengar mendekati kamar. Liam kembali dengan membawa kantong plastik berisi bubur manis yang diminta Marfa. Tanpa banyak bicara, pria itu memindahkan bubur tersebut ke mangkuk, lengkap dengan sendoknya.​Liam duduk di tepi ranjang. Suasana kaku dan dingin yang biasa melingkupinya mendadak luluh oleh raut cemas yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia mengaduk bubur itu, meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, lalu mengulurkan suapan ke hadapan Marfa.​"Buka mulutmu," ujar Liam, suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan.​Marfa menatap sendok itu ragu. Pening di kepalanya memang sedikit mereda setelah infus terpasang, tetapi rasa mual masih bersarang kaku di kerongkongannya. "Mas, aku bisa makan sendiri..."​"Kamu bahkan tidak punya tenaga untuk memegang sendok," potong Liam tegas. Tangannya tetap bertahan di udara. "Makan sedikit, Marfa. Jangan buat aku bersikap lebih keras dari ini."​Sikap bersikeras Liam membuat Marfa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 97 Suami yang Sigap

    ​"Oh, baiklah. Ayo masuk. Kamu sudah sarapan?" Marfa tersenyum lembut, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka. Tak ingin membahas masalah orang dewasa dengan anak-anak. Entah apa yang Alena lakukan bersama Liam, Marfa hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu di antara mereka. ​Lio hanya menggeleng pelan tanpa bersuara.​"Kalau begitu, kita sarapan dulu ya sebelum kamu siap-siap berangkat ke sekolah," lanjut Marfa hangat.​Dengan penuh perhatian, Marfa merangkul pundak Lio dan menuntun anak itu masuk ke rumah. Ia mengabaikan sejenak spekulasi liar di kepalanya tentang Liam dan Alena, dan memilih fokus menyiapkan sarapan bergizi untuk Lio dan Vian pagi itu."Tante, Lio tidak mau ini," tolak anak itu saat Marfa menyajikan sup daging. "Lio mau ayam goreng," pintanya sesuatu yang tidak ada di meja. "Biar aku yang buatkan, Non." Ratih sigap menawarkan bantuan. Namun Lio langsung menolaknya mentah-mentah. "Tidak mau. Aku mau Tante Marfa yang buatkan!" tegas Lio dengan wajah kak

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status