Marfa terpaku. Mobil ini adalah milik suaminya, tetapi tempat di dalamnya masih penuh oleh jejak mantan istri suaminya. "Pindahkan beberapa barang ke bagasi kalau sempit, atau memangku Vian saja di depan kalau dia mau,” titah Liam datar dari balik kemudi, memecah lamunan Marfa.Marfa menelan ludah, dadanya mendadak terasa begitu sempit dan sesak. Ia mengangguk pelan, berpura-pura tidak terjadi apa-apa demi Vian, lalu perlahan masuk dan duduk di samping Liam--pria yang berstatus suaminya, namun terasa begitu jauh dan masih milik orang lain.Pintu mobil tertutup rapat, mengurung ketiganya dalam keheningan yang serba salah. Aroma parfum maskulin Liam yang tenang teralihkan oleh wangi lembut yang asing–aroma floral manis yang tertinggal dari barang-barang di jok belakang.Aroma yang sangat Marfa yakini bukan miliknya, melainkan milik Alena."Papa, nanti Vian boleh beli mainan?" suara mungil Vian memecah kecanggungan. Anak itu duduk di pangkuan Marfa, matanya menatap Liam dengan binar
Last Updated : 2026-07-24 Read more