Home / Romansa / Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi / Bab 14 Hasrat yang Menggantung

Share

Bab 14 Hasrat yang Menggantung

Author: Ratu As
last update publish date: 2026-08-07 08:37:55

Pandangannya sayu menatap manik tajam suaminya. "Panas sekali... aku tidak tahan..."

​Liam tetap berdiri tegak dan tenang di hadapannya. Raut wajah pria itu kaku, tanpa sedikit pun ekspresi panik atau dorongan hasrat yang terpancing.

​"Duduk dan tenangkan dirimu, Marfa," ucap Liam dingin, suaranya terdengar begitu datar dan tak tersentuh.

Ia mungkin tahu apa yang harus dilakukan, namun enggan berinisiatif untuk Marfa.

​"Tapi..."

​Tanpa sadar, jemari Marfa yang gemetar terulur, mengusap dada bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 53 Wanita Beruntung

    Lisya menggeleng lemah. Keduanya lalu saling tatap. "Baik Liam atau Marfa tidak bilang apa pun--""Itu berarti semua atas inisiatif Liam." Rusdi berdehan lalu melanjutkan langkahnya dengan ekspresi yang tetap tenang. Berbeda dengan Lisya yang berubah sedikit panik. "Bagaimana mana ini, Yah? Kalau Marfa membuat malu keluarga kita?" Meski Lisya begitu ingin Marfa dekat dengan Liam untuk urusan ranjang dan cepat-cepat mendapat cucu, namun jika harus memperkenalkan Marfa ke publik sebagai menantu keluarga Rusdi Ardiansyah jujur saja Lisya kurang sudi. Bagaimana pun ia sadar punya menantu dari kampung, dari keluarga biasa, itu sangat memalukan apalagi seorang janda dan hanya ibu rumah tangga. "Sudahlah," Rusdi menenangkan, ia mengusap punggung tangan istrinya yang berubah dingin. "Kalau Liam membawanya, itu berarti dia sudah berpikir jauh. Tapi kalau sampai Liam berbuat kesalahan, tenang saja, Ayah akan bertindak." Lisya mengangguk. Mereka bertemu di dekat resepsionis. "Ayah, Ibu," Ma

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 52 Gaun yang Cantik

    "Te-terima kasih Mas," ucap Marfa lagi. Ia hanya bisa mengucapkan itu dengan suara gugup. Jantungnya berdegup kencang menyadari saat ini ia dan Liam begitu dekat, bahkan kakinya menempel di paha lelaki itu. "Apa yang kamu katakan pada mereka hingga mereka diam dan tidak berani mengirimiku pesan lagi?" Liam tersenyum miring. "Kenapa? Penasaran?" Marfa membalas senyumnya, posisinya masih berdiri dengan tangan Liam di pinggangnya. "Mungkin aku bisa belajar darimu?" Mendengarnya Liam terkekeh pelan, respon percaya diri Marfa mungkin cukup membuatnya senang. "Tentu saja kata-kata yang pedas ditambah sedikit aksi. Aku kan memberitahumu pelan-pelan." Karena Liam tidak mau bicara secara terang-terangan, Marfa tidak memaksanya. Ia menatap lekat lelaki itu, mencoba memahami dan membaca dari tatapan dan raut wajah lelaki itu, namun Marfa sama sekali tidak bisa. Meski tenang, Liam terlalu rumit. Entah apa yang dirasakan lelaki itu, sedikit pun Marfa tidak bisa mendapat bocoran. "Kamu kuru

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 51 Aku Ada Kalau Kamu Butuh

    Obrolan itu membuat Marfa tidak nyaman, tidak ingin Liam salah paham, apalagi sampai membuat keruh keadaan di antara Lisya dan mereka. Marfa mencoba menjelaskan lebih dulu. "Mas, Vian hanya sedang manja. Jangan terlalu dipikirkan--" Marfa lalu masuk, ia ke dapur untuk menyiapkan makanan namun di sana sudah ada pembantu. "Bi, mau masak untuk Vian?" Marfa lihat bagaimana pembantu itu hendak mengolah sup untuk Vian. Ratih mengangguk, gerakan tangannya tertahan saat Marfa menegurnya. "Biar aku saja, Bi. Bibi bisa bantu beres-beres rumah saja. Soal memasak aku bisa melakukannya." Marfa bicara dengan sopan agar tidak menyinggung, soal makanan untuk Vian ia cukup ketat karena sejak dulu selalu memperhatikan apa saja yang harus dikonsumsi oleh putranya, dan apa saja yang tidak boleh. Vian tertidur di pangkuan Liam, anak itu lalu digendong masuk ke kamar dan dibaringkan di ranjang. Setelahnya Liam ke kamar mandi dan membersihkan diri. Liam keluar tepat saat waktu makan malam tiba. Lang

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 50 Papa Mama Jangan Bercerai!

    Anak itu menggeleng, ia tetap tidak mau jujur apalagi masih ada Hisya di sana yang terus memantaunya dengan tatapan penuh peringatan dan intimidasi. "Ya sudah, kamu main dulu sama Bibi gih!" titah Lisya tidak ingin berlama-lama, ia beranjak dari sana dan bergegas untuk melakukan hal lainnya. *** Marfa melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit. Langkahnya yang masih terasa lemas melambat saat melihat rombongan dokter dari arah berlawanan. Tampaknya mereka adalah para medis dari beberapa rumah sakit yang sedang melakukan kunjungan resmi. ​Di antara rombongan itu, Marfa menangkap sosok Liam berjalan berdampingan dengan Alena. Wanita itu tampak anggun memeluk beberapa map tebal di dada. Jas putih yang melapisi kemeja formalnya terpasang rapi, lengkap dengan logo rumah sakit lain yang terpampang jelas di pin kartu identitasnya. ​Marfa sempat melirik suaminya sekilas. Namun, ia memilih bergeser ke tepi koridor, memberi jalan dan berpura-pura tak kenal demi mengurai canggung. ​Sa

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 49 Menghapus Pesan Untuk Marfa

    Setelah mengucapkan itu, Marfa langsung memalingkan wajahnya kembali ke samping, sungguh tidak kuat lagi menatap mata suaminya. "Kamu tahu segalanya tentang mantan istrimu. Kalian masih punya hubungan--""Jangan melantur," potong Liam, tatapannya masih lekat pada Marfa. "Kamu masih marah karena siang tadi? Apa kamu pikir aku dan Alena bersama di saat jam kerja hanya untuk membahas sesuatu di luar itu?" Marfa mendengar, ia juga membalas tatapan Lian tajam namun tidak menyela ucapan Liam. Jujur ia penasaran dan ingin mendapat penjelasan lebih dari suaminya. Liam menghela napas pendek. "Tentu saja tidak. Kamu terlalu banyak berpikir, Marfa.""Kalau tidak lalu apa? Jangan beralasan jika kalia membahas pekerjaan! Alena bahkan tidak bekerja di rumah sakit itu--" "Karena dia seorang pasien."Marfa tertegun. Ia terpaku dengan wajah kaget. Keningnya berkerut halus, berusaha mencerna kenyataan bahwa Alena wanita yang terlihat sangat sehat itu ternyata datang sebagai pasien? ​Liam bisa mem

  • Kulepaskan Suamiku Menduda Lagi    Bab 48 Kamu yang Lebih Tahu

    Kening Marfa berkerut halus ia yakin tadi Liam ingin mengatakan sebagai suami, tapi sepertinya lelaki itu keburu sadar kalau tidak layak disebut suami. "Oh." Marfa menyahut singkat. Ia tersenyum getir. Wajahnya yang masih pucat terlihat begitu lelah. Akhir-akhir ini kepalanya terasa terlalu penuh. Masalah keluarganya yang rumit terus menumpuk beban di dadanya ​"Maaf, aku merepotkanmu," lirih Marfa pelan. Liam kembali diam, ia butuh waktu beberapa detik untuk melanjutkan percakapan. Sejak tadi tatapannya fokus pada Marfa seolah sedang memperhatikan setiap perubahan gestur istrinya. ​"Kamu stres karena terus memikirkan soal anak? Jangan ambil hati ucapan Ibu," balas Liam datar. Pria itu tampak begitu yakin bahwa ia tahu semua jawaban atas kondisi istrinya. ​Marfa tertegun. ​Liam dengan begitu mudah menyimpulkan bahwa Marfa ambruk hanya karena tekanan program hamil dan celotehan mertuanya. Suaminya sama sekali tidak sadar, atau mungkin pura-pura tidak tahu bahwa ada hal lain ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status