เข้าสู่ระบบBab 177DOR! DOR! DOR!Dua granat kejut dilempar masuk ke dalam lorong bawah lambung kapal, disusul dentuman keras yang memekakkan telinga. Asap putih tebal seketika memenuhi lorong besi yang sempit dan pengap tersebut.Anak buah Kohar yang berjaga di balik barikade peti kayu panik luar biasa. Mereka mencoba membalas tembakan secara membabi buta ke arah pintu masuk, namun arah peluru mereka berantakan karena mata mereka perih dan telinga mereka berdengung."Maju! Bantai mereka semua!" teriak Wildan memberikan komando.Pasukan Black Wolf bersama para tentara bayaran merangsek masuk tanpa takut. Rentetan tembakan senapan otomatis seketika menggema memekakkan telinga di seluruh lorong bawah kapal. Suara pecahan kaca, desingan peluru yang memantul di dinding besi, dan jeritan histeris musuh menyatu dalam kekacauan massal.Sebab komplotan preman bayaran milik Kohar pada dasarnya hanyalah sekumpulan bajingan jalanan yang bertarung murni demi bayaran uang, moral tempur mereka langsung hancur
Sesampainya di geladak atas, Wildan menarik napas pelan dan melompat melewati pagar pembatas kapal. Ia langsung berjongkok di balik tumpukan tong besi.Kondisi area penjagaan luar benar-benar menguntungkan Wildan. Para penjaga pesisir dan pembunuh bayaran yang disewa oleh Kohar terlihat sangat lengah menjaga perimeter luar. Mereka sedang duduk melingkar di atas peti kayu, mabuk oleh euforia kemenangan palsu setelah menghancurkan mansion Wildan malam sebelumnya.Di titik itu, terdapat empat orang penjaga bersenjata laras panjang. Suara tawa dan obrolan mereka terdengar sangat santai."Kohar berani bayar kita dobel cuma buat jaga kapal rongsokan ini. Enak banget kerjaan kita malam ini," ucap salah satu penjaga berambut gondrong sambil menenggak bir kalengnya."Iyalah santai, musuh utamanya aja udah mampus semalam," balas temannya yang memakai jaket kulit. "Si Wildan itu pasti udah mati kehabisan darah di rumahnya sendiri. Gue lihat sendiri perutnya robek. Si Indra juga nekat, istri oran
Karena dikurunng dan dikekang oleh Indra, menyebabkan isa-sisa harapan di dada Maya perlahan mulai meredup. Rasa putus asa menekan dadanya dengan sangat kuat. Pengkhianatan ibunya dan foto Wildan yang bersimbah darah benar-benar menghimpit kewarasannya. Ia merasa sepenuhnya sendirian dan tidak berdaya di tengah laut.Namun di tengah isak tangisnya yang memilukan, Maya tiba-tiba merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya. Janinnya bergerak.Gerakan pelan itu seakan menjadi tombol penyadar bagi Maya. Insting keibuannya untuk melindungi darah daging Wildan langsung merespons dan mengambil alih seluruh ketakutannya. Ia sadar, jika ia terus menangis dan menyerah pada rasa takut, Indra pasti akan mencelakai bayinya cepat atau lambat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus kuat demi anak mereka.Kekuatan terselubung yang luar biasa kokoh mendadak muncul dari dasar hati Maya. Ia menarik napas panjang, menelan seluruh isak tangisnya secara paksa, dan mengangkat wajahnya yang masih basah.T
Dokter Sisca langsung menyuntikkan obat penenang dosis rendah ke lengan Wildan. Wajah dokter cantik itu memerah karena marah sekaligus khawatir."Otot perutmu robek parah, Wildan! Tubuhmu kehabisan banyak darah!" bentak Sisca tegas. "Kalau kamu nekat jalan sekarang, jahitanmu bakal jebol total. Kamu bisa mati konyol di tengah jalan sebelum sempat ketemu Maya! Paham nggak?!"Wildan memukul lantai beton dengan kepalan tangannya yang bergetar. Frustrasi absolut menghancurkan egonya. Ia adalah raja jalanan, tapi saat ini ia bahkan tidak sanggup berdiri untuk menyelamatkan istrinya sendiri."Maya lagi disekap sama psikopat, Dok! Gue nggak bisa cuma diam tidur di sini!" jerit Wildan tertahan, air mata keputusasaan menggenang di pelupuk matanya."Gue paham, Bos. Kita semua juga mau selamatin Mbak Maya," bujuk Beno, memapah Wildan kembali ke atas ranjang dengan sangat hati-hati. "Tapi Dokter Sisca benar. Fisik lo hancur lebur. Kasih waktu dua hari buat penyembuhan awal. Kalau lo mati, siapa y
Akibat manipulasi mental dan teror verbal tanpa henti di dalam ruangan pengap itu, sisa-sisa harapan di dada Maya perlahan mulai meredup. Rasa putus asa menekan dadanya dengan sangat kuat. Pengkhianatan ibunya dan foto Wildan yang bersimbah darah benar-benar menghimpit kewarasannya. Ia merasa sepenuhnya sendirian dan tidak berdaya di tengah laut.Namun di tengah isak tangisnya yang memilukan, Maya tiba-tiba merasakan sebuah tendangan kecil dari dalam perutnya. Janinnya bergerak.Gerakan pelan itu seakan menjadi tombol penyadar bagi Maya. Insting keibuannya untuk melindungi darah daging Wildan langsung merespons dan mengambil alih seluruh ketakutannya. Ia sadar, jika ia terus menangis dan menyerah pada rasa takut, Indra pasti akan mencelakai bayinya cepat atau lambat. Ia harus bertahan hidup. Ia harus kuat demi anak mereka.Kekuatan terselubung yang luar biasa kokoh mendadak muncul dari dasar hati Maya. Ia menarik napas panjang, menelan seluruh isak tangisnya secara paksa, dan mengangk
Sementara Wildan sedang memaksakan diri bangkit dari ambang kematian di ruang tamunya, penderitaan batin yang menyakitkan justru sedang menyiksa kewarasan Maya.Indra yang berhasil menculik mantan istrinya itu tidak membuang waktu. Ia langsung membawa Maya menjauh dari pusat kota. Iring-iringan beberapa mobil hitam mereka melaju kencang meninggalkan Jakarta, menuju markas utama kartel penyelundup milik Kohar yang tersembunyi rapat di perairan pesisir utara.Tempat persembunyian itu bukan berupa gedung atau gudang biasa. Markas itu adalah lambung kapal kargo berkarat berukuran raksasa yang sudah bersandar mati di sebuah pelabuhan ilegal yang jauh dari jangkauan polisi. Kohar dan anak buahnya telah memodifikasi kapal bekas itu secara khusus menjadi benteng besi yang tak tertembus. Puluhan pembunuh bayaran bersenjata lengkap berpatroli ketat di setiap sudut geladak, lorong kapal, dan jalan masuk pelabuhan.Di dalam salah satu ruangan di dasar lambung kapal kargo yang pengap, berbau amis







