Masuk'Indra pasti akan mengerahkan pembunuh bayaran untuk memburuku setelah siaran ini, dan Wildan si bajingan itu juga tak lagi membutuhkanku. Kalau aku tetap di sini, aku cuma bakal jadi mayat atau narapidana miskin,' batin Bisma panik.Bisma segera menyetop sebuah taksi yang lewat di jalan raya seberang gedung."Cepat, Pak! Ke perumahan elit Menteng sekarang!" perintah Bisma dengan napas memburu, membanting pintu taksi. Ia menuju rumah keduanya yang memang sengaja digunakan untuk menyimpan aset uang haramnya.Sesampainya di rumah mewahnya, Bisma tidak membuang waktu satu detik pun. Ia berlari ke ruang kerjanya yang sepi, membuka lukisan besar di dinding, dan memutar kombinasi brankas rahasianya.Ia mengambil sebuah pasp
Hanya berselang satu jam setelah konferensi pers palsu Mario disiarkan di seluruh stasiun televisi nasional, sebuah siaran langsung tandingan mendadak meledak di berbagai kanal berita. Kali ini, siaran tersebut tidak berasal dari pelataran bengkel yang sepi, melainkan langsung dari pusat penegakan hukum paling krusial di negara ini: lobi utama gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Lampu blitz kamera menyala bertubi-tubi menyilaukan mata. Puluhan jurnalis dan pembaca berita berdesakan, berebut menyodorkan mikrofon berlogo berbagai media besar. Di tengah lautan wartawan yang haus akan berita itu, berdirilah Jaksa Bisma.Wajah pria paruh baya itu sangat pucat pasi, keringat dingin membanjiri dahi dan lehernya. Namun, rasa takutnya pada laras pistol dan ancaman eksekusi jalanan sang bos Black Wolf jauh melebihi kesetiaannya yang sudah dibeli mahal oleh Indra Wiguna dengan uang miliaran rupiah. Bisma menelan ludah dengan susah payah, lalu menatap lurus ke arah kamera. Mulutnya akhirn
Denting keras sendok perak yang membentur lantai marmer memecah keheningan ruang makan siang itu. Suara logam yang beradu dengan batu pualam tersebut seolah menjadi penanda hancurnya kedamaian yang baru saja disesap oleh Maya.Tubuh Maya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajahnya yang tadinya merona hangat seketika memucat pasi, bagaikan mayat hidup yang seluruh darahnya terkuras habis. Mata bulatnya terbelalak ngeri, menatap lurus ke arah layar televisi layar datar yang sedang menyiarkan konferensi pers berskala nasional. Di sana wajah adiknya sendiri, Mario terpampang jelas, menuduh Wildan sebagai bos mafia yang telah menculiknya secara paksa.Melihat Maya mendadak gemetar ketakutan dengan napas yang tercekat, Wulan langsung mendekat dan menghampiri Maya dengan panik. Ia langsung memeluk bahu Maya erat-erat."Astaghfirullahaladzim! Maya, istighfar! Jangan didengarkan berita gila itu!" jerit Wulan dengan suara bergetar, berusaha menutupi telinga Maya.Namun tatapan
Pagi itu langit Jakarta tampak cerah, di dalam sebuah mobil van gelap yang melaju tenang menuju pusat kota, Wildan menatap tajam ke arah Jaksa Bisma yang duduk terikat dengan wajah memucat pasi."Kamu mending ingat semua dialogmu buat penyidik nanti, Bisma. Satu kata meleset, peluruku yang bicara," ancam Wildan dengan bariton rendah."S-saya ingat ... saya akan jujur semuanya …," gagap Bisma.Sementara Wildan dan Sonia sibuk bergerak di bawah radar, mengawal Jaksa Bisma menuju gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara senyap untuk meledakkan bom internal, Indra tidak tinggal diam. Sang jaksa korup itu mulai melancarkan rencananya sendiri untuk memutarbalikkan fakta. Ia tidak sudi membiarkan harga dirinya diinjak-injak oleh seorang mantan montir dan kuli serabutan itu.Di pelataran bengkel milik Mario yang baru saja buka, ketegangan luar biasa mendadak pecah. Dua mobil SUV hitam berpelat dinas militer VVIP meluncur dan mengerem kasar tepat di depan pintu masuk. Suara decit ban
Malam harinya, gemerlap lampu disko dan dentuman musik elektronik menghentak keras di dalam sebuah klub malam elite di pusat ibu kota. Di salah satu sofa VIP yang dibatasi oleh partisi kaca buram, Jaksa Bisma duduk bersandar dengan tawa yang menggelegar. Di sekelilingnya, botol-botol minuman keras impor berharga puluhan juta terbuka lebar, menemani malam yang panjang.Pria paruh baya itu sedang merayakan kekayaan barunya bersama dua ani-ani yang seksi duduk di sisi kanan dan kiri. Karena merasa sangat aman setelah bersekutu dan menerima uang tutup mulut miliaran rupiah dari Indra siang tadi, penjilat itu sama sekali tidak menyadari bahaya besar yang sedang mengintainya dari luar dinding klub.Setelah menghabiskan bergelas-gelas alkohol, Bisma akhirnya bangkit berdiri dengan langkah yang terhuyung-huyung. Ia menepis pelan tangan wanita penghibur yang menemaninya
Setelah menghabiskan energinya untuk bertarung brutal semalaman, yang disusul dengan percintaan panjang memuja Maya di atas ranjang pada pagi harinya, fisik Wildan akhirnya kelelahan. Sebagai pria normal, kelelahan ekstrem perlahan menumbangkan sang bos besar. Rasa lelah dari memar di buku jarinya, serta otot-otot yang menegang akibat baku hantam di gudang, kini mengambil alih kesadarannya.Ia tertidur sangat lelap di samping Maya dengan posisi memeluk protektif. Lengannya melingkar kuat di pinggang wanita itu, menahan Maya agar tetap berada sedekat mungkin di dadanya. Karena merasa sangat aman di dalam dekapan pria itu, Maya pun ikut terlelap. Napas mereka berpadu dengan teratur di dalam kamar utama yang tenang dan kedap suara tersebut.Waktu terus bergulir. Menjelang sore hari, setelah staminanya pulih sepenuhnya, Wildan perlahan membuka matanya. Ia menatap wajah Maya yang masih terlelap damai. Dengan sangat hati-hati agar tidak mengusik tidur wanitanya, Wildan perlahan bangkit tan







