Home / Male Adult / Kuli Gagah Spesialis / 32. Ketahuan Mario?!

Share

32. Ketahuan Mario?!

Author: Risya Petrova
last update publish date: 2026-07-26 23:29:01
"Udah, kalian pada balik sana duluan. Gue mau ngobrol sama temen gue," suruh Beno pada teman-temannya.

Setelah para pengamen itu pergi, Beno berkacak pinggang. "Gaya lo udah kayak bos gede aja, Wil. Bisnis apaan sih yang mau lo bahas sama kuli jalanan kayak gue?"

Tanpa membuang waktu untuk basa-basi, Wildan merogoh tas selempangnya.

BRAK!

Wildan meletakkan tiga gepok uang kertas pecahan seratus ribuan yang masih terikat pita bank ke atas meja kayu yang kotor dan berminyak itu. Uang tunai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kuli Gagah Spesialis   33. Masukin sekarang, kumohon

    "Bangsat!" umpat Wildan menggelegar di tengah pelataran parkir terminal.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Wildan melompat ke atas motornya dan memutar tuas gas dengan kesetanan. Ia membelah kemacetan ibu kota dengan manuver gila, mengabaikan klakson dan makian pengendara lain. Jantungnya berdegup brutal. Jika Mario sampai mendobrak pintu kontrakan itu dan menemukan Maya, semuanya akan hancur malam ini juga. Namun, setibanya Wildan di ujung gang rahasia tersebut dengan nafas tersengal, jalanan sempit itu tampak kosong melompong. Tidak ada sedan mewah Mario. Tidak ada polisi. Hanya ada kesunyian malam dan suara jangkrik. Wildan menghela napas lega yang teramat panjang, mengusap wajahnya yang kasar. ‘Pengecut. Mario cuma gertak sambal kirim foto buat mancing reaksi gue,’ batin Wildan tajam. Ia menyadari Mario tidak berani bertindak sendiri tanpa Indra. Namun, ini juga berarti waktu mereka di sini tinggal menghitung hari. Ia dan Maya harus pindah tempat. Wildan segera membuka pintu

  • Kuli Gagah Spesialis   32. Ketahuan Mario?!

    "Udah, kalian pada balik sana duluan. Gue mau ngobrol sama temen gue," suruh Beno pada teman-temannya. Setelah para pengamen itu pergi, Beno berkacak pinggang. "Gaya lo udah kayak bos gede aja, Wil. Bisnis apaan sih yang mau lo bahas sama kuli jalanan kayak gue?" Tanpa membuang waktu untuk basa-basi, Wildan merogoh tas selempangnya. BRAK! Wildan meletakkan tiga gepok uang kertas pecahan seratus ribuan yang masih terikat pita bank ke atas meja kayu yang kotor dan berminyak itu. Uang tunai sebesar tiga puluh juta rupiah terpampang nyata di depan mata Beno. Mata Beno seketika membelalak lebar. Tangannya refleks berhenti mengocok kartu. Ia menelan ludah dengan susah payah menatap tumpukan uang merah tersebut. "Anjir! Duit dari mana lo sebanyak ini, Wil?! Lo habis ngerampok bank?!" seru Beno dengan nada bisik-bisik panik. "Uang itu bersih. Halal," jawab Wildan lugas, menatap langsung ke manik mata Beno tanpa berkedip. "Gue ke sini bukan buat pamer. Uang itu DP buat lo." "DP?

  • Kuli Gagah Spesialis   31. Lemas, pengen lagi

    Penyatuan fisik di siang bolong itu berakhir dengan hela napas panjang dan peluh yang membasahi tubuh mereka berdua. Maya terkapar lemas di atas kasur busa, tak berdaya oleh gempuran gairah Wildan yang begitu berhasrat. Napasnya masih sedikit terengah, sementara matanya perlahan terpejam karena kelelahan ekstrem yang menggiringnya ke dalam tidur lelap. Wildan beranjak pelan agar tidak membangunkan sang nyonya. Ia menatap wajah Maya yang kini terlihat begitu tenang tanpa sisa ketakutan. Dengan penuh kehati-hatian, Wildan menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh polos wanita itu, lalu mengecup keningnya sekilas. "Istirahat yang nyenyak, Mbak. Serahkan sisanya sama saya," bisik Wildan pelan. Setelah membersihkan diri seadanya dan mengenakan jaket, Wildan melangkah keluar. Ia mengunci selot pintu dari dalam melalui celah, lalu mengunci pintu dengan kunci serep. Kontrakan itu tampak mati dari luar, seolah tak berpenghuni. Mesin sepeda motor tuanya menderu pendek. Wildan memacu

  • Kuli Gagah Spesialis   Keras banget

    Ciuman yang berawal dari upaya menenangkan itu dengan cepat berubah haluan. Napas Wildan kembali memburu panas, menerpa wajah Maya. Segala ketakutan Maya menguap, berganti menjadi kebutuhan fisik yang tak tertahankan. Tangan wanita itu meremas bahu telanjang Wildan, menariknya agar semakin merapat.​"Mbak Maya selalu bikin saya hilang kendali," geram Wildan tertahan di depan bibir wanita itu.​"Maka jangan ditahan, Wil. Ambil kendalinya," bisik Maya dengan mata setengah terpejam, seraya menantang dominasi pria itu.​Tanpa membuang waktu, Wildan langsung mengangkat tubuh Maya dan membaringkannya perlahan di atas kasur busa. Pria itu melepaskan celana jeans-nya dengan sekali tarikan kasar, lalu kembali memposisikan dirinya di atas tubuh sang nyonya. Kaus kebesaran yang dipakai Maya disingkirkan begitu saja, mengekspos kulit lembutnya yang kini dihiasi bercak merah bekas cumbuan semalam.​Wildan tidak terburu-buru. Ia membelai lekuk tubuh Maya dari pinggang hingga ke paha, memicu lengu

  • Kuli Gagah Spesialis   Dipangku

    Wildan melepaskan ciumannya. Napas mereka masih memburu di atas kasur yang berantakan. Pria itu mengusap sisa saliva di bibir Maya dengan ibu jarinya. ​"Saya mandi dulu, Mbak. Badan saya lengket," kata Wildan sambil beranjak turun dari kasur. ​"Jangan lama-lama, Wil," balas Maya pelan. ​Wildan mengangguk dan berjalan ke kamar mandi kecil di sudut belakang. Suara keran air yang menyala langsung memecah kesunyian kamar kontrakan itu. ​Maya duduk bersandar di tembok dingin sambil menarik selimut menutupi dadanya. Tatapannya jatuh pada ponselnya yang tergeletak di lantai. Ia merogoh ponsel itu dan membuka kuncinya. ​Melihat kalender di layar, Maya sadar masa suburnya sudah lewat. Tadi malam, Wildan juga sudah menuntaskan tugasnya secara langsung, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari kejaran orang-orang Indra. ​"Urusannya udah selesai. Aku harus bayar dia sekarang," gumam Maya. ​Maya membuka aplikasi mobile banking. Ia menggunakan rekening rahasia atas nama

  • Kuli Gagah Spesialis   Candu

    "Aku … sekarang … aku pengin hamil bukan lagi demi warisan dari orang tua Mas Indra," ucap Maya tegas, matanya memancarkan amarah dan dendam yang selama ini ia pendam. "Dan aku juga udah nggak peduli lagi kalaupun akhirnya aku diusir dari rumah mewah yang rasanya kayak neraka itu.""Terus, buat apa Mbak bela-belain sejauh ini kalau bukan buat ngamanin posisi Mbak di keluarga itu?""Buat ngebuktiin ke mereka semua kalau aku nggak mandul, Wil!" desis Maya tajam. Jari-jarinya meremas seprai dengan kuat. "Selama ini ibu mertuaku selalu ngatain aku perempuan pembawa sial karena rahimku kosong. Mas Indra juga selalu mukulin aku buat nutupin kelemahannya sendiri. Sekarang, aku mau hamil buat ngebuktiin ke muka mereka kalau yang cacat dan bermasalah itu adalah Indra! Jaksa terhormat itu yang impoten, bukan aku!"Mendengar letupan amarah dan keputusasaan dari wanita di pelukannya, Wildan terdiam. Hatinya ikut mendidih membayangkan penderitaan mental yang harus ditanggung Maya bertahun-tahun.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status