Share

Chapter 14

Author: M. Sevian F
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-06 11:22:02

Pantulan di dalam mangkuk air itu tersenyum.

Lian tidak ikut tersenyum.

Ia justru mundur setengah langkah, menjaga jarak dari mangkuk batu yang berada di tengah ruangan. Tangan kanannya masih terasa seperti ditusuk jarum dari dalam. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa sakit menjalar sampai ke bahu.

Sosok di permukaan air tidak mengikuti gerakannya.

Pantulan itu tetap duduk di kursi besi, dengan kedua tangan terikat rantai hitam. Wajahnya samar, seolah seseorang telah menghapus bagian-bagian
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 14

    Pantulan di dalam mangkuk air itu tersenyum.Lian tidak ikut tersenyum.Ia justru mundur setengah langkah, menjaga jarak dari mangkuk batu yang berada di tengah ruangan. Tangan kanannya masih terasa seperti ditusuk jarum dari dalam. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa sakit menjalar sampai ke bahu.Sosok di permukaan air tidak mengikuti gerakannya.Pantulan itu tetap duduk di kursi besi, dengan kedua tangan terikat rantai hitam. Wajahnya samar, seolah seseorang telah menghapus bagian-bagian penting dari ingatan tentang dirinya.“Jadi,” kata Lian pelan, “kau mengaku sebagai orang yang kami cari?”“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku orang yang kalian cari.”“Benar juga. Kau hanya bilang namamu tidak pernah diberikan.”Mo Jian mengangkat pedangnya. Ujung bilahnya mengarah tepat ke permukaan air.“Cukup bermain kata. Siapa kau?”Sosok itu menoleh kepadanya.“Seorang murid Balai Pedang Putih masih membawa pedang yang sama. Kalian selalu menyukai jawaban yang bisa ditulis di laporan.”

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 13

    “Peringatan: saksi pertama bukan Tetua Shen.”Tulisan itu masih terpampang di halaman kitab ketika suara dari balik pintu kembali terdengar.“Lian, mundurlah. Apa pun yang kau dengar, jangan buka pintu itu.”Kali ini suara tersebut terdengar lemah. Ada bunyi napas berat di sela-sela kalimatnya, seolah orang yang berbicara sedang menahan rasa sakit.Lian menatap Yue Ning.“Menurutmu?”“Menurutku kita tidak punya cukup bukti untuk mempercayai siapa pun.”“Jawaban yang sangat menenangkan.”Mo Jian mengangkat pedangnya. “Kita harus menemukan jalan keluar sebelum pintu itu memutuskan untuk menutup dirinya sendiri.”Seolah memahami ucapannya, empat lubang pada permukaan pintu batu mulai berpendar. Cahaya muncul bergantian, membentuk pola yang menyerupai lingkaran terputus.Yue Ning segera mendekat.“Jangan sentuh apa pun.”Ia mengamati empat simbol yang terukir di sekitar lubang. Simbol lingkaran, garis pa

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 12

    “Lian, jangan percaya padanya.”Suara itu datang dari balik lorong.Suara Tetua Shen.Lian membeku sesaat. Ia mengenali suara serak itu, termasuk jeda pendek di antara kata-katanya. Namun, justru karena itulah ia tidak langsung bergerak.Di hadapannya berdiri sosok yang memakai suara Han Rui. Pergelangan tangannya memiliki tanda hitam melingkar, sama seperti bekas kutukan yang pernah Lian bakar di leher penjaga itu.Di belakang sosok tersebut, seseorang berbicara lagi.“Jangan dengarkan suara yang meniruku.”Lian memejamkan mata sebentar.“Bagus,” gumamnya. “Sekarang ada dua orang yang meminta dipercaya. Biasanya satu saja sudah cukup merepotkan.”Mo Jian mengangkat pedangnya. Yue Ning berdiri di samping meja batu, satu tangan menggenggam daftar nama yang mereka temukan.“Siapa kau?” tanya Mo Jian kepada sosok di lorong.Orang itu tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan lebih jauh.“Kitab itu. Sekarang.”“Kalau kau memang Han Rui, sebutkan nama orang yang menyelamatkanmu di gudang

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 11

    Batu nisan itu tidak memiliki nama, tetapi seseorang telah membersihkannya baru-baru ini.Lian menyadarinya ketika berjongkok di depan makam kecil di belakang aula leluhur Sekte Awan Hijau. Lumut masih menutupi sebagian permukaan batu, dan rumput liar tumbuh rapat di sekelilingnya. Namun, tanah tepat di depan nisan tampak lebih padat daripada tanah di sekitarnya. Ada bekas sapuan pada permukaan batu, seperti seseorang baru saja menghapus debu dengan kain basah.“Kalau ini makam orang yang tidak pernah mati,” gumam Lian, “berarti kita sedang mencari orang yang cukup merepotkan sampai-sampai kematiannya saja tidak bisa dipercaya.”Yue Ning meliriknya. “Kau masih sempat bercanda?”“Kalau aku berhenti bercanda, mungkin aku mulai panik. Aku lebih suka yang pertama.”Mo Jian tidak ikut menanggapi. Sejak meninggalkan aula leluhur, ia terus memeriksa pepohonan dan sudut bangunan, memastikan tak ada orang yang mengikuti mereka. Ia juga belum sepenuhnya pulih dari kenyataan bahwa Xu Wen, guruny

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 10

    Lian belum pernah berharap pulang ke sekte secepat ini.Biasanya, perjalanan kembali ke Sekte Awan Hijau berarti makan seadanya di jalan, mengeluh tentang tugas tambahan, lalu tidur sebelum seseorang menemukan alasan baru untuk menyuruhnya bekerja. Kali ini, setiap langkah terasa seperti menghitung waktu yang mungkin tersisa bagi seseorang.Tetua Shen berada di sana.Dan menurut kitab hitamnya, seseorang telah mencatat nama Lian jauh sebelum ia memahami warisan yang diterimanya.“Berapa lama lagi?” tanya Lian.“Kalau kau berhenti mengeluh, mungkin lebih cepat,” jawab Yue Ning.“Aku tidak mengeluh. Aku sedang memastikan kita semua menyadari bahwa kakiku punya batas.”“Kakimu baik-baik saja.”“Benar. Yang bermasalah adalah seluruh bagian tubuhku yang lain.”Yue Ning melirik lengan kanannya yang masih dibalut kain. Sejak bentrokan di rumah singgah, wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Ia telah mengganti balutan itu dua kali, tetapi warna gelap di sekitar pergelangan Lian belum s

  • Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam   Chapter 9

    Mo Jian tidak pernah menyangka akan mengarahkan pedangnya kepada gurunya sendiri.Namun, ujung pedang itu kini mengarah tepat ke dada Xu Wen.Pria berjubah putih tersebut tidak terlihat terganggu. Ia berdiri di ujung tangga ruang bawah tanah, satu tangan tersembunyi di balik lengan jubah, sementara matanya menyapu rak-rak dokumen dengan ketenangan seseorang yang sedang memeriksa barang miliknya.“Turunkan pedangmu, Jian,” katanya. “Kau membuat keadaan menjadi jauh lebih rumit daripada yang seharusnya.”Mo Jian mengatupkan rahang. “Laporan resmi menyatakan Anda meninggal tiga tahun lalu.”“Laporan resmi memang mengatakan banyak hal.”“Termasuk laporan tentang orang-orang yang dituduh melakukan ritual terlarang?”Xu Wen akhirnya menatapnya langsung.“Jadi, kau sudah membaca dokumen-dokumen itu.”“Aku menemukan nama Anda pada laporan yang dibuat setelah kematian Anda.”“Nama seseorang tidak selalu berarti orang itu masih hidup.”Lian mengangkat alis.“Kalau begitu, Guru Xu, saya berharap

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status