Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam

Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam

last updateHuling Na-update : 2026-10-26
By:  M. Sevian FIn-update ngayon lang
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
7Mga Kabanata
13views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

# Kultivator Iblis: Legenda Api Hitam Lian hanyalah murid tingkat rendah dari sekte kecil yang nyaris tak dikenal. Hidupnya sederhana, ambisinya tidak muluk-muluk, dan ia lebih suka menghindari masalah daripada mencari perkara. Namun, semuanya berubah setelah ia menyelamatkan seorang tetua sekarat dan mewarisi sebuah kitab kuno bernama *Kitab Api Hitam Penembus Dosa*. Teknik di dalamnya menyimpan rahasia kultivasi yang tak biasa. Semakin besar pengorbanan dan dampak nyata dari perbuatan baiknya, semakin kuat fondasi kekuatannya. Sayangnya, setiap kali Api Hitam bangkit, aura iblis menyelimuti tubuhnya, membuat orang-orang mengira ia adalah kultivator sesat yang mengincar nyawa manusia. Ketika niat baik justru menjadikannya buronan, Lian harus bertahan menghadapi sekte-sekte lurus yang menyembunyikan kebusukan di balik nama keadilan, musuh yang mengincar warisannya, dan rahasia kelam yang sengaja dihapus dari sejarah dunia kultivasi. Di dunia tempat reputasi bisa menentukan hidup dan mati, mampukah Lian mempertahankan prinsipnya tanpa kehilangan dirinya sendiri, atau akankah ia benar-benar menjadi iblis yang selama ini ditakuti semua orang?

view more

Kabanata 1

Chapter 1

“Pegang tanganku!”

Lian meraih pergelangan tangan bocah itu tepat ketika tanah di bawah kakinya runtuh.

Batu-batu kecil berjatuhan ke jurang. Debu beterbangan, bercampur dengan jeritan orang-orang yang berdiri beberapa langkah dari tepi tebing. Di bawah sana, kabut menutupi dasar lembah. Tak ada yang tahu seberapa dalam jurang itu, tetapi suara batu yang menghantam sesuatu di kejauhan cukup membuat siapa pun enggan mencari tahu.

Bocah itu menangis sambil mencengkeram lengan Lian.

“Kakak, aku takut!”

“Bagus. Berarti otakmu masih bekerja.” Lian mengatupkan gigi, berusaha mempertahankan pijakannya. “Sekarang, kalau kamu sudah selesai menangis, tarik tanganmu ke atas.”

“Aku tidak bisa!”

“Kalau begitu, kita punya masalah besar.”

Lian melirik tanah di bawah lututnya. Retakan tipis menjalar dari tepi tebing menuju tempatnya berlutut. Tanahnya gembur, terlalu gembur untuk menahan beban dua orang. Sementara itu, lengan bocah tersebut semakin licin oleh keringat.

Di belakang mereka, seorang perempuan berteriak histeris.

“Selamatkan anakku! Tolong, siapa saja!”

Dua pria dewasa berdiri di dekatnya. Salah satunya sudah menghunus pedang, tetapi bukan untuk membantu. Ia sibuk mengamati retakan tanah, seolah sedang menimbang apakah ada kemungkinan menyelamatkan bocah itu tanpa ikut mempertaruhkan nyawanya.

Lian tidak menyalahkannya.

Ia juga tidak ingin mati hari ini.

Sejujurnya, ia bahkan belum makan siang.

“Dengar,” katanya kepada bocah itu. “Aku akan menarikmu. Begitu kakimu menyentuh tanah, langsung merangkak menjauh. Jangan berdiri. Jangan berlari. Jangan melakukan hal bodoh. Mengerti?”

Bocah itu mengangguk cepat.

Lian mengubah posisi lututnya, mencari pijakan yang lebih stabil. Ia merasakan energi spiritual mengalir di dalam tubuhnya, tipis dan tersendat seperti aliran air melalui bambu yang tersumbat.

Sejak menemukan kitab tua itu tiga hari lalu, ia mulai merasakan perubahan aneh pada energi spiritualnya. Kadang mengalir lancar, kadang menghilang tanpa alasan. Setiap kali ia mencoba memahami teknik di dalam kitab, dadanya terasa panas.

Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan warisan misterius.

Lian menarik napas.

“Pegang erat-erat.”

Ia menghentakkan kaki, menarik bocah itu dengan seluruh tenaga.

Tubuh kecil itu terangkat beberapa jengkal. Untuk sesaat, Lian mengira mereka akan berhasil.

Lalu tanah di bawah lututnya ambles.

“Ah, sial!”

Dunia mendadak miring. Lian terjatuh ke depan, bahunya menghantam tanah. Bocah itu menjerit. Jari-jari kecilnya terlepas satu demi satu.

Lian meraih tangan bocah itu lagi, tetapi ujung jarinya hanya menyentuh kuku.

Terlambat.

Sesuatu di dalam dadanya berdenyut.

Panas.

Bukan panas seperti demam atau api biasa. Rasanya seperti ada bara yang selama ini terkubur jauh di dalam tulangnya, tiba-tiba membuka mata.

Kitab yang tersimpan di balik jubahnya bergetar.

Lian bahkan tidak sempat mengutuk.

Energi spiritual meledak dari telapak tangannya.

Api hitam menyembur keluar.

Tidak ada cahaya keemasan yang menyilaukan. Tidak ada suara merdu yang biasa digambarkan dalam kisah-kisah tentang kultivator legendaris. Api itu muncul tanpa suara pada awalnya, pekat dan gelap, seolah seseorang telah membakar sepotong malam.

Kemudian nyala itu menjalar di sepanjang lengan Lian.

Rasa sakit menyambar dari telapak tangan hingga bahunya. Ia menggertakkan gigi, tetapi tidak melepaskan bocah itu.

Api hitam melilit pergelangan tangan anak tersebut.

Lian menariknya sekuat tenaga.

Kali ini, bocah itu terlempar ke atas tebing. Tubuhnya menghantam tanah beberapa langkah dari tepi jurang, berguling dua kali sebelum berhenti.

Ia selamat.

Lian belum sempat merasa lega ketika suara retakan lain terdengar di belakangnya.

Sebongkah batu besar terlepas dari dinding tebing.

Batu itu jatuh tepat ke arahnya.

Lian mengangkat tangan secara refleks.

Api hitam berkumpul di depannya, membentuk sesuatu yang menyerupai telapak tangan raksasa. Bentuk itu tidak sepenuhnya padat. Tepiannya bergetar seperti asap, tetapi ketika batu menghantamnya, terdengar dentuman keras yang mengguncang tanah.

Batu tersebut terpental.

Lian terlempar ke belakang dan jatuh telentang.

Beberapa detik berlalu sebelum ia mampu bernapas dengan benar.

“Uhuk! Uhuk!”

Debu memenuhi mulutnya. Bahunya terasa seperti baru dihantam palu godam, sementara telapak tangannya mati rasa.

Ia mengangkat kepala.

Bocah itu sudah berada dalam pelukan ibunya.

Bagus. Setidaknya, ada satu hal yang berjalan sesuai rencana.

Lian mencoba bangkit. Namun, begitu ia bertumpu pada tangan kanannya, rasa sakit menusuk lengannya. Ia meringis dan memegangi pergelangan tangan.

“Sepertinya aku harus beristirahat beberapa hari.”

Ia baru saja selesai menggumamkan kalimat itu ketika seseorang menjerit.

“IBLIS!”

Lian menoleh.

Pria yang tadi menghunus pedang kini mundur dengan wajah pucat. Pedangnya terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah.

Lian mengikuti arah pandang pria itu.

Di belakangnya, api hitam masih berkumpul.

Nyala itu menjulang tinggi, membentuk siluet makhluk bertubuh besar dengan tanduk melengkung dan dua mata merah yang menyala di tengah kegelapan. Wujudnya tidak sempurna, lebih menyerupai bayangan yang dipaksa keluar dari tubuh Lian. Namun, bagi orang-orang yang menyaksikannya, bentuk itu cukup jelas untuk membangkitkan ketakutan.

Angin berembus melewati tebing.

Bau menyengat menyerupai belerang dan darah memenuhi udara.

Seorang perempuan jatuh terduduk.

“Teknik iblis...”

“Dia menggunakan teknik iblis untuk menyelamatkan anak itu?” seseorang berbisik.

“Jangan tertipu! Kultivator sesat bisa melakukan apa saja untuk menyesatkan orang!”

Lian berkedip.

Ia memandang bayangan raksasa itu, lalu melihat tangannya sendiri.

Api hitam berdenyut di sela-sela jarinya.

“Apa-apaan ini?”

Bayangan bertanduk di belakangnya bergerak mengikuti tubuhnya.

Lian mengangkat tangan.

Bayangan itu ikut mengangkat tangan.

Ia menurunkannya.

Bayangan itu melakukan hal yang sama.

“Hebat,” gumamnya. “Sekarang aku punya masalah baru yang bisa membuat hidupku semakin merepotkan.”

Tidak ada yang tertawa.

Ibu bocah itu justru memeluk anaknya lebih erat dan mundur beberapa langkah.

Lian mencoba berdiri dengan perlahan. Ia ingin menjelaskan bahwa dirinya sendiri tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Ia hanya ingin menyelamatkan anak itu. Tidak lebih.

Namun, sebelum ia sempat membuka mulut, perempuan itu menarik anaknya menjauh.

“Jangan mendekat!”

Lian berhenti.

“Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun.”

“Pembohong!” teriak pria bersenjata tadi. “Kalau kau bukan kultivator iblis, mengapa auramu seperti itu?”

“Aku juga ingin tahu.”

Jawaban jujur itu rupanya tidak membantu.

Pria tersebut mengambil pedangnya kembali. Tangannya gemetar, tetapi ia tetap mengarahkan ujung bilah ke arah Lian.

“Siapa gurumu? Sekte mana yang mengajarimu teknik terlarang?”

Lian menghela napas.

“Kalau aku tahu jawabannya, aku pasti sudah memberitahumu.”

“Berhenti berpura-pura!”

Api hitam di sekitar tubuh Lian mendadak bergejolak.

Ia tidak mengendalikannya. Bahkan, ia tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.

Rasa panas merambat ke dada, lalu menjalar ke leher. Sesaat kemudian, pandangannya menggelap di bagian tepi. Ia merasakan sesuatu di dalam tubuhnya terkuras, seolah api itu meminum energi spiritualnya sedikit demi sedikit.

Bayangan raksasa di belakangnya semakin besar.

Orang-orang berteriak dan berlarian.

Pria bersenjata itu menjadi orang pertama yang kabur. Dua kultivator lain menyusulnya, sementara beberapa penduduk mengangkat anak-anak mereka dan bergegas menjauh dari tebing.

Bahkan perempuan yang anaknya baru saja diselamatkan Lian ikut berlari.

Bocah itu sempat menoleh sekali.

Mata mereka bertemu.

Lian melihat ketakutan di wajahnya.

Bocah itu membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu kepada penyelamatnya. Namun, ibunya menarik tangannya dan membawanya pergi sebelum sepatah kata pun keluar.

Lian berdiri sendirian di tepi tebing.

Api hitam masih menyala.

“Padahal gue cuma mau bantu...”

Suaranya terdengar kecil di tengah angin.

Ia menatap tangannya cukup lama sebelum akhirnya memaksa dirinya duduk. Napasnya berat. Keringat dingin membasahi punggung. Ketika ia menyentuh telapak tangannya, kulit di sana terasa panas, tetapi tidak terbakar.

Apa pun teknik ini, jelas bukan sesuatu yang bisa ia gunakan sembarangan.

Lian menutup mata dan mencoba menenangkan energi spiritualnya. Ia mengikuti metode pernapasan dasar yang diajarkan di Sekte Awan Hijau, menarik energi sedikit demi sedikit ke pusat tubuh.

Perlahan, api hitam itu meredup.

Bayangan bertanduk di belakangnya menghilang.

Udara kembali normal.

Namun, sesuatu telah berubah.

Di balik jubahnya, kitab tua itu mengeluarkan denyut hangat.

Lian segera mengambilnya.

Sampulnya berwarna hitam kusam, tanpa judul yang bisa dibaca. Tiga hari lalu, kitab itu hanya tampak seperti benda tua yang kebetulan ditinggalkan seorang tetua sekarat di pinggir jalan. Sebelum meninggal, lelaki tua itu sempat mencengkeram lengan Lian dan memaksanya menerima kitab tersebut.

Ia bahkan tidak menjelaskan cara menggunakannya.

Hanya satu kalimat yang diucapkannya dengan suara serak.

*Jangan biarkan mereka menentukan dosa siapa yang pantas dibakar.*

Saat itu, Lian mengira lelaki tua itu sedang mengigau.

Sekarang, ia tidak terlalu yakin.

Kitab itu terbuka sendiri.

Halaman-halaman kosong yang sebelumnya tidak menunjukkan apa pun perlahan dipenuhi garis-garis merah gelap. Garis tersebut membentuk lambang menyerupai lingkaran yang terbelah oleh nyala api.

Di bawah lambang itu, muncul beberapa karakter kuno.

Lian tidak mengenal semuanya, tetapi dua kata masih bisa dibacanya.

**Api Hitam.**

Ia menyentuh halaman tersebut.

Seketika, rasa sakit menjalar ke ujung jari.

Sebuah bayangan muncul di benaknya. Bukan gambaran yang jelas, hanya sekilas pemandangan sebuah aula luas yang terbakar. Pilar-pilar batu runtuh. Sosok-sosok berjubah putih berlutut di antara puing-puing, sementara sesuatu yang hitam menyala di langit.

Lalu suara terdengar.

Jauh. Serak. Hampir seperti bisikan dari dasar sumur.

“Penerus... akhirnya...”

Lian tersentak.

Kitab itu menutup sendiri.

Ia menatap sampulnya dengan wajah masam.

“Tidak. Jangan mulai.”

Benda itu tidak bereaksi.

“Dengar, aku tidak tahu siapa pemilikmu sebelumnya. Aku juga tidak tahu kenapa api aneh itu keluar dari tanganku. Tapi kalau kau berencana membuatku dikejar seluruh dunia, setidaknya beri aku petunjuk yang berguna.”

Tetap tidak ada jawaban.

Lian memasukkan kitab itu kembali ke balik jubahnya.

Ia harus pulang sebelum malam. Bahunya perlu diperiksa, energi spiritualnya hampir habis, dan ia masih punya tugas membersihkan halaman luar sekte besok pagi. Tetua yang bertanggung jawab atas murid luar tidak akan peduli jika ia baru saja menyelamatkan seseorang dari jurang.

Paling-paling, ia akan mendapat tambahan hukuman karena terlambat.

Lian baru berjalan beberapa langkah ketika terdengar suara dari balik pepohonan.

“Apakah kau sudah melihatnya?”

Lian berhenti.

Dua orang berbicara tidak jauh dari jalan setapak. Mereka tidak menyadari keberadaannya karena tertutup semak-semak dan bebatuan.

“Melihat apa?”

“Api itu. Bentuknya sama seperti catatan yang disegel di Balai Penghakiman.”

Ada jeda.

“Kau yakin?”

“Tidak sepenuhnya. Manifestasinya terlalu lemah untuk dibandingkan dengan catatan asli. Tapi lambangnya... aku tidak mungkin salah mengenali lambang itu.”

Lian perlahan menunduk, berusaha tidak membuat suara.

Orang kedua berbicara lebih pelan.

“Kalau benar, kita harus segera melapor kepada Guru. Bukankah semua pewaris teknik itu sudah dibasmi ratusan tahun lalu?”

“Seharusnya.”

“Lalu siapa pemuda tadi?”

“Aku tidak tahu. Yang jelas, dia tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.”

Langkah kaki terdengar menjauh.

Lian tetap diam sampai suara mereka benar-benar menghilang.

Ia tidak mendengar seluruh percakapan itu. Namun, beberapa kata sudah cukup membuat kepalanya sakit.

*Dibasmi ratusan tahun lalu.*

*Tidak boleh dibiarkan tumbuh.*

Ia mengusap wajah.

“Hebat. Baru saja menyelamatkan satu anak, sekarang aku mungkin masuk daftar buronan.”

Dari kejauhan, lonceng kota berdentang tiga kali.

Lian memandang jalan menuju Sekte Awan Hijau. Untuk pertama kalinya sejak menerima kitab tua itu, ia mempertimbangkan kemungkinan membuangnya ke sungai dan berpura-pura tidak pernah melihatnya.

Gagasan itu terasa masuk akal.

Sangat masuk akal.

Sayangnya, tepat ketika ia hendak melangkah pergi, kitab di balik jubahnya kembali berdenyut.

Kali ini, sebuah kalimat muncul di permukaan sampulnya.

**Jejak karma pertama telah terbangun.**

Lian membeku.

Di bawah kalimat itu, tinta merah perlahan membentuk satu baris baru.

**Peringatan: seseorang telah mengenali Api Hitam.**

Angin berhenti bertiup.

Lian menatap tulisan tersebut tanpa berkedip.

Lalu ia mendongak, memandang jalan pulang yang tiba-tiba terasa jauh lebih panjang.

“...Aku benar-benar harus belajar bilang tidak.”

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
7 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status