“Pegang tanganku!”Lian meraih pergelangan tangan bocah itu tepat ketika tanah di bawah kakinya runtuh.Batu-batu kecil berjatuhan ke jurang. Debu beterbangan, bercampur dengan jeritan orang-orang yang berdiri beberapa langkah dari tepi tebing. Di bawah sana, kabut menutupi dasar lembah. Tak ada yang tahu seberapa dalam jurang itu, tetapi suara batu yang menghantam sesuatu di kejauhan cukup membuat siapa pun enggan mencari tahu.Bocah itu menangis sambil mencengkeram lengan Lian.“Kakak, aku takut!”“Bagus. Berarti otakmu masih bekerja.” Lian mengatupkan gigi, berusaha mempertahankan pijakannya. “Sekarang, kalau kamu sudah selesai menangis, tarik tanganmu ke atas.”“Aku tidak bisa!”“Kalau begitu, kita punya masalah besar.”Lian melirik tanah di bawah lututnya. Retakan tipis menjalar dari tepi tebing menuju tempatnya berlutut. Tanahnya gembur, terlalu gembur untuk menahan beban dua orang. Sementara itu, lengan bocah tersebut semakin licin oleh keringat.Di belakang mereka, seorang per
Última actualización : 2026-10-12 Leer más