Se connecterMalam masih belum benar-benar reda ketika Bara, Risa, dan Gerry turun dari atap Gedung Zenith. Mereka memilih jalan belakang, menghindari kemungkinan aparat atau robot patroli yang masih berkeliaran. Langkah mereka berat, bukan hanya karena lelah, tapi juga karena beban pikiran yang semakin menekan.
Risa berusaha memecah keheningan. “Bara, tadi… waktu gelangmu menyala, kau terlihat… berbeda. Seolah ada sesuatu yang bangkit dalam dirimu. Itu bukan hal biasa.” Bara hanya menunduk, napasnya dalam. “Aku sendiri tak tahu, Risa. Tapi gelang ini… jelas bukan sekadar warisan. Aku merasakan sesuatu terkunci di dalamnya. Sesuatu yang… menakutkan.” Gerry mendengus, meski matanya jelas menyimpan kekhawatiran. “Bagus, berarti kita sekarang punya satu lagi rahasia besar yang bisa meledak di wajah kita kapan saja.” Risa menoleh tajam. “Gerry! Ini bukan saatnya bercanda.” “Aku tidak bercanda!” balas Gerry cepat. “Kau pikir aku senang ikut terlibat dalam semua kekacauan ini? Aku cuma orang biasa! Dan sekarang, kita dikejar organisasi gelap, menghadapi teknologi gila, plus misteri kuno. Aku bahkan tak tahu besok masih bisa bangun hidup atau tidak!” Bara berhenti berjalan. Tatapannya dalam, suara rendah tapi tegas. “Kau benar, Ger. Semua ini gila. Tapi kalau kita berhenti sekarang, semua pengorbanan tadi akan sia-sia. Kau masih bisa mundur kalau mau. Aku tidak akan memaksa.” Keheningan sejenak. Gerry menunduk, mengepalkan tangannya. Lalu, dengan wajah masam, ia menggerutu. “Aku benci pilihan ini. Tapi aku juga benci jadi pengecut. Jadi… jangan harap aku mundur.” Risa tersenyum tipis meski matanya berkaca-kaca. “Kau memang cerewet, Gerry… tapi hatimu selalu benar.” Kedatangan yang Tak Diduga Saat mereka keluar dari gang sempit, sebuah suara pelan terdengar. “Hei. Jangan bergerak.” Sebuah siluet muncul dari balik bayangan. Seorang pria berambut panjang, mengenakan jaket kulit hitam, dengan mata tajam seperti serigala. Ia memegang pisau berkilau yang tampak tidak biasa. Risa langsung sigap, melindungi Bara. Gerry mundur selangkah dengan wajah kaget. Bara mengangkat tangannya perlahan. “Kami tidak mencari masalah.” Pria itu menatap mereka satu per satu, lalu matanya berhenti di gelang Bara. Cahaya lampu jalan memantul di matanya, membuat sorotnya semakin menajam. “Itu…” suaranya serak. “Kau pemegang Kunci Jiwa.” Bara menegang. “Siapa kau?” Pria itu menyarungkan pisaunya, lalu menunduk sedikit, seperti memberi hormat singkat. “Namaku Kael. Aku bukan musuh kalian. Justru aku sudah lama menunggu tanda itu. Gelangmu.” Kael, Sang Pengembara Mereka memutuskan berlindung di sebuah gudang tua untuk berbicara lebih aman. Dari sorot matanya, Kael bukan orang sembarangan. Ada aura kelelahan sekaligus keteguhan yang sulit dijelaskan. “Sejak kabut muncul, aku tahu waktunya sudah dekat,” kata Kael sambil menatap lantai kosong. “Aku pengembara jiwa. Tugasku mencari dan menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan dunia arwah. Tapi sejak Proyek Eclipse bergerak, keseimbangan itu terguncang.” Risa mencondongkan tubuh, penasaran. “Proyek Eclipse… apa sebenarnya itu?” Kael menghela napas panjang. “Sebuah eksperimen gila. Mereka ingin membuka gerbang kuno, menghubungkan manusia dengan entitas yang seharusnya terkunci ribuan tahun lalu. Kalau berhasil, dunia akan jadi medan perebutan jiwa. Bukan hanya manusia yang akan mati… roh-roh pun akan terseret.” Gerry langsung berdiri, wajahnya panik. “Hei, hei! Itu kedengarannya seperti akhir dunia! Dan kau bilang kita terjebak di tengahnya?” Kael menatapnya datar. “Bukan hanya terjebak. Kalian bagian dari kuncinya.” Bara menegang. “Maksudmu apa?” Kael menatap gelang Bara. “Kau pemegang Kunci Jiwa Cahaya. Ada tiga kunci lain: Kunci Bayangan, Kunci Darah, dan Kunci Langit. Siapa pun yang menguasai semuanya… bisa membuka gerbang itu.” Keheningan menyesakkan memenuhi ruangan. Luka Lama yang Terkuak Risa menunduk, suaranya lirih. “Kalau begitu… berarti kita harus menemukan kunci lain dulu, sebelum mereka melakukannya.” Kael mengangguk. “Benar. Tapi jalannya tidak mudah. Setiap kunci punya penjagaannya sendiri. Dan mereka… tidak akan menyerah begitu saja.” Bara menatap Kael dengan mata penuh curiga. “Dan apa jaminan kami bisa percaya padamu? Kau bisa saja bagian dari mereka.” Kael terdiam. Lalu perlahan ia membuka jaketnya, memperlihatkan bekas luka panjang di dada. Luka itu berwarna hitam keunguan, berdenyut samar seperti masih hidup. “Mereka mencoba menjadikan aku eksperimen. Aku hampir kehilangan jiwaku. Hanya karena aku pengembara jiwa, aku bisa bertahan. Tapi sebagian jiwaku… sudah hancur.” Matanya bergetar, ada amarah dan kesedihan yang nyata. “Aku tidak ingin ada orang lain merasakan ini.” Risa menutup mulutnya dengan tangan, menahan air mata. Gerry mengalihkan pandangan, wajahnya muram. Sementara Bara, meski masih curiga, bisa merasakan kejujuran dari nada suara Kael. Tekad Baru “Baiklah.” Bara akhirnya bersuara, nadanya tegas. “Kalau kau benar, maka kita tidak punya pilihan lain. Kita harus menghentikan Eclipse.” Kael menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Dan itu artinya… perjalanan kalian baru saja dimulai.” Di luar gudang, suara sirene polisi menggema. Kota masih kacau setelah insiden laboratorium. Tapi di balik kekacauan itu, sebuah peperangan jauh lebih besar sudah menunggu. Bara menggenggam gelangnya erat. Dalam hatinya, ada rasa takut, namun juga api tekad yang mulai menyala. Ia tahu, jalan ini berbahaya, penuh darah dan pengkhianatan. Tapi ia juga tahu, mundur bukan pilihan lagi. Di kegelapan malam, empat sosok itu, Bara, Risa, Gerry, dan Kae, lmelangkah keluar dari gudang tua. Mereka mungkin, terlihat rapuh, hanya manusia biasa dengan luka dan ketakutan. Namun di balik langkah mereka, ada takdir besar yang sedang menunggu untuk ditulis. Dan bayangan Eclipse… semakin dekat.Cahaya dipusat dunia berputar pelan seperti lingkaran putih yang terus berputar. Bara berdiri paling depan, tubuhnya tegak, tapi kedua tangannya terlihat gemetar. Kael mendekatinya. “Hei… jangan diam terlalu lama. Kau buat aku gugup.” Gerry mengangkat tangan. “Aku dari tadi gugup! Aarrghh… aku tidak mau mati di bab terakhir!” Liora menoleh tajam. “Gerry. Tenang.” “Aku mencoba tenang!” Gerry menekan dadanya. “Tapi tempat ini sangat menakutkan!” Risa melangkah mendekat sambil memegang bahu Bara. “Bara… apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” Bara menatap kepusat cahaya itu. “Jika aku tidak masuk ke inti, dunia akan runtuh. Tapi kalau aku masuk, mungkin aku tidak kembali.” Alen menarik baju Bara dari samping. “Paman Bara… jangan pergi sendirian…” Bara tersenyum kecil. “Paman tidak pergi untuk meninggalkan kalian. Paman pergi untuk membuat kalian tetap hidup.” Kael mengerutkan kening. “Kalau kau bicara seperti itu… terdengar seperti perpisahan.” “Karena memang begitu,” j
Suasana di ruang pusat semakin kuat. Cahaya dari inti dunia memancar dengan kuat, membuat bayangan bergerak seperti hidup. Bara berdiri paling depan, wajahnya tegang namun fokus. Kael melirik ke kiri dan kanan. “Sial… tempat ini seperti menunggu kita. Aku tidak suka tempat seperti ini.” Gerry menelan saliva. “Aduh… aku juga tidak suka. Kalau ini meledak, aku pasti pingsan.” Liora berjalan mendekati Bara. “Semua aliran energi ini mengarah padamu. Jika inti ini sudah aktif penuh, kau bisa terseret kedalamnya.” Bara menatap inti yang berputar terang. “Aku tahu. Tapi kita sudah terlalu jauh untuk mundur.” Risa mendekat sambil menggenggam tangan Alen. “Bara… apa kau yakin bisa menghentikan ini? Penjaga tadi mengatakan bahwa tidak ada jalan aman.” Bara menatap Risa. “Aku tidak butuh jalan aman. Aku butuh jalan yang tepat.” Kael mendengus. “Hei… jawabanmu itu selalu membuat aku tambah cemas.” Gerry langsung merespons cepat. “Iya! Kalau ada cara yang tidak membuat aku mati,
Bara berdiri di depan gerbang raksasa itu. Permukaannya berwarna abu gelap dengan garis cahaya tipis yang bergerak pelan, seperti nadi yang menunggu keputusan terakhir. Kael mendekat sambil mengusap wajahnya. “Aduh… tempat ini membuat kepalaku sakit. Gerbangnya seperti melihat kita.” Gerry memukul dadanya pelan. “Aarrghh… aku tidak mau masuk. Tolong katakan kalau kita punya pilihan lain.” “Tidak ada,” jawab Bara singkat. “Ini satu-satunya jalan menuju pusat.” Liora memeriksa ujung gerbang. “Bara, ada tanda Nada Ketiga di bagian samping.” Ia menyentuh sedikit, lalu menarik tangannya dengan cepat. “Panas.” Risa menggendong Alen lebih erat. “Jika kita masuk, apa yang menunggu kta di dalam?” Bara menatap gerbang itu tanpa bergeser. “Penentu akhir.” Kael menggeram pendek. “Brengsek… kalau yang menunggu itu makhluk aneh seperti Penjaga tadi, aku akan mundur sedikit, bukan lari, tapi… ya mundur.” Gerry menjitak lengannya sendiri. “Tolong jangan bercanda! Aku hampir pingsan
Lorong menuju pusat dunia semakin menyempit. Dinding batu bergetar pelan, seakan menolak kehadiran mereka. Kael mengangkat tangan. “Lihat itu… lantainya bergerak lagi.” Gerry langsung mundur satu langkah. “Aduh… jangan bergerak dulu. Kalau lantainya runtuh, aku ikut jatuh.” Liora menunduk, memperhatikan permukaan lantai yang bergeser perlahan seperti lempengan. “Ini bukan runtuhan. Ini sedang menyusun ulang jalurnya.” Kael mendesis. “Bagus sekali. Dunia ini punya kesadaran sekarang.” Bara berjalan paling depan. “Gerbang pusat ada di ujung koridor ini. Kita harus lanjut.” Risa memegang lengan Bara. “Tunggu. Saya dengar suara langkah dari kanan.” Kael menoleh cepat. “Apa lagi yang muncul kali ini?” Alen memegang tangan ibunya erat. “Ibu… aku dengar ada memanggil aku lagi.” Gerry langsung mengangkat kedua tangan. “Tidak! Jangan ikuti suara itu! Itu pasti jebakan! Pasti!” Liora menghunus belatinya. “Siap apa pun yang keluar.” Bara memejamkan mata sebentar, lalu men
Lorong terakhir itu terbuka perlahan, memperlihatkan cahaya putih dari dalam ruang pusat. Bara berdiri paling depan, menatap gerbang besar yang tampak seperti berlapis-lapis cahaya. Kael menelan ludah. "Aku tidak suka gerbang seperti ini. Terlalu sunyi. Biasanya ini pertanda ada sesuatu yang menunggu." Gerry mengangkat tangannya yang gemetar. "Aduh… Aku rasa lututku mau copot. Tolong jangan biarkan aku yang berjalan paling depan." Liora berdiri di sisi Bara, tatapannya tidak lepas dari cahaya di depan. "Begitu kita masuk, ruangan ini bisa menutup jalannya sendiri. Kita harus waspada." Risa mendekat sambil memeluk Alen. "Bara… apakah ini benar-benar titik akhirnya?" "Ya," jawab Bara dengan suara pelan. "Jika kita ingin menghentikan benturan Nada Ketiga, semuanya harus terjadi di dalam sana." Kael menepuk telapak tangannya. "Baik. Kalau begitu, kita masuk dan selesaikan saja." Gerry memekik pelan. "Aarrghh… itu kedengarannya seperti rencana yang sangat buruk, tapi aku ik
Lorong terakhir itu terbuka seperti pintu batu yang bergerak perlahan. Dari balik celah, cahaya putih menyebar perlahan, membuat bayangan mereka memanjang di lantai. Kael menahan napasnya. "Aduh… akhirnya. Tapi kenapa tempat ini terasa seperti ruang penghakiman?" Gerry memegangi dadanya. "Saya setuju. Kalau ini pusat dunia, saya berharap ada kursi empuk. Tapi seperti biasa… tidak ada apapun." Liora mengamati dinding yang penuh garis melingkar. "Energinya kuat. Pusat dunia sudah tidak jauh lagi." Bara berdiri paling depan. "Kita masuk perlahan. Jangan sampai terpisah." Risa menggenggam tangan Alen. "Nak, di sini tetap dekat ibu, ya. Jangan lihat ke mana-mana tanpa izin." Alen mengangguk. "Ya, Bu…" Mereka melangkah maju. Saat pintu terbuka lebar, sebuah ruangan besar menyambut mereka. Lantainya seperti piringan besar yang bergerak pelan. Cahaya turun dari atas, mirip hujan rintik. Kael mendesis. "Wah. Tempat ini lebih aneh dari yang aku bayangkan." Gerry menunjuk ke tengah rua







