Home / Fantasi / Kultivator Terlarang / Bab 2 Neraka Gadis Suci

Share

Bab 2 Neraka Gadis Suci

Author: Cahaya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-17 12:40:23

"Seret dia ke sini!" suara bentakan terdengar memecah keheningan dari arah luar.

"Jangan sampai dia bisa menggerakkan satu jari pun, Bawa Obat Pelumpuh Meridian ke sini" gumam suara pria lain, diiringi helaan napas kasar dan tawa terkekeh.

"Lepaskan... bajingan sekte..." suara wanita terdengar sangat lemah, terputus-putus oleh batuk yang berat. Uhuk! Uhuk! Darah kental menyembur, menetes ke atas tanah.

"Tetua... tidak akan pernah..."

"Tetua...?" tawa pria pertama pecah, terdengar begitu nyaring dan tajam.

"Siapa yang kau pikir memberikan Racun Pemutus Sukma ini padamu?

Tetua sendiri yang memerintahkan kami untuk membereskanmu setelah kau menolak menjadi wadah kultivasi ganda beliau."

Di balik kegelapan, Lu Chen memicingkan mata. Bibirnya yang kering melengkung, mengukir senyum penuh kepuasan yang dingin.

"Tidak mungkin..." Ye Qingyu tersengal, dadanya naik turun secara tidak teratur. Rintihan jijik terdengar saat jemari kasar merenggut paksa kerah bajunya.

Sret!

Kain sutra putih yang melambangkan status suci itu robek secara mendadak. Bau kain terbakar bercampur dengan bau racun yang menguar dari kulit Ye Qingyu.

"Wajah suci ini... bersikap sangat tinggi di hadapan kami selama bertahun-tahun," bisik murid pertama dengan napas memburu.

"Lihat dirimu sekarang. Hanya bangkai yang menunggu digilir!"

Tangannya menampar pipi Ye Qingyu dengan keras. Wajah wanita itu terlempar ke samping, sudut bibirnya pecah menyemburkan darah segar.

Ye Qingyu memejamkan mata rapat-rapat. Rasa jijik yang luar biasa memenuhi dadanya, membuat perutnya mual dan ingin muntah. Air mata dingin menetes melintasi pipinya yang lebam, membasahi kain bajunya yang terkoyak di bagian bahu.

"Saudara Lin, biarkan aku yang memegang tangannya dulu!" seru murid kedua dari belakang. Bunyi gesekan sabuk kulit dan denting pedang melayang kasar di udara.

"Racun ini membuat kulitnya sangat panas... ah, luar biasa!"

"Sabar...! Tetua bilang kita harus membagi hadiah ini merata," jawab murid bernama Lin itu sambil menahan kedua pergelangan tangan Ye Qingyu ke atas batu. Pria itu menindih tubuh Ye Qingyu yang gemetar hebat.

"Jurus Teratai Pembakar Jiwa milikmu tidak ada gunanya lagi, Ye Qingyu. Pasrah saja!"

Ye Qingyu merintih, mencoba menggeliat tetapi tenaganya benar-benar habis. "Lebih baik... aku mati..."

"Mati...?

Setelah kami bersusah payah membawamu ke sini?" Lin tertawa keras, jemarinya menekankan cengkeraman pada bahu Ye Qingyu yang terbuka, meninggalkan bekas kemerahan yang pekat.

"Kau akan melayani kami bertiga sampai pagi!"

Di dalam kegelapan yang pekat, Lu Chen menegakkan tubuhnya yang kaku. Setiap persendian berderak keras seperti rantai besi tua yang ditarik paksa.

Krek. Krek.

"Hei, kau mendengar sesuatu?" murid ketiga yang berdiri agak jauh mendadak menoleh, tangannya langsung memegang hulu pedang.

"Paling hanya tikus tanah yang memakan bangkai," sahut Lin tanpa menoleh, tangannya terus merobek bagian pinggang pakaian Ye Qingyu hingga terlepas. Jeritan ketakutan dan keputusasaan Ye Qingyu mengudara, memecah malam. "Fokus saja menahan kakinya!"

"Pedang Teratai Menyapu Udara!"

Sinar perak memancar saat pedangnya dicabut, menebas lurus ke arah kegelapan. Udara berdesing keras.

Brak!

Sinar pedang itu hancur berkeping-keping menjadi percikan cahaya sebelum sempat mencapai batas kegelapan. Sebuah tangan berkulit kelabu, kaku dan berlapis darah kering, muncul begitu saja dari dalam bayang-bayang.

"Siapa di sana?!" murid ketiga berteriak hysteria, suaranya melengking tinggi.

"Telapak Teratai Emas!"

Pria itu mendorong telapak tangannya ke depan, mengalirkan seluruh energi spiritualnya. Sebuah hantaman angin bertekanan tinggi meluncur deras. Namun, tangan kelabu itu hanya mengibaskan jemarinya, mematahkan tekanan angin itu seperti memecahkan kaca tipis.

Pyar!

"Apa-apaan....."

Belum sempat murid ketiga menyelesaikan kalimatnya, sesosok tubuh merayap maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bau busuk yang sangat pekat langsung menyergap penciuman Lin dan murid kedua.

"Saudara Lin! Ada mayat hidup!" murid kedua berteriak panik, melepaskan pegangannya pada kaki Ye Qingyu dan melompat mundur.

"Lu... Lu Chen?!" Lin tersedak ludahnya sendiri.

"Kau... kau sudah mati di Kuburan Darah! Dantianmu sudah hancur!"

Lu Chen tidak menjawab. Tidak ada ekspresi di wajahnya yang kaku. Dia hanya menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, menimbulkan bunyi patahan tulang yang mengerikan. Dari sepuluh jarinya, kuku-kuku menghitam memanjang seperti pisau belati tua.

"Jangan takut! Dia cuma mayat busuk yang bergerak memakai sisa sisa energy!" Lin berteriak memberi perintah, meski suaranya bergetar hebat. "Pakai Jurus Pedang Pemotong Iblis! Cincang dia!"

Kedua murid itu langsung melompat bersamaan. Dua bilah pedang bersinar terang, membawa angin tajam yang sanggup membelah batu besar.

Cles! Cles!

Dua pedang itu menancap tepat di dada dan bahu Lu Chen. Namun, tidak ada darah merah yang keluar hanya cairan hitam kental yang menetes perlahan.

"Bagaimana mungkin... pedang tidak bisa melukainya?!" murid kedua menjerit ketakutan, mencoba menarik kembali pedangnya tetapi pedang itu terkunci rapat di dalam daging keras Lu Chen.

"Mati..." bisik Lu Chen.

Brak...!

Logam tebal itu patah menjadi beberapa bagian. Sebelum kedua murid itu sempat bereaksi, Lu Chen mendorong telapak tangannya ke dada murid kedua.

"Jurus Tabu Alam Baka: Sentuhan Pembusukan!"

Brak!

Dada murid kedua ambles ke dalam. Tulang rusuknya hancur menembus jantung dan paru-parunya. Pria itu memuntahkan gumpalan darah hitam bercampur organ dalam yang membusuk secara mendadak sebelum roboh menghantam tanah, mati seketika.

"Iblis....! Dia menggunakan teknik iblis!" Lin berteriak histeris. Dia meninggalkan Ye Qingyu begitu saja di atas batu dan berbalik untuk berlari.

"Langkah Teratai Terbang!"

Tubuh Lin melesat beberapa meter ke depan dengan sangat cepat.

Namun, Lu Chen tidak melangkah. Energi hitam meluncur dari telapak tangannya, merayap di tanah seperti ular berbisa dan mengikat kedua kaki Lin.

Bruk!

Lin tersungkur keras, wajahnya menghantam batu tajam hingga hidungnya hancur dan berdarah.

"Jangan... jangan bunuh aku! Aku punya obat penyembuh! Aku punya batu spiritual!" Lin merintih, merayap mundur sambil menatap Lu Chen yang berjalan mendekat tanpa suara.

Langkah kakinya begitu ringan, hampir tidak berjejak di atas tanah.

Ye Qingyu, yang terbaring lemas dengan baju terkoyak, menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak.

"Lu... Chen...?" bisik Ye Qingyu dengan suara yang hampir tak terdengar, tenggorokannya terasa sangat kering.

Lu Chen berhenti tepat di atas tubuh Lin yang bergetar hebat di tanah. Dia tidak melihat ke arah Ye Qingyu sedikit pun. Matanya hanya tertuju pada leher Lin yang naik turun ketakutan.

"Tolong... saudara Lu, kita dulu satu sekte..." Lin menangis, air mata dan darah bercampur di wajahnya yang hancur.

"Ini semua perintah Tetua! Aku hanya..."

Sret!

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kultivator Terlarang   Bab 11 Remukan Jiwa

    "Hancur menjadi abu, bangkai haram!" Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi udara yang pengap oleh racun. Lu Chen menekuk kedua lututnya. Tulang paha kanannya berkerut patah akibat tekanan gravitasi formasi. KRAK! Darah hitam pekat menyembur keluar dari telinga dan celah matanya, menetes basah ke atas ubin batu yang panas. Namun, bibirnya yang pecah dan mengering perlahan terangkat. Sebuah seringai dingin melukis wajahnya yang pucat pasi. "Petir hukum?" Lu Chen berbisik parau, suara gesekan tenggorokannya ter

  • Kultivator Terlarang   Bab 13 Perlindungan dalam Kegelapan

    "Kalau ada yang bersuara, aku akan memotong lidahnya sendiri!" Tekanan jari Ye Qingyu yang kaku mendorong punggung seorang anak kecil menembus celah sempit di balik reruntuhan dinding. Bau tanah basah, jelaga kayu, dan debu batu hitam yang tajam menyengat hidung. Dari lorong bawah tanah yang gelap di belakang mereka, dengusan napas puluhan anak yang ketakutan beradu dengan gemercik air cuka yang menetes dari pakaian basah mereka. KRAK! "Serahkan anak-anak itu atau aku cincang lehermu!" Sesosok prajurit penjaga sekte mendadak melompat dari balik puing batu, mengayunkan golok besarnya lurus ke dada Ye Qingyu. Ye Qingyu tidak sempat menangkis sempurna. Bintik-bintik cahaya hitam menari liar di depan matanya saat rasa sakit dari tulang selangkanya yang patah berdenyut hebat. Ia memiringkan bahunya paksa. CRASH!

  • Kultivator Terlarang   Bab 12 Memanen Daging Tetua Sekte

    Cairan asam dari kabut darah mendesis kencang, mengikis pakaian kotor dan kulit dada Lu Chen yang mati hingga membumbungkan asap kelabu berbau busuk. Di tengah tirai merah kental yang membatasi jarak pandang hingga dua telapak tangan, suasana aula bawah tanah terasa begitu mencekam. Srrrt... KRAK! Di dalam genangan darah kental beberapa langkah di depan Lu Chen, tubuh Tetua Gu yang tadi dilemparkan tanpa nyawa mendadak berkedut liar. Retakan pada lehernya yang patah berbunyi gemeratak mengerikan. "Ukkkh... HAAAAHHH!" Tetua Gu tersedak hebat saat matanya yang tadinya meredup mendadak membelalak penuh urat darah. Biji mata itu memutar liar sebelum terkunci pada sosok Lu Chen. Jiwa dan pusat energi Fondasi Teratai milik sang tetua menolak mati begitu saja; ia menggunakan sisa teknik tabu pemurnian darah di dalam kolam untuk memaksa jantungnya berdetak kembali, mengubah sisa hidupnya menjadi histeria kematian yang brutal.

  • Kultivator Terlarang   Bab 10 Kebenaran yang Menyengat

    "Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t

  • Kultivator Terlarang   Bab 9 Buronan Berdarah

    Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus

  • Kultivator Terlarang   Bab 8 Bantai di Kedai Remang

    "Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status