LOGIN"Jurus Pedang Teratai!"
Bilah baja meluncur deras, membelah udara dengan dengungan hawa murni yang tajam. Lu Chen tidak bergeming. Dia membiarkan ujung pedang itu menancap tepat di dada kanannya, menembus sela-sela tulang rusuk hingga terdengar bunyi krek! yang memuakkan. Jleb.! "Kenapa... kenapa pedangku tidak sanggup membelah badanmu?!" murid ortodoks itu berteriak histeris. Matanya membelalak penuh kengerian. "Pusat tenaga dalammu sudah hancur! Jalur tenaga dalammu putus!" Lu Chen tidak menjawab. Lidahnya terasa asing di dalam mulut yang penuh rasa logam dan empedu yang pecah. Tangan kirinya melengkung seperti cakar busuk, meluncur lurus ke depan. Kuku-kukunya yang menghitam merobek kulit leher murid itu tanpa hambatan, memutus urat tenggorokan dalam satu sentakan kasar. Sret! Darah segar memancar deras. Murid itu tersedak, matanya mendelik ke atas sebelum tubuhnya ambruk melenting di atas genangan darah teman-temannya. "Mati kau, monster!" seru murid terakhir. Dia menghentakkan kakinya ke tanah, memicu hawa murni secara brutal. "Telapak Suci..!" Dua hantaman telapak tangan berlapis hawa murni menghantam dada Lu Chen. Brak! Tulang dadanya ambles ke dalam. Pusat tenaga dalamnya yang pecah bergetar hebat, merobek seluruh jalur tenaga dalam di sekujur tubuhnya. "Lihat! Dia memuntahkan organ dalamnya!" teriak murid itu dengan nada gemetar. "Dia pasti...." Kalimat itu terputus selamanya. Lu Chen melangkah maju sebelum gelombang kejut serangannya mereda. Tangan kanannya menjangkau leher murid itu, melilitkan jari-jarinya di sekeliling tenggorokan korban. Dengan sisa hawa murni kematian, Lu Chen memutar tangannya seratus delapan puluh derajat. KRAK! Kepala murid itu terkulai ke samping. Tubuhnya meledak pelan dari dalam akibat pembalikan hawa murni, menyemburkan serpihan tulang dan darah hangat ke baju Lu Chen yang terkoyak. Langkah kaki Lu Chen berbunyi seret saat mendekati sosok Ye Qingyu. Wanita suci dari Sekte Teratai Putih itu terbaring melingkar di atas genangan darah. Wajahnya yang semula seputih pualam kini dipenuhi bercak keunguan yang menjalar dari leher hingga pelipis. "Kau..." Ye Qingyu berbisik parau. Kelopak matanya yang kaku terbuka sedikit. "....Pembunuh..." "Pusat tenaga dalammu ditutupi racun. Jalur tenaga dalammu membeku." Ye Qingyu memalingkan wajahnya. "Lebih baik... aku hancur..." "Sepuluh menit," potong Lu Chen. Suaranya serak, terputus oleh batuk kecil memuntahkan darah kental. "Dalam sepuluh menit, Racun Jiwa membusukkan jantungmu dari dalam. Dan tubuhku... meledak menembus tulang rusukku sendiri." Ye Qingyu terdiam. Bibirnya yang membiru bergetar. Rasa dingin melumpuhkan setiap ujung sarafnya, membuat tubuhnya terasa seperti ditindih lempengan besi pijar. Jemarinya yang berdarah mencengkeram dagu Ye Qingyu, memaksa wanita itu menatap matanya yang menghitam. "Penyatuan hawa murni. Hawa murni kematianku membakar racunmu, hawa murni Yin murni milikmu menstabilkan pusat tenaga dalamku." "Gila..." Ye Qingyu tersengal, dadanya sesak luar biasa. "Kau... ingin mencemarkan... tubuhku..." "Pilih," kata Lu Chen tanpa emosi. "Membusuk menjadi ulat di tempat ini... atau bertahan hidup untuk membalas dendam pada sekte ortodoksmu." Kata 'balas dendam' menghantam kesadaran Ye Qingyu bagai godam besi. Bayangan pengkhianatan tetua sektanya dan rasa jijik yang membakar jiwanya bersatu menjadi kebencian pekat. Ye Qingyu menggigit bibirnya hingga darah merah segar mengalir melintasi dagunya. "Lakukan..." desis Ye Qingyu dengan suara pecah oleh kepasrahan dan kengerian. "Tapi jika... aku selamat... aku akan mencabut... jantungmu..." Lu Chen tidak membalas. Ia merenggut sisa kain yang menutupi dada dan perut Ye Qingyu. Kain sutra yang basah oleh racun robek besar. Kulit halus Ye Qingyu yang terpapar hawa dingin bergetar hebat, memperlihatkan jejak urat keunguan yang menonjol akibat penumpukan racun. Lu Chen menindih tubuh wanita itu. Kontak fisik pertama mengirimkan gelombang kejut mengerikan. Kulit Ye Qingyu yang sedingin es membentur kulit Lu Chen yang sepanas bara api. "Ngh... akh....!" Ye Qingyu menjerit tertahan. Matanya membelalak sempurna saat Lu Chen memaksa penyatuan fisik terjadi secara langsung, tanpa kelembutan atau jeda sedikit pun. Penyatuan Teknik Tabu alam baka dimulai. Pusat tenaga dalam Lu Chen yang retak menyemburkan arus hawa murni kematian yang pekat, meluncur masuk secara kasar ke dalam jalur tenaga dalam Ye Qingyu yang tersumbat. Sensasinya adalah invasi brutal yang membakar. "Ah... ahh.... oh......! Sakit! Hentikan!" Ye Qingyu melengkungkan punggungnya ekstrem. Kedua tangannya mencengkeram pundak Lu Chen, kuku-kukunya menancap dalam-dalam ke luka terbuka di daging pria itu. "Tahan jalur tenaga dalam pusatmu!" bentak Lu Chen di depan wajah Ye Qingyu. Peluh dingin dan darah dari dahinya menetes tepat di atas pipi Ye Qingyu. "Jika kau kehilangan kendali, hawa murniku mengoyak rahim dan jantungmu!" Ye Qingyu menggelengkan kepalanya liar. Desahan dan erangan penuh penderitaan keluar bersahut sahutan dari tenggorokannya yang mengering. "Ngh... hhh... tidak... ini... terlalu..." Ye Qingyu merintih keras, matanya berkaca-kaca saat gelombang kejut energi Yin murni dari dalam tubuhnya tersedak keluar, tertarik secara paksa menuju pusat tenaga dalam Lu Chen. Dari dalam genangan darah kental murid-murid ortodoks yang tewas, bayangan hitam tanpa wujud mulai bermunculan. Sosok hantu tanpa mata, dengan mulut ternganga lebar melontarkan jeritan bisu, merayap naik dan mengelilingi tubuh mereka berdua. Jari-jari hantu yang sedingin kuburan menyentuh paha, pinggul, dan punggung Ye Qingyu yang bersimbah keringat. Ye Qingyu memekik ketakutan, tubuhnya gemetar makin meliar di bawah cengkeraman Lu Chen. "Ada... ada yang memegangku! Lu Chen! Apa itu?!" "Abaikan mereka!" Lu Chen menggeram rendah, meremas pinggul Ye Qingyu untuk mengunci posisinya. "Mereka adalah sisa jiwa yang tertarik oleh hawa murni kematian. Fokus pada pusaran tenaga dalammu!" Bayangan-bayangan hantu itu terus berputar, memberikan rasa dingin horor yang menusuk kalbu, sementara penyatuan fisik di antara mereka berdua semakin intens dan tak terkendali. Krek! Krek! "Ah... ahh! Lu Chen...!" Ye Qingyu mencengkeram punggung Lu Chen, jeritan kepuasan dan kengerian pecah bersamaan saat gelombang hawa murni Yin dan kematian menyatu secara sempurna di titik puncak. Rintihan dan desahan napasnya yang berat menggema di antara kepungan hantu-hantu tanpa mata. Lu Chen menggeram panjang, dadanya naik turun tajam saat keseimbangan hawa murni akhirnya tercapai di dalam tubuhnya. Tubuh Ye Qingyu bergetar hebat dalam kejang energi yang sangat dahsyat. Pusat tenaga dalamnya yang sebelumnya mati kini berputar kembali dengan kecepatan gila, menyapu bersih seluruh sisa Racun Jiwa hingga menguap menjadi asap hitam dari mulutnya. "Ugh...!" Ye Qingyu membelalak, dadanya melengkung naik. Ye Qingyu meraba dadanya dengan tangan yang bergetar hebat, merasakan denyut janggal yang berdetak persis sejajar dengan detak jantung Lu Chen. "Apa... apa yang kau lakukan padaku...?""Hancur menjadi abu, bangkai haram!" Tetua Gu meraung hysteris, menekan tongkat kayu Cendana ke lantai hingga retakan bercahaya merah meledak. KABOOM! Petir emas itu menghantam dada Lu Chen yang berlubang secara bertubi-tubi. Jleb! Jleb! KRAK! Kilatan hukum alam merangsek masuk, menembus raga kaku dan langsung membakar inti jiwanya. Bau sangit daging terbakar bertukar dengan aroma sengatan ozon yang tajam, memenuhi udara yang pengap oleh racun. Lu Chen menekuk kedua lututnya. Tulang paha kanannya berkerut patah akibat tekanan gravitasi formasi. KRAK! Darah hitam pekat menyembur keluar dari telinga dan celah matanya, menetes basah ke atas ubin batu yang panas. Namun, bibirnya yang pecah dan mengering perlahan terangkat. Sebuah seringai dingin melukis wajahnya yang pucat pasi. "Petir hukum?" Lu Chen berbisik parau, suara gesekan tenggorokannya ter
"Kalau ada yang bersuara, aku akan memotong lidahnya sendiri!" Tekanan jari Ye Qingyu yang kaku mendorong punggung seorang anak kecil menembus celah sempit di balik reruntuhan dinding. Bau tanah basah, jelaga kayu, dan debu batu hitam yang tajam menyengat hidung. Dari lorong bawah tanah yang gelap di belakang mereka, dengusan napas puluhan anak yang ketakutan beradu dengan gemercik air cuka yang menetes dari pakaian basah mereka. KRAK! "Serahkan anak-anak itu atau aku cincang lehermu!" Sesosok prajurit penjaga sekte mendadak melompat dari balik puing batu, mengayunkan golok besarnya lurus ke dada Ye Qingyu. Ye Qingyu tidak sempat menangkis sempurna. Bintik-bintik cahaya hitam menari liar di depan matanya saat rasa sakit dari tulang selangkanya yang patah berdenyut hebat. Ia memiringkan bahunya paksa. CRASH!
Cairan asam dari kabut darah mendesis kencang, mengikis pakaian kotor dan kulit dada Lu Chen yang mati hingga membumbungkan asap kelabu berbau busuk. Di tengah tirai merah kental yang membatasi jarak pandang hingga dua telapak tangan, suasana aula bawah tanah terasa begitu mencekam. Srrrt... KRAK! Di dalam genangan darah kental beberapa langkah di depan Lu Chen, tubuh Tetua Gu yang tadi dilemparkan tanpa nyawa mendadak berkedut liar. Retakan pada lehernya yang patah berbunyi gemeratak mengerikan. "Ukkkh... HAAAAHHH!" Tetua Gu tersedak hebat saat matanya yang tadinya meredup mendadak membelalak penuh urat darah. Biji mata itu memutar liar sebelum terkunci pada sosok Lu Chen. Jiwa dan pusat energi Fondasi Teratai milik sang tetua menolak mati begitu saja; ia menggunakan sisa teknik tabu pemurnian darah di dalam kolam untuk memaksa jantungnya berdetak kembali, mengubah sisa hidupnya menjadi histeria kematian yang brutal.
"Suara rantai itu... Tetua Gu?" Ye Qingyu mundur setengah langkah, pedangnya bergetar hingga beradu kaku dengan sarung di pinggangnya. Bau minyak wangi mahal bertabrakan dengan uap amis darah anak-anak di dalam tabung, memicu rasa mual yang melilit perutnya. Dari balik bayangan kompor pemurnian raksasa, Tetua Gu melangkah keluar. Pria tua berpakaian jubah putih bersulam benang emas itu memutar dua buah bola giok di telapak tangan kirinya dengan gerakan tenang. "Qingyu...," suara Tetua Gu terdengar begitu lembut, seolah sedang menyapa di ruang latihan puncak gunung. "Aku tidak menyangka kau akan menyusup sampai ke ruangan pemurnian pribadi ini bersama bangkai bergerak itu." "Tetua... ini semua..." Ye Qingyu menunjuk tabung kaca dengan jari gemetar, suaranya tercekat dan pecah. "Anak-anak ini... Sekte Teratai Putih... jalan ortodoks yang kita bela..." Tetua Gu terkekeh pelan, menghentikan putaran bola giok di t
Bab 9: Buronan Berdarah "Kunci semua pintu gerbang! Jangan biarkan seekor lalat pun keluar!" Teriakan panglima pengawal Sekte Teratai Putih bergema dari atas gerbang benteng, memotong suara jeritan warga fana yang berlarian di jalanan. "Lu Chen, formasi pelindung kota sudah aktif sepenuhnya!" bisik Ye Qingyu sambil merapatkan tubuhnya ke dinding lorong parit yang berlendir. "Semua gerbang utama dijaga oleh sepuluh tetua luar. Kita terjebak di dalam!" Lu Chen sama sekali tidak melambatkan langkahnya saat keluar dari mulut parit pembuangan.. Ia menancapkan jari-jari tangan kirinya lurus ke dalam tanah lumpur di bawah kakinya. "Pengumpulan Mayat: Bangkitnya Penghuni Kegelapan!" Brak! CRASH! Tanah parit dan papan-papan drainase kota meledak mendadak. Dari balik lumpur hitam dan selokan yang membusuk, puluhan tangan manus
"Pengawal kota tidak akan pernah sampai tepat waktu untuk menyelamatkan nyawamu!" Surya, pemilik kedai, berteriak dari balik asap keunguan yang mengepul dari lubang atap. Melihat kembang api sinyal bahaya menyala di luar, ia mengayunkan pisau daging tebalnya yang lengket oleh minyak tengik, memimpin dua perampok tersisa untuk merangsek maju. "Bos, lihat dia! Racun Pemutus Nadi sudah memenuhi paru parunya saat dia melangkah keluar!" jerit perampok bertubuh kekar. "Serangga ini cuma menggertak! Ratakan dia!" "Dobrak dan cincang!" raung Zhao. BRAK! Perampok bertubuh kekar melompat paling depan, memanfaatkan pedang Lu Chen yang masih terseret di lantai kayu. Bilah kait membelah asap racun, menyambar lurus ke leher Lu Chen. Namun, sebelum besi dingin itu menyentuh kulitnya, tangan kiri Lu Chen melesat memotong jalur serang seperti kilat hitam. Sret! KRAK! "Uk







