Compartilhar

Kejutan (part 2)

Autor: BoardMarker
last update Data de publicação: 2026-09-01 11:35:04

Kyai Slamet mengambil cobek kecil berisi kemenyan, lalu menyalakannya dengan korek api. Api kecil membakar kemenyan, mengeluarkan asap putih tipis yang mengepul ke udara. Aroma kemenyan yang khas, wangi, sedikit tajam, tetapi menenangkan, mulai memenuhi ruangan.

"Mas Wandi, duduk yang tenang. Pejamkan mata. Atur napas. Biarkan pikiran Mas kosong."

Wandi memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Tangannya di atas pangkuan, telapak tangan menghadap ke atas. Dia mencoba mengosongkan pikirannya
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Kurir Pemilik Sistem   Kejutan (part 4)

    Arini menghela napas panjang. "Baiklah. Aku percaya. Kamu tidak pernah berbohong padaku.""Terima kasih, Rin."Noval yang dari tadi asyik bermain dengan mobil-mobilan Hot Wheel di lantai, tiba-tiba berhenti. Dia menatap tas ransel hitam di atas meja."Pa, itu tas apa? Kok belum pernah diliat?" tanya Noval.Wandi menoleh ke tas ransel. "Itu tas Papa, Nak. Isinya keris.""Keris? Apa itu keris?""Keris itu... senjata tradisional Jawa. Bentuknya seperti pisau, tapi berkelok-kelok.""Kayak apa, Pa? Noval mau lihat."Wandi ragu sejenak. Dia menatap Arini. Arini mengangguk."Perlihatkan saja, Wan. Dia anak-anak. Tidak akan mengerti.""Baik."Wandi berdiri, mengambil tas ransel, lalu membukanya perlahan. Dia mengeluarkan bungkusan kain beludru hitam, lalu meletakkannya di atas meja. Dengan hati-hati, dia membuka kain beludru itu.Keris itu tergeletak di atas meja, bilahnya yang berkelok sebelas luk berkilauan di bawah cahaya matahari siang yang masuk melalui jendela. Gagang kayu hitam dengan

  • Kurir Pemilik Sistem   Kejutan (part 3)

    Wandi membungkus keris itu dengan kain beludru, memasukkannya ke tas ransel, lalu berdiri. Dia menyalami Kyai Slamet, memberinya amplop berisi uang sebagai tanda terima kasih."Kyai, saya pamit.""Hati-hati di jalan, Mas. Keris ini sekarang titipan Tuhan kepada Mas. Jangan sia-siakan.""Tidak akan, Kyai."Wandi berjalan keluar. Di luar, matahari sudah semakin tinggi. Wandi menaiki NMAX hitamnya, menyalakan mesin, dan melaju meninggalkan gang sempit.Pikirannya masih kacau. Tapi hatinya tenang."Aku keturunan prajurit Kerajaan Sunda. Keris ini adalah warisanku. Dan aku akan menjaganya."Di luar, matahari sudah semakin tinggi. Jakarta di pagi hari tetap sibuk, tetapi Wandi tidak merasakan kebisingan. Pikirannya masih dipenuhi dengan penglihatan di alam batin, sosok pria tua dengan janggut putih, cahaya keemasan, kata-kata tentang keturunan prajurit Kerajaan Sunda."Kamu tidak sendirian."Wandi menaiki NMAX hitamnya, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan gang sempit. Minimap

  • Kurir Pemilik Sistem   Kejutan (part 2)

    Kyai Slamet mengambil cobek kecil berisi kemenyan, lalu menyalakannya dengan korek api. Api kecil membakar kemenyan, mengeluarkan asap putih tipis yang mengepul ke udara. Aroma kemenyan yang khas, wangi, sedikit tajam, tetapi menenangkan, mulai memenuhi ruangan."Mas Wandi, duduk yang tenang. Pejamkan mata. Atur napas. Biarkan pikiran Mas kosong."Wandi memejamkan mata. Dadanya naik turun perlahan. Tangannya di atas pangkuan, telapak tangan menghadap ke atas. Dia mencoba mengosongkan pikirannya, mencoba tidak memikirkan Arini, Noval, Andre, atau masalah-masalah lain. Fokus hanya pada keris. Pada getaran yang dia rasakan ketika memegang keris itu."Mas Wandi, sekarang buka mata."Wandi membuka mata. Asap kemenyan mengepul di depannya, membentuk lingkaran-lingkaran yang perlahan menghilang."Mas Wandi, ambil keris itu. Pegang dengan kedua tangan. Rasakan."Wandi meraih keris itu. Gagang kayu hitam terasa dingin di telapak tangannya. Tapi tidak lama kemudian, dingin itu berubah menjadi h

  • Kurir Pemilik Sistem   Kejutan (part 1)

    Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan ritual yang akan dia jalani pagi ini. Dia sudah memeluk Arini dan Noval sebelum mereka tidur, dan Arini sempat bertanya, "Wan, kamu kenapa gelisah?" Wandi hanya menjawab, "Besok aku ada urusan penting, Rin. Doakan aku." Arini mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut.Wandi bangkit dari kasur, berjalan ke kamar mandi, dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia menatap bayangannya di cermin, wajah yang kini tidak lagi kusam, mata yang tajam, dan tubuh yang kekar. Dia mengambil handuk, mengelap wajahnya, lalu berjalan ke lemari.Di dalam lemari, terbungkus kain beludru hitam, keris

  • Kurir Pemilik Sistem   Panik (part 4)

    Wandi tersenyum. "Selamat pagi, Kyai. Saya Wandi. Saya ingin berkonsultasi tentang keris."Kyai Slamet mengerjap. "Keris? Mas punya keris?""Iya, Kyai. Keris pusaka. Kerajaan Sunda. Abad ke-14."Kyai Slamet terdiam. Matanya membeliak. "Kerajaan Sunda? Abad ke-14? Mas, itu barang sangat langka. Boleh saya lihat?"Wandi menggeleng. "Maaf, Kyai. Kerisnya tidak saya bawa. Saya takut... takut terjadi sesuatu.""Takut terjadi apa?""Keris itu... aneh, Kyai. Beberapa hari yang lalu, keris itu sudah saya jual ke toko barang antik. Lalu toko itu menjualnya ke kolektor di Surabaya. Tapi kemarin malam... keris itu muncul di meja kamar saya."Kyai Slamet mengerjap. "Muncul? Maksud Mas, keris itu tiba-tiba ada di meja Mas?""Iya, Kyai. Saya tidak tahu bagaimana bisa. Pintu terkunci. Tidak ada yang masuk. Tiba-tiba keris itu sudah ada di sana."Kyai Slamet menarik napas panjang. "Mas, ini serius. Keris itu mungkin 'nggolek' mencari pemiliknya. Keris itu memilih Mas sebagai pemilik yang sah.""Tapi

  • Kurir Pemilik Sistem   Panik (part 3)

    Dia mengambil jaket jeans dari belakang pintu, jaket yang sama yang dia kenakan sejak dulu, jaket yang menemani perjuangannya dari kurir hingga menjadi kaya raya. Jaket itu sudah usang, sobek di siku, tetapi masih hangat. Dia mengenakannya, lalu mengambil helm hitam dari gantungan di samping pintu. Helm itu sudah lama, ada goresan di sisi kiri, tetapi masih layak pakai.Wandi membuka pintu, melangkah keluar. Udara pagi yang sejuk menyambutnya, membawa bau tanah basah dan dedaunan dari halaman. Dia berjalan ke NMAX, duduk di jok, dan memasukkan kunci kontak.Brumm... Mesin menyala dengan suara halus khas motor matic.Wandi tidak segera menarik gas. Dia duduk sejenak, memejamkan mata, mencoba memanggil minimap di sudut pandangannya."Minimap, tolong tunjukkan... siapa ahli keris di Jakarta? Siapa yang bisa aku temui? Siapa yang bisa mengajariku tentang benda ini?"Tidak ada suara. Tidak ada respons verbal. Tapi di pojok kanan bawah pandangannya, peta kecil berwarna biru gelap muncul. Ga

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status