Tina tidak menjawab. Matanya menyapu Wandi dari ujung rambut yang acak-acakan sampai sepatu bot yang masih berlumur debu dan darah kering. Tatapan itu dingin, datar, seperti memandang orang asing yang baru masuk ke rumahnya. Udara di dalam kontrakan terasa pengap dan panas, tetapi Wandi merinding hingga bulu kuduknya berdiri.“Tin, aku…”“Berasnya mana?” potong Tina. Suaranya datar, tanpa nada.Wandi terdiam. Mulutnya terbuka, tetapi lidahnya kelu. Beras. Ia lupa. Benar-benar lupa.“Ta-tadi aku kecelakaan, Tin,” katanya tergesa, suaranya serak. “Tabrakan dengan mobil di Thamrin. Kepalaku…”“Berasnya mana?” Tina mengulang, masih dengan suara yang sama. Dingin seperti es.“Tin, dengarkan aku dulu…”“WANDI!” teriak Tina tiba-tiba. Suaranya memecah ruangan kecil itu. Nila yang tertidur di gendongannya tersentak bangun, langsung menangis kencang, tubuh kecilnya menggeliat. Tina tidak menggubris. Matanya yang berkaca-kaca tetap tertuju pada Wandi. “BERASNYA MANA? SUDAH BERKALI-KALI AKU BILANG BERAS
Last Updated : 2026-07-07 Read more