LOGIN"Pa, Noval kenyang," ucap Noval sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit."Kenyang, Nak? Alhamdulillah.""Pa, supnya enak banget. Noval mau lagi besok.""Besok Papa buatkan lagi. Tapi Noval harus sehat dulu.""Noval sehat, Pa. Demam Noval udah turun."Wandi menempelkan punggung tangannya ke dahi Noval lagi. Benar, demamnya sudah turun. Tidak setinggi tadi pagi. Wandi tersenyum lega."Syukurlah, Nak. Kamu pasti cepat sembuh.""Pa, Noval mau tidur lagi.""Tidurlah, Nak. Papa di sini."Wandi menurunkan Noval perlahan, meletakkan kepalanya di atas bantal. Dia menarik selimut tipis ke atas, menutupi tubuh Noval yang masih hangat. Noval memejamkan matanya, napasnya mulai teratur."Pa, Noval sayang Pa," bisik Noval setengah tidur."Papa juga sayang Noval, Nak. Selamanya."Noval tersenyum dalam tidurnya.Wandi masih duduk di tepi kasur, menatap Noval yang tertidur pulas. Tangannya yang besar mengusap rambut Noval sekali lagi, lalu dia berdiri pelan, berjalan keluar kamar, dan menutup p
Noval menggeleng lagi, tetapi kali ini ada yang berbeda. Matanya yang sayu menatap Wandi dengan tatapan yang tidak bisa dia sembunyikan."Pa, Noval rindu Mama."Wandi mengerjap. "Rindu Mama? Mama Arini?""Iya, Pa. Noval rindu Mama."Wandi mengusap rambut Noval. "Mama Arini sedang bekerja, Nak. Dia pergi ke Malaysia. Dia hanya pergi dua minggu."Noval menggeleng. "Tapi Pa, Noval takut...""Takut apa, Nak?""Noval takut kalau... kalau ada orang lain yang akan menggantikan Mama."Wandi terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata Noval menusuk hatinya. Dia teringat kejadian semalam. Tina yang mendekatkan wajahnya, hendak menciumnya. Hampir saja. Hampir saja dia membalas. Hampir saja dia melakukan kesalahan besar."Noval... anak itu bisa merasakan. Dia bisa merasakan bahwa ada yang tidak beres. Dia bisa merasakan bahwa ada yang mengancam keluarganya.""Noval, tidak ada yang akan menggantikan Mama," ucap Wandi dengan suara tegas."Benaran, Pa? Papa janji?""Papa janji, Noval. Papa tidak akan p
Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Hari itu seperti biasa, Wandi bangun, mandi, dan menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tina sudah bangun sejak lebih awal, membantu Wandi menyiapkan meja makan. Noval dan Nila masih di kamar mereka, mungkin masih tidur atau sedang bermain.Tina memakai daster panjang berwarna krem yang sederhana, rambutnya diikat kuncir santai, dan wajahnya segar tanpa makeup. Dia terlihat lebih tenang pagi ini, tidak ada bekas-bekas kejadian semalam di wajahnya. Mungkin dia sudah benar-benar melupakan atau setidaknya berusaha melupakan. Dia sedang menata piring-piring di meja makan deng
"Wan, aku...""Tina, ingat, aku sekarang suaminya Arini. Dan statusmu juga... masih istrinya Andre."Tina menunduk. Air mata mulai mengalir di pipinya."Wan... aku... aku minta maaf. Aku... aku hampir khilaf. Aku tidak bermaksud...""Tina, aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita tidak boleh.""Iya, Wan. Kamu benar. Aku... aku minta maaf."Tina menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, menangis pelan.Wandi melihat Tina yang menangis. Dadanya terasa sesak. Dia tidak ingin melihat Tina menangis. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Tina melakukan hal yang salah."Tin," panggil Wandi dengan suara lembut.Tina tidak menjawab. Dia terus menangis."Tin, lihat aku."Tina mengangkat wajah. Matanya yang merah dan basah menatap Wandi."Tin, aku mengerti. Aku mengerti bahwa kamu masih memiliki perasaan. Aku juga memiliki perasaan yang sama. Tapi kita tidak bisa. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Aku sudah punya Arini. Kamu masih punya Andre. Kita harus m
Malam itu, langit di atas Cipinang gelap tanpa bintang. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah masih menyala, beberapa redup, beberapa berkedip-kedip tidak karuan. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara jangkrik dari halaman belakang dan suara knalpot motor dari jalan raya yang terdengar samar-samar. Suasana malam yang tenang, penuh dengan ketenangan dan kedamaian.Wandi duduk di sofa ruang tamu, tidak bergerak. Lampu ruang tamu hanya satu yang menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang nyaris tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan. Di tangannya, dia memegang secangkir kopi hitam yang sudah mulai dingin, tetapi dia tidak meminumnya. Matanya yang tajam menatap ke sudut ruangan, ke arah motor bebek butut berwarna hijau lumut yang terparkir di atas karpet tipis.Motor itu. Motor yang sama yang dulu membawanya ke mana-m
Wandi meraih tangan Arini yang masih di pipinya. "Rin, aku juga akan rindu kamu. Aku akan rindu tawamu. Aku akan rindu tatapan matamu. Aku akan rindu semua tentangmu."Arini menangis. "Wan, aku sayang kamu. Sayang banget.""Aku juga sayang kamu, Rin. Sayang banget."Arini memeluk Wandi erat. Pelukan yang dalam, yang penuh dengan kasih sayang, yang seolah tidak mau melepaskan. Wandi membalas pelukan itu dengan erat."Aku akan segera kembali, Wan. Janji.""Aku akan menunggumu, Rin. Janji."Mereka berpelukan lama. Noval dan Nila memeluk mereka dari samping. Tina juga memeluk mereka.Tiba-tiba, suara pengumuman dari pengeras suara terdengar."Perhatian kepada penumpang penerbangan Malaysia Airlines tujuan Kuala Lumpur, penerbangan MH 712, harap segera menuju pintu boarding nomor 5. Penerbangan akan segera berangkat."Arini melepaskan pelukan. "Wan, aku harus pergi sekarang.""Rin, hati-hati di sana. Jaga kesehatan. Jangan lupa makan.""Iya, Wan. Aku akan menjaga diri."Arini mencium Wandi







