Beranda / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Pernyataan Cinta (part 2)

Share

Pernyataan Cinta (part 2)

Penulis: BoardMarker
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 02:27:35

Mobil BMW melaju meninggalkan kompleks Arini, menuju kantornya di kawasan SCBD. Jalanan mulai sedikit ramai karena orang-orang yang pergi ke gereja atau sekadar jalan-jalan. Wandi mengemudi dengan tenang, sesekali menoleh ke Arini yang sedang sibuk membuka laptop dan membaca dokumen.

"Rin, kamu di mobil juga kerja mulu. Santai dikit," tegur Wandi.

"Santai? Meeting dengan investor itu nggak bisa santai, Mas. Mereka tipe orang yang kalau lihat satu angka aja salah, langsung cabut pendanaan."

"Kam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Pertama Sekolah (part 3)

    Tina juga turun, menggendong Nila. Nila masih merengek, tidak mau dilepas."Ma, Nila takut.""Nak, lihat. Banyak anak-anak lain. Mereka juga sekolah. Ada yang menangis, ada yang tertawa. Nanti Nila juga akan tertawa."Nila mengamati sekeliling. Matanya yang bulat melihat anak-anak lain yang berlarian, ada yang masuk gerbang dengan semangat, ada yang menangis dipeluk ibunya."Nila tidak mau menangis," ucap Nila tiba-tiba."Nah, itu dia. Nila kan anak pemberani."Tina menurunkan Nila, menggandeng tangannya. Nila masih ragu, tetapi dia tidak menangis.Saat Tina dan Nila berjalan menuju gerbang, Andre masih berdiri di samping mobil, merapikan jasnya. Matanya tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang sedang berjalan dari arah gerbang menuju mobil BMW hitam."Itu... Bu Arini? CEO PT Artha Kreasi Mandiri? Yang meeting dengan saya di Bogor?"Andre mengerjap. Ya, itu Arini. Perempuan muda dengan kemeja putih, blazer abu-abu, rok pensil hitam, dan rambut diikat kuncir tinggi. Dia berjalan de

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Pertama Sekolah (part 2)

    Wandi menyalakan mesin, mengatur AC ke suhu yang nyaman, lalu menarik gigi mundur. BMW hitam melaju perlahan meninggalkan gang sempit, melewati rumah-rumah tetangga, lalu bergabung dengan arus lalu lintas pagi yang mulai ramai.Perjalanan menuju TK Bunda Mulia memakan waktu sekitar dua puluh menit. Wandi memilih rute yang tidak terlalu macet, melewati jalan-jalan tikus yang dia hafal sejak masih menjadi kurir. Sesekali dia menoleh ke belakang, melihat Noval yang menatap ke luar jendela dengan mata berbinar."Pa, sekolah Noval jauh?" tanya Noval."Tidak terlalu jauh, Nak. Sebentar lagi sampai.""Noval punya teman?""Nanti Noval dapat teman baru. Banyak. Mereka baik-baik.""Noval mau punya teman. Dulu Noval tidak punya teman."Wandi menghela napas. "Sekarang Noval punya banyak teman."TK Bunda Mulia terletak di sebuah gang tidak terlalu lebar, tidak jauh dari perumahan warga. Bangunannya sederhana, satu lantai dengan dinding bercat warna-warni, kuning, biru, merah, dan hijau. Di halaman

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Pertama Sekolah (part 1)

    Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit sudah mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi meregangkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Hari ini adalah hari yang istimewa. Hari pertama Noval masuk sekolah.Dia menoleh ke samping. Arini masih terlelap, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di sisi lain kasur, Noval tidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya memeluk boneka kecil peninggalan ibunya, tangan kirinya terulur ke arah Arini seolah mencari kehangatan. Wandi tersenyum melihat mereka berdua."Hari ini, Nak, kamu akan memulai babak baru dalam hidupmu. Sekolah. Teman-teman baru. Guru-guru baru. Pengalaman baru."Wandi perlahan bangkit dari tempat tidur, berusaha ti

  • Kurir Pemilik Sistem   Cerita Baru (part 5)

    "Wan... aku lupa dompet," bisik Arini, wajahnya sedikit merah.Wandi tertawa. "Kamu, Rin. Mana ada CEO pergi tanpa dompet?""Aku kira kamu yang bawa.""Ya, aku bawa. Tapi kamu harus bilang dari awal."Wandi mengeluarkan dompet dari saku celana, dompet kulit coklat yang sudah agak usang, dan menyerahkan uang lima puluh ribu ke ibu-ibu itu."Ini, Bu. Kembaliannya dua puluh ribu.""Terima kasih, Mas."Wandi menerima uang kembalian, lalu memasukkan kembali ke dompet.Arini tersenyum malu. "Maaf, Wan. Aku ketinggalan dompet.""Tidak apa-apa. Itu sudah sering terjadi. Dulu waktu masih pacaran, kamu juga sering lupa dompet.""Kamu masih ingat?""Semua aku ingat."Mereka berjalan kembali ke motor. Noval sudah tidak sabar, matanya tertuju pada bungkusan cilok di tangan Arini."Ma, cilok!""Iya, Nak. Ini."Arini menusuk sebuah cilok dengan tusuk gigi, lalu menyodorkannya ke mulut Noval."Huuufff... hufff... masih panas, Ma," ucap Noval sambil meniup-niup cilok itu."Tunggu dingin dulu. Nanti ke

  • Kurir Pemilik Sistem   Cerita Baru (part 4)

    Wandi keluar, menggendong Noval, lalu mendudukannya di jok depan motor, di antara setang dan jok, di tempat yang biasa untuk anak kecil. Tangannya yang mungil memegang gagang spion kanan."Noval, pegang gagang spionnya, ya. Jangan lepas.""Iya, Pa."Wandi duduk di jok belakang Noval, mengapit anak itu dengan kedua tangannya. Arini naik ke jok paling belakang, duduk di boncengan."Rin, kamu yakin? Kamu kan CEO. Masa naik motor bebek?" canda Wandi."CEO juga boleh naik motor bebek, dong. Lagipula, dulu waktu aku masih kuliah, aku juga kadang naik motor bebek temanku.""Kamu anak mana? Anak orang kaya masa naik motor bebek?""Orang tuaku kaya, bukan aku. Aku mahasiswa biasa. Dulu aku naik KRL, naik angkot, naik ojek. Tidak selalu naik mobil.""Wah, baru tahu.""Banyak yang belum tahu tentang aku.""Pelan-pelan, Rin. Kita punya waktu."Mereka tersenyum.Wandi menyalakan mesin. Motor bebek tua itu bergemuruh, tidak sehalus NMAX, tetapi terdengar kuat. Dia menarik gas perlahan, motor melaju

  • Kurir Pemilik Sistem   Cerita Baru (part 3)

    Wandi mengulangi proses itu dua kali. Pada percobaan ketiga, motor menyala lebih lama. Suara mesinnya kasar, tetapi mulai terdengar stabil. Wandi memanaskan motor selama beberapa menit, membiarkan oli bersirkulasi ke seluruh bagian mesin.Motor itu mengeluarkan suara khas, ngeng... ngeng... ngeng..., tidak sehalus motor baru, tetapi terdengar kuat. Wandi mencium bau knalpot yang sedikit menyengat, bau yang dulu sangat familiar di hidungnya setiap pagi sebelum berangkat kerja sebagai kurir."Hai, kawan," bisik Wandi pada motor itu. "Kita akan jalan-jalan lagi. Ada anggota baru di keluarga kita. Namanya Noval. Dia anak yang baik."Motor itu tidak menjawab, tetapi getarannya terasa sedikit berbeda. Seolah-olah motor itu ikut bahagia.Setelah motor menyala dengan stabil, Wandi mematikan mesin, lalu mengambil selang air dari samping rumah. Air mengalir deras, membasahi motor bebek tua itu. Debu-debu yang menempel sejak bertahun-tahun, sebenarnya tidak terlalu banyak karena motor selalu ber

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status