Accueil / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Pernyataan Cinta (part 3)

Partager

Pernyataan Cinta (part 3)

Auteur: BoardMarker
last update Date de publication: 2026-07-28 02:29:09

Arini menoleh. Matanya bertemu dengan mata Wandi.

"Rin, jangan dulu," bisik Wandi.

Arini mengerjap. "Ada apa, Mas?"

Wandi tidak menjawab. Dia menatap Arini dalam-dalam. Matanya yang hitam pekat itu menatap mata Arini yang juga hitam, seperti dua cermin yang saling berhadapan. Di balik matanya, ada kegelisahan. Ada keraguan. Ada ketakutan. Tapi juga ada tekad.

"Rin, aku... aku mau bilang sesuatu," ucap Wandi, suaranya sedikit serak.

Arini melepaskan gagang pintu. Dia membalikkan badannya, duduk
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Kurir Pemilik Sistem   Persahabatan Baru (part 3)

    Nila yang mendengar percakapan itu, ikut berbicara. "Bu, Nila juga punya Ayah dan Mama. Ayah Andre baik. Mama Tina juga baik."Bu Indah tersenyum. "Iya, Nila. Nila juga beruntung."Setelah sesi menulis selesai, Bu Indah membagikan buku cerita bergambar untuk anak-anak. Masing-masing anak mendapat satu buku dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Noval mendapat buku cerita tentang "Kancil dan Buaya". Nila mendapat buku cerita tentang "Kelinci dan Kura-kura"."Anak-anak, sekarang kalian baca buku cerita ini sendiri. Kalau ada yang tidak bisa, boleh bertanya pada Ibu atau pada teman," ucap Bu Indah.Noval membuka bukunya. Dia membaca dalam hati, jarinya yang mungil menunjuk setiap kata."Suatu hari, Kancil berjalan di hutan. Ia melihat pohon timun di seberang sungai. Banyak mentimun segar. Kancil ingin memetiknya, tetapi sungai dalam dan deras. Kancil pun berpikir..."Noval membaca dengan lancar, sesekali berhenti ketika menemukan kata yang agak sulit, seperti "mentimun" dan "deras". Tapi

  • Kurir Pemilik Sistem   Persahabatan Baru (part 2)

    Ibu Guru Indah yang dari tadi memperhatikan interaksi Noval dan Nila, tersenyum lebar. Dia berdiri di dekat rak buku, tetapi matanya tidak lepas dari kedua anak itu."Bagus. Nila yang tadinya menangis dan takut, kini sudah tersenyum. Dan Noval... anak yang sabar, baik hati, mau mengajak teman baru bermain. Ini yang namanya inklusi. Anak membantu anak."Bu Indah mendekati meja kuning, pura-pura merapikan mainan di rak, tetapi telinganya tetap mendengar percakapan mereka."Noval, besok kita main puzzle lagi, ya," ucap Nila."Boleh. Nanti kita coba puzzle yang lebih susah.""Apa yang lebih susah?""Puzzle istana. Banyak potongannya.""Wah, pasti susah.""Tapi seru.""Iya. Aku percaya sama Noval."Bu Indah tersenyum lagi. Dia mencatat di dalam hati, Noval, anak angkat dari Bapak Wandi dan Ibu Arini. Cerdas, sabar, mudah bergaul. Nila, anak dari Ibu Tina dan Bapak Andre. Pemalu, tetapi cepat beradaptasi dengan bantuan teman.Setelah waktu bermain selesai, Bu Indah mengajak anak-anak untuk

  • Kurir Pemilik Sistem   Persahabatan Baru (part 1)

    Kelas TK Bunda Mulia lantai satu itu berukuran sekitar enam kali delapan meter. Dindingnya dicat dengan warna-warna cerah, kuning lembut di bagian atas, hijau muda di bagian bawah, dengan hiasan gunung, awan, dan matahari yang tersenyum. Di sepanjang dinding, terpajang poster-poster bergambar huruf alfabet, angka, hewan, dan buah-buahan. Meja-meja kecil berwarna merah, biru, kuning, dan hijau ditata dalam empat kelompok, masing-masing dilengkapi dengan kursi-kursi mungil yang sesuai dengan tinggi badan anak usia empat hingga lima tahun. Lantainya dilapisi karpet busa berwarna-warni, empuk dan aman untuk anak-anak yang suka duduk atau berguling.Di sudut ruangan, terdapat rak-rak berisi mainan edukatif, balok susun, puzzle, kartu bergambar, dan buku cerita bergambar. Di sudut lain, ada panggung kecil untuk bermain peran, lengkap dengan kostum sederhana seperti topi polisi, kerudung dokter, dan stetoskop mainan. Di dekat jendela, ada area baca dengan karpet bundar dan bantal-bantal lucu

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Pertama Sekolah (part 3)

    Tina juga turun, menggendong Nila. Nila masih merengek, tidak mau dilepas."Ma, Nila takut.""Nak, lihat. Banyak anak-anak lain. Mereka juga sekolah. Ada yang menangis, ada yang tertawa. Nanti Nila juga akan tertawa."Nila mengamati sekeliling. Matanya yang bulat melihat anak-anak lain yang berlarian, ada yang masuk gerbang dengan semangat, ada yang menangis dipeluk ibunya."Nila tidak mau menangis," ucap Nila tiba-tiba."Nah, itu dia. Nila kan anak pemberani."Tina menurunkan Nila, menggandeng tangannya. Nila masih ragu, tetapi dia tidak menangis.Saat Tina dan Nila berjalan menuju gerbang, Andre masih berdiri di samping mobil, merapikan jasnya. Matanya tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang sedang berjalan dari arah gerbang menuju mobil BMW hitam."Itu... Bu Arini? CEO PT Artha Kreasi Mandiri? Yang meeting dengan saya di Bogor?"Andre mengerjap. Ya, itu Arini. Perempuan muda dengan kemeja putih, blazer abu-abu, rok pensil hitam, dan rambut diikat kuncir tinggi. Dia berjalan de

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Pertama Sekolah (part 2)

    Wandi menyalakan mesin, mengatur AC ke suhu yang nyaman, lalu menarik gigi mundur. BMW hitam melaju perlahan meninggalkan gang sempit, melewati rumah-rumah tetangga, lalu bergabung dengan arus lalu lintas pagi yang mulai ramai.Perjalanan menuju TK Bunda Mulia memakan waktu sekitar dua puluh menit. Wandi memilih rute yang tidak terlalu macet, melewati jalan-jalan tikus yang dia hafal sejak masih menjadi kurir. Sesekali dia menoleh ke belakang, melihat Noval yang menatap ke luar jendela dengan mata berbinar."Pa, sekolah Noval jauh?" tanya Noval."Tidak terlalu jauh, Nak. Sebentar lagi sampai.""Noval punya teman?""Nanti Noval dapat teman baru. Banyak. Mereka baik-baik.""Noval mau punya teman. Dulu Noval tidak punya teman."Wandi menghela napas. "Sekarang Noval punya banyak teman."TK Bunda Mulia terletak di sebuah gang tidak terlalu lebar, tidak jauh dari perumahan warga. Bangunannya sederhana, satu lantai dengan dinding bercat warna-warni, kuning, biru, merah, dan hijau. Di halaman

  • Kurir Pemilik Sistem   Hari Pertama Sekolah (part 1)

    Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit sudah mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi meregangkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Hari ini adalah hari yang istimewa. Hari pertama Noval masuk sekolah.Dia menoleh ke samping. Arini masih terlelap, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di sisi lain kasur, Noval tidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya memeluk boneka kecil peninggalan ibunya, tangan kirinya terulur ke arah Arini seolah mencari kehangatan. Wandi tersenyum melihat mereka berdua."Hari ini, Nak, kamu akan memulai babak baru dalam hidupmu. Sekolah. Teman-teman baru. Guru-guru baru. Pengalaman baru."Wandi perlahan bangkit dari tempat tidur, berusaha ti

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status