Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Persahabatan Baru (part 2)

Share

Persahabatan Baru (part 2)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-08-18 00:16:56

Ibu Guru Indah yang dari tadi memperhatikan interaksi Noval dan Nila, tersenyum lebar. Dia berdiri di dekat rak buku, tetapi matanya tidak lepas dari kedua anak itu.

"Bagus. Nila yang tadinya menangis dan takut, kini sudah tersenyum. Dan Noval... anak yang sabar, baik hati, mau mengajak teman baru bermain. Ini yang namanya inklusi. Anak membantu anak."

Bu Indah mendekati meja kuning, pura-pura merapikan mainan di rak, tetapi telinganya tetap mendengar percakapan mereka.

"Noval, besok kita main
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 4)

    Tapi keris itu tidak mungkin berbohong.Wandi menutup aplikasi. Dia berdiri, berjalan ke ruang tamu. Di sana, dia mengambil tas ransel hitam yang berisi perlengkapan darurat, senter, pisau lipat, korek api, dan perban. Dia juga mengambil pentungan besi yang dia beli beberapa hari lalu di toko besi.Dia kembali ke kamar, duduk di kursi di samping kasur, dan menunggu."Jika mereka datang, aku siap."Wandi membuka aplikasi pesan, mengetik cepat. [Rin, jika kamu bangun dan aku tidak ada di sampingmu, jangan panik. Aku di ruang tamu. Ada sesuatu yang harus aku jaga.]Dia tidak ingin membuat Arini khawatir. Tapi dia juga tidak ingin Arini kaget jika bangun dan tidak melihatnya di samping.Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Balasan dari Arini.[Wan, kenapa? Ada apa?][Tidak tahu pasti. Tapi keris memberi sinyal bahaya. Aku harus waspada.][Aku turun.][Jangan. Kamu jaga Noval. Aku yang jaga di bawah.][Baik. Hati-hati, Wan.]"Iya, Rin."Wandi meletakkan ponsel di atas meja. Dia men

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 3)

    Malam itu, Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Langit di atas Cipinang gelap gulita, tidak ada bintang, tidak ada bulan. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah Wandi hanya tinggal dua yang masih menyala, itupun redup dan berkedip-kedip tidak karuan, seperti mata yang mengantuk dan hampir tertutup. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara ayam jantan yang berkokok di tengah malam, mungkin ada yang tidak beres dengan jam biologisnya.Wandi terbangun. Bukan karena suara. Bukan karena mimpi buruk. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.Dia membuka matanya. Ruangan gelap. Lampu tidur di samping kasurnya sudah mati, mungkin karena listrik padam sebentar, atau karena bohlamnya putus. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirin

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 2)

    Pintu ruang kerja diketuk pelan. Andre segera memasukkan pisau ke dalam laci, merapikan rambutnya, dan memasang senyum ramah di wajahnya."Masuk."Tina masuk dengan langkah pelan. Dia memakai daster panjang berwarna krem, rambutnya terurai, wajahnya segar. Di tangannya, dia membawa secangkir teh hangat untuk Andre."And, kamu masih bekerja? Sudah malam."Andre tersenyum. "Iya, Sayang. Ada laporan yang harus aku selesaikan."Tina meletakkan teh di atas meja. "Minum dulu. Nanti kamu sakit.""Terima kasih, Sayang."Tina duduk di kursi kecil di samping meja. Matanya menatap Andre dengan penuh kasih."And, akhir-akhir ini kamu sibuk sekali. Aku khawatir.""Jangan khawatir, Sayang. Ini hanya proyek besar. Nanti setelah selesai, kita liburan.""Janji?""Janji."Tina tersenyum. Dia meraih tangan Andre, menggenggamnya erat. "Aku sayang kamu, And."Andre membalas genggaman itu. "Aku juga sayang kamu, Tin. Sayang banget."Di dalam hati Andre, dia berbisik, "Maafkan aku, Tin. Aku tidak sebaik yan

  • Kurir Pemilik Sistem   Ini Hanya Bisnis (part 1)

    Malam itu, langit di atas Bekasi Timur gelap tanpa bintang. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat. Lampu-lampu jalan di kompleks perumahan Andre menyala redup, beberapa bahkan mati karena bola lampu yang putus tidak segera diganti. Rumah Andre yang biasanya terlihat hangat dengan lampu-lampu taman yang menyala kuning, kini terlihat suram dan mencekam. Hanya lampu teras dan lampu ruang tamu yang masih menyala, memancarkan cahaya temaram yang nyaris tidak cukup untuk menembus kegelapan malam.Andre duduk di ruang kerjanya di lantai atas. Ruangan itu tidak terlalu besar, sekitar 3x4 meter, dengan meja kayu jati di tengah, kursi eksekutif kulit hitam, dan lemari besi di sudut ruangan. Dindingnya dicat abu-abu gelap, dan satu-satunya hiasan adalah foto dirinya bersama pejabat-pejabat penting dan beberapa plakat penghargaan dari bank tempatnya bekerja. Lampu meja kecil menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang hanya cukup untuk menerangi meja dan

  • Kurir Pemilik Sistem   Mempersiapkan Diri (part 2)

    Pukul setengah tujuh pagi, Wandi masuk ke rumah. Arini sudah bangun, sedang menyiapkan sarapan di dapur. Nasi goreng dengan telur mata sapi, kerupuk, dan segelas susu hangat untuk Noval. Kopi hitam untuk Wandi, teh hangat untuk dirinya."Wan, kamu sudah latihan?" tanya Arini sambil membalik telur di wajan."Iya, Rin. Fisik dan keris.""Kamu tidak capek?""Capek, tapi harus."Arini menyendok nasi goreng ke piring, menambahkan telur mata sapi di sampingnya. "Kamu makan dulu. Nanti mandi.""Iya, Rin."Wandi duduk di meja makan. Noval belum bangun. Mungkin dia masih kelelahan setelah seharian bermain mobil mainan kemarin."Rin, soal informasi tentang Andre, bagaimana?"Arini duduk di seberang Wandi, menyodorkan ponselnya. "Aku sudah hubungi kenalanku di kepolisian. Katanya, Andre punya catatan. Beberapa tahun lalu, dia terlibat dalam kasus penggelapan dana nasabah, tetapi kasusnya ditutup karena kurang bukti."Wandi mengerjap. "Penggelapan dana nasabah? Dia manajer bank, kan?""Iya. Kenal

  • Kurir Pemilik Sistem   Mempersiapkan Diri (part 1)

    Malam itu, setelah Noval tertidur pulas dengan senyum di wajahnya, masih memegang remote control mobil mainan di tangannya, Wandi duduk di teras rumah sendirian. Langit Jakarta gelap tanpa bintang, hanya sesekali lampu pesawat yang berkedip-kedip di kejauhan. Angin malam berhembus dingin, membuat daun-daun pohon mangga di halaman bergoyang-goyang pelan. Lampu taman yang redup menyala, menciptakan bayangan-bayangan panjang di aspal halaman. Sebatang rokok menyala di jari telunjuk dan jari tengahnya, asap tipis mengepul ke udara malam, lalu menghilang.Wandi tidak merokok karena kecanduan. Dia merokok untuk menenangkan pikirannya. Karena pikirannya sedang tidak tenang. Sejak kejadian keris berdiri sendiri di dalam lemari, sejak mimpi tentang penjaga keris yang menggendong Noval, sejak pertemuannya dengan Kyai Slamet, sejak tahu bahwa Andre adalah dalang di balik penculikan Arini dan Noval, pikirannya tidak pernah tenang."Andre... dia tidak akan berhenti. Dia akan mencoba lagi. Dan kali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status