首頁 / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Tabrakan (part 1)

分享

Kurir Pemilik Sistem
Kurir Pemilik Sistem
作者: BoardMarker

Tabrakan (part 1)

作者: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-07 01:54:19

Langit Jakarta siang itu mendung, tebal seperti lapisan kapas kotor yang menekan atap gedung-gedung. Awan kelabu menggantung rendah, menyembunyikan sinar matahari hingga udara terasa lembap dan berat. Wandi melaju pelan di pinggir Jalan Thamrin, motor bututnya menggelegar dengan suara knalpot bolong yang sudah lama tak diganti.

Seragam hijau lumutnya lengket di punggung, tulisan “SURAT CEPAT” memudar di balik noda keringat yang melebar. Tiga paket terguncang pelan di boks belakang: kotak kue ulang tahun yang diikat rapat, map dokumen tebal untuk asuransi, dan plastik baju online shop yang sudah agak penyok.

Dia melirik jam Casio di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek mendekati angka dua, jarum panjang menunjuk angka 27. Keringat mengalir deras dari pelipisnya, membasahi bekas jerawat di pipi yang hitam legam.

Bahunya terasa kaku, tangan kanannya memutar gas dengan gerakan hafal. “Jam setengah dua,” gumamnya sambil mengelap dahi dengan lengan baju yang sudah basah.

Menteng masih jauh, Kuningan pasti macet, Kebon Sirih… bayangan wajah istrinya yang mengerut sudah muncul di benaknya. Motornya menyelinap di celah-celah mobil yang merayap. Ban depan menginjak genangan air kecil, cipratan lumpur menempel di sepatu botnya yang usang.

Tangan kirinya sesekali menekan klakson pendek, meminta jalan dari sedan yang enggan bergeser. Tujuh tahun berkeliling kota ini membuatnya tahu setiap lubang aspal yang bisa membuat ban kempes, setiap polisi tidur yang suka membuat paket di boks bergeser.

Lampu merah menyala di depan. Wandi mengerem perlahan, ban motor berdecit pelan di aspal. Di sebelah kiri, seorang bapak dengan helm setengah tabung duduk diam di atas Beat putih.

Di sebelah kanan, Xenia abu-abu dengan kaca gelap berhenti rapat. Truk Fuso besar di depan mengembuskan asap hitam tebal dari knalpot bawahnya setiap kali mesinnya mendengung. Wandi menghela napas panjang, bahunya turun naik.

Saku celananya bergetar. Dia merogoh dengan satu tangan, menarik ponsel Android berlayar retak. Layar menyala redup. Pesan dari Tina: “Wandi, tolong beli beras nanti. Beras kita habis. Jangan lupa.” Senyum tipis muncul di bibirnya yang kering. Jari-jarinya yang kasar mengetik cepat: “Iya. Ntar malem tak bawain.” Tombol kirim ditekan. Ponsel dimasukkan kembali ke saku.

Lampu hijau menyala. Truk Fuso di depan bergerak lambat, roda besarnya berputar sambil mengeluarkan asap lagi. Wandi memutar gas, mengikuti dari belakang. Angin panas siang menyapu wajahnya. Matanya sempat terangkat ke langit, mendung tetap tebal, tapi ada sesuatu.

Titik kecil keperakan bergerak cepat di antara celah gedung-gedung tinggi. Terlalu cepat untuk pesawat biasa. Alisnya berkerut, tapi sebelum pikiran itu sempat terbentuk…

Dari sebelah kanan, Avanza hitam melesat keluar jalur dengan kecepatan tinggi. Ban mobil itu meraung. Wandi hanya sempat menoleh.

Brak!

Dunia berputar. Tubuhnya terangkat ringan, melayang beberapa saat seperti daun kering tertiup angin kencang. Lalu benturan keras menyambar sisi kanan tubuhnya. Bahu, pinggul, kaki semuanya menghantam aspal dengan suara berat.

Kepalanya membentur keras, helm murahnya terlepas dan menggelinding jauh. Rasa sakit meledak, panas dan tajam, seolah tulang-tulangnya retak sekaligus. Darah hangat mengalir dari hidung, menetes ke bibir, rasa logam asin memenuhi mulut.

Suara-suara datang bertubi-tubi, tapi teredam seperti di dalam air.

“Ada yang ketabrak!”

“Pak! Bapak gak apa-apa?!”

“Panggil ambulans! Cepat!”

“Sopirnya kabur! Platnya mahal, cuma dua angka!”

Wandi mencoba membuka mata. Langit kelabu terlihat buram, berputar pelan. Tubuhnya tak mau bergerak. Jari-jarinya berkedut lemah di aspal panas. Napasnya pendek-pendek, setiap tarikan terasa seperti ada pisau di rusuk.

Pikirannya melayang ke Tina, ke anak perempuan mereka yang berusia dua tahun, ke paket-paket yang mungkin sudah berantakan. Namun, lidahnya terasa berat, tak bisa mengeluarkan suara.


Lebih dari empat ratus kilometer di atas Bumi, di balik bayangan Bulan, sebuah struktur kristal hitam mengambang diam. Permukaannya menyerap cahaya bintang, tak memantulkan apa pun, menyatu dengan kegelapan ruang angkasa.

Di dalam ruang kendali yang diterangi cahaya kehijauan samar, makhluk-makhluk plasma bercahaya melayang di kursi antigravitasi. Tubuh mereka berubah-ubah bentuk pelan, seperti asap tebal yang bernyawa.

Komandan Thar’Xul berdiri di depan layar holografik besar. Cahaya oranye kuat berdenyut di seluruh tubuh plasmanya, semakin terang saat fokusnya meninggi.

Gambar Wandi muncul jelas di layar: wajah hitam legam penuh peluh, seragam basah, motor butut di tengah kemacetan. Data mengalir di samping gambar itu, riwayat perjalanan harian, pesan WA dengan istrinya, bahkan detak jantungnya yang sedang meningkat karena kecelakaan.

“Target terkunci,” ucap Thar’Xul. Suaranya bergetar dalam frekuensi yang menggema di dinding kristal. “Senjata Kalibrasi Kehidupan sudah siap.”

Di sampingnya, Letnan Vex’Ra menggerakkan tentakel plasmanya gelisah, cahaya kehijauannya berfluktuasi cepat. Tubuhnya mendekat ke layar, memperbesar foto Wandi yang sedang tergeletak di jalan. “Komandan, subjek ini… hanya kurir biasa. Motornya masih cicilan telat. Tidak ada akses militer, tidak ada pengetahuan ilmiah. Mengapa dia?”

Cahaya oranye di tubuh Thar’Xul berubah merah menyala. Denyutannya semakin cepat. “Perintah Dewan Tinggi sudah final, Letnan. Subjek W-2771 dipilih karena ketidakpentingannya. Tidak ada yang akan mencarinya terlalu dalam. Tidak ada yang akan curiga. Sistem Angka Kehidupan akan aktif tanpa gangguan. Ini protokol eksperimen Dunia Bawah.”

Vex’Ra terdiam sejenak, cahayanya meredup. Namun, matanya, atau apa yang berfungsi sebagai mata, masih tertuju pada gambar Wandi yang kini menunjukkan denyut nadi lemah. “Dia bahkan tak tahu kami mengamatinya. Semua data hidupnya… terbuka begitu saja.”

Thar’Xul tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan satu tentakel, memberi isyarat.

Di ujung pesawat, kanon kristal panjang mulai bercahaya. Energi keemasan berkumpul, berputar membentuk pusaran kecil yang semakin besar. Cahaya itu semakin terang, memenuhi ruang kendali dengan kilauan hangat.

“Tembak,” perintah Thar’Xul datar.

Vex’Ra menyentuh panel. Kanon melepaskan tembakan. Seberkas cahaya keemasan melesat menembus ruang angkasa, melintasi atmosfer Bumi tanpa terdeteksi, menuju titik kecil di Jalan Thamrin, di mana suara sirene ambulans mulai terdengar samar.

Di bawah, Wandi masih tergeletak. Matanya setengah terbuka, melihat langit kelabu yang kini seolah berdenyut pelan dengan cahaya aneh yang hanya ia lihat sesaat.

Rasa sakit masih menusuk, namun ada sesuatu yang baru. Sebuah angka samar muncul di sudut penglihatannya, berdenyut lemah seperti detak jantung sendiri.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Kurir Pemilik Sistem   Senyuman Manis (part 5)

    Ibu Wong juga berdiri, menjabat tangan Arini. "You did a great job, Ms. Arini. We'll seriously consider your proposal.""Thank you, Ibu Wong."Tuan Tan, yang paling muda di antara ketiganya, berdiri paling akhir. "Ms. Arini, I hope that personal good news you mentioned earlier will make you even happier."Arini tersenyum. "It already does, Mr. Tan. It already does."Para investor keluar dari ruangan, ditemani oleh Pak Hendra dan Bu Dewi yang akan mengantarkan mereka ke mobil. Arini duduk di kursinya, menghela napas panjang.Mbak Sari, sekretarisnya, mendekat. "Bu, mau saya bawakan kopi?""Ya, Sari. Kopi hitam ya. Jangan pakai gula.""Siap, Bu."Mbak Sari berbalik, tapi kemudian berhenti. "Bu Arini, saya mau bilang sesuatu.""Apa, Sari?""Tumben hari ini Bu Arini senyum terus. Biasanya di meeting, Bu Arini galak. Maaf. Maksud saya... tegas."Arini tertawa. "Sari, kamu sudah berapa tahun kerja sama saya?""Sudah 2 tahun, Bu.""Apakah selama 2 tahun itu kamu pernah lihat aku pacaran?"Mb

  • Kurir Pemilik Sistem   Senyuman manis (part 4)

    Presentasi selesai. Investor dari Singapura keluar ruangan untuk istirahat sebentar. Tim Arini juga keluar, meninggalkan Arini sendirian di ruang meeting.Arini duduk di kursinya, menghela napas panjang. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena gugup, tapi karena lega. Presentasi berjalan lancar. Investor terlihat tertarik. Kebutuhan pendanaan mungkin akan disetujui, meskipun mungkin dengan negosiasi kecil.Dia membuka ponselnya. Ada pesan dari Wandi.[Rin, gimana meetingnya? Aku doain lancar. Nanti aku jemput jam 5 di tempat biasa, ya. Aku sudah siap jadi supir pribadi kamu.]Arini tersenyum lebar. Jarinya mengetik balasan dengan cepat.[Meeting lancar. Investor sepertinya tertarik. Nanti siang kita lanjut negosiasi. Makasih doanya. Kamu jangan lupa makan siang, ya.]Balasan dari Wandi muncul beberapa detik kemudian.[Siap, Nyonya CEO. Aku sekarang lagi di pasar loak. Lagi hunting barang antik. Semoga dapet lagi kayak meteorit.]Arini tertawa kecil. Jarinya mengetik lagi.[Hati-hati,

  • Kurir Pemilik Sistem   Senyuman Manis (part 3)

    "Eh, nggak, Bu. Saya... Saya hanya kaget. Biasanya Bu Arini kalau pagi, jawabannya 'iya' saja, lalu langsung pergi. Sekarang Bu Arini... ramah."Arini tersenyum. "Hari ini saya baik hati, Pak Budi. Manfaatkan."Budi tertawa kecil. "Siap, Bu."Arini melanjutkan langkah. Dia melewati ruang tim pemasaran, di mana Lina, kepala divisi pemasaran, sedang rapat kecil dengan timnya. Lina melihat Arini lewat dan melambai. Arini membalas lambaian dengan senyum lebar. Lina terkejut, tangannya yang melambai berhenti di udara, mulutnya menganga.Dia melewati ruang tim IT, di mana Rudi, kepala divisi IT, sedang menatap layar monitor dengan ekspresi frustrasi. Rudi tidak melihat Arini lewat karena terlalu fokus dengan kode program yang mungkin error. Arini tidak mengganggu.Sampai di ujung koridor, Arini berbelok ke kiri, menuju ruang meeting utama. Pintu ganda dari kayu jati dengan gagang kuningan mengilap terbuka sedikit. Dari dalam, terdengar suara orang-orang berbincang dalam bahasa Inggris dan M

  • Kurir Pemilik Sistem   Senyuman Manis (part 2)

    Arini menghela napas panjang. Napas yang lega. Napas yang bahagia. Napas yang terasa seperti melepaskan beban berat yang sudah dia pikul selama bertahun-tahun."Dia bilang dia cinta aku. Dia bilang dia tidak mau lagi terjebak dalam masa lalu. Dia bilang aku adalah alasan dia tersenyum setiap pagi."Arini menutup matanya. Dia membayangkan Wandi berdiri di depannya, tersenyum, dengan lesung pipit di pipi kirinya yang membuatnya terlihat seperti anak laki-laki polos meskipun dia sudah dewasa. Dia membayangkan mereka berjalan bergandengan tangan di tepi pantai, atau duduk di tebing menikmati matahari terbenam, atau sekadar diam di dalam mobil sambil mendengarkan radio."Ini nyata, ya? Aku tidak mimpi?"Arini membuka mata. Dia menepuk pipinya sendiri, sedikit sakit. Berarti tidak mimpi.Dia tertawa kecil. Tawa yang keluar dari sela-sela bibirnya yang masih tersenyum."Udah... cukup... jangan berlebihan, Arini. Kamu harus fokus dengan kerjaan kamu hari ini," gumam Arini pada dirinya sendiri

  • Kurir Pemilik Sistem   Senyuman Manis (part 1)

    Pintu lift menutup perlahan di belakang Arini. Suara mekanik khas lift gedung perkantoran, suara kabel yang berputar, roda gigi yang saling mengait, dan angin yang tersedot dari celah-celah pintu, mengiringinya naik ke lantai 24. Biasanya, di waktu seperti ini, Arini akan membuka ponselnya, membaca ulang agenda meeting, memeriksa pesan-pesan dari timnya, atau sekadar menatap layar lift dengan ekspresi datar, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang panjang.Tapi pagi ini berbeda.Arini berdiri di tengah lift, kedua tangannya memegang tas laptop di depan perutnya, seperti anak sekolah yang baru pertama kali masuk SD. Matanya menatap pintu lift yang mengilap, tapi tidak benar-benar melihat. Yang dia lihat adalah bayangan Wandi—wajah Wandi yang teduh, matanya yang dalam, bibirnya yang bergerak pelan mengucapkan tiga kata yang mengubah segalanya."Rin, aku cinta kamu."Arini menggigit bibir bawahnya. Senyumnya melebar. Tidak bisa dia tahan. Senyum yang muncul dari dalam hati yang pal

  • Kurir Pemilik Sistem   Pernyataan Cinta (part 4)

    "Yang aku tahu, sekarang, di sini, di dalam mobil ini, aku tidak bisa lagi memungkiri perasaanku. Aku mencintaimu, Arini."Air mata Arini jatuh.Bukan deras. Bukan isak tangis. Tapi tetes demi tetes, perlahan, mengalir di pipinya yang mulus. Dia tidak menyeka. Dia membiarkan air matanya jatuh, membasahi kemeja putihnya yang rapi."Mas Wandi..." suara Arini pecah, "aku... aku sudah menunggu kata-kata itu sejak lama. Sejak malam di tebing, ketika kamu bilang kamu mulai melupakan Tina. Sejak kamu bilang aku adalah alasan kamu tersenyum setiap pagi. Sejak kamu... menyelamatkan nyawaku."Arini meraih tangan Wandi dengan kedua tangannya. Dia menggenggamnya erat, seperti tidak mau melepaskan."Mas Wandi, aku juga cinta kamu. Aku cinta kamu sejak pertama kali kamu bilang, 'Mbak, angka Mbak merah. Mbak akan mati.' Waktu itu aku kira kamu orang gila. Tapi kemudian kamu membuktikan bahwa kamu tidak gila. Kamu menyelamatkanku. Dan semenjak itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu."Mereka ber

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status