LOGINTian Fan, seorang jenius muda dari Sekte Raja Obat, dikenal sebagai tabib paling berbakat di generasinya. Namun, kejeniusannya justru menjadi awal kehancurannya. Saat ia memilih menggunakan metode terlarang—membedah tubuh manusia dan mempelajari racun untuk menyelamatkan nyawa sehingga ia dituduh menyimpang dari ajaran suci sekte. Dikhianati oleh para tetua dan rekan-rekannya sendiri, Tian Fan diusir, dihancurkan jalur energinya, dan dibuang ke jurang kematian untuk mati secara mengenaskan. Namun takdir berkata lain. Di ambang kematian, ia diselamatkan oleh sosok misterius, Master Xiaohu Yan, yang mewariskan pengetahuan kuno, kekuatan luar biasa, serta tujuan yang selaras dengan dendamnya. Dari sana, Tian Fan bangkit—bukan lagi sebagai tabib biasa, tetapi sebagai sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Di dalam lembah kematian, ia mengasah ilmunya dengan cara yang tak pernah dibayangkan—belajar dari mayat, darah, dan rasa sakit. Metodenya menjadi semakin sempurna, semakin ekstrem… namun juga semakin efektif. Tahun demi tahun berlalu, namanya mulai dikenal sebagai “Tabib Hitam”—seseorang yang mampu menyelamatkan nyawa dengan cara yang membuat dunia bergidik. Ketika rahasia masa lalu mulai terkuak dan organisasi bayangan, Klan Pengadilan Hitam, kembali muncul ke permukaan, Tian Fan menyadari bahwa pengkhianatan yang ia alami hanyalah bagian kecil dari konspirasi yang jauh lebih besar. Kini, dengan ilmu, kekuatan, dan tekad yang tak tergoyahkan, Tian Fan melangkah kembali ke dunia.Bukan untuk mencari pengakuan. Melainkan untuk menghancurkan kemunafikan dunia pengobatan, membalas pengkhianatan masa lalu, dan membuktikan satu hal— Bahwa untuk menyelamatkan nyawa… terkadang, seseorang harus berani mengotori tangannya dengan darah.
View MoreBab 01. Jenius yang Disingkirkan.
Di bawah cahaya lilin yang redup di lorong istana, seorang remaja berjalan menuju Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat. Langkahnya tegas, namun dipenuhi ketenangan yang sulit digoyahkan. Sesampainya di Balai Ramuan Agung Sekte Raja Obat, ia melangkah masuk ke dalam aula dengan sikap tenang. Di hadapannya, para tetua utama duduk melingkar sambil menatapnya dingin, jelas sikap yang ditunjukan mereka layaknya para hakim yang siap mengadili. Pandangannya beralih ke tengah ruangan dimana terbaring seorang pasien. Tubuh sang pasien telah memucat, tampak olehnya kulit pasien itu menghitam akibat racun yang telah meresap terlalu dalam. Lilin-lilin redup mengelilingi jasad yang telah kaku itu seakan menjadi saksi kegagalan yang tak dapat dihindari. Aula itu megah, dihiasi lampu minyak dan ukiran emas yang berkilau samar. Namun kemegahannya terasa dingin ketika pemuda tersebut dipaksa berlutut di tengah ruangan, tepat di hadapan jasad tersebut. Di sekelilingnya, para tetua berjubah putih berdiri dengan wajah kaku sambil menahan pergerakannya. Pemuda itu adalah dirinya— Tian Fan. Ia adalah murid termuda paling berbakat di Sekte Raja Obat yang merupakan tempat berkumpulnya para tabib terbaik di negeri itu. “Tian Fan!” Suara seorang tetua menggema dingin, memecah keheningan. “Kau telah melanggar hukum pengobatan suci!” Katanya kembali dengan penuh penekanan. Tian Fan mengangkat kepalanya. Wajahnya masih muda, tetapi matanya tajam menatap sosok yang berbicara. “Tetua, aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan,” jawabnya tenang. Seorang tetua lain menghentakkan tongkatnya ke lantai. “Kau menggunakan teknik pembedahan, padahal kau tahu jika itu adalah teknik terlarang!” “Kau membedah tubuh manusia hidup!” “Kau mempelajari racun untuk melawan racun!” “Tabib sejati menyembuhkan dengan energi murni, bukan dengan cara kotor seperti itu!” Tian Fan mengepalkan tangannya karena amarah, namun ia tetap berusaha tenang dan menjaga suaranya tetap stabil. “Energi murni dan pil saja tidak cukup untuk menyelamatkannya,” balasnya. “Bagaimana pasien ini bisa sembuh jika sumber racun di dalam tubuhnya tidak diangkat?” “Sekarang Tetua mengatakan jika kematian pasien ini adalah ulahku? Justru aku melihat pasien ini mati karena kalian menolak menyentuh lukanya!!” Ruangan itu bergemuruh. Sebagian dari mereka terlihat terkejut dengan keberanian sang pemuda yang begitu menantang para Tetua Utama tersebut. “Diam!” Tetua tertinggi berdiri, auranya menekan seluruh ruangan. Ia menatap Tian Fan “Kau membunuhnya!” Tian Fan diam tidak membantah. “Aku mencoba menyelamatkannya, sayangnya itu terlambat!” “Dengan teknik terlarang?” sahut seorang tetua lain dengan nada sinis. “Itu bukan teknik terlarang,” jawab Tian Fan tenang. “Itu adalah metode baru.” Tetua tertinggi menatap Tian Fan dengan tajam. “Metode yang tidak tercatat dalam kitab leluhur adalah penyimpangan!” seru Tetua lainnya dengan sinis. Tuduhan demi tuduhan menggema, saling bertumpuk memenuhi aula. Saat itulah Tian Fan menyadarinya. Yang terpancar dari mata mereka— bukan kemarahan. Bukan pula kesedihan. Melainkan… ketakutan. Ya… mereka takut pada sesuatu yang tidak mereka pahami. Dan lebih dari itu— mereka takut pada dirinya…seseorang yang telah melampaui mereka. “Seorang tabib tidak boleh mencemari dirinya dengan darah,” seru Tetua Tertinggi. Tian Fan tertawa kecil. Tawanya pahit. “Kalau begitu, kalian bukan tabib. Kalian hanya penjaga reputasi.” Ucapannya sontak membuat para petinggi sekte itu menatap angkuh penuh emosi padanya. Hening. Siapapun tahu jika ucapan pemuda itu sama dengan hukuman mati. “Mulai hari ini,” suara tetua tertinggi menggema, “Murid Tian Fan… bukan lagi murid sekte Raja Obat ini dan atas pelanggaran yang dia lakukan dia diusir dari Lembah Raja Obat!” “Segala catatan tentang namanya dihapus.” “Dan tekniknya…dilarang untuk selamanya!” Ucapan Sang Tetua Tertinggi menciptakan senyuman puas pada semua orang yang membenci Tian Fan. Tian Fan tersenyum kecil, ia bisa melihat jika diantara para tetua dan orang orang yang ada disana masih belum puas dengan hukuman yang diterimanya. Tampak olehnya, jika Tetua Tertinggi pun masih belum selesai dengan perkataannya. “Hukuman ini belum selesai. Yang kau lakukan adalah tanda pengkhianatan!” “Untuk mencegah hal serupa di kemudian hari,maka…kau harus menerima hukuman terberat dari para pengadil!” Perkataan sang Tetua Tertinggi langsung disambut seringai Tian Fan, ia menoleh ke arah penonton sidang, tampak olehnya beberapa orang yang sangat dikenalnya menunjukan wajah pongahnya seakan mengejek dirinya dengan serendah rendahnya. “Ternyata kalian…” ujar Tian Fan pelan sambil menatap tajam pada tiga orang pemuda yang dikenalnya yang kini menunjukan senyum penuh hinaan padanya. Tiba tiba tetua berjubah putih yang berdiri di samping kirinya langsung melancarkan sebuah tendangan ke arah perut bawahnya. Tian Fan terbelalak, mulutnya menyemburkan darah segar karena rasa sakit yang amat sangat menghantam perut bawahnya. Wajahnya langsung memucat, seketika itu pula jalur energi di tubuhnya terputus total karena meridian inti energi miliknya hancur total. Rasa sakit masih menjalar di seluruh tubuhnya, ia melihat Sang Tetua Tertinggi mulai mengambil sikap. Satu pukulan energi dari tetua tertinggi melesat ke arahnya dengan cepat dan langsung menghantam dadanya dengan keras. Darah menyembur hebat, Tian Fan terpental ke belakang menghantam pintu ruangan sampai tubuhnya terlempar keluar aula. Kini dirinya terbaring lemah di halaman tanpa bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun. Malam itu, tak lama hujan turun deras dan mulai membasahi tubuhnya yang terluka dalam. Pandangannya mulai kabur, meski begitu, ia bisa merasakan jika tubuhnya kini diseret dengan kasar oleh dua orang Tetua berjubah putih. Sepanjang jalan tubuhnya diseret dengan kasar layaknya bangkai hewan tak berguna, ia masih bisa melihat di sisi kiri dan kanan jalan yang dilewati semua orang dimana kini semua murid Sekte menatapnya sinis penuh kehinaan. Umpatan, hinaan dan cibiran terlontar dari mulut mereka semua yang kini mencapnya sebagai sampah dan gila. “Jadi…seperti ini kalian melihatku?” batinnya sambil menatap mereka dengan dingin. Tak lama kesadarannya mulai menghilang dan pandangannya pun kosong berganti dengan kegelapan. Kedua Tetua berjubah putih itu membawa Tian Fan yang tidak sadarkan diri ke belakang sekte dimana sebuah tempat terbengkalai berada. Tubuh Tian Fan dilemparkan ke tanah dengan kasar, ia tergeletak tak berdaya disana. Tak lama, kesadarannya kembali. Ia merasakan perih di seluruh tubuhnya, organ dalamnya terluka dan energi dalamnya hancur. “Dengan ini penghalang kita hilang sepenuhnya!” ujar Tetua jubah putih pertama sambil menatap Tian Fan. “Dua Tuan Muda dan Nona Muda itu meminta kita membuangnya kesana, dengan uang yang mereka berikan untuk pekerjaan ini benar benar akan membuat kita kaya!” seru Tetua berjubah putih kedua. Tian Fan yang mendengar itu langsung sadar siapa yang keduanya maksudkan. Hatinya terasa hancur berkeping-keping mendengarnya. Tak lama, beberapa sosok berjubah hitam datang dari arah kegelapan. Ketiga sosok berjubah hitam itu menemui kedua Tetua yang menyeretnya. Dengan angkuh salah satu tetua melemparkan sebuah cincin penyimpanan pada salah satu sosok berjubah hitam tersebut. “Seperti rencana sebelumnya, buang dia ke Gunung Kematian dan bayaran untuk jasa kalian ada di dalam cincin tersebut,” jelasnya datar. Sosok berjubah hitam itu tak berkata, ia melihat isi di dalam cincin penyimpanan lalu tersenyum jahat setelahnya. Satu gestur tangan sosok berjubah tersebut langsung ditanggapi kedua sosok berjubah hitam lainnya. Mereka berdua kemudian mengangkat tubuh Tian Fan dan pergi dari hadapan kedua Tetua. “Mereka ini siapa? Kemana mereka akan membawaku pergi?” batin Tian Fan. Kesadarannya perlahan memudar dan tak lama kesadarannya pun hilang sepenuhnya. Entah berapa lama Tian Fan kehilangan kesadaran, ia kembali terbangun saat merasakan tubuhnya kembali dibanting dengan kasar ke tanah. Bukk. Sosok berjubah hitam pertama menendang pinggangnya dengan kuat sehingga rusuknya patah. Tubuhnya terhempas ke udara dan dirinya jatuh kedalam jurang dalam tersebut. “Sial, apa aku harus mati dengan mengenaskan seperti ini?” batinnya.Bab 66. Pergi.Pagi yang tenang akhirnya menyelimuti Kota Shui setelah malam penuh pertumpahan darah itu berlalu.Di ruang utama Kediaman Klan Xiao, para petinggi kedua klan telah berkumpul. Xiao Long duduk di kursi utama, didampingi Xiao Ling, Long Fang, serta beberapa tetua inti Klan Xiao dan Klan Long. Di sisi lain ruangan tampak pula rombongan Kerajaan Shui yang masih belum kembali ke ibu kota, yaitu Putri Shui Xian, Pangeran Shui Wen, dan Lu Tang.Pembicaraan mereka sejak tadi hanya berputar pada satu hal—peristiwa semalam.Long Fang menjadi orang pertama yang memberikan laporan. Dengan nada tenang ia berkata bahwa seluruh urusan Klan Xie dan Klan Su telah diselesaikan."Xie Kang dan Su Jing sudah dieksekusi sesuai keputusan ayah. Adapun anggota keluarga mereka yang tersisa telah diusir keluar dari Kota Shui. Mulai hari ini, nama Klan Xie dan Klan Su resmi lenyap dari kota ini."Semua orang menganggukkan kepala.Xiao Ling kemudian melanjutkan penjelasan tersebut."Namun ada sedik
Bab 65. Akhirnya Diketahui.Tian Fan, Tang San, dan Shin berjalan berdampingan menuju aula utama Kediaman Klan Xiao. Di belakang mereka, Shui Xian sempat hendak mengikuti. Namun baru beberapa langkah berjalan, Shui Wen segera menahan lengan adiknya."Dari raut wajah mereka saja sudah terlihat kalau mereka akan membicarakan urusan penting. Kita sebaiknya tidak ikut," ucap Shui Wen pelan.Shui Xian sedikit mengerucutkan bibirnya. "Kenapa? Bukankah aku juga bisa mendengarkan?"Shui Wen hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. "Karena ada beberapa pembicaraan yang lebih nyaman dilakukan di antara mereka sendiri."Sebenarnya bukan hanya itu alasannya. Sebelumnya Lu Tang telah diam-diam memperingatkannya."Kedua pria berjubah hitam itu bukan kultivator biasa. Bahkan sampai sekarang aku sama sekali tidak bisa melihat ranah mereka. Sebaiknya jangan mengganggu pembicaraan mereka."Mengingat perkataan itu, Shui Wen akhirnya memilih menarik adiknya kembali.Shui Xian sempat menoleh ke arah Tia
Bab 64. Tidak menoleh lagiSuasana di depan Kediaman Klan Xiao masih dipenuhi keheningan setelah pernyataan Shui Xian yang mengejutkan semua orang. Tak seorang pun menyangka gadis bercadar yang masih misterius identitasnya itu itu akan mengumumkan di hadapan seluruh Kota Shui bahwa Tian Fan adalah tunangannya.Xiao Ling akhirnya melangkah mendekat. Ia menatap Tian Fan dengan senyum bangga sebelum berkata dengan lembut."Fan'er, urusan di sini biarkan Kakekmu dan para tetua yang menyelesaikannya. Kau sudah melakukan lebih dari cukup malam ini."Tian Fan menganggukkan kepalanya tanpa banyak bicara. "Baik, Bibi."Setelah itu ia berbalik memasuki Kediaman Klan Xiao. Di sampingnya, Shui Xian masih saja merangkul lengannya seolah tidak memiliki niat sedikitpun untuk melepaskannya. Tang San dan Shin berjalan santai mengikuti dari belakang, sementara Shui Wen dan Lu Tang ikut masuk bersama rombongan.Di belakang mereka, Su Yi hanya mampu berdiri terpaku.Tatapannya terus mengikuti punggung
Bab 63. Penyesalan yang TerlambatSuasana masih dipenuhi keheningan setelah hukuman yang diterima Xie Kang dan Xie Wang. Jeritan mereka yang menggema beberapa saat lalu masih terngiang di telinga semua orang. Di atas gerbang, Tang San tetap duduk santai tanpa sedikit pun menunjukkan emosi. Namun kali ini tekanan auranya perlahan bergeser dan mengarah kepada Su Jing.Seketika wajah Patriark Klan Su memucat. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Ia buru-buru melangkah maju sambil menangkupkan kedua tangan."Senior, mohon tunggu. Aku tidak ikut menawar ataupun menghina Senior. Semua perkataan tadi adalah keputusan Xie Kang dan putranya. Aku sama sekali tidak terlibat dalam urusan itu."Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa, seolah takut terlambat menjelaskan. Melihat ayahnya berada dalam situasi berbahaya, Su Yi akhirnya memberanikan diri melangkah keluar dari kerumunan. Wajahnya dipenuhi kecemasan saat menatap Tian Fan."Tian Fan... aku tahu Ayah telah melakukan banyak kesalahan. K
Bab 62. Jalan Buntu.Xie Kang dan Su Jing benar-benar kehilangan kata-kata. Ledakan aura kenaikan ranah yang terus bermunculan dari dalam Kediaman Klan Xiao membuat wajah keduanya semakin suram. Terlebih lagi setelah awan tribulasi muncul di langit malam.Enam sambaran petir pembaptisan yang berput
Bab 61. Matahari Qi.Beberapa waktu sebelumnya di aula utama Klan Xiao.Di aula utama Kediaman Klan Xiao, Xiao Ling melangkah maju dan menyerahkan sebuah slip giok serta cincin spasial kepada ayahnya."Fan'er meminta aku menyerahkan ini kepada Ayah."Xiao Long menerima keduanya lalu segera memasukk
Bab 57. Setengah salah dan setengah benar.Malam itu, Kota Shui menjadi jauh lebih ramai dibanding biasanya. Kabar mengenai Klan Xie yang bergerak menuju Kediaman Klan Xiao menyebar seperti api yang menyambar ladang kering.Banyak orang segera meninggalkan rumah mereka dan berbondong-bondong menuju
Bab 56. Kesalahpahaman atau Cemburu?Suasana aula utama Kediaman Klan Xie terasa sangat berat.Di tengah ruangan, sebuah tandu besar diletakkan di atas lantai batu. Di atasnya, Xie Ba terbaring dengan wajah pucat dan tubuh yang dipenuhi luka. Ia tak bisa berkata, selain itu kedua kakinya telah diba






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews