Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Tabrakan (part 2)

Share

Tabrakan (part 2)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-07 01:59:55

Sinar keemasan itu melesat tanpa suara, melintasi lapisan awan mendung Jakarta dalam sekejap yang tak terlihat. Tak ada ledakan, tak ada embusan angin panas. Hanya seberkas cahaya tipis yang menyusup ke bawah, tepat mengenai wajah Wandi yang tergeletak di aspal panas Jalan Thamrin.

Dingin menyergap. Bukan dingin biasa, melainkan seperti es cair yang meresap ke setiap pori-pori kulit, menjalar dari ubun-ubun hingga ujung jari kaki. Saraf-saraf yang tadinya mati rasa karena benturan kini berdenyut tajam, terbangun sekaligus. Mata Wandi terbuka lebar. Pupilnya mengecil, lalu melebar lagi, menyerap segala cahaya di sekitarnya.

“Pak! Pak, Bapak sadar!” Seorang perempuan muda berkerudung merah muda berlutut cepat di sampingnya. Tangan kirinya gemetar memegang ponsel, layar masih menyala dengan nomor darurat. Keringat menetes dari ujung dagunya, membasahi kain kerudung di leher. “Ambulans sudah di jalan, Pak. Sebentar lagi sampai. Bapak tahan ya…”

Wandi mengerjap lambat. Dunia yang tadinya kabur seperti diguyur air kini tajam luar biasa. Ia melihat setiap helai benang halus di kerudung perempuan itu, setiap pori di kulit pipinya yang memerah karena panik, bahkan butiran debu yang melayang perlahan di udara antara mereka berdua, tertangkap sinar lampu jalan yang mulai menyala.

Namun, perhatiannya langsung tertuju ke satu titik.

Di atas kepala perempuan itu, melayang dua puluh sentimeter di atas kerudung, deretan angka hijau neon menyala terang. 47.231. Angka itu berkedip pelan, seperti denyut nadi yang tenang namun pasti.

Wandi menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti penuh pasir. “Mbak… itu… apa?” Suaranya serak, hampir tak keluar.

Perempuan itu mengerutkan dahi, matanya menyipit khawatir. Ia menoleh ke atas, mendongak ke langit mendung yang sama seperti tadi. “Enggak ada apa-apa, Pak. Langit biasa. Bapak mungkin gegar otak… jangan banyak gerak dulu.”

Wandi tak mendengar sampai habis. Ia mendorong tubuhnya bangkit. Tulang iga kanannya berdenyut nyeri seperti ditusuk besi panas setiap kali bernapas.

Pergelangan tangan kirinya membengkak, biru keunguan. Namun, dorongan di dadanya lebih kuat, rasa penasaran yang menggerogoti, memaksa kakinya menapak aspal meski lututnya gemetar.

Sekelilingnya sudah ramai. Belasan orang mengerumuni. Seorang bapak berkemeja batik berdiri agak jauh, ponsel di telinga, suaranya keras melaporkan kejadian.

Di atas kepalanya, angka hijau menyala: 12.844. Seorang ibu-ibu dengan tas belanjaan plastik menutup mulut dengan tangan, bahunya naik-turun menahan isak. Di atas kerudungnya: 79.001. Tukang ojek online yang baru turun dari motornya membantu mengangkat motor Wandi yang spionnya patah dan body sampingnya penyok parah. Angka di atas helmnya: 113.290.

Wandi menyipitkan mata. Angka di atas kepala tukang ojek itu berkedip, lalu berubah. 113.289. Satu detik kemudian: 113.288. Berkurang satu demi satu, tanpa henti.

Jantung Wandi berdegup kencang. Ia menatap tangannya sendiri. Tak ada angka. Ia menoleh ke spion motor yang retak, mencoba menangkap pantulan wajahnya. Hanya darah kering di pipi, mata kiri bengkak, bibir pecah-pecah. Tak ada angka di atas kepalanya.

“Bangunkan motornya dulu, Bang!” seru tukang ojek sambil menarik lengan Wandi perlahan. “Nanti makin macet. Sudah parah dari tadi.”

Wandi mengangguk pelan. Ia menggenggam setang yang bengkok, bahu kanannya bergetar menahan beban. Bersama tukang ojek, mereka mendorong motor ke bahu jalan, di bawah pohon rindang yang daunnya berguguran perlahan karena angin sore. Motor diparkir miring. Wandi terduduk di trotoar yang masih hangat terkena matahari.

Tukang ojek mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju. Wajahnya yang kecokelatan tampak segar meski napasnya agak tersengal. “Napas pelan-pelan, Bang. Darahnya lumayan banyak keluar. Duduk dulu.”

Wandi menatap angka di atas kepala tukang ojek itu lagi. 113.285… 113.284… 113.283. Berkurang setiap detik. “Pak,” katanya pelan, suaranya masih serak. “Bapak umur berapa?”

Tukang ojek mengerjap, tersenyum bingung. “Lho, kok tanya begitu? Saya tiga puluh tiga tahun, Bang.”

Wandi mengulang dalam hati. Tiga puluh tiga. Angka seratus tiga belas ribu. Kalau hari, terlalu panjang. Kalau menit, terlalu pendek. Kalau detik… ia menghitung cepat dalam kepala. Sekitar tiga puluh satu jam. Mustahil. Namun, angka itu terus berkurang tanpa ampun.

Dari arah kerumunan, seorang pria paruh baya mendekat. Kaus oblongnya lusuh, celana pendek selutut sudah pudar warnanya. Di tangan kanannya tergenggam botol air mineral 600 ml, segel plastik masih utuh.

Ia berjalan dengan langkah pelan, sesekali menoleh ke kiri-kanan memastikan tidak ada motor yang menyelonong. Matanya yang agak cekung menatap Wandi penuh keprihatinan.

“Nak,” katanya dengan logat Jawa yang lembut. “Minum dulu. Pasti haus banget. Darah segitu keluar, jangan sampai dehidrasi.”

Pria itu membuka segel botol dengan gigi, lalu menyerahkannya. Wandi menerima dengan tangan gemetar. Air dingin menyentuh bibirnya yang pecah. Ia meneguk panjang, rasa segar menyebar ke tenggorokan, ke dada, meredakan panas yang membakar ulu hati. Setengah botol habis dalam beberapa tegukan.

“Makasih, Pak,” ucap Wandi sambil mengembalikan botol. Napasnya masih tersengal, tetapi pandangannya sedikit lebih stabil.

Ia mengangkat wajah. Di atas kepala pria paruh baya itu, angka menyala dengan warna berbeda, biru cerah seperti langit pagi yang tak mendung. Angka itu jauh lebih besar: 8.451.230. Berkedip pelan, tetapi lebih stabil dibanding angka hijau yang lain.

Wandi mengerutkan kening. Mengapa biru? Mengapa jauh lebih besar? Apa bedanya dengan yang lain?

Pria itu tersenyum tipis, tak sadar sedang diamati. “Hati-hati ya, Nak. Jakarta ini… banyak yang ugal-ugalan. Saya tadi lihat dari warung seberang. Mobilnya langsung kabur. Pelatnya mewah pula.”

Wandi hanya mengangguk, tetapi matanya tak lepas dari angka biru itu. 8.451.229 sekarang. Masih berkurang, tetapi seolah punya makna lain. Sesuatu yang lebih panjang. Lebih penting.

Sirene ambulans mulai terdengar samar dari kejauhan, mendekat perlahan di tengah kemacetan. Orang-orang di sekitar mulai bergerak, memberi jalan. Namun, Wandi tak beranjak. Pikirannya berputar cepat. Angka-angka itu. Yang hijau, yang biru. Yang berkurang setiap detik. Yang tak terlihat oleh orang lain.

Apa yang terjadi padanya? Mengapa hanya ia yang melihat? Dan apa yang akan terjadi saat angka-angka itu mencapai nol?

Ia menatap langit mendung di atas, seolah mencari jawaban di antara awan tebal. Namun, yang ada hanyalah keheningan, dan detak angka-angka yang terus berjalan tanpa ampun di atas kepala setiap orang di sekitarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Hidup Baru Tina (part 3)

    Sore harinya, setelah urusan notaris selesai, Andre mengajak Tina ke gedung pernikahan. Gedung itu terletak di kawasan Bekasi, tidak terlalu megah, tapi cukup elegan. Aula ber-AC dengan kapasitas 200 orang. Warna tema pernikahan adalah putih dan emas, pilihan Tina.Mereka bertemu dengan dekorator, seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan kacamata tebal."Bu Tina, ini contoh konsep dekorasi yang sudah saya kirimkan melalui WhatsApp," ujar dekorator sambil membuka tablet. "Panggung utama di sini, pelaminan di sini, dengan latar belakang bunga putih dan lampu gantung kristal. Untuk resepsi, meja tamu akan ditutup taplak putih, dengan centerpiece bunga krisan putih dan setangkai mawar merah."Tina mengamati dengan seksama. "Boleh saya minta ditambah lampu fairy light di langit-langit? Biar lebih romantis.""Bisa, Bu. Itu tambahan biaya 1,5 juta."Tina menoleh ke Andre. Andre mengangguk. "Tambah saja.""Terus untuk karpet merah," lanjut dekorator, "biasanya kami sediakan standar. Ta

  • Kurir Pemilik Sistem   Hidup Baru Tina (part 2)

    Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika sebuah mobil Avanza hitam berhenti di depan kontrakan Tina. Andre keluar dengan kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu pantofel mengilap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dengan sedikit minyak rambut. Wajahnya berseri."Selamat pagi!" sapa Andre dengan suara ceria.Tina yang sedang mencuci piring di dapur langsung berjalan ke depan. "Pagi. Kamu tidak kerja?""Libur. Aku ambil cuti. Ada yang perlu kita urus." Andre mencium pipi Tina, kebiasaan baru yang mulai terbiasa. Lalu dia menunduk dan mencium pipi Nila yang sudah menunggu di pintu. "Halo, Nila cantik. Ayah Andre bawain donat."Nila bertepuk tangan. "Donat! Donat!"Andre mengeluarkan kotak donat dari dalam mobil. Dia menyerahkannya ke Nila dengan senyum lebar. "Ini buat Nila. Tapi jangan dimakan banyak-banyak, nanti sakit perut.""Iya, Ayah Andre!"Nila berlari ke meja makan dengan kotak donat di tangannya. Tina dan Andre duduk di teras depan, di kursi plastik sederh

  • Kurir Pemilik Sistem   Hidup Baru Tina (part 1)

    Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Tina membuka matanya. Di sampingnya, Nila masih tertidur pulas dengan boneka kain yang digenggam erat. Gadis kecil itu bermimpi sesuatu yang membuat bibir mungilnya sesekali tersenyum.Tina menghela napas panjang. Rasanya baru kemarin dia pergi dari kontrakan Wandi di Cipinang. Padahal sudah hampir dua bulan. Dua bulan yang terasa seperti mimpi. Mimpi yang membawanya dari kehidupan serba kekurangan menuju kehidupan yang... layak. Cukup. Tidak mewah, tapi tidak lagi kelaparan.Kontrakan yang dia tempati sekarang bukan miliknya. Ini kontrakan sementara di Bekasi, dekat rumah orang tuanya. Rumah sederhana dengan dua kamar tidur, dapur kecil, dan halaman sempit. Ukurannya tidak lebih besar dari kontrakan dulu bersama Wandi. Tapi setidaknya ada perbedaan, lemari es di dapur terisi makanan. Beras tidak pernah habis. Susu Nila selalu tersedia. Dan Tina tidak perlu lagi pusing memikirkan utang yang menumpuk.Itu semua karena Andre.Andre, pria berkemeja

  • Kurir Pemilik Sistem   Disini Untukmu (part 4)

    Mereka masuk. Seorang pelayan berambut hitam dengan kumis tebal menyapa Arini dengan ramah, sepertinya Arini memang sering ke sini."Bu Arini! Selamat malam. Meja biasa sudah disiapkan.""Terima kasih, Marco."Mereka berjalan ke meja pojok, dekat jendela, dengan pemandangan taman kecil di belakang restoran. Wandi duduk. Arini duduk di seberangnya.Pelayan bernama Marco itu menyerahkan menu dua lembar. Wandi membuka. Harganya... astaga. Satu porsi pasta sekitar tiga ratus ribu. Pizza sekitar empat ratus ribu. Steak bisa tujuh ratus ribu. Wandi belum terbiasa dengan harga seperti ini meskipun saldonya 24 miliar."Mas, pesan saja apa yang Mas suka," ucap Arini."Aku bingung. Ini semua mahal.""Ya memang mahal. Tapi enak. Percaya sama aku."Wandi menghela napas. "Kamu yang pesankan untukku."Arini tersenyum. "Baik. Marco, pesan dua porsi pasta aglio olio dengan tambahan udang. Satu porsi steak tagliata untuk berdua. Satu pizza margherita kecil. Dua gelas red wine.""Baik, Bu Arini."Marco

  • Kurir Pemilik Sistem   Disini Untukmu (part 3)

    "Pak... Ini pacar aku. Nama Mas Wandi. Kalau dia kesini lagi, jangan suruh ninggal KTP, ya."Wandi terperanjat. Pacar? Sejak kapan dia jadi pacar Arini?Satpam itu menatap Arini dengan mata sedikit membelalak, mungkin karena tidak percaya bahwa CEO Arini Susanto yang terkenal itu mempunyai pacar se-sederhana Wandi. Tapi sebagai satpam profesional, dia tidak berani berkomentar."Siap, Mbak Arini. Catat di buku, Mas Wandi, plat motor sekian, tidak perlu titip KTP.""Terima kasih, Pak," ucap Arini dengan senyum manis.Wandi masih terdiam. Dia mengambil KTP-nya, memasukkannya ke saku, lalu naik kembali ke motor."Siapa bilang aku pacar kamu?" bisik Wandi sambil menyalakan mesin.Arini tertawa kecil. "Biar gampang, Mas. Kalau Mas sudah dicatat, lain kali Mas bisa masuk tanpa KTP. Buat apa repot-repot titip kalau Mas kesini lagi?""Kamu bohong. Siapa tahu aku tidak kesini lagi.""Mas akan kesini lagi. Sering-sering."Wandi menggeleng. Gadis ini...Palang pintu terbuka. Wandi menarik gas. NM

  • Kurir Pemilik Sistem   Disini Untukmu (part 2)

    Kompleks itu sunyi. Jalanan lebar beraspal halus, dengan lampu taman di setiap sisi. Rumah-rumah berdiri megah dengan arsitektur yang berbeda-beda, ada yang bergaya modern minimalis dengan kaca besar, ada yang bergaya kolonial dengan pilar-pilar putih, ada yang bergaya tropis dengan banyak tanaman.Wandi melaju perlahan, melewati tugu kecil di tengah kompleks, sebuah patung kuda dari logam. Lalu belok kanan. Di sana, di ujung jalan, berdiri sebuah rumah putih dengan pagar hijau.Rumah itu tidak terlalu besar untuk ukuran kompleks elit, mungkin 300 meter persegi. Dua lantai dengan teras kaca di lantai dua. Taman kecil di depan dengan rumput sintetis dan beberapa pot bunga. Lampu taman berwarna kuning hangat menyala di sepanjang jalan setapak.Tapi yang menarik perhatian Wandi bukanlah rumahnya. Bukan taman. Bukan lampu-lampu. Tapi mobil yang terparkir di sebelah garasi.Sebuah Porsche berwarna kuning menyala.Wandi tidak tahu persis jenis Porsche apa itu. Dia bukan penggemar mobil. Tap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status