LOGINSore harinya, setelah urusan notaris selesai, Andre mengajak Tina ke gedung pernikahan. Gedung itu terletak di kawasan Bekasi, tidak terlalu megah, tapi cukup elegan. Aula ber-AC dengan kapasitas 200 orang. Warna tema pernikahan adalah putih dan emas, pilihan Tina.Mereka bertemu dengan dekorator, seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan kacamata tebal."Bu Tina, ini contoh konsep dekorasi yang sudah saya kirimkan melalui WhatsApp," ujar dekorator sambil membuka tablet. "Panggung utama di sini, pelaminan di sini, dengan latar belakang bunga putih dan lampu gantung kristal. Untuk resepsi, meja tamu akan ditutup taplak putih, dengan centerpiece bunga krisan putih dan setangkai mawar merah."Tina mengamati dengan seksama. "Boleh saya minta ditambah lampu fairy light di langit-langit? Biar lebih romantis.""Bisa, Bu. Itu tambahan biaya 1,5 juta."Tina menoleh ke Andre. Andre mengangguk. "Tambah saja.""Terus untuk karpet merah," lanjut dekorator, "biasanya kami sediakan standar. Ta
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika sebuah mobil Avanza hitam berhenti di depan kontrakan Tina. Andre keluar dengan kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu pantofel mengilap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dengan sedikit minyak rambut. Wajahnya berseri."Selamat pagi!" sapa Andre dengan suara ceria.Tina yang sedang mencuci piring di dapur langsung berjalan ke depan. "Pagi. Kamu tidak kerja?""Libur. Aku ambil cuti. Ada yang perlu kita urus." Andre mencium pipi Tina, kebiasaan baru yang mulai terbiasa. Lalu dia menunduk dan mencium pipi Nila yang sudah menunggu di pintu. "Halo, Nila cantik. Ayah Andre bawain donat."Nila bertepuk tangan. "Donat! Donat!"Andre mengeluarkan kotak donat dari dalam mobil. Dia menyerahkannya ke Nila dengan senyum lebar. "Ini buat Nila. Tapi jangan dimakan banyak-banyak, nanti sakit perut.""Iya, Ayah Andre!"Nila berlari ke meja makan dengan kotak donat di tangannya. Tina dan Andre duduk di teras depan, di kursi plastik sederh
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Tina membuka matanya. Di sampingnya, Nila masih tertidur pulas dengan boneka kain yang digenggam erat. Gadis kecil itu bermimpi sesuatu yang membuat bibir mungilnya sesekali tersenyum.Tina menghela napas panjang. Rasanya baru kemarin dia pergi dari kontrakan Wandi di Cipinang. Padahal sudah hampir dua bulan. Dua bulan yang terasa seperti mimpi. Mimpi yang membawanya dari kehidupan serba kekurangan menuju kehidupan yang... layak. Cukup. Tidak mewah, tapi tidak lagi kelaparan.Kontrakan yang dia tempati sekarang bukan miliknya. Ini kontrakan sementara di Bekasi, dekat rumah orang tuanya. Rumah sederhana dengan dua kamar tidur, dapur kecil, dan halaman sempit. Ukurannya tidak lebih besar dari kontrakan dulu bersama Wandi. Tapi setidaknya ada perbedaan, lemari es di dapur terisi makanan. Beras tidak pernah habis. Susu Nila selalu tersedia. Dan Tina tidak perlu lagi pusing memikirkan utang yang menumpuk.Itu semua karena Andre.Andre, pria berkemeja
Mereka masuk. Seorang pelayan berambut hitam dengan kumis tebal menyapa Arini dengan ramah, sepertinya Arini memang sering ke sini."Bu Arini! Selamat malam. Meja biasa sudah disiapkan.""Terima kasih, Marco."Mereka berjalan ke meja pojok, dekat jendela, dengan pemandangan taman kecil di belakang restoran. Wandi duduk. Arini duduk di seberangnya.Pelayan bernama Marco itu menyerahkan menu dua lembar. Wandi membuka. Harganya... astaga. Satu porsi pasta sekitar tiga ratus ribu. Pizza sekitar empat ratus ribu. Steak bisa tujuh ratus ribu. Wandi belum terbiasa dengan harga seperti ini meskipun saldonya 24 miliar."Mas, pesan saja apa yang Mas suka," ucap Arini."Aku bingung. Ini semua mahal.""Ya memang mahal. Tapi enak. Percaya sama aku."Wandi menghela napas. "Kamu yang pesankan untukku."Arini tersenyum. "Baik. Marco, pesan dua porsi pasta aglio olio dengan tambahan udang. Satu porsi steak tagliata untuk berdua. Satu pizza margherita kecil. Dua gelas red wine.""Baik, Bu Arini."Marco
"Pak... Ini pacar aku. Nama Mas Wandi. Kalau dia kesini lagi, jangan suruh ninggal KTP, ya."Wandi terperanjat. Pacar? Sejak kapan dia jadi pacar Arini?Satpam itu menatap Arini dengan mata sedikit membelalak, mungkin karena tidak percaya bahwa CEO Arini Susanto yang terkenal itu mempunyai pacar se-sederhana Wandi. Tapi sebagai satpam profesional, dia tidak berani berkomentar."Siap, Mbak Arini. Catat di buku, Mas Wandi, plat motor sekian, tidak perlu titip KTP.""Terima kasih, Pak," ucap Arini dengan senyum manis.Wandi masih terdiam. Dia mengambil KTP-nya, memasukkannya ke saku, lalu naik kembali ke motor."Siapa bilang aku pacar kamu?" bisik Wandi sambil menyalakan mesin.Arini tertawa kecil. "Biar gampang, Mas. Kalau Mas sudah dicatat, lain kali Mas bisa masuk tanpa KTP. Buat apa repot-repot titip kalau Mas kesini lagi?""Kamu bohong. Siapa tahu aku tidak kesini lagi.""Mas akan kesini lagi. Sering-sering."Wandi menggeleng. Gadis ini...Palang pintu terbuka. Wandi menarik gas. NM
Kompleks itu sunyi. Jalanan lebar beraspal halus, dengan lampu taman di setiap sisi. Rumah-rumah berdiri megah dengan arsitektur yang berbeda-beda, ada yang bergaya modern minimalis dengan kaca besar, ada yang bergaya kolonial dengan pilar-pilar putih, ada yang bergaya tropis dengan banyak tanaman.Wandi melaju perlahan, melewati tugu kecil di tengah kompleks, sebuah patung kuda dari logam. Lalu belok kanan. Di sana, di ujung jalan, berdiri sebuah rumah putih dengan pagar hijau.Rumah itu tidak terlalu besar untuk ukuran kompleks elit, mungkin 300 meter persegi. Dua lantai dengan teras kaca di lantai dua. Taman kecil di depan dengan rumput sintetis dan beberapa pot bunga. Lampu taman berwarna kuning hangat menyala di sepanjang jalan setapak.Tapi yang menarik perhatian Wandi bukanlah rumahnya. Bukan taman. Bukan lampu-lampu. Tapi mobil yang terparkir di sebelah garasi.Sebuah Porsche berwarna kuning menyala.Wandi tidak tahu persis jenis Porsche apa itu. Dia bukan penggemar mobil. Tap







