بيت / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Senyuman Manis (part 1)

مشاركة

Senyuman Manis (part 1)

مؤلف: BoardMarker
last update تاريخ النشر: 2026-07-28 16:27:58

Pintu lift menutup perlahan di belakang Arini. Suara mekanik khas lift gedung perkantoran, suara kabel yang berputar, roda gigi yang saling mengait, dan angin yang tersedot dari celah-celah pintu, mengiringinya naik ke lantai 24. Biasanya, di waktu seperti ini, Arini akan membuka ponselnya, membaca ulang agenda meeting, memeriksa pesan-pesan dari timnya, atau sekadar menatap layar lift dengan ekspresi datar, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang panjang.

Tapi pagi ini berbeda.

Arini ber
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Kurir Pemilik Sistem   Melodi dari Masa Lalu (part 4)

    Wandi belum sempat menjawab. Noval sudah berbicara lebih dulu. "Mbah... itu kotak milik Ibu. Noval mau tidur sama kotak itu, biar Noval selalu inget Ibu."Mbah Naryo tersenyum. Wajahnya yang tadinya tegang, kini berubah lembut. "Kotak itu peninggalan ibu Noval. Nenek Noval yang punya dulu. Ibu Noval tidak pernah mau menjualnya meskipun hidup susah.""Noval tahu, Mbah. Noval sayang Ibu."Mbah Naryo menggendong Noval, berjalan keluar dari gubuk. "Ayo, ke rumah Mbah. Mbah buatin teh."Mbah Naryo tinggal di rumah dengan halaman yang agak luas, tidak jauh dari gubuk bekas tempat tinggal Noval. Rumah itu sederhana, semi permanen dengan dinding setengah bata setengah kayu, atap seng, dan lantai semen yang sudah retak di beberapa bagian. Halamannya cukup luas untuk memarkir mobil, dan di sudut halaman, tumbuh pohon jambu biji dan pepaya.Wandi memarkir BMW hitam di halaman depan. Cahaya matahari menerpa body mobil yang mengkilap, menciptakan kontras yang aneh dengan lingkungan sekitarnya yang

  • Kurir Pemilik Sistem   Melodi dari Masa Lalu (part 3)

    Sementara Noval asyik dengan mainannya, Wandi menjelajahi sudut ruangan lain. Matanya yang tajam, yang sudah terlatih untuk melihat benda-benda bersejarah yang bersinar, menangkap sesuatu di sudut paling gelap, di balik tumpukan kardus.Cahaya. Bukan cahaya biasa. Cahaya keemasan tipis, seperti yang dulu dia lihat pada gantungan kunci Majapahit, pada keris pusaka, pada batu meteorit.Wandi mendekat. Dia menyingkirkan kardus-kardus yang sudah lapuk itu. Di baliknya, sebuah kotak kayu berukuran sekitar dua puluh kali dua belas sentimeter, dengan tinggi sekitar delapan sentimeter, tergeletak di lantai tanah. Kotak itu terbuat dari kayu jati tua, dengan ukiran-ukiran halus di permukaannya, motif bunga dan daun-daunan, gaya Eropa kuno, mungkin zaman kolonial Belanda. Engselnya dari kuningan, sudah kehitaman karena usia, tetapi masih kokoh. Di bagian atas, terukir sebuah piringan hitam kecil dan tulisan dalam bahasa Belanda yang tidak bisa dibaca Wandi.Wandi mengambil kotak itu. Tangannya

  • Kurir Pemilik Sistem   Melodi dari masa lalu (part 2)

    "Pohon melati, Pa. Dulu di dekat rumah Noval ada pohon melati. Besar. Wanginya semerbak. Ibu suka petik bunga melati buat ditaruh di rambut."Wandi mengangguk. "Pohon melati. Baik, Papa coba cari."Wandi menyalakan mesin mobil, memutar setir, dan melanjutkan perjalanan. Dia tidak lagi menuju Pasar Senen. Tujuannya sekarang berbeda. Dia ingin mencari pohon melati. Pohon melati yang tumbuh liar di dekat rel kereta, yang menjadi satu-satunya penanda rumah lama Noval.Mobil melaju di sepanjang rel kereta api. Wandi memperlambat laju, matanya bergerak cepat memindai setiap sudut. Rumah-rumah kumuh di pinggir rel, gubuk-gubuk reyot dengan dinding bambu dan atap seng, terlihat samar di balik pepohonan dan semak belukar. Beberapa di antaranya sudah tidak layak huni, atapnya bolong, dindingnya miring, dan halamannya ditumbuhi rumput liar setinggi dada."Pa, itu pohon melati!" seru Noval tiba-tiba sambil menunjuk ke arah kanan.Wandi menoleh. Di kejauhan, di antara gubuk-gubuk reyot, berdiri se

  • Kurir Pemilik Sistem   Melodi Masa Lalu (part 1)

    Matahari siang itu mulai terasa cukup terik ketika Wandi keluar dari gerbang TK Bunda Mulia. Noval duduk di kursi penumpang depan, tas sekolah merah di pangkuannya, wajahnya berseri-seri seperti biasa setelah seharian bermain dan belajar bersama teman-temannya. Seragam putih abu-abunya masih rapi, meskipun sedikit kusut di bagian saku karena seharian diisi dengan mainan kecil dan krayon."Pa, hari ini Nila bawa permen buat Noval," ucap Noval sambil mengeluarkan sebatang permen lolipop berwarna pink dari sakunya."Wah, Nila baik ya. Noval sudah bilang terima kasih?""Sudah, Pa. Noval juga bagi coklat buat Nila.""Pintar. Berbagi itu baik."Wandi menyalakan mesin mobil, mengatur AC ke suhu yang nyaman, lalu menarik gigi mundur. BMW hitam melaju perlahan meninggalkan sekolah, melewati gang-gang sempit, lalu bergabung dengan arus lalu lintas yang mulai padat. Seperti biasa, Wandi tidak langsung pulang. Setiap hari, setelah menjemput Noval, dia akan berkeliling dulu. Bukan untuk jalan-jala

  • Kurir Pemilik Sistem   Terjawab (part 4)

    Tina yang dari tadi berdiri di samping motor matic, menatap Wandi dan Noval. Wandi menggendong Noval dengan penuh kasih sayang, seperti seorang ayah menggendong anak kandungnya. Noval memeluk Wandi erat, seperti anak yang mencari perlindungan."Wandi... kamu benar-benar sudah berubah. Kamu tidak hanya kaya. Kamu juga menjadi ayah yang baik."Tina berdiri, berjalan mendekat. Dia berdiri di samping Wandi, menatap Noval yang masih terisak pelan. "Noval, mama ada di dalam. Nanti kamu cari mama, ya," ucap Tina lembut.Noval menatap Tina. "Tante... Tante lihat Mama Noval?""Ibu Noval... dia di dapur tadi. Mungkin pindah ke ruang tamu."Noval mengangguk. Wandi menurunkan Noval, menggandeng tangannya."Nak, Papa antar."Tina berjalan di samping mereka. Dua insan yang dulu pernah satu keluarga, kini berjalan bersama di halaman rumah Andre, tetapi bukan sebagai suami, istri, dan anak. Sebagai mantan suami, mantan istri, dan anak angkat dari mantan suami.Mereka masuk ke dalam rumah. Suasana pes

  • Kurir Pemilik Sistem   Terjawab (part 3)

    Dari jendela itu, dia bisa melihat BMW hitam terparkir di halaman, di belakang Innova hitam milik Andre. Lampu taman yang temaram menyorot mobil itu, menciptakan bayangan panjang di aspal.Tina berjalan ke pintu, keluar rumah.Udara malam terasa sejuk. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa bau tanah dan dedaunan. Rumput di halaman basah karena embun. Lampu taman yang dipasang di setiap sudut memancarkan cahaya kuning hangat.Tina berjalan ke arah BMW hitam. Mobil itu masih menyala? Tidak. Mati. Tapi lampu kabin masih menyala, menandakan bahwa seseorang di dalamnya tidak tertidur.Ketika dia mendekat, dia melihat Wandi duduk di bagasi yang terbuka. Bukan di dalam mobil, tetapi di bagasi, dengan kedua kaki menjuntai ke bawah, menyentuh aspal yang dingin. Di sampingnya, ada segelas plastik berisi kopi, mungkin dibeli dari penjual es teh jumbo yang tidak jauh dari rumahnya, yang juga menjual kopi tubruk pahit. Di jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, terselip sebatang rokok yang m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status