Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Tamparan Tina (part 1)

Share

Tamparan Tina (part 1)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-09-19 10:51:57

Matahari pagi mulai muncul di ufuk timur ketika suara sirine polisi semakin dekat. Langit yang tadinya gelap, kini mulai berubah menjadi biru keunguan tipis, seperti kanvas yang baru saja dicuci dan belum sempat kering. Awan-awan tipis bergerak lambat, seperti kapas yang ditiup angin, sesekali menutupi matahari, sesekali membiarkannya bersinar dengan lembut. Embun pagi masih menempel di rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar gudang, menciptakan kilauan kecil di bawah cahaya matahari yang mul
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Tamparan Tina (part 3)

    "Dulu, Wandi tidak punya uang. Wandi tidak punya pekerjaan tetap. Wandi tidak bisa memberi makan aku dan Nila. Aku menganggapnya gagal. Aku menganggapnya tidak pantas. Aku menganggapnya sampah. Tapi sekarang... sekarang Wandi adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal. Dia menyelamatkan Andre. Dia memberi Andre kesempatan kedua. Padahal Andre baru saja mencoba membunuhnya."Tina menutup matanya. Bayangan Wandi muncul di benaknya. Wandi yang dulu kurus kering, dengan kemeja lusuh dan mata sayu. Wandi yang dulu tidak bisa membeli beras untuk keluarganya. Wandi yang dulu sering pulang dengan wajah lelah dan penghasilan pas-pasan. Dan Wandi yang sekarang, tegap, percaya diri, kaya raya, dan penuh dengan kebaikan yang tidak pernah dia bayangkan.Aku salah. Aku benar-benar salah. Aku tidak pernah melihat potensi Wandi. Aku tidak pernah melihat perjuangannya. Aku hanya melihat kegagalannya. Aku hanya melihat kekurangannya. Aku hanya melihat apa yang tidak dia miliki, bukan apa yang

  • Kurir Pemilik Sistem   Tamparan Tina (part 2)

    "Pak Andre, saya harus memborgol Bapak."Andre mengangguk. Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan, menyerahkan diri sepenuhnya. Borgol itu dipasang di pergelangan tangannya dengan suara klik yang nyaring."Pak Andre, Bapak berhak atas pengacara. Bapak juga berhak diam jika tidak ingin menjawab pertanyaan kami. Apakah Bapak mengerti?"Andre mengangguk. "Saya mengerti, Pak.""Baik. Silakan ikut saya ke mobil."Andre berjalan ke mobil polisi. Sebelum masuk, dia menoleh ke Wandi."Wandi... maafkan aku."Wandi tersenyum. "Aku sudah memaafkanmu, Andre. Sekarang, perbaikilah dirimu."Andre mengangguk, lalu masuk ke mobil polisi.Tina masih berdiri di pinggir jalan, menggandeng tangan Nila. Air matanya masih mengalir, tetapi sudah tidak histeris. Dia menatap mobil polisi yang mulai bergerak meninggalkan gudang."Nak, kita pulang," bisik Tina."Ma, Ayah Andre ke mana?" tanya Nila."Ayah Andre pergi ke kantor polisi, Nak. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.""Apakah Ayah Andre akan

  • Kurir Pemilik Sistem   Tamparan Tina (part 1)

    Matahari pagi mulai muncul di ufuk timur ketika suara sirine polisi semakin dekat. Langit yang tadinya gelap, kini mulai berubah menjadi biru keunguan tipis, seperti kanvas yang baru saja dicuci dan belum sempat kering. Awan-awan tipis bergerak lambat, seperti kapas yang ditiup angin, sesekali menutupi matahari, sesekali membiarkannya bersinar dengan lembut. Embun pagi masih menempel di rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar gudang, menciptakan kilauan kecil di bawah cahaya matahari yang mulai merembes.Andre berdiri di samping Wandi, di depan gudang tua yang gelap dan lembab. Wajahnya pucat pasi, matanya sayu dan merah karena sepanjang malam dia tidak bisa tidur, hanya menangis, meratapi nasibnya, dan menyesali perbuatannya. Rambutnya yang disisir rapi pagi kemarin, kini acak-acakan, beberapa helai menempel di dahinya yang berkeringat. Kemeja hitam yang dia kenakan kusut di beberapa bagian, dan di bagian lengan kanannya, masih terlihat noda darah, darah Wandi yang mengalir saat di

  • Kurir Pemilik Sistem   Komunikasi (part 2)

    Wandi menatap titik merah itu. Lokasinya di Jakarta Utara, di sebuah gudang tua di kawasan industri."Andre... aku akan menemuimu."Wandi berdiri. Dia merapikan kemejanya, mengambil jaket jeans dari belakang pintu, dan mengenakannya. Dia mengambil keris dari meja, menyelipkannya di pinggang, di balik jaketnya."Rin, aku pergi," bisik Wandi.Arini yang sedang tertidur, tiba-tiba membuka mata. Matanya yang masih sayu menatap Wandi."Wan... kamu mau ke mana? Masih malam.""Aku harus pergi, Rin. Aku tahu di mana Andre berada."Arini langsung duduk. Wajahnya yang tadinya tenang, kini berubah menjadi cemas. "Andre? Kamu mau menghadapinya? Wan, itu berbahaya!""Aku harus, Rin. Aku tidak bisa membiarkan dia terus berkeliaran. Dia akan mencoba lagi. Dia tidak akan berhenti.""Tapi Wan, kamu baru saja pulih dari luka!""Dan aku sudah pulih, Rin. Aku sehat. Aku kuat. Aku bisa mengatasinya."Arini menangis. "Aku takut kehilangan kamu, Wan.""Kamu tidak akan kehilangan aku, Rin. Aku janji."Di sam

  • Kurir Pemilik Sistem   Komunikasi (part 1)

    Malam itu, langit di atas Cipinang gelap tanpa bintang. Awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat seperti beludru hitam yang membungkus bumi. Lampu-lampu jalan di gang depan rumah Wandi masih menyala, beberapa redup, beberapa berkedip-kedip tidak karuan. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara jangkrik dari halaman belakang dan suara knalpot motor dari jalan raya yang terdengar samar-samar.Wandi duduk di kursi di samping kasur, tidak bergerak. Arini sudah tertidur pulas di kasur, dengan Noval di sampingnya. Wajah Arini masih sedikit pucat, bekas-bekas tangisan masih terlihat di sudut matanya. Noval juga masih tertidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya memeluk boneka kecil peninggalan ibunya, tangan kirinya terulur ke arah Arini. Wajahnya yang mungil masih menunjukkan sisa-sisa ketakutan, alisnya sedikit berkerut bahkan dalam tidur.Wandi menatap mereka berdua. Dadanya terasa sesak. Dia hampir keh

  • Kurir Pemilik Sistem   Ambulans Tiba (part 2)

    "Terima kasih, Mas."Sementara perawat sibuk memeriksa Wandi, dua orang polisi, seorang pria dengan kumis tebal dan seorang perempuan dengan rambut pendek, mendekati kerumunan. Mereka memakai seragam coklat dengan topi pet, dan di pinggang mereka, tergantung senjata api dan borgol."Selamat siang. Saya Bripka Budi, ini Bripda Sari. Kami menerima laporan penusukan di alamat ini," sapa polisi pria dengan suara tegas."Selamat siang, Pak, Bu," jawab Pak Dadang. "Benar, ada penusukan. Mas Wandi yang menjadi korban.""Di mana korban?""Di sana, Pak. Yang sedang diperiksa perawat."Bripka Budi dan Bripda Sari berjalan mendekati Wandi. Mereka melihat Wandi yang duduk di kursi, dengan kemeja berlumuran darah, tetapi tidak ada luka yang terlihat."Selamat siang, Bapak. Bapak Wandi?" tanya Bripka Budi."Selamat siang, Pak. Iya, saya Wandi.""Kami mendengar Bapak ditusuk di punggung. Bisa Bapak ceritakan apa yang terjadi?"Wandi menghela napas. "Saya sedang berhadapan dengan seorang pria bernama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status