Share

Bab 58

Author: RIANNA ZELINE
last update Last Updated: 2025-08-14 15:16:23

Hembusan napas panjang keluar perlahan. Kucoba tenang meski ada ketakutan yang menjalar. Tapi rasa penasaran itu semakin membesar.

"Kalau boleh tahu, sedekat apa kamu dengannya?" tanyaku menyelidik.

Selina semakin menautkan dua alisnya. Jelas dia curiga dari caraku bertanya.

"Tidak dekat, Bu. Hanya sekedar tahu saja. Memangnya kenapa Anda menanyakan hal itu? Apa ada masalah?"

"Tidak apa-apa. Aku lihat akhir-akhir ini dia dekat dengan Kak Rafael. Mungkin kamu tahu sesuatu tentang mereka?

Aku sengaja tak langsung mengungkap niatku yang sebenarnya. Mencoba memancing seberapa jauh Selina mengenal Amelia. Kutatap dan kuperhatikan Selina dengan serius untuk membaca ekspresi di wajahnya. Namun, Selina justru tersenyum penuh arti menatapku. Seketika aku sadar akan apa yang saat ini dipikirkan Selina tentangku.

"Sepertinya ada benih cemburu, nih!" godanya.

Aku mendelik, lalu segera menyangkalnya. "Bukan itu maksudku. Jangan menuduh yang tidak-tidak," kataku sambil memalingkan wajah.

Se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 72

    Aku berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD. Menunggu seseorang yang kini terasa sangat penting bagiku. Seseorang yang kini menjadi harapan untuk kesembuhan anakku. Sementara Revan sudah mulai dipindahkan ke ruang operasi. Begitu Mas Evan datang, aku menatapnya penuh kelegaan. Namun, bibirku bungkam, tak tahu harus berkata apa. Aku hanya mengangguk, memintanya mengikutiku untuk bertemu dengan perawat. Proses itu terasa cukup panjang. Jarum akhirnya ditarik dari lengan Mas Evan. Perawat menempelkan kapas, lalu membalutnya dengan perban tipis. Mas Evan duduk diam beberapa detik, menatap lengannya sendiri seolah baru saja melakukan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami maknanya. Aku berdiri tidak jauh darinya. Tidak berani terlalu dekat. Tidak berani terlalu jauh. “Terima kasih,” ucapku pelan. Hanya itu yang sanggup kukatakan. Mas Evan menoleh. Tatapannya singkat, datar, tapi ada kelelahan yang jelas di sana. “Yang penting Revan bisa selamat.” Aku mengangguk, menjaga lidah untu

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 71

    Kak Rafael dan Kak Ravindra sudah di sampingku. Tapi aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada Vania dan orang suruhannya. Mungkin saja orang-orang kakakku sibuk melawan para penculik itu. Kini di hadapanku yang ada hanya darah. Tubuh kecil yang terlalu ringan. Dan rasa bersalah yang menghantamku lebih keras daripada apa pun.Aku mendekap Revan erat-erat, mengguncangnya pelan. “Bertahan, Nak… Mama mohon… Mama mohon…”Di belakangku, suara teriakan dan langkah-langkah berlarian kembali pecah. Tapi dunia sudah runtuh lebih dulu. Karena kali ini, aku tidak tahu apakah pelukanku cukup kuat untuk menahannya tetap hidup."Kita tidak punya waktu. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit," kata Kak Ravindra, dan tanpa menunggu jawabanku, ia langsung menggendong tubuh Revan menuju pintu keluar.Aku mengikutinya bersama derai air mata yang terus tumpah. Begitu pula Kak Rafael. Ia berjalan di sisiku, menopang tubuhku saat langkahku hampir goyah, separuh jiawaku hampir menghilang dari raga. Aku

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 70

    Bagaimana bisa orang itu ternyata bukan Vania?Aku mengedip beberapa kali. Memastikan aku tidak salah lihat. Orang yang berdiri di sana, adalah seorang wanita yang sangat kukenal, tapi sama sekali bukan orang yang kucurigai."Mbak Lani?" ucapku lirih, nada masih setengah tak percaya.Wanita yang selama ini sudah kupercaya merawat anakku, kenapa justru dia yang merupakan dalang dari penculikan itu. Apa yang sebenarnya dia inginkan?Dia tersenyum lebar, seolah sudah menang setelah mengalahkanku dengan menculik Revan."Apakah sesuai dengan dugaan Anda, Bu Dinara?" tanyanya sambil tertawa kecil.Aku menggeram. Tanganku mengepal. Mataku langsung menatapnya tajam."Apa-apaan ini, Mbak? Kenapa kamu yang di sini? Nggak... nggak mungkin kamu dalang dari penculikan ini, 'kan?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku.Dia masih tersenyum, lalu menggeleng kecil."Bu Dinara... Anda memang terlalu baik, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ancaman besar ada di dekat Anda se

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 69

    Tanpa kata, aku menatap Kak Ravin dengan penuh kesungguhan. Kutunjukkan bahwa aku siap melakukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan mundur. Bahkan jika harus mengorbarkan nyawa, aku sanggup asalkan Revan dibiarkan hidup.Aku melangkah pergi, masuk ke mobil, menutup pintu, dan baru saat mesin menyala aku mengirim titik lokasi itu ke Kak Rafael. Setelahnya, aku kembali membuka dan memperhatikan pesan dari penculik.Pesan itu masuk pukul 17.42. Nomor yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi.[Datang sendiri. Gudang lama di ujung Pelabuhan Timur. Jangan bawa siapa pun. Anakmu masih hidup karena kami menepati janji.]Aku membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada foto. Tidak ada bukti. Seolah mereka sudah yakin satu hal—laku akan datang.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin mengulur waktu, meski aku tak yakin apakah orang-orang kakakku dan Kak Rafael sudah mengikutiku. Yang jelas, aku berusaha yakin jika mereka akan menolongku tepat waktu.De

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 68

    Jalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 67

    Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status