LOGINSuara gesekan tasbih kayu berukir di antara jemari Kiai Haji Anwar beradu pelan dengan aroma asap gaharu yang menyeruak pekat di dalam surau tua.
Lampu teplok di sudut ruangan memancarkan cahaya keemasan yang temaram, membiarkan bayangan tiga insan di dalam surau meliuk-liuk kaku menembus dinding-dinding papan tua. Amel duduk bersila tepat di hadapan sebuah bejana tembaga berisi air doa dan celupan bunga kantil putih yang memancarkan aroma kesegaran alami. Di samping bejana itu, Kujang Pasupati terbaring bisu di atas kain beludru hitam, memantulkan kilau redup yang misterius sekaligus membekukan pandangan mata. "Pusatkan pikiran dan seluruh jiwamu, Neng Amel," bisik Kiai Anwar dengan suara bariton yang dalam, tenang, dan sarat wibawa. "Air doa di dalam bejana ini telah dirawat dengan lafaz-lafaz keselamatan peninggalan para leluhur penyebar syiar agama masa lalu. Saat air ini membasahi ubun-ubun dan pergelangan tanganmu, bayangkan seluruh rasa takut, trauma, serta aroma darah mudamu disucikan dan tersamarkan. Jangan biarkan sedikit pun rasa ragu atau bisikan bisu merusak konsentrasi batinmu." Amel memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas panjang untuk menetralkan ketegangan yang membuat otot-otot bahunya kaku. Di sebelah kirinya, Mak Inah merapatkan posisi duduknya hingga bahu mereka bersentuhan. Tangan wanita tua yang keriput itu mengusap lembut punggung Amel, memberikan kehangatan seorang ibu. Ia sendiri mulai melafalkan ayat-ayat perlindungan dengan suara lirih yang pasrah namun penuh keteguhan jiwa. Kiai Anwar mencelupkan jemarinya ke dalam bejana tembaga, lalu menyipratkan air doa itu ke ubun-ubun serta kedua telapak tangan Amel. Sensasi dingin luar biasa yang menjalar seketika membuat Amel tersentak pelan. Rasa dingin itu bukan dingin biasa; terasa seperti lelehan es murni yang meresap menembus pori-pori kepala, mengalir menyusuri leher, hingga bermuara di ujung jari-jari kakinya. Anehnya, bersamaan dengan rasa dingin yang menjalar tersebut, kepanikan hebat yang membakar dadanya sejak tadi malam perlahan-lahan menyusut, berganti menjadi ketenangan batin yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, ketenangan di dalam bangunan suci itu tak dibiarkan bertahan lama oleh para penghuni kegelapan Kampung Lebakwangi. Wuuushhh! Angin malam yang amat kencang mendadak bertiup menghantam dinding papan surau dari luar dengan hantaman keras. Atap seng dan genting kayu berderak-derak seolah sedang diterjang badai dahsyat secara mendadak. Nyala api pada sumbu lampu teplok menari liar dan mengecil drastis, berubah warna dari kuning hangat menjadi biru pekat yang menyuramkan seluruh sudut ruangan. Udara di dalam surau yang semula harum gaharu mendadak terkontaminasi oleh bau busuk hanyir yang teramat menyengat—seperti aroma bangkai binatang yang membengkak di dalam lumpur sawah bertahun-tahun. Sret... sret... brak! Suara ketukan dan garukan kuku-kuku panjang berkerak tiba-tiba terdengar menggaruk papan dinding luar surau secara beringas dan tak beraturan. Tidak hanya di satu titik, melainkan mengelilingi seluruh dinding luar bangunan surau seolah puluhan tangan gaib sedang berusaha merobek papan kayu tersebut. Suara desisan panjang yang melengking tinggi, bercampur dengan lenguhan parau bernada marah dan haus darah, memantul-mantul menembus celah-celah ventilasi kayu atas. Amel spontan membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya kembali melonjak kencang, dan tangannya refleks merapatkan dekapan pada kain mukena putih yang ia kenakan. Dari balik celah gorden jendela kayu yang tersingkap sedikit oleh hembusan angin asing, Amel melihat bayangan-bayangan hitam yang amat tinggi dan bungkuk bergerak-gerak liar di halaman luar surau. Bayangan-bayangan itu memiliki pasang mata berwarna merah membara yang menatap tajam ke arah dalam, berusaha keras mencari cara menembus batas pagar gaib yang memagari surau. "Jangan buka matamu dan jangan sekali-kali kamu hentikan wiridmu, Amel!" gertak Kiai Anwar dengan nada suara tegas tanpa mengubah posisi bersilanya sedikit pun. Kiai Anwar mengangkat tasbih kayunya tinggi-tinggi ke udara. Beliau mulai melafalkan doa-doa penolak bala dengan suara bariton menggelegar yang memenuhi ruangan, mengimbangi kegaduhan gila dan raungan makhluk di luar sana. Suara beliau menggema memantul di antara tiang-tiang kayu surau, memancarkan gelombang hangat tak kasat mata yang membuat pendar lampu teplok kembali menguat keemasan secara perlahan. Aaaaghh... ssssshh! Suara jeritan melengking kesakitan terdengar riuh dari balik dinding luar, disusul oleh derap langkah-langkah berat yang terpental mundur meninggalkan halaman surau. Makhluk-makhluk pengintai hutan bambu itu seolah tersengat hebat oleh energi sakral yang dipancarkan dari dalam surau. Bau busuk hanyir yang sempat merebak pekat perlahan terdorong keluar, digantikan kembali oleh keharuman gaharu dan minyak zaitun yang menenteramkan jiwa. Napas Amel tersengal-sengal saat ia menghembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dada. Air mata perlahan menetes di pipinya—bukan lagi semata-mata karena ketakutan yang melumpuhkan, melainkan karena kesadaran penuh bahwa perjuangan batin dan fisik melawan kegelapan Lebakwangi telah benar-benar dimulai. Di bawah bimbingan Kiai Anwar dan dekapan hangat sang ibu, Amel mengepalkan tangannya rapat-rapat di dekat Kujang Pasupati, siap menempa batinnya menghadapi malam penentuan Jumat Kliwon yang kian dekat.Pelataran punden keramat di tengah Hutan Bambu Hitam Kembar menyajikan suasana yang begitu hening, dingin, dan pekat. Hawa mistis yang mengendap di tempat sakral ini terasa jauh lebih menekan dada dibandingkan titik-titik lain yang telah Amel lalui sejak memasuki hutan larangan. Di pusat pelataran tanah melingkar tersebut, berdiri dua batang pohon bambu hitam berukuran raksasa. Lingkaran batang bambu itu sedemikian besar hingga membutuhkan tiga dekapan orang dewasa untuk bisa mengelilinginya secara utuh. Di antara sela-sela kedua batang bambu hitam kembar itu, terletak sebuah batu punden berlumut tebal yang kehitaman. Permukaan batu keramat tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak cairan kering yang memancarkan bau hanyir darah sangat menusuk hidung. Batu itu menjadi saksi bisu atas perjanjian haram yang diikat oleh para sesepuh dusun demi kemakmuran semu tiga puluh tahun yang lalu. Amel melangkah pelan sembari memap
Guncangan hebat mendadak menjalar dari dalam perut bumi tepat saat bilah besi Kujang Pasupati tertancap telak hingga ke hulu gagang kayunya. Tanah di antara dua batang bambu hitam kembar itu membelah lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menerobos keluar bagaikan kilatan petir dari bawah tanah.Seketika itu juga, raungan histeris melengking tinggi bergema dari celah udara di atas batu punden keramat. Entitas penguasa punden menggeliat liar di udara, wujud asap hitamnya yang pekat mulai terbakar dan terurai akibat luapan aura sakral dari pusaka tua tersebut.Aaaaghh! Darah perjanjianku... pusaka itu membakar jiwaku sampai ke dasar!Jeritan gaib itu begitu dahsyat hingga membuat batang-batang bambu hitam di sekeliling pelataran bergetar hebat dan saling beradu kencang. Dedaunan hitam berguguran bagaikan hujan angin, sementara retakan-retakan tanah baru kian meluas menyebar ke segala arah membelah pelataran.Amel berlutut di tanah basah dengan kedua tangan masih menggenggam erat
Aura kejahatan murni memancar amat pekat dari sosok raksasa yang menghadang kaku di ujung lorong bambu. Tubuhnya yang tinggi menjulang tegap dibentuk oleh susunan akar-akar hitam beracun dan serat bambu membusuk yang saling melilit erat.Di bagian dada sosok raksasa tersebut, tampak puluhan tengkorak manusia berukuran kecil tertanam kusam. Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aroma hanyir darah yang membuat kepala Amel mendadak pening luar biasa.Dua mata merah membara milik penjaga gerbang punden itu menatap lurus penuh kebencian ke arah Amel dan Mak Inah. Dari celah rahangnya yang terbelah dua, keluar kepulan asap hitam pekat berbau belerang terbakar yang merusak indra penciuman.Rrrrgh... Jiwa keturunan yang ingkar janji tidak akan pernah diizinkan menyentuh tanah punden ini...Suara raksasa itu menggelegar dahsyat memekakkan telinga, menggoncangkan dedaunan bambu hitam di atas kepala mereka hingga berjatuhan bagaikan hujan abu hitam yang tak henti-henti.Amel terdorong dua langkah
Kabut hitam yang tebal dan pekat langsung menyergap Amel dan Mak Inah saat kaki mereka resmi melangkahi ambang pintu Hutan Bambu Hitam Kembar. Udara di dalam hutan larangan ini terasa jauh lebih berat, pekat, dan mencekam dibandingkan jalan setapak terbuka di luar tadi.Setiap helai napas yang ditarik Amel membawa sensasi dingin yang seolah membekukan rongga dada dan tenggorokan. Keadaan ini diiringi aroma busuk tanah lembap yang mengendap dan membusuk selama puluhan tahun di bawah naungan pohon-pohon punden.Di sekeliling mereka, jajaran rumpun bambu betung berdaun hitam tumbuh merapat secara tidak wajar. Batang-batang bambu tebal berdiameter lebar itu menjulang tinggi memagari sisi jalan, melengkung saling bertautan di atas kepala hingga membentuk sebuah lorong kegelapan abadi yang amat rapat.Tidak ada seberkas pun pendar cahaya dari langit yang sanggup menembus atap bambu alami tersebut. Hal itu menciptakan ruang gelap gulita yang bagaikan rongga perut binatang raksasa."Mel... ja
Hawa dingin yang mencekam seketika mengunci seluruh persendian Amel saat api obor di tangan ibunya padam total. Kegelapan di mulut Hutan Bambu Hitam Kembar seolah memadat bagaikan dinding tipis tak terlihat, menyerap sisa-sisa pendar malam yang menyelimuti pedesaan.Di depan jalan setapak berbatu yang menanjak curam, dua pasang mata berwarna merah darah itu menyala semakin terang di antara gulungan kabut tebal yang merayap rendah dari bawah tanah.Grrr... ssshh...Geraman parau bernada rendah menggetarkan permukaan tanah basah tepat di bawah telapak kaki Amel. Dari balik bayang-bayang rumpun bambu tua yang meliuk kaku, dua sosok makhluk berbadan bungkuk merangkak keluar secara perlahan.Wujud mereka menyerupai tubuh manusia yang sangat kurus dengan kulit kehitaman mengelupas seperti kayu terbakar. Jemari tangan dan kaki mereka memanjang secara tak alami dengan kuku-kuku hitam tajam yang berkerak tanah kuburan.Amel mendapati napasnya tertahan rapat di tenggorokan, lidahnya terasa kelu
Malam yang ditakutkan itu akhirnya tiba membalut Kampung Lebakwangi dalam pekatnya takdir. Langit di atas dusun tua itu tertutup rapat oleh gulungan awan hitam yang tebal, tanpa disinari seberkas pun cahaya bulan ataupun pendar bintang.Udara malam Jumat Kliwon terasa luar biasa dingin, lembap, dan sangat pekat. Keadaan ini membawa hawa magis yang menusuk hingga ke dalam tulang rusuk dan membuat dada terasa sesak sejak helaian napas pertama.Di dalam surau tua yang lengang, Kiai Haji Anwar berdiri tegak tepat di dekat pintu kayu yang sedikit terbuka. Di hadapannya, Amel telah bersiap penuh dengan mengenakan pakaian hitam longgar dan kain sarung tua yang terikat rapi di bagian pinggangnya.Di dalam selipan kain sarungnya, Kujang Pasupati tersimpan dengan sangat aman. Pusaka itu terbungkus rapi oleh kain beludru hitam yang telah diruwat khusus dengan doa-doa keselamatan dan penolak bala.Mak Inah berdiri rapat di samping Amel sambil menggenggam sebuah obor bambu kecil







