FAZER LOGINDemi membayar utang keluarganya, Elodie terpaksa menerima perjodohan dengan Pewaris Manor Blackwood yang terkenal angker. Dia tidak tahu, dia adalah pengantin ke-13. Dua belas pengantin sebelumnya mati di malam pertama, darah mereka menjadi mahar untuk mengunci kutukan manor itu. Dan sekarang, giliran Elodie yang harus membayarnya. Adrian Blackwood, arogan, dingin, dan pemilik manor itu, menatap Elodie bukan dengan cinta, tapi dengan obsesi. Baginya, Elodie bukan istri, tapi tumbal. "Aku membelimu. Nyawamu adalah milikku sekarang."
Ver maisDua belas potret pengantin menatapku dari dinding. Semua mati.
Itu hal pertama yang aku sadari saat masuk ke aula ini. Dua belas lukisan perempuan cantik mengenakan kebaya putih, wajahnya berbeda-beda, tetapi tatapannya sama semua, kosong dan dingin, seperti sedang menatapku dan berkata, "Kamu selanjutnya."
Dan aku, Elodie, adalah yang ketiga belas.
Aula ini sangat besar, dinginnya tidak wajar. Padahal lilin menyala di mana-mana, tetapi tidak membuat hangat sama sekali. Bau dupa dan bunga melati busuk bercampur menjadi satu dan membuatku mual.
Di depan altar, dia berdiri.
"Elodie, lihat saya."
Suaranya berat, rendah, dan memerintah. Bukan meminta, melainkan memaksa.
Jantungku seakan berhenti. Tanganku yang sedari tadi meremas kebaya putihku semakin kencang, sampai kuku-kukuku hampir menancap ke telapak tangan.
Aku mengangkat kepala perlahan.
Adrian Blackwood.
Seandainya dia bukan orang yang akan menikahiku secara paksa, aku pasti sudah terpesona. Ketampanannya tidak masuk akal. Alis tebal, hidung mancung, rahang tegas, jas hitamnya dijahit pas dengan tubuhnya yang tinggi, rambutnya disisir rapi ke belakang. Sempurna, seperti patung.
Tetapi matanya.
Matanya hitam pekat, sangat dingin, tidak ada kehangatan sama sekali. Dia menatapku bukan seperti menatap calon istri, melainkan seperti menatap barang, miliknya.
"Di mana maharnya?" bisikku akhirnya. Suaraku gemetar, sangat kecil, hampir tidak terdengar. "Mengapa tidak ada cincin?"
Adrian tersenyum. Senyum itu tidak sampai ke matanya.
"Mahar?" Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya menggema di lantai marmer. "Kamu pikir pernikahan ini tentang cincin?"
Aku mundur satu langkah. Punggungku hampir menyentuh dinding dingin.
"Keluargamu sudah menerima maharnya, Elodie. Hutang ayahmu lunas. Rumah ibumu tidak akan disita. Adikmu bisa terus sekolah. Bukankah itu cukup?"
Aku membeku. Jadi itu benar. Ayah menjualku.
"Jadi aku dibeli?" Suaraku akhirnya pecah.
"Dibeli adalah kata yang kasar," jawab Adrian santai. Ia kini berdiri tepat di hadapanku. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Aromanya menyeruak, aroma kayu mahal dan sesuatu yang gelap, seperti hujan di atas tanah basah. "Aku lebih suka menyebutnya diselamatkan."
Tangannya terulur. Jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya. Sentuhannya membuat bulu kudukku berdiri.
"Jangan takut," bisiknya. "Dua belas yang sebelum kamu, mereka tidak patuh. Mereka terus mencoba melarikan diri. Mereka terus mencoba mengingatkanku tentang cinta."
Ia menoleh ke dua belas potret di dinding.
"Mereka tidak mengerti aturan di rumah ini. Di rumah Blackwood, istri tidak perlu mencinta. Istri hanya perlu tinggal."
Kata tinggal itu ia tekankan dengan sangat pelan, membuatku semakin mual.
"Lepaskan saya," ucapku dengan sisa keberanian.
Adrian tidak melepaskan. Sebaliknya, ibu jarinya mengusap bibir bawahku dengan pelan. Gerakannya begitu lembut, tetapi terasa mengancam.
"Kamu cantik ketika takut, Elodie. Jauh lebih cantik daripada di dalam lukisan-lukisan itu."
Ia akhirnya melepaskan daguku. Aku langsung menarik napas panjang, seperti orang yang baru saja tenggelam.
Seorang pria tua dengan jas hitam tiba-tiba muncul dari bayangan di sisi altar. Ia membawa sebuah kotak beludru hitam dan sebuah buku tua yang sangat besar.
"Tuan, waktunya," kata pria tua itu dengan suara serak.
Adrian mengangguk. Ia kembali menatapku.
"Berlututlah."
Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak. Aku tidak akan menikah denganmu."
"Kamu tidak punya pilihan," jawab Adrian. Nadanya tetap tenang, tetapi sorot matanya semakin gelap. "Kamu bisa berlutut sendiri, atau aku yang akan membuatmu berlutut. Pilihlah."
Dua belas pasang mata di dalam lukisan itu seakan-akan ikut menatapku. Menunggu.
Air mataku yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Satu tetes, kemudian tetes berikutnya. Aku tidak ingin menangis di hadapannya, tetapi tubuhku tidak bisa berhenti gemetar.
Dengan lutut yang lemas, aku akhirnya berlutut di atas bantal merah yang telah disiapkan di depan altar. Kebaya putihku yang mahal kini terasa seperti kain kafan.
Pria tua itu membuka buku tua di hadapanku. Halaman-halamannya menguning dan penuh dengan tulisan tangan yang tidak kukenali.
"Ucapkan setelah saya," kata pria tua itu.
Aku menatap Adrian yang berdiri menjulang di atasku. Ia menatapku turun dengan tatapan milik sepenuhnya.
"Aku, Elodie, menyerahkan diriku..."
Aku diam. Bibirku terkunci.
Adrian berjongkok di hadapanku, hingga wajah kami sejajar. Ia meraih kedua tanganku yang dingin lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Kontrasnya membuatku semakin bingung.
"Ucapkan, Elodie," bisiknya, hanya untukku. "Ucapkan dan semua ini akan selesai. Ibumu akan aman."
Nama ibu membuat pertahananku runtuh.
Dengan suara bergetar hebat, aku mengikuti kalimat itu.
"Aku, Elodie, menyerahkan diriku, jiwa dan ragaku, kepada Adrian Blackwood, sampai maut memisahkan."
Begitu kalimat terakhir selesai, Adrian membuka kotak beludru hitam itu. Di dalamnya tidak ada cincin berlian, melainkan sebuah gelang emas tipis dengan ukiran aneh yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ukirannya seperti duri mawar yang saling melilit.
Ia mengambil gelang itu dan melingkarkannya di pergelangan tangan kiriku. Terdengar bunyi klik yang pelan, tetapi sangat final.
Gelang itu terasa dingin, kemudian perlahan-lahan menjadi hangat, menyesuaikan diri dengan suhu tubuhku. Terlalu pas. Tidak bisa dilepas.
"Inilah cincin pernikahan kita," kata Adrian sambil mengusap gelang itu dengan ibu jarinya. "Agar semua orang tahu kamu milik siapa. Agar kamu sendiri tidak pernah lupa."
Aku menatap gelang itu. Ada sesuatu yang berdenyut di dalamnya, seperti detak jantung kedua.
"Apa yang telah kamu lakukan kepadaku?" tanyaku lirih.
Adrian tersenyum untuk kedua kalinya. Kali ini senyumnya terlihat tulus, tetapi justru itulah yang paling menakutkan.
"Aku baru saja mengikatmu selamanya, istriku."
Ia berdiri dan menarikku untuk berdiri juga. Kakiku masih gemetar, sehingga aku hampir terjatuh. Adrian dengan sigap menangkap pinggangku, menahan tubuhku agar tetap dekat dengannya.
Dari dekat, aku bisa melihat dengan jelas bahwa matanya bukan hitam pekat biasa. Di dalam hitam itu ada semburat merah yang sangat tipis, seperti bara api yang hampir padam.
"Selamat datang di rumahmu yang baru, Nyonya Blackwood," bisiknya di telingaku. Napasnya hangat menyentuh kulitku. "Dua belas yang lain tidak pernah bertahan melewati malam pertama. Mari kita lihat apakah kamu yang ketiga belas akan berbeda."
Darah Adrian masih terasa di bibirku. Manis, bau besi dan mawar busuk.Lingkaran darah di lantai kamar tiga belas itu perlahan mengering, meresap ke dalam kayu hitam, meninggalkan bekas ukiran mawar yang menyala redup. Sama seperti gelang duri di tanganku.Sunyi.Setelah jeritan dua belas pengantin itu berhenti dan semua pintu di koridor tertutup sendiri dengan suara yang menggema, kamar ini kembali sunyi.Adrian berlutut di depanku. Pergelangan tangannya yang tadi robek masih mengucurkan darah hitam, tapi lukanya perlahan menutup sendiri. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan tatapan dingin tuan rumah. Tapi tatapan seorang suami yang takut kehilangan istrinya."Kamu sudah melakukannya," bisiknya pelan."Kamu sudah jadi Nyonya Blackwood yang sah. Sekarang rumah ini tidak bisa menolakmu. Mereka juga tidak bisa mengambil paksa lagi."Aku menatap perutku yang rata. Aku mengusapnya pelan. Urat emas tipis dari gelangku masih terlihat samar di bawah kulit
"Pernikahan dengan darah? Apa maksudmu?" bisikku. Perutku yang sudah sebesar hamil lima bulan itu terasa berat, panas, dan terus bergerak-gerak seperti ada kuku yang menggaruk dari dalam.Gedoran di luar semakin brutal.BRAK!Retakan di pintu kayu hitam itu semakin lebar. Asap hitam Adrian mulai menipis. Aku bisa melihat bayangan dua belas gaun putih di balik celah pintu, semuanya merapat, semuanya mengerikan."Mereka tidak akan bertahan lama!" geram Adrian. Matanya merah padam, urat-urat hitam mulai muncul di lehernya. Ia tidak lagi terlihat seperti pria tampan yang menikahiku. Ia terlihat seperti penjaga rumah ini yang sebenarnya.Tanpa ragu, ia merobek pergelangan tangannya sendiri dengan kuku jarinya yang tiba-tiba memanjang dan hitam mengkilat.Darah merah pekat, hampir hitam, langsung mengucur deras. Tetesannya jatuh ke lantai kayu hitam dan mendesis, seperti air yang jatuh di atas bara."Di keluarga Blackwood, gelang hanya untuk mengikat jiwa. Tapi darah untuk mengikat rahim,"
Aku terbangun karena mual.Bukan mual biasa. Mual yang naik dari perut sampai ke tenggorokan, asam, pahit. Aku langsung lari ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tiga belas ini dan muntah.Tidak ada isi. Hanya cairan bening dan darah segar.Darah itu bukan dari tenggorokanku. Aku bisa merasakannya. Darah itu keluar dari dalam perutku.Adrian sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi. Entah sejak kapan dia ada di sana. Jas hitamnya sudah dilepas, hanya kemeja putih yang lengannya digulung. Matanya kembali normal, hitam dengan semburat merah tipis, bukan hitam pekat seperti semalam."Kamu hamil," katanya. Datar. Bukan pertanyaan. Pernyataan.Aku membeku sambil masih memegangi kloset. Tangan yang ada gelang duri mawarnya gemetar."Apa maksudmu hamil? Kita bahkan belum melakukan apa pun semalam!" jeritku. Suaraku pecah karena panik.Adrian berjongkok di depanku. Ia meraih daguku dengan lembut, memaksaku menatapnya. Tangannya yang satu lagi menyentuh perutku yang masih rata di balik keba
"Elodie, putriku, buka pintunya."Suara itu lagi. Persis suara ibu. Serak, pelan, seperti orang yang sudah lama menangis di tengah hujan.Tanganku refleks ingin mendorong tangan Adrian yang membekap mulutku. Itu ibu. Ibu yang hutangnya dilunasi dengan menjualku ke Adrian."Shhh," bisik Adrian tepat di telingaku. Napasnya panas. Pelukannya semakin erat, tubuhku terkunci di dalam pelukannya di atas ranjang. "Dengar baik-baik, Elodie. Itu bukan ibumu."Aku menggeleng keras di dalam bekapannya. Air mataku membasahi jari-jarinya."Jika itu ibumu, bagaimana dia bisa tahu kamu di kamar nomor tiga belas?" bisik Adrian lagi. "Tidak ada seorang pun di desamu yang tahu denah rumah ini. Bahkan ayahmu."Kalimat itu membuatku membeku.Benar. Ayah hanya bilang aku akan dinikahkan dengan Tuan Blackwood yang kaya raya dari kota. Ayah tidak pernah menyebut koridor batu bata, lilin biru, atau kamar nomor tiga belas.Di luar pintu, suara itu berubah. Dari memanggil pelan menjadi menggedor.BRAK!"Elodie!
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.