MAHAR DARAH KE-13

MAHAR DARAH KE-13

last updateÚltima atualização : 2026-09-29
Por:  GoresantintaAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Classificações insuficientes
7Capítulos
8visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Demi membayar utang keluarganya, Elodie terpaksa menerima perjodohan dengan Pewaris Manor Blackwood yang terkenal angker. Dia tidak tahu, dia adalah pengantin ke-13. Dua belas pengantin sebelumnya mati di malam pertama, darah mereka menjadi mahar untuk mengunci kutukan manor itu. Dan sekarang, giliran Elodie yang harus membayarnya. Adrian Blackwood, arogan, dingin, dan pemilik manor itu, menatap Elodie bukan dengan cinta, tapi dengan obsesi. Baginya, Elodie bukan istri, tapi tumbal. "Aku membelimu. Nyawamu adalah milikku sekarang."

Ver mais

Capítulo 1

Mahar Darah

Dua belas potret pengantin menatapku dari dinding. Semua mati.

Itu hal pertama yang aku sadari saat masuk ke aula ini. Dua belas lukisan perempuan cantik mengenakan kebaya putih, wajahnya berbeda-beda, tetapi tatapannya sama semua, kosong dan dingin, seperti sedang menatapku dan berkata, "Kamu selanjutnya."

Dan aku, Elodie, adalah yang ketiga belas.

Aula ini sangat besar, dinginnya tidak wajar. Padahal lilin menyala di mana-mana, tetapi tidak membuat hangat sama sekali. Bau dupa dan bunga melati busuk bercampur menjadi satu dan membuatku mual.

Di depan altar, dia berdiri.

"Elodie, lihat saya."

Suaranya berat, rendah, dan memerintah. Bukan meminta, melainkan memaksa.

Jantungku seakan berhenti. Tanganku yang sedari tadi meremas kebaya putihku semakin kencang, sampai kuku-kukuku hampir menancap ke telapak tangan.

Aku mengangkat kepala perlahan.

Adrian Blackwood.

Seandainya dia bukan orang yang akan menikahiku secara paksa, aku pasti sudah terpesona. Ketampanannya tidak masuk akal. Alis tebal, hidung mancung, rahang tegas, jas hitamnya dijahit pas dengan tubuhnya yang tinggi, rambutnya disisir rapi ke belakang. Sempurna, seperti patung.

Tetapi matanya.

Matanya hitam pekat, sangat dingin, tidak ada kehangatan sama sekali. Dia menatapku bukan seperti menatap calon istri, melainkan seperti menatap barang, miliknya.

"Di mana maharnya?" bisikku akhirnya. Suaraku gemetar, sangat kecil, hampir tidak terdengar. "Mengapa tidak ada cincin?"

Adrian tersenyum. Senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Mahar?" Ia melangkah mendekat. Setiap langkahnya menggema di lantai marmer. "Kamu pikir pernikahan ini tentang cincin?"

Aku mundur satu langkah. Punggungku hampir menyentuh dinding dingin.

"Keluargamu sudah menerima maharnya, Elodie. Hutang ayahmu lunas. Rumah ibumu tidak akan disita. Adikmu bisa terus sekolah. Bukankah itu cukup?"

Aku membeku. Jadi itu benar. Ayah menjualku.

"Jadi aku dibeli?" Suaraku akhirnya pecah.

"Dibeli adalah kata yang kasar," jawab Adrian santai. Ia kini berdiri tepat di hadapanku. Aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. Aromanya menyeruak, aroma kayu mahal dan sesuatu yang gelap, seperti hujan di atas tanah basah. "Aku lebih suka menyebutnya diselamatkan."

Tangannya terulur. Jari-jarinya yang panjang dan dingin menyentuh daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya. Sentuhannya membuat bulu kudukku berdiri.

"Jangan takut," bisiknya. "Dua belas yang sebelum kamu, mereka tidak patuh. Mereka terus mencoba melarikan diri. Mereka terus mencoba mengingatkanku tentang cinta."

Ia menoleh ke dua belas potret di dinding.

"Mereka tidak mengerti aturan di rumah ini. Di rumah Blackwood, istri tidak perlu mencinta. Istri hanya perlu tinggal."

Kata tinggal itu ia tekankan dengan sangat pelan, membuatku semakin mual.

"Lepaskan saya," ucapku dengan sisa keberanian.

Adrian tidak melepaskan. Sebaliknya, ibu jarinya mengusap bibir bawahku dengan pelan. Gerakannya begitu lembut, tetapi terasa mengancam.

"Kamu cantik ketika takut, Elodie. Jauh lebih cantik daripada di dalam lukisan-lukisan itu."

Ia akhirnya melepaskan daguku. Aku langsung menarik napas panjang, seperti orang yang baru saja tenggelam.

Seorang pria tua dengan jas hitam tiba-tiba muncul dari bayangan di sisi altar. Ia membawa sebuah kotak beludru hitam dan sebuah buku tua yang sangat besar.

"Tuan, waktunya," kata pria tua itu dengan suara serak.

Adrian mengangguk. Ia kembali menatapku.

"Berlututlah."

Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak. Aku tidak akan menikah denganmu."

"Kamu tidak punya pilihan," jawab Adrian. Nadanya tetap tenang, tetapi sorot matanya semakin gelap. "Kamu bisa berlutut sendiri, atau aku yang akan membuatmu berlutut. Pilihlah."

Dua belas pasang mata di dalam lukisan itu seakan-akan ikut menatapku. Menunggu.

Air mataku yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh. Satu tetes, kemudian tetes berikutnya. Aku tidak ingin menangis di hadapannya, tetapi tubuhku tidak bisa berhenti gemetar.

Dengan lutut yang lemas, aku akhirnya berlutut di atas bantal merah yang telah disiapkan di depan altar. Kebaya putihku yang mahal kini terasa seperti kain kafan.

Pria tua itu membuka buku tua di hadapanku. Halaman-halamannya menguning dan penuh dengan tulisan tangan yang tidak kukenali.

"Ucapkan setelah saya," kata pria tua itu.

Aku menatap Adrian yang berdiri menjulang di atasku. Ia menatapku turun dengan tatapan milik sepenuhnya.

"Aku, Elodie, menyerahkan diriku..."

Aku diam. Bibirku terkunci.

Adrian berjongkok di hadapanku, hingga wajah kami sejajar. Ia meraih kedua tanganku yang dingin lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar dan hangat. Kontrasnya membuatku semakin bingung.

"Ucapkan, Elodie," bisiknya, hanya untukku. "Ucapkan dan semua ini akan selesai. Ibumu akan aman."

Nama ibu membuat pertahananku runtuh.

Dengan suara bergetar hebat, aku mengikuti kalimat itu.

"Aku, Elodie, menyerahkan diriku, jiwa dan ragaku, kepada Adrian Blackwood, sampai maut memisahkan."

Begitu kalimat terakhir selesai, Adrian membuka kotak beludru hitam itu. Di dalamnya tidak ada cincin berlian, melainkan sebuah gelang emas tipis dengan ukiran aneh yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ukirannya seperti duri mawar yang saling melilit.

Ia mengambil gelang itu dan melingkarkannya di pergelangan tangan kiriku. Terdengar bunyi klik yang pelan, tetapi sangat final.

Gelang itu terasa dingin, kemudian perlahan-lahan menjadi hangat, menyesuaikan diri dengan suhu tubuhku. Terlalu pas. Tidak bisa dilepas.

"Inilah cincin pernikahan kita," kata Adrian sambil mengusap gelang itu dengan ibu jarinya. "Agar semua orang tahu kamu milik siapa. Agar kamu sendiri tidak pernah lupa."

Aku menatap gelang itu. Ada sesuatu yang berdenyut di dalamnya, seperti detak jantung kedua.

"Apa yang telah kamu lakukan kepadaku?" tanyaku lirih.

Adrian tersenyum untuk kedua kalinya. Kali ini senyumnya terlihat tulus, tetapi justru itulah yang paling menakutkan.

"Aku baru saja mengikatmu selamanya, istriku."

Ia berdiri dan menarikku untuk berdiri juga. Kakiku masih gemetar, sehingga aku hampir terjatuh. Adrian dengan sigap menangkap pinggangku, menahan tubuhku agar tetap dekat dengannya.

Dari dekat, aku bisa melihat dengan jelas bahwa matanya bukan hitam pekat biasa. Di dalam hitam itu ada semburat merah yang sangat tipis, seperti bara api yang hampir padam.

"Selamat datang di rumahmu yang baru, Nyonya Blackwood," bisiknya di telingaku. Napasnya hangat menyentuh kulitku. "Dua belas yang lain tidak pernah bertahan melewati malam pertama. Mari kita lihat apakah kamu yang ketiga belas akan berbeda."

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
7 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status