Accueil / Horor / Kutukan Jumat Kliwon / Bab 8 : Bisikan dari Hutan Bambu Hitam

Partager

Bab 8 : Bisikan dari Hutan Bambu Hitam

Auteur: Nurulamelia
last update Date de publication: 2026-10-15 00:15:12

Malam-malam berikutnya yang dihabiskan Amel di dalam surau tua milik Kiai Haji Anwar terasa bagaikan rentetan mimpi buruk yang berulang tanpa henti. Setiap kali kegelapan malam mulai menyelimuti seluruh jengkal Kampung Lebakwangi, aroma gaharu yang dibakar di atas bara kecil selalu beradu tajam dengan bau hanyir dan busuk yang bertiup kencang dari arah luar dinding papan surau.

Namun, di tengah himpitan teror gaib yang tak kunjung padam itu, perlahan-lahan terbentuk sebuah ketahanan batin yang baru di dalam diri Amel.

Amel terus menatap Kujang Pasupati yang terbaring bisu di atas meja kayu berukir jepara di hadapannya. Bilah besi berlekuk tiga itu kini seolah memiliki denyut kehidupan sendiri, bernapas selaras dengan tarikan napas Amel.

Setiap kali gadis itu melafalkan wirid penolak bala dengan tulus, permukaan pusaka tua itu memancarkan kehangatan samar yang langsung menyalur ke jemarinya, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Di sampingnya, Mak Inah tidak pernah beranjak sedikit pun dari sisinya. Wanita tua itu terus mengusap bahu sang putri dengan jemarinya yang semakin keriput, kering, dan gemetar.

Kehadiran fisik sang ibu adalah satu-satunya jangkar nyata yang menahan kesadaran Amel agar tidak runtuh dihantam gelombang ketakutan yang terus dilancarkan oleh penghuni kegelapan.

"Dua malam lagi menuju puncaknya malam Jumat Kliwon, Neng Amel," Kiai Anwar akhirnya memecah keheningan panjang di dalam surau dengan suara baritonnya yang tenang, dalam, dan penuh wibawa.

Beliau meletakkan tasbih kayu hitamnya di atas papan naskah kuno beraksara Sunda buhun, lalu menatap Amel dengan pandangan mata yang penuh pertimbangan batin. Ada rasa keprihatinan sekaligus harapan besar yang terpancar dari raut wajah sang kiai yang dihiasi janggut putih tebal tersebut.

"Ritual penyucian dan pembersihan batinmu selama beberapa hari ini sudah hampir sempurna, Neng. Bau darah manusia mudamu kini telah tersamar oleh wangi doa dan siraman air karomah.

Namun, kamu harus ingat bahwa ujian terberatmu bukanlah gedoran kasar atau garukan cakar makhluk-makhluk di dinding luar surau ini."

Amel mendongak pelan, merapikan gorden mukena putih yang menutupi dahinya. Ia menatap Kiai Anwar dengan sorot mata cemas namun penasaran.

"Maksud Kiai... ada bentuk ancaman lain yang jauh lebih berbahaya sebelum saya berangkat ke hutan larangan?"

Kiai Anwar mengangguk pelan dengan raut wajah yang kian membatu. Beliau mengulurkan tangan kanannya, menunjuk lurus ke arah jendela sisi timur surau yang mengarah langsung ke lembah Hutan Bambu Hitam Kembar.

"Entitas penguasa punden itu adalah makhluk yang sangat licik dan berpengalaman selama puluhan tahun. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan bisa menembus pagar gaib surau ini hanya dengan kekerasan fisik belaka.

Karena itu, ketika cara kasar gagal, mereka akan mulai menggunakan bisikan ilusi—memanfaatkan kenangan, rasa bersalah, rasa iba, dan kerinduan terpendam yang ada di dalam celah hatimu."

Belum sempat Amel mencerna dan meresapi peringatan tegas itu sepenuhnya, hembusan angin asing yang amat dingin mendadak menerobos masuk lewat celah-celah papan dinding surau.

Nyala api pada sumbu lampu teplok di sudut ruangan bergoyang hebat dan membiru drastis, memancarkan pendar redup yang menyuramkan seluruh atmosfer ruangan.

Amel... Amel, sayang... kenapa kamu tega membiarkan Ibu sendirian di tengah kegelapan ini?

Suara itu terdengar sangat dekat dan jelas, seolah berbisik tepat di balik daun telinga kiri Amel. Intonasi suaranya persis sama seperti suara Mak Inah—lembut, sarat penderitaan, dan penuh keputusasaan yang meremas dada.

Amel tersentak kaget dan refleks menolehkan kepalanya ke arah kiri.

Namun, Mak Inah yang asli sedang duduk bersila tepat di sampingnya, memejamkan mata rapat-rapat sambil terus merapalkan doa-doa perlindungan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dari bibirnya.

Buka jendelanya sebentar, Amel... Ibu kedinginan di luar sini... mereka menyiksa Ibu tanpa ampun... tolong Ibu, Mel...

Suara bisikan ilusi itu kembali menggema halus di dalam kepala Amel, kali ini disertai oleh suara tangisan memilukan dari seorang wanita tua yang meratap kepanikan di bawah dinding jendela luar surau.

Suaranya sungguh terdengar nyata, menyayat hati, dan memancing dorongan emosional yang sangat kuat dalam diri Amel untuk beranjak dari duduknya dan membukakan pintu kayu.

"Jangan terkecoh dan jangan pernah ikuti dorongan itu, Amel!" gertak Kiai Anwar dengan suara menggelegar yang menembus ilusi gaib yang mulai meracuni pikiran gadis itu.

"Itu bukan ibumu! Itu adalah kembaran bayangan atau penjelmaan yang dikirim oleh penguasa punden untuk memancingmu keluar dari garis perlindungan pagar gaib ini!"

Amel memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan untuk menahan rasa sakit nyata.

Ia bernapas terengah-engah dengan dada naik turun tak beraturan, mencoba meredakan pergolakan batin dan membedakan mana kenyataan serta mana bisikan gaib yang sedang membuai jiwanya.

Di sampingnya, Mak Inah yang asli meremas jemari Amel dengan sangat kuat, menyalurkan kehangatan dan rasa keberadaan dirinya yang nyata.

"Mak ada di sini, Mel! Mak duduk tepat di sampingmu! Jangan pernah dengarkan suara jeritan palsu dari luar itu!"

Amel menarik napas panjang dan dalam, menghirup keharuman asap gaharu yang perlahan kembali memenuhi rongga dadanya.

Dengan tangan gemetar, ia memegang erat gagang kayu berukir Kujang Pasupati di hadapannya, merasakan sensasi hangat yang serta-merta menjalar deras menyusuri seluruh aliran darah dan menguatkan persendian kakinya.

Dengan keteguhan jiwa yang baru terbentuk, Amel mulai melafalkan wirid pendaras keselamatan dengan suara tegas dan lantang.

Ia secara sadar mengabaikan merdu dan pilunya jeritan palsu yang meratap-ratap di balik papan jendela surau.

Ssssshh... Aaaaghh!

Suara erangan kecewa yang sangat melengking tinggi mendadak terdengar dari luar halaman surau, disusul oleh kepulan asap hitam yang samar-samar terlihat memudar di balik kaca jendela.

Bisikan ilusi yang menyesatkan itu perlahan-lahan lenyap ditelan tiupan angin malam, menyisakan keheningan sakral yang menegaskan bahwa Amel telah berhasil melewati ujian batin pertamanya dengan kemenangan mutlak.

Kiai Anwar tersenyum tipis penuh ketenangan dan rasa syukur. Beliau mengangguk pelan menatap Amel.

"Batin dan jiwamu kini sudah benar-benar siap, Amel. Besok malam, tepat saat puncaknya malam Jumat Kliwon tiba, kamu dan ibumu harus mulai melangkah menembus kegelapan menuju pusat Hutan Bambu Hitam Kembar."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 16 : Darah di Bawah Ubin Rumah

    Suasana di pusat Kampung Lebakwangi mendadak berubah menjadi neraka fajar yang amat mengerikan. Warga berlarian panik tanpa arah dengan wajah pucat pasi dan sepasang mata membelalak penuh ketakutan yang mencekam jiwa. Jeritan histeris membahana bersahut-sahutan dari arah rumah-rumah tua milik para keluarga sesepuh dusun yang pernah terlibat dalam perjanjian gaib pesugihan tiga puluh tahun yang lalu. Amel dan Mak Inah mempercepat langkah kaki mereka yang sudah amat lelah, menembus kerumunan warga yang saling berdesakan dan menangis ketakutan. Udara di tengah kampung terasa sangat panas, pekat, dan membakar tenggorokan, menyebarkan aroma amis darah segar bercampur bau kemenyan terbakar serta minyak serimpi yang amat menyengat paru-paru. Dari sela-sela lantai ubin rumah Pak RT—salah satu keturunan langsung dari sesepuh dusun—cairan merah pekat merembes keluar dengan sangat deras bagaikan mata air iblis yang meletup-letup tanpa henti.

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 15 : Sisa Teror yang Tercecer

    Sinar fajar keemasan memang telah menyinari pelataran punden yang runtuh, namun keheningan pagi di Hutan Bambu Hitam Kembar tidak membawa kedamaian. Bau hanyir darah busuk dan belerang terbakar justru makin pekat mengendap di udara lembap, menegaskan bahwa akar gaib kutukan Jumat Kliwon tidak sirna begitu saja dalam hitungan semalam.Amel perlahan menarik Kujang Pasupati dari himpitan tanah keramat yang merapat kembali dengan sendirinya. Saat mata bilah pusaka itu terangkat ke udara, serpihan abu hitam pekat menempel erat di permukaannya, memancarkan getaran panas yang membuat seluruh lengan kanan Amel membiru kaku."Kutukan ini terlalu dalam meresap ke dalam bumi Lebakwangi, Mel..." bisik Mak Inah dengan raut wajah keriput yang diliputi ketakutan mendalam.Wanita tua itu memandangi ratusan batang bambu hitam di sekeliling mereka yang tidak lagi tegak, melainkan melengkung patah secara tak alami bagaikan jemari raksasa yang siap mencengkeram.Amel membungkus kem

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 13 : Di Bawah Bayangan Bambu Kembar

    Pelataran punden keramat di tengah Hutan Bambu Hitam Kembar menyajikan suasana yang begitu hening, dingin, dan pekat. Hawa mistis yang mengendap di tempat sakral ini terasa jauh lebih menekan dada dibandingkan titik-titik lain yang telah Amel lalui sejak memasuki hutan larangan. Di pusat pelataran tanah melingkar tersebut, berdiri dua batang pohon bambu hitam berukuran raksasa. Lingkaran batang bambu itu sedemikian besar hingga membutuhkan tiga dekapan orang dewasa untuk bisa mengelilinginya secara utuh. Di antara sela-sela kedua batang bambu hitam kembar itu, terletak sebuah batu punden berlumut tebal yang kehitaman. Permukaan batu keramat tersebut dipenuhi oleh bercak-bercak cairan kering yang memancarkan bau hanyir darah sangat menusuk hidung. Batu itu menjadi saksi bisu atas perjanjian haram yang diikat oleh para sesepuh dusun demi kemakmuran semu tiga puluh tahun yang lalu. Amel melangkah pelan sembari memap

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 14 : Jeritan Punden yang Runtuh

    Guncangan hebat mendadak menjalar dari dalam perut bumi tepat saat bilah besi Kujang Pasupati tertancap telak hingga ke hulu gagang kayunya. Tanah di antara dua batang bambu hitam kembar itu membelah lebar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menerobos keluar bagaikan kilatan petir dari bawah tanah.Seketika itu juga, raungan histeris melengking tinggi bergema dari celah udara di atas batu punden keramat. Entitas penguasa punden menggeliat liar di udara, wujud asap hitamnya yang pekat mulai terbakar dan terurai akibat luapan aura sakral dari pusaka tua tersebut.Aaaaghh! Darah perjanjianku... pusaka itu membakar jiwaku sampai ke dasar!Jeritan gaib itu begitu dahsyat hingga membuat batang-batang bambu hitam di sekeliling pelataran bergetar hebat dan saling beradu kencang. Dedaunan hitam berguguran bagaikan hujan angin, sementara retakan-retakan tanah baru kian meluas menyebar ke segala arah membelah pelataran.Amel berlutut di tanah basah dengan kedua tangan masih menggenggam erat

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 12 : Penjaga Gerbang Punden Keramat

    Aura kejahatan murni memancar amat pekat dari sosok raksasa yang menghadang kaku di ujung lorong bambu. Tubuhnya yang tinggi menjulang tegap dibentuk oleh susunan akar-akar hitam beracun dan serat bambu membusuk yang saling melilit erat.Di bagian dada sosok raksasa tersebut, tampak puluhan tengkorak manusia berukuran kecil tertanam kusam. Tengkorak-tengkorak itu memancarkan aroma hanyir darah yang membuat kepala Amel mendadak pening luar biasa.Dua mata merah membara milik penjaga gerbang punden itu menatap lurus penuh kebencian ke arah Amel dan Mak Inah. Dari celah rahangnya yang terbelah dua, keluar kepulan asap hitam pekat berbau belerang terbakar yang merusak indra penciuman.Rrrrgh... Jiwa keturunan yang ingkar janji tidak akan pernah diizinkan menyentuh tanah punden ini...Suara raksasa itu menggelegar dahsyat memekakkan telinga, menggoncangkan dedaunan bambu hitam di atas kepala mereka hingga berjatuhan bagaikan hujan abu hitam yang tak henti-henti.Amel terdorong dua langkah

  • Kutukan Jumat Kliwon    Bab 11 : Menembus Lorong Bambu Hitam

    Kabut hitam yang tebal dan pekat langsung menyergap Amel dan Mak Inah saat kaki mereka resmi melangkahi ambang pintu Hutan Bambu Hitam Kembar. Udara di dalam hutan larangan ini terasa jauh lebih berat, pekat, dan mencekam dibandingkan jalan setapak terbuka di luar tadi.Setiap helai napas yang ditarik Amel membawa sensasi dingin yang seolah membekukan rongga dada dan tenggorokan. Keadaan ini diiringi aroma busuk tanah lembap yang mengendap dan membusuk selama puluhan tahun di bawah naungan pohon-pohon punden.Di sekeliling mereka, jajaran rumpun bambu betung berdaun hitam tumbuh merapat secara tidak wajar. Batang-batang bambu tebal berdiameter lebar itu menjulang tinggi memagari sisi jalan, melengkung saling bertautan di atas kepala hingga membentuk sebuah lorong kegelapan abadi yang amat rapat.Tidak ada seberkas pun pendar cahaya dari langit yang sanggup menembus atap bambu alami tersebut. Hal itu menciptakan ruang gelap gulita yang bagaikan rongga perut binatang raksasa."Mel... ja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status