LOGINSetelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.
“Membosankan,” gumamnya dalam hati.
Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih lama. Perlahan, Maris mendorong tubuhnya ke depan, berenang menuju pintu untuk keluar dari rumahnya.
Baru saja ia hendak memegang pintu rumahnya.
“Maris?”
Suaranya lembut, tapi cukup membuat tubuh Maris langsung menegang. Ia berhenti dan perlahan menoleh ke belakang. Ibunya tidak jauh dari posisi Maris, menatapnya dengan mata yang terlalu tajam untuk sekedar sapaan biasa.
“Kau mau kemana?” Tanya ibunya pelan.
Ada jeda singkat. Maris menelan ludah.
“Aku…” ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu tersenyum kecil, “hanya ingin ke depan rumah saja, bu.”
Nada bicaranya, ia buat serangan mungkin. Seolah tidak ada apa-apa. Dan ibunya tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada Maris, seakan mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Arus kecil lewat di antara mereka saat ibunya berenang mendekat dan mengelus lembut pundaknya.
“Baiklah…” akhirnya ibunya menjawab, “Ibu mengizinkanmu.”
Maris langsung bersandar lega sambil memeluk ibunya. Namun—
“tapi jangan mencoba untuk menyelinap pergi.” tambah ibunya.
“Iya, bu,” jawabnya cepat.
Ia bahkan tak berani menatap ibunya terlalu lama. Tanpa menunggu lagi, Maris segera berbalik dan berenang keluar ke depan rumahnya
Air laut menyambutnya dengan tenang. Cahaya lembut dari permukaan menembus hingga ke area pemukiman, menciptakan kilauan samar di sekelilingnya. Arus bergerak perlahan, membawa ketenangan yang biasanya selalu ia rasakan.
“Pemandangan yang seperti biasa kulihat.”
Namun tidak kali ini. Maris berenang di sekitar area rumah, lalu berhenti. Ia melayang di tempat.
Tatapannya kosong, seolah menatap sesuatu yang jauh di hadapannya. Padahal tidak ada apa-apa di sana. Pikirannya kembali terisi oleh satu hal—wajah itu.
Mata emas yang menatapnya tajam. Dan suara rendah yang asing—“Cantik.”
Maris mengerjap pelan. Jantungnya terasa berdetak sedikit lebih cepat.
“Apa aku… salah dengar?” gumamnya lirih.
Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas ingatan itu kembali. Bagaimana cara pria itu menatapnya. Serta saat ia terdiam.
Dan bagaimana kata itu keluar, seolah tanpa sengaja. Maris menggigit bibir bawahnya pelan.
“Aneh…” bisiknya.
Dia makhluk daratan—seorang manusia serigala. Seharusnya Maris merasa takut dan harus menjauh. Melupakan semuanya.
Entah kenapa yang ia rasakan justru bukan itu. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dadanya sendiri. Denyut itu kembali terasa—halus.
“Perasaan apa ini?”
Namun cukup untuk membuatnya gelisah. Nyanyian laut kuno pun masih terdengar. Lembut seperti biasa dan menenangkan.
Dan untuk pertama kalinya…tidak sepenuhnya mampu menghapus pikirannya. Maris pun menghela napas pelan.
“Aku hanya terlalu lelah,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.
Tapi bayangan itu tetap bertahan di ingatan Maris. Seolah menolak untuk pergi. Ia mencoba untuk menutup matanya sejenak.
“Ayo lupakan kejadian semalam,” ia menyemangati diri.
Maris mencoba fokus pada nyanyian laut. Pada rumahnya serta pada tempatnya yang seharusnya.Namun di antara alunan itu—
Sesuatu terasa berbeda. Bukan pada nyanyiannya. Melainkan pada dirinya sendiri.
“Ini tidak boleh…!” tegasnya.
Maris membuka matanya. Dan tatapannya sedikit goyah.
“Makhluk daratan tetaplah makhluk daratan…” ucapannya lirih, seperti mencoba mengingatkan dirinya sendiri akan sesuatu yang penting.
Bahkan kata-kata itu terdengar tidak sekuat biasanya. Ia menunduk pelan. Rambut hitamnya melayang mengikuti arus.
Untuk sesaat, ia hanya diam. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai—
“Maris!”
Suara itu tiba-tiba memecah lamunannya yang membuat Maris tersentak. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Selain Maris, beberapa duyung sebayanya juga ikut menoleh ke sumber suara itu.
Di kejauhan, sosok duyung berenang mendekatinya dengan senyum lebar di wajahnya.
“Seraphine…” Maris menyebut nama itu pelan sambil tersenyum tulus dan berenang ke arah Seraphine untuk menyambutnya.
Duyung itu semakin mendekat, gerakannya anggun dan terlihat ramah seperti biasa.
“Sejak kapan kau di luar rumah?” tanya Seraphine dengan nada ceria.
Maris mencoba tersenyum kecil.
“Baru saja,” jawabnya singkat.
“Ah, kebetulan kita bertemu,” lanjut Seraphine, matanya menatap Maris dengan penuh perhatian. Namun entah kenapa terasa ada sesuatu di balik tatapan itu.
Sesuatu yang sulit dijelaskan. Maris mengabaikannya, sebab hanya Seraphine lah satu-satunya duyung sebaya yang mau berteman dengannya. Ia hanya menghela napas pelan.
“Maaf, aku hanya ingin sendiri sebentar,” jawab Maris pada Seraphine.
Beberapa duyung yang melintas, melambatkan gerakan mereka. Tatapan mereka sekilas mengarah ke Maris, lalu saling bertukar pandang. Bisikan kecil mulai terdengar pelan, tapi cukup untuk sampai ke telinga.
Seraphine tersenyum lembut.
“Tentu saja… aku mengerti,” nada suaranya tetap hangat.
Namun entah kenapa, terasa seperti ia sudah menduga jawaban itu sejak awal. Tatapannya menelusuri wajah Maris, seolah mencari sesuatu yang tersembunyi.
Senyum Seraphine masih terjaga, manis seperti biasa. Ia sedikit mendekat, gerakannya tenang. Seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Ngomong-ngomong…” suaranya turun pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya ditujukan pada Maris.
Seraphine memiringkan kepalanya sedikit, seakan hanya penasaran.
“Semalam…” jedanya singkat, cukup untuk membuat suasana diantara mereka menegang, “kau dari mana, Maris?”
Jantung Maris seketika berdegup lebih cepat. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.
Bersambung...
Pagi kembali menyelimuti hutan dengan cahaya lembut yang menembus sela-sela pepohonan. Lycander sudah bersiap sejak matahari mulai naik, sementara Robert duduk di bangku panjang dekat pintu sambil memperhatikan setiap gerakannya. Beberapa hari terakhir, pengawasan itu terasa semakin sunyi karena Lycander hampir tidak pernah membicarakan apa pun mengenai perubahan yang mulai terjadi pada tubuhnya.Lycander mengambil keranjang kecil yang sudah disiapkannya di atas meja. Ia memasukkan beberapa buah liar dan roti yang dibelinya dari kedai saat kembali dari patroli semalam. Lalu memastikan tutup keranjang terpasang dengan baik."Kita berangkat?" Robert menutup buku catatannya. "...Seperti biasa."Lycander mengangguk. Mereka pun meninggalkan rumah dan menyusuri jalan setapak menuju pesisir seperti yang mereka lakukan setiap pagi.Hari itu sebenarnya tampak biasa. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, angin laut berhembus pelan, dan suara ombak semakin jelas ketika mereka mendekati pan
Pagi kembali datang diiringi cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan. Seperti biasa, Lycander bersiap meninggalkan rumah setelah memastikan semuanya telah tersimpan rapi.Robert sudah berada di dalam rumah sejak pagi. Ia duduk di bangku panjang dekat pintu sambil memperhatikan Lycander yang sedang memeriksa makanan yang akan dibawanya untuk Maris. "Kau tidak perlu menatapku seperti itu,” gumam Lycander. Robert mengangkat wajahnya dari buku catatan. "Aku hanya menjalankan perintah."Lycander mendengus kecil. "Perintah dua puluh empat jam itu?""Ya,” jawab Robert singkat. "Kalau begitu, tatapanmu memang akan menjadi bagian dari hidupku mulai sekarang,” sahut Lycander. Robert menutup bukunya. "Setidaknya kau sudah mulai terbiasa."Lycander hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.Mereka kemudian meninggalkan rumah dan berjalan menuju pesisir. Hari itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan Robert sempat merasa gejala yang terjadi kemarin mungkin hanya muncul sekali
Lycander berjalan masuk ke dalam hutan. Ia memetik beri liar yang cukup berbuah lebat di semak-semak belukar. Robert berkeliling di area sekitar dan menemukan sarang lebah di celah pohon yang tak terlalu tinggi.“Hey, kau pasti suka ini,” ucap Robert saat kembali menghampiri Lycander. Keranjang kecil di salah satu tangan Lycander yang diisi beri liar hampir penuh. “Suka apa?”"Aku menemukan sarang lebah,” jawab Robert. Lycander hanya melirik sekilas, “untuk apa?"Robert menunjuk keranjang berisi beri, “kurasa madu akan cocok dimakan dengan itu." Lycander terdiam sesaat, lalu baru menyadari maksud Robert.Ia akhirnya bergegas meminta Robert untuk menunjukkan jalan. Setelah sampai di lokasi sarang lebah, Robert membuat api, dan membakar ranting yang lebih besar.“Aku akan mengasapinya, kau ambil sarangnya,” usul Robert. Lycander mengangguk setuju. Akhirnya semua berjalan lancar sesuai rencana. Mereka berjalan kembali ke rumah Lycander. Memeras madu itu hingga memenuhi dua toples kaca.
Sudah lewat tengah malam ketika Robert meninggalkan rumah Lycander. Langkahnya mantap menyusuri jalan setapak yang membelah hutan menuju kediaman Alpha kawanan.Suara jangkrik dan desir angin malam menjadi satu-satunya teman di sepanjang perjalanan. Cahaya bulan sesekali menembus sela-sela dedaunan, menerangi jalan yang telah begitu dikenalnya.Tak lama kemudian, sebuah rumah kayu berukuran jauh lebih besar mulai terlihat di balik pepohonan. Beberapa penjaga yang berjaga di depan hanya mengangguk singkat sebelum mempersilahkannya masuk.Robert berhenti di depan pintu. "Alpha.""Masuk." Suara berat dari dalam segera terdengar.Robert membuka pintu perlahan. Ruangan itu sederhana, namun tertata rapi. Di tengah ruangan, Alpha tengah memeriksa beberapa gulungan peta wilayah kawanan sebelum akhirnya mengangkat pandangan."Bagaimana Lycander?”Robert mengangguk. "Selama beberapa bulan terakhir, kondisi Lycander stabil." Ia men
Langit mulai berubah jingga ketika Lycander masih berdiri di tempatnya. Tatapannya tetap tertuju ke arah kabut yang menyelimuti mulut Teluk Mati, memastikan Maris benar-benar telah menghilang dari pandangannya.Kabut perlahan menelan sosok Maris. Lycander tetap berdiri di tempat hingga bayangannya benar-benar menghilang. Barulah ia mengangkat kembali tandu kayu itu ke pundaknya dan berjalan meninggalkan pantai.Di belakangnya, Robert mengikuti dalam diam.Tatapannya sesekali tertuju pada tandu kayu yang dipikul Lycander. Ia tidak mengatakan apa pun. Namun jauh di dalam hatinya, muncul harapan sederhana.Semoga… hari-hari seperti ini dapat berlangsung sedikit lebih lama.Setelah cukup lama berjalan, akhirnya rumah sederhana milik Lycander mulai terlihat di balik pepohonan. Begitu sampai, Lycander langsung menyandarkan tandu kayu itu di depan rumah. Ia mengambil selembar kain, lalu mulai mengelap air laut yang masih membasahi batang kayu dan anyaman talinya.Robert bersandar di kusen pi
Pagi kembali datang bersama kabut yang menggantung di sekitar Teluk Mati. Seperti hari-hari sebelumnya, Maris berenang keluar dari gua tempat tinggalnya. Ombak kecil mengantarnya menuju batu karang di luar teluk, tempat seseorang selalu menunggunya.Hari itu, Maris kembali datang lebih dulu. Ia duduk di atas batu karang sambil memainkan ujung rambut hitamnya yang masih basah. Tatapannya sesekali mengarah ke tepi hutan.Tak lama kemudian, sosok berambut perak muncul dari balik pepohonan."Selamat pagi, Maris.""Selamat pagi, Lycander."Lycander menghampiri batu karang tempat Maris berada. Namun kali ini, kedua tangannya tidak membawa kantong kain seperti biasanya. Sebaliknya, ia memikul sesuatu yang cukup panjang di pundaknya dan ditutupi kain.Maris memiringkan kepala. "Apa yang kau bawa?"Lycander tersenyum tipis dan menjawab, “nanti juga kau tahu."Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Maris semakin besar. "Kau mulai pandai membuat kejutan rupanya.""Aku sedang belajar,” jawab L
Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar s
“Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah se
“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti
Maris mendorong pintu rumahnya pelan. Ia masuk tanpa menoleh ke belakang.“Ibu… aku pulang.”Suara itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan. Ibunya yang berada tak jauh dari pintu langsung menoleh.“Maris…” Ibunya berenang mendekat.“Ibu kira kau masi







