Share

BAB 7

Penulis: Riichan
last update Tanggal publikasi: 2026-04-13 16:52:28

Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.

“Membosankan,” gumamnya dalam hati.

Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih lama. Perlahan, Maris mendorong tubuhnya ke depan, berenang menuju pintu untuk keluar dari rumahnya.

Baru saja ia hendak memegang pintu rumahnya. 

“Maris?”

Suaranya lembut, tapi cukup membuat tubuh Maris langsung menegang. Ia berhenti dan perlahan menoleh ke belakang. Ibunya tidak jauh dari posisi Maris, menatapnya dengan mata yang terlalu tajam untuk sekedar sapaan biasa.

“Kau mau kemana?” Tanya ibunya pelan.

Ada jeda singkat. Maris menelan ludah.

“Aku…” ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu tersenyum kecil, “hanya ingin ke depan rumah saja, bu.”

Nada bicaranya, ia buat serangan mungkin. Seolah tidak ada apa-apa. Dan ibunya tidak langsung menjawab. 

Tatapannya masih tertuju pada Maris, seakan mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Arus kecil lewat di antara mereka saat ibunya berenang mendekat dan mengelus lembut pundaknya.

“Baiklah…” akhirnya ibunya menjawab, “Ibu mengizinkanmu.”

Maris langsung bersandar lega sambil memeluk ibunya. Namun—

“tapi jangan mencoba untuk menyelinap pergi.” tambah ibunya. 

“Iya, bu,” jawabnya cepat.

Ia bahkan tak berani menatap ibunya terlalu lama. Tanpa menunggu lagi, Maris segera berbalik dan berenang keluar ke depan rumahnya 

Air laut menyambutnya dengan tenang. Cahaya lembut dari permukaan menembus hingga ke area pemukiman, menciptakan kilauan samar di sekelilingnya. Arus bergerak perlahan, membawa ketenangan yang biasanya selalu ia rasakan.

“Pemandangan yang seperti biasa kulihat.”

Namun tidak kali ini. Maris berenang di sekitar area rumah, lalu berhenti. Ia melayang di tempat.

Tatapannya kosong, seolah menatap sesuatu yang jauh di hadapannya. Padahal tidak ada apa-apa di sana. Pikirannya kembali terisi oleh satu hal—wajah itu.

Mata emas yang menatapnya tajam. Dan suara rendah yang asing—“Cantik.”

Maris mengerjap pelan. Jantungnya terasa berdetak sedikit lebih cepat.

“Apa aku… salah dengar?” gumamnya lirih.

Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas ingatan itu kembali. Bagaimana cara pria itu menatapnya. Serta saat ia terdiam.

Dan bagaimana kata itu keluar, seolah tanpa sengaja. Maris menggigit bibir bawahnya pelan.

“Aneh…” bisiknya.

Dia makhluk daratan—seorang manusia serigala. Seharusnya Maris merasa takut dan harus menjauh. Melupakan semuanya.

Entah kenapa yang ia rasakan justru bukan itu. Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dadanya sendiri. Denyut itu kembali terasa—halus.

“Perasaan apa ini?”

Namun cukup untuk membuatnya gelisah. Nyanyian laut kuno pun masih terdengar. Lembut seperti biasa dan menenangkan.

Dan untuk pertama kalinya…tidak sepenuhnya mampu menghapus pikirannya. Maris pun menghela napas pelan.

“Aku hanya terlalu lelah,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri.

Tapi bayangan itu tetap bertahan di ingatan Maris. Seolah menolak untuk pergi. Ia mencoba untuk menutup matanya sejenak.

“Ayo lupakan kejadian semalam,” ia menyemangati diri.

Maris mencoba fokus pada nyanyian laut. Pada rumahnya serta pada tempatnya yang seharusnya.Namun di antara alunan itu—

Sesuatu terasa berbeda. Bukan pada nyanyiannya. Melainkan pada dirinya sendiri.

“Ini tidak boleh…!” tegasnya.

Maris membuka matanya. Dan tatapannya sedikit goyah.

“Makhluk daratan tetaplah makhluk daratan…” ucapannya lirih, seperti mencoba mengingatkan dirinya sendiri akan sesuatu yang penting.

Bahkan kata-kata itu terdengar tidak sekuat biasanya. Ia menunduk pelan. Rambut hitamnya melayang mengikuti arus.

Untuk sesaat, ia hanya diam. Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai—

“Maris!”

Suara itu tiba-tiba memecah lamunannya yang membuat Maris tersentak. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Selain Maris, beberapa duyung sebayanya juga ikut menoleh ke sumber suara itu.

Di kejauhan, sosok duyung berenang mendekatinya dengan senyum lebar di wajahnya.

“Seraphine…” Maris menyebut nama itu pelan sambil tersenyum tulus dan berenang ke arah Seraphine untuk menyambutnya.

Duyung itu semakin mendekat, gerakannya anggun dan terlihat ramah seperti biasa.

“Sejak kapan kau di luar rumah?” tanya Seraphine dengan nada ceria.

Maris mencoba tersenyum kecil.

“Baru saja,” jawabnya singkat. 

“Ah, kebetulan kita bertemu,” lanjut Seraphine, matanya menatap Maris dengan penuh perhatian. Namun entah kenapa terasa ada sesuatu di balik tatapan itu.

Sesuatu yang sulit dijelaskan. Maris mengabaikannya, sebab hanya Seraphine lah satu-satunya duyung sebaya yang mau berteman dengannya. Ia hanya menghela napas pelan.

“Maaf, aku hanya ingin sendiri sebentar,” jawab Maris pada Seraphine. 

Beberapa duyung yang melintas, melambatkan gerakan mereka. Tatapan mereka sekilas mengarah ke Maris, lalu saling bertukar pandang. Bisikan kecil mulai terdengar pelan, tapi cukup untuk sampai ke telinga.

Seraphine tersenyum lembut.

“Tentu saja… aku mengerti,” nada suaranya tetap hangat.

Namun entah kenapa, terasa seperti ia sudah menduga jawaban itu sejak awal. Tatapannya menelusuri wajah Maris, seolah mencari sesuatu yang tersembunyi.

Senyum Seraphine masih terjaga, manis seperti biasa. Ia sedikit mendekat, gerakannya tenang. Seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. 

“Ngomong-ngomong…” suaranya turun pelan, nyaris seperti bisikan yang hanya ditujukan pada Maris. 

Seraphine memiringkan kepalanya sedikit, seakan hanya penasaran. 

“Semalam…” jedanya singkat, cukup untuk membuat suasana diantara mereka menegang, “kau dari mana, Maris?”

Jantung Maris seketika berdegup lebih cepat. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 12

    Pagi datang seperti biasa. Cahaya redup masuk melalui jendela kamarnya—jendela yang sudah ia tatap berkali-kali sejak seminggu yang lalu.“Haaaahh…” Maris menghela napas panjang.Satu minggu, rasanya seperti satu bulan. Pintu terbuka pelan. Ibunya masuk dengan membawa makanan."Selamat pagi, putriku," ucapnya lembut. Maris hanya mengangguk lesu. Tidak ada kata yang keluar. Hanya meletakkan makanan di dekat tempat tidurnya, lalu berhenti sesaat. Ibunya terlihat ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya hanya tersenyum tipis."Makanlah," ucapnya sambil berenang keluar dari kamar Maris.Maris menatap makanan itu. Tidak lapar dan tak berselera makan. Meskipun begitu, ia tetap memaksakan diri untuk makan karena tidak ada hal yang lain yang bisa ia lakukan.Dia memasukan makanan sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Dan mengunyahnya dengan enggan. Hingga makanannya habis tak bersisa.“Ini… terasa sangat melelahkan,” bisiknya. Maris membaringkan badannya di atas tempat tidur. Dan tak lam

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 11

    “Maris, bisakah kita bicara sebentar?” tanya ayahnya.Suara ayahnya terdengar tenang, namun ada sesuatu yang berbeda. Lebih berat dari biasanya. Maris yang masih berdiri di ambang pintu hanya mengangguk pelan.Ia berenang mendekat perlahan. Tatapan ayahnya tak lepas darinya, tajam dan penuh penilaian. Ibunya terlihat cemas dan tangannya saling menggenggam, seolah menahan sesuatu yang ingin ia katakan sejak tadi.“Ayah mendengar sesuatu di luar,” ucapnya.Tatapan tajam ayahnya itu terasa menusuknya. Maris tertunduk dengan mata terpejam. Ia menutup rapat bibirnya. “Banyak yang membicarakanmu,” lanjutnya.Ucapan ayahnya ini semakin membuat Maris membeku tak bergerak sedikitpun. Kepalanya terasa sangat penuh, seolah tak lagi mampu menampung semua ini. Ia mencoba tetap bertahan.Suasana terasa menekannya, seakan tak memberinya ruang untuk bisa bernapas. Sesak dan mencekik yang hanya bisa ia rasakan sendirian.“Jika itu ucapan-ucapan mengenai warna rambut atau sisikmu. Ayah selalu bisa mem

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 10

    “Itu… jelas sekali suara Seraphine. Di-dia… ada di dalam sejak tadi. Apa yang sebenarnya terjadi?” batin Maris. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan jika Seraphine sudah tak ingin berteman, atau bahkan bertemu dengannya lagi. Jari-jarinya tanpa sadar saling bertaut, jantungnya berdetak semakin cepat. Dia menantikan untuk bertemu Seraphine sekaligus tidak siap untuk bertemu dengannya.Seraphine muncul dari dalam. Wajahnya sempat terlihat terkejut saat menyadari siapa yang datang. Lalu ekspresinya melembut dan tersenyum hangat seperti biasanya.“Eh, ada Maris,” sapanya. Mendengar ucapan Seraphine serta melihatnya langsung, Maris merasa sedikit lega. Yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Seraphine masih seperti yang biasa ia kenal.Namun sebelum Seraphine lebih mendekati Maris, ibunya sudah lebih dulu bergerak. Ia menarik salah satu lengan putrinya untuk menahannya.“Berhenti, jangan temui dia. Cepat kembali ke dalam!” bentak ibunya

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 9

    Maris mendorong pintu rumahnya pelan. Ia masuk tanpa menoleh ke belakang.“Ibu… aku pulang.”Suara itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan. Ibunya yang berada tak jauh dari pintu langsung menoleh.“Maris…” Ibunya berenang mendekat.“Ibu kira kau masih ingin mengobrol lama dengan Seraphine?”Nada bicaranya terdengar ringan, namun ada perhatian yang halus di sana. Seolah ia mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.Maris yang baru saja masuk hanya terdiam sejenak di dekat pintu, tubuhnya masih terasa tegang. Ia menghindari kontak mata, jemarinya saling bertaut tanpa sadar.“I-Ibu mengetahui?” tanyanya. Suara itu keluar sedikit terburu. Maris mengangkat kepalanya perlahan, ragu, seperti takut jawaban yang akan ia dengar.Ada jeda kecil sebelum ibunya menjawab, cukup untuk membuat kecemasan di dada Maris semakin menebal.“Ya, tadi ibu melihat dari jendela saat kau menghampiri Seraph

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 8

    “Semalam…” jedanya singkat, cukup untuk membuat suasana diantara mereka menegang, “kau dari mana, Maris?”Jantung Maris seketika berdegup lebih cepat. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.Maris terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata yang langsung keluar. Bayangan semalam tentang ombak, badai, dan sepasang mata emas—berkelebat cepat di benaknya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, namun jantungnya justru semakin berisik.“A-aku… hanya,” jeda singkat, “berkeliling seperti biasanya saja kok,” jawabnya sambil tersenyum canggung.Senyumnya tak bertahan lama. Ujung bibirnya bergetar, dan pandangannya mulai goyah. Ia bahkan tak berani menatap langsung ke arah Seraphine.Seraphine terlihat semakin penasaran dan menyipitkan matanya ke arah Maris. Seolah ia mengetahui bahwa Maris sedang menyembunyikan sesuatu. “Kau pasti berbohong… kan?” suaranya tetap lembut, tapi tetap tajam.Sejenak hening menggantung di antara mereka. Beberapa duyung yang melintas mulai

  • Kutukan Laut Dan Sumpah Bulan   BAB 7

    Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.“Membosankan,” gumamnya dalam hati.Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih lama. Perlahan, Maris mendorong tubuhnya ke depan, berenang menuju pintu untuk keluar dari rumahnya.Baru saja ia hendak memegang pintu rumahnya. “Maris?”Suaranya lembut, tapi cukup membuat tubuh Maris langsung menegang. Ia berhenti dan perlahan menoleh ke belakang. Ibunya tidak jauh dari posisi Maris, menatapnya dengan mata yang terlalu tajam untuk sekedar sapaan biasa.“Kau mau kemana?” Tanya ibunya pelan.Ada jeda singkat. Maris menelan ludah.“Aku…” ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu tersenyum kecil, “hanya ingin ke depan rumah saja, bu.”Nada bicaranya, ia buat serangan mungkin. Seolah tidak ada apa-apa. Dan ibunya tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Maris, seaka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status