เข้าสู่ระบบSementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.
Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar sesuatu yang tak kasatmata.
“Ayolah ekor, lebih cepat lagi!” ucapnya untuk menyemangati diri.
Rambut hitamnya melayang mengikuti gerakan, sementara ekornya kembali berfungsi sempurna, mendorongnya semakin dalam. Namun bukan rasa lega yang pertama kali ia rasakan. Melainkan rasa sesak.
Nyanyian laut kuno kembali terdengar. Lebih jelas dan dalam. Lebih dekat dari sebelumnya.
“Aku… selamat,” gumamnya.
Suara itu mengalun lembut di dalam benaknya seperti bisikan yang tak bisa ditolak. Menenangkan, namun sekaligus… menekan. Seolah mengingatkannya akan sesuatu atau menegurnya.
Air matanya jatuh, larut begitu saja di antara air laut.
“Aku bisa kembali pulang…” bisiknya lirih, meski tak ada yang benar-benar mendengar.
Maris terus berenang semakin cepat dan dalam. Seolah ingin menenggelamkan semua yang baru saja terjadi di daratan. Tatapan dan suara itu serta wajah asing yang tak seharusnya ia temui.
Begitu memasuki area pemukiman, cahaya redup mulai terlihat dari rumah-rumah laut yang tersusun di antara batu karang dan tumbuhan laut. Beberapa duyung melintas, menoleh sekilas ke arahnya. Namun Maris tak memperdulikannya.
“Lihat itu…” ucap salah satu duyung dengan tatapan jijik pada Maris.
Maris bahkan mengabaikannya. Ia tak memperlambat gerakannya dan hanya segera ingin sampai.
Saat rumahnya mulai terlihat di kejauhan, sesuatu di dadanya mencelos. Sosok ibunya tampak berenang mondar-mandir di depan pintu, jelas menunggu dengan gelisah.
“Ibu!” teriak Maris serta suaranya bergetar.
Begitu ibunya menoleh, wajah cemas itu seketika berubah lega.
“Maris!”
Tanpa menunggu lebih lama, Maris langsung mendekat dan memeluk ibunya erat. Tubuhnya gemetar.
“Ibu… maafkan aku,” tangisnya pecah.
Ibunya terdiam sejenak, lalu membalas pelukan itu dengan lembut. Tangannya mengusap punggung Maris perlahan, mencoba menenangkan.
“Darimana saja kau… sampai baru pulang selarut ini?” tanyanya pelan, meski nada cemas masih tersisa.
“Maafkan aku, Ibu…” Maris hanya bisa mengulang, suaranya tertahan.
Ia tak sanggup menjelaskan—Belum. Ibunya menghela napas pelan.
“Sudah… ayo masuk,” ajaknya lembut.
Mereka berdua memasuki rumah. Suasana di dalam terasa hangat dan akrab, kontras dengan gelapnya laut di luar.
“Di mana ayah?” tanya Maris, matanya mulai mencari-cari.
“Mungkin ayahmu akan pulang lebih larut lagi karena sedang mencarimu,” jawab ibunya.
Jantung Maris seketika berdegup lebih cepat.
“Oh tidak… aku harus mencari ayah. Ayah pasti tidak tahu jika aku sudah kembali, bu,” ucapnya cemas, tubuhnya sedikit bergerak seolah ingin keluar lagi.
Ibunya segera menahan lengannya.
“Tenanglah… ayahmu pasti kembali sebentar lagi,” katanya menenangkan.
Maris terdiam. Kata-kata itu justru membuat rasa bersalahnya semakin dalam.
“Sekarang,” lanjut ibunya pelan, menatapnya dengan lembut namun penuh arti, “coba jelaskan pada Ibu. Darimana saja kamu?”
Suasana terasa hening di antara keduanya. Maris hanya menunduk. Nyanyian laut kuno kembali terngiang di benaknya—lembut.
Namun terasa seperti mengikat. Ia menggenggam tangannya sendiri cukup lama.
“Baiklah,” ucap ibunya akhirnya, memecah keheningan, “kau tak harus menceritakannya sekarang.”
Maris mengangkat sedikit wajahnya.
“Tapi…” ibunya melanjutkan, “apakah kau masih mendengar nyanyian laut kuno?”
Pertanyaan itu membuat Maris terdiam sesaat. Lalu ia mengangguk pelan.
“Tentu saja, bu… dan…” ia ragu sejenak, “…aku semakin menyukainya.”
Itu bukan kebohongan. Namun juga bukan sepenuhnya kebenaran. Jawaban Maris membuat ibunya tersenyum tipis.
“Ah… baiklah.”
Namun ada sesuatu di balik senyum itu. Seperti kelegaan yang dipaksakan, atau mungkin kekhawatiran yang disembunyikan.
“Kau terlihat sangat lelah,” lanjutnya, “tidurlah.”
Maris mengangguk, meski pikirannya masih kacau.
“Tapi… bagaimana dengan ayah?” tanyanya lagi.
“Ibu akan menunggu ayahmu pulang. Jadi tidurlah sekarang,” jawab ibunya lembut.
Maris ragu sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Baiklah, Bu…”
Ia berenang menuju kamarnya. Namun sebelum benar-benar masuk, langkahnya terhenti. Untuk sesaat—bayangan itu kembali muncul di benaknya.
Mata tajam berwarna emas. Suara rendah yang asing. Dan kata yang nyaris tak ia dengar—Cantik.
“Ah jangan membayangkannya,” batinnya.
Maris memejamkan matanya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Nyanyian laut kembali mengalun—terasa lebih lembut.
Keesokan harinya, saat Maris terbangun, cahaya redup dari laut pagi menyelinap masuk ke dalam rumah. Ia membuka mata pelan. Dan mendapati sosok yang telah ia tunggu—duduk di dekatnya.
“Ayah…?” ucap Maris.
Pria itu tersenyum hangat.
Di dalam ruang kecil itu, cahaya lembut masuk dari celah batu karang yang menjadi dinding kamar Maris. Beberapa hiasan kerang dan potongan karang halus tersusun sederhana di sudut ruangan yang sengaja ia kumpulkan.
“Selamat pagi, putriku,” jawab ayahnya.
Suara itu membuat sesuatu di dada Maris runtuh seketika.
“Ayah!”
Ia langsung bangkit dan ekornya menyentuh dasar ruangan yang berpasir halus. Dan dengan segera memeluk erat ayahnya. Seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.
“Maafkan aku, Ayah… telah membuat Ayah khawatir,” ucapnya dengan suara bergetar.
Air di sekitar mereka beriak pelan akibat gerakannya, membuat hiasan kerang kecil sedikit bergeser.
Ayahnya membalas pelukan itu, menepuk punggungnya perlahan.
“Yang terpenting, kau baik-baik saja, putriku,” jawabnya lembut, “itu sudah cukup bagi Ayah.”
Maris mengeratkan pelukannya. Rambutnya yang masih sedikit kusut melayang pelan mengikuti arus kecil di dalam ruangan.
Namun di balik kehangatan itu—ia tahu. Ada sesuatu yang belum ia ceritakan.
“Ayah… ah tak jadi,” bisiknya nyaris hilang di antara gelembung kecil yang terlepas dari bibirnya.
Ia belum siap untuk mengatakannya. Maris memejamkan mata dalam pelukan ayahnya. Namun bayangan itu kembali muncul—mata emas yang menatapnya dalam diam.
Dan untuk sesaat, Maris membuka matanya perlahan.
“Apakah pertemuan itu benar-benar kebetulan?” gumamnya dalam hati.
Bersambung...
“Semalam…” jedanya singkat, cukup untuk membuat suasana diantara mereka menegang, “kau dari mana, Maris?”Jantung Maris seketika berdegup lebih cepat. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Tangannya sedikit gemetar.Maris terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata yang langsung keluar. Bayangan semalam tentang ombak, badai, dan sepasang mata emas—berkelebat cepat di benaknya. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, namun jantungnya justru semakin berisik.“A-aku… hanya,” jeda singkat, “berkeliling seperti biasanya saja kok,” jawabnya sambil tersenyum canggung.Senyumnya tak bertahan lama. Ujung bibirnya bergetar, dan pandangannya mulai goyah. Ia bahkan tak berani menatap langsung ke arah Seraphine.Seraphine terlihat semakin penasaran dan menyipitkan matanya ke arah Maris. Seolah ia mengetahui bahwa Maris sedang menyembunyikan sesuatu. “Kau pasti berbohong… kan?” suaranya tetap lembut, tapi tetap tajam.Sejenak hening menggantung di antara mereka. Beberapa duyung yang melintas mulai
Setelah ayahnya pergi, suasana kamar Maris kembali sepi. Ia menghela napas panjang. Dan dia menatap kosong ke arah celah dinding, tempat cahaya masuk samar dari luar.“Membosankan,” gumamnya dalam hati.Ekornya bergerak pelan, menyapu pasir halus di dasar ruangan tanpa tujuan. Ia tak tahan lebih lama. Perlahan, Maris mendorong tubuhnya ke depan, berenang menuju pintu untuk keluar dari rumahnya.Baru saja ia hendak memegang pintu rumahnya. “Maris?”Suaranya lembut, tapi cukup membuat tubuh Maris langsung menegang. Ia berhenti dan perlahan menoleh ke belakang. Ibunya tidak jauh dari posisi Maris, menatapnya dengan mata yang terlalu tajam untuk sekedar sapaan biasa.“Kau mau kemana?” Tanya ibunya pelan.Ada jeda singkat. Maris menelan ludah.“Aku…” ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu tersenyum kecil, “hanya ingin ke depan rumah saja, bu.”Nada bicaranya, ia buat serangan mungkin. Seolah tidak ada apa-apa. Dan ibunya tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada Maris, seaka
Sementara itu, Maris yang berhasil kembali ke perairan, menyelam dengan sekuat tenaga menuju kedalaman laut. Air menyambutnya.Dingin—namun menenangkan. Gelap—namun terasa seperti pelukan yang telah lama ia rindukan. Ia berenang cepat, tubuhnya bergerak lincah membelah arus, seolah sedang dikejar sesuatu yang tak kasatmata.“Ayolah ekor, lebih cepat lagi!” ucapnya untuk menyemangati diri.Rambut hitamnya melayang mengikuti gerakan, sementara ekornya kembali berfungsi sempurna, mendorongnya semakin dalam. Namun bukan rasa lega yang pertama kali ia rasakan. Melainkan rasa sesak.Nyanyian laut kuno kembali terdengar. Lebih jelas dan dalam. Lebih dekat dari sebelumnya.“Aku… selamat,” gumamnya.Suara itu mengalun lembut di dalam benaknya seperti bisikan yang tak bisa ditolak. Menenangkan, namun sekaligus… menekan. Seolah mengingatkannya akan sesuatu atau menegurnya.Air matanya jatuh, larut begitu saja di antara air laut.“Aku bisa kembali pulang…” bisiknya lirih, meski tak ada yang benar
“Lycander!” teriak Robert.Suara itu memecah sesuatu di dalam dirinya. Lycander tersentak. Napasnya terasa berat, seolah baru saja terbangun dari sesuatu yang dalam dan asing.Air laut telah mencapai hampir dadanya, dingin meresap hingga ke tulang. Namun anehnya, ia tak mengingat kapan melangkah sejauh ini.“Lycander!” teriak Robert lagi.Ia menoleh ke belakang. Tatapannya sempat kosong sesaat sebelum akhirnya fokus. Dari tepian pantai, Robert berdiri dengan wajah kesal bercampur cemas.“...Robert?” gumamnya pelan, suaranya serak.Air masih membungkus tubuhnya hingga dada. Dingin itu kini terasa berbeda. Lebih nyata, lebih menusuk.“Apa yang sedang kau lakukan di sana? Cepat kembali!” kali ini Robert berteriak lebih keras lagi.Untuk sesaat, Lycander terdiam. Tatapannya kembali meluncur ke arah laut di hadapannya. Gelap serta sunyi.Namun entah kenapa… terasa seperti sedang menatap balik. Denyut aneh itu masih ada di dadanya. Pelan tetapi nyata.“Apa… duyung itu kembali?” Gumamnya.Ia
“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu tidak menjawab. Matanya yang berwarna emas hanya menatap lurus ke arahnya, tajam dan dalam seolah menembus.Maris mencoba mengalihkan pandangan, namun gagal. Tatapan itu seperti menahannya di tempat.“Apa…?” bisiknya pelan, nyaris tak bersuara.Mata hitamnya dipenuhi ketakutan. Rambut basah menempel di pipinya, dengan butiran pasir yang masih tersisa di kulit pucatnya. Bibirnya bergetar pelan.“Kenapa kau… melihatku seperti itu…?” suaranya semakin kecil.Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengamati tanpa berkedip, dadanya naik turun perlahan. Seolah sedang memastikan sesuatu.Dan wajah itu—Cantik. Kata itu muncul begitu saja di benaknya.“Cantik…” gumamnya pelan.Maris sedikit mengernyit. Ia ti
“Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan terukur. “Ja… jawab aku, Siapa kamu?” teriak Maris tergagap. Jantungnya berdetak semakin cepat.Semakin mendekat, tubuh tinggi yang dipenuhi bulu pekat hitam yang berkilau sama di bawah cahaya bulan itu berdiri di depannya. Napasnya terdengar berat.“Ayah, Ibu… aku takut,” gumamnya dalam hati. Ia kembali berusaha menggerakan tubuhnya. Berharap bisa menjauh dari sosok yang kini semakin mendekat. Tidak lama ada yang terjadi sesuatu yang mencengangkan. Tubuh berbulu itu perlahan menyusut. Bulu-bulu hitamnya menghilang sedikit demi sedikit. Sosoknya menjadi lebih ramping. Seperti manusia. Dalam hitungan detik, yang berdiri di hadapannya kini adalah seorang pria. MembuatMaris menahan napas dengan m







