INICIAR SESIÓNIris Campbell yang berusia 19 tahun memiliki keahlian untuk bekerja di farmasi. Hal tersebut dikarenakan ia adalah keturunan penyihir dari sisi keluarga ibunya. Hingga suatu saat ia mendapat kesempatan untuk bekerja di farmasi kerajaan yang terkenal sulit untuk di terima. Adrian Gennady adalah seorang Pangeran yang berusia 21 tahun. Ia menjalani hidupnya tanpa sosok ibu dan ayahnya yang merupakan Raja saat itu seperti tidak memperlakukannya selayaknya putra kandung. Di tambah lagi dengan keberadaan ibu dan adik angkatnya, serta kesehatannya yang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Beberapa penghalang tak terlihat memisahkan mereka, tapi dinding tersebut runtuh sedikit demi sedikit. Setiap kali sesuatu mengintainya sepanjang hari, menguji kekuatan mereka masing-masing.
Ver más(POV: Sophie)
— Por favor, Soph, é uma festa importante. Todos os meus amigos da empresa estarão lá — Caleb insistiu pela décima vez, ajeitando a gravata no espelho. Eu não queria ir. Festas corporativas eram sempre barulhentas e impessoais. Para piorar, eu havia esquecido meus óculos em casa na pressa de sair, e as lentes de contato estavam me incomodando tanto que acabei tirando-as e guardando na bolsa antes de irmos. Assim que entramos no bar, o clima mudou. Encontramos a prima dele, Evellyn, que já estava lá e claramente já tinha passado do ponto. — Caleb... eu não me sinto bem... me leva embora? — ela balbuciou, pendurando-se no pescoço dele. Caleb me olhou, dividido. — Soph, eu vou levá-la em casa e volto num piscar de olhos para te buscar. Me espera aqui com o pessoal? Assenti, tentando ser compreensiva. Mas o tempo passou. Seus amigos foram embora um a um, oferecendo carona, mas eu recusei todas. "Caleb já está vindo", eu dizia. Mas as minhas ligações para o celular dele iam direto para a caixa postal. Sem enxergar direito os detalhes ao longe e sentindo a humilhação queimar, pedi um drink azul vibrante que vi no balcão. Um tempo depois o segundo. No terceiro, o mundo, que já era embaçado, começou a girar de um jeito engraçado. — Ele não faria isso... — murmurei para mim mesma, tateando a bolsa em busca do celular para tentar ligar mais uma vez. — Ele não me deixaria aqui. Levantei-me decidida a ir ao banheiro lavar o rosto antes de ligar novamente, mas o chão parecia feito de nuvens. Cambaleei e, antes que meus joelhos encontrassem o mármore, mãos firmes e poderosas me seguraram pela cintura. O impacto contra o peito dele foi sólido, como se eu tivesse batido em uma parede de músculos revestida de seda fina. — Cuidado — uma voz baixa e rouca ressoou acima de mim. Recuperei o equilíbrio, mas não me afastei. Olhei para cima e tentei focar no rosto dele. Sem meus óculos e com o efeito do álcool, eu via apenas contornos fortes, mas meus olhos encontraram os dele. Eram cinza-ferro, intensos e profundos, emoldurados por um rosto austero que eu julguei reconhecer imediatamente. — Obrigada... — balbuciei. — Sinto muito, acho que estou bêbada. Ele não disse nada, apenas continuou me segurando com uma firmeza que me fazia sentir segura. — Senhor Drummond, o senhor está bem? — alguém se aproximou, perguntando com deferência. — Sim — ele respondeu, sem desviar os olhos de mim. Drummond. Então realmente era ele, meu coração deu um salto de alívio misturado com irritação. — Por que você demorou tanto? — perguntei, a voz embargada pelo álcool e pela mágoa. — E por que não atendeu as minhas ligações? Ele arqueou uma sobrancelha, a expressão indecifrável na penumbra. — Você me conhece? Ri sem humor, encostando a cabeça em seu ombro. O cheiro dele me atingiu, não era o perfume cítrico de sempre, era algo amadeirado. — Não estou com humor para suas brincadeiras agora. Estou chateada com você. Me leva para casa, por favor? Abracei-o com força, sentindo o calor do seu corpo através do terno impecável. — Seu perfume mudou... não é o de sempre. Mas eu gostei mais desse. É... mais você. Senti um leve tremor no peito dele, como se estivesse rindo silenciosamente de uma piada interna. — Acho que você bebeu demais, pequena. — Sim, eu bebi. Me tira daqui, por favor? — Claro. Para minha surpresa, ele não me guiou pelo braço. Ele me pegou no colo com uma facilidade desconcertante, como se eu não pesasse nada. Enrosquei meus braços em seu pescoço, fechando os olhos enquanto ele atravessava o salão. Ele me colocou no banco do passageiro de um carro que cheirava a couro novo, não parecia o carro dele. Quando ele assumiu o volante e começou a dirigir, a sonolência começou a vencer a névoa da bebida. — Não posso ir para casa... — sussurrei. — Meus pais vão brigar se me virem assim. Me leva para a Aline. — Onde ela mora? Peguei meu celular, desbloqueei com o dedo trêmulo e mostrei o endereço no GPS. — Vou dormir um pouquinho... me acorda quando chegar, amor. O sono me levou rápido. Acordei com um toque suave no rosto e uma voz me chamando. Olhei em volta e vi o prédio da Aline. — Já chegamos?! — eu disse, ainda mergulhada na confusão dos sentidos — Eu já vou. Até amanhã. Inclinei-me em direção a ele e selei seus lábios com um selinho demorado. Sorri, sentindo-me vitoriosa, e saí do carro. Mas antes que eu chegasse à portaria, ouvi a porta se fechar e passos rápidos atrás de mim. — Espera — ele disse. Virei-me e, antes que pudesse processar, ele me puxou para si. O beijo que se seguiu não foi um selinho. Foi profundo, possessivo e devastador, tirando o pouco de ar que me restava. Quando ele se afastou, beijou meu rosto com uma ternura inesperada. — Entre — ele ordenou, a voz mais rouca do que antes. Acenei, boba, e passei pela porta de vidro. Só quando o elevador começou a subir é que uma dúvida gelada começou a perfurar a névoa do álcool: Caleb nunca tinha me beijado daquele jeito. O que será que mudou hoje?Waktu sudah melewati pukul dua belas malam dan Iris melihat ke arah panci yang saat itu sedang merebus pasta. Bagaimana ia bisa melewati jam makan malam? Iris bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Ia memeriksa rebusan pastanya untuk mengecek apakah sudah siap untuk diolah kembali dengan saus tomat yang memang sudah tersedia di dapur. Dengan banyaknya orang yang butuh makan di seluruh istana tersebut, para pekerja di dapur selalu mempersiapkan berbagai bahan siap masak dalam jumlah banyak, bahkan lebih dari cukup apabila ada orang-orang lain seperti Iris yang membutuhkan makan di luar jam makan.Iris tersenyum puas ketika melihat hasil masakannya sendiri. Ia memang bukan orang yang pintar dalam urusan memasak, namun tidak terlalu buruk juga hingga membuat berbagai kekacauan di dapur. “Terima kasih, ibu karena selalu memaksaku untuk membantu di dapur,” gumamnya, tertawa pelan. “Ternyata karena itu, aku masih dapat memasak untuk diriku di saat seperti ini,” matanya melih
Kisah-kisah bertema romansa sudah sangat dikenal luas, tentang mencintai dan kehilangan, tentang kerinduan dan kelupaan, umum di masa sekarang seperti tahun-tahun yang lalu, tentang mencintai seseorang begitu dalam, tanpa keinginan tetapi bukan tanpa hasrat, tentang raja dan pejuang, tentang kekasih dan saudara.Tentu saja banyak cerita, sama tragisnya, tentang bagaimana seorang pria yang membunuh kekasihnya karena membuatnya merasakan apa yang dianggap tidak perlu, kekasihnya yang menawarinya sedikit anyelir putih, berlumuran darah, tetapi ia mengangkat tangannya. pedang dan memotong daging, hanya untuk mengikuti beberapa hari kemudian dalam kesedihannya.Adrian duduk di salah satu meja di perpustakaan, satu sikunya bertumpu di atas meja sambil menopang berat kepalanya saat ia duduk dengan malas, sementara tangan lainnya membolak-balik lembaran halaman dari buku fiksi yang ia temukan pada salah satu rak. “Aku tidak paham kenapa ada orang yang menyukai cerita seper
Max mengerutkan keningnya. “Jadi? Kau akan menolaknya?” tanyanya, kedua tangannya sibuk membereskan apapun yang terlihat berantakan di atas meja. Merapikan tumpukan buku, kertas dan mengembalikan pena ke tempatnya semula. Arah matanya bergantian menatap Iris dan memperhatikan apa yang sedang ia rapikan.“Aku tidak tahu,” jawab Iris. Di saat yang sama, Iris menyadari penampilan Max. ada lingkaran hitam dibawah matanya, samar tapi tetap dapat dilihat. “Max? Kau belum tidur?” tanyanya.“Ya dan kelopak mataku terasa sangat berat sekarang,” Max menjawab, memijat pangkal hidungnya perlahan. “Aku akan beristirahat sekarang, kecuali kalau ada hal lain yang ingin kau katakan?” lanjutnya.Iris dengan cepat menggoyangkan kedua telapak tangannya. “Tidak, tidak ada lagi,” jawabnya dengan cepat.Max dengan cepat berdiri, sambil bertanya lagi. “Apa kau menjadi bimbang?” Ia mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu dan alih-alih memaka
“Yang Mulia…?” Iris membeku ketika ia melihat Adrian mulai memuntahkan kelopak bunga lagi, napasnya terengah-engah sementara tangannya memegang tenggorokannya, seperti ia akan mencekik lehernya sendiri. Tubuh Iris seolah bergerak sendiri, dan ia mendapati dirinya berada di samping sang pangeran panik sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Kulit pucat Adrian terlihat sangat kontras dengan warna merah saat darah berceceran di karpet bercampur dengan kelopak bunga berwarna putih yang telah bercampur dengan warna merah.Di saat yang sama, kedua orang tersebut memikirkan hal yang sama— berharap kalau semua itu hanya mimpi.Iris meringis dan menatap Pangeran di hadapannya dengan rasa cemas. “Apakah…selalu seburuk ini? Setiap saat?” tanyanya dengan pelan dan hati-hati. Ia perlu tahu apakah selama ini yang ia lihat hanya sebagian kecil dari apa yang menimpanya.“...Tidak,” Adrian terbatuk lagi, namun kali ini Iris menyadari sepertinya ia b
Untuk kesekian kalinya, Adrian terbangun dari istirahat siangnya dengan merasakan jari-jari tangan kanannya mati rasa dan ketika Adrian menulis, jari-jarinya sedikit lebih lambat dari biasanya untuk menulis beberapa kalimat pendek.
Iris menutup pintu kamarnya dengan pelan. Kepalanya masih memproses apa yang baru saja ia lihat. “Apakah aku salah lihat?” gumamnya.Ingatannya tentang apa yang telah Iris lihat kembali bermunculan di dalam benaknya, seperti potongan-potongan gambar yang muncul sa
Beberapa hari telah berlalu semenjak kedatangan Max ke farmasinya. Hal yang tidak terduga adalah ketika sepucuk surat dengan amplop berwarna putih gading yang disegel dengan segel lilin berlambangkan simbol kerajaan dikirimkan kepada Iris. Iris telah disetujui oleh kerajaan untuk menggantikan aya
Debu yang menempel pada permukaan botol kaca terlihat begitu tebal, bahkan menutupi label kertas yang menempel pada botol tersebut. Seorang remaja bernama Iris Campbell— sedang menggosoknya dengan ujung lengan bajunya sebelum ia mengingat peringatan dari ibunya untuk tidak menggunakan pakaiannya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas